KAMU KUAT – Jakarta
Kegiatan yang menyenangkan lama-kelamaan akan menjadi hobi. Dari hobi, ternyata tekad dan ketekunan mampu menorehkan prestasi. Bahkan, kegiatan yang sering terlihat sederhanapun, bisa menjadi sebuah prestasi.
Dilansir Wikipedia, hobi adalah kegiatan rekreasi yang dilakukan pada waktu luang untuk menenangkan pikiran seseorang. Sementara menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), hobi adalah kata benda (noun) yang dapat diartikan sebagai kegemaran; kesenangan istimewa pada waktu senggang, bukan sebagai pekerjaan utama.
Sedangkan prestasi berasal dari bahasa Belanda yang artinya, hasil dari usaha. Prestasi diperoleh dari usaha yang telah dikerjakan. Dari pengertian prestasi tersebut, maka pengertian prestasi diri adalah hasil atas usaha yang dilakukan seseorang.
Para remaja yang bertekad punya kegiatan positif, tentu akan menghindarkan mereka dari hal-hal negatif seperti narkoba, seks bebas, genk motor, dan yang merugikan diri sendiri, keluarga, serta orang lain.
Di tengah pergaulan zaman sekarang untuk menghindari candu gadget yang dipenuhi informasi negatif, kegiatan positif yang kamu suka dan cari sebagai pelampiasan semangat mudamu, akan menjadi dorongan gaya muda yang keren tentunya.
Seperti beberapa remaja sahabat KAMU KUAT! ini. Mereka punya hobi dan kesukaan yang mereka isi dengan semangat sehingga membuahkan prestasi. Namunm ingat, prestasi bisa didapatkan dengan tekad, ketekunan dan kesabaran. Yuk, simak cerita mereka!
Mohammad Alif Resya, siswa kelas XII, SMAN 2 Tangerang Selatan

Alif mempunyai hobi bermain bola semenjak kecil, almarhum papanya sangat men-support Alif dalam bidang tersebut. Berawal dari keinginan seorang ayah, akhirnya menjadi hobi untuk siswakelas XII, SMAN 2 Tangerang Selatan itu. Alif memulai sejak kelas tiga SD ikut club sepak bola yang cukup terkenal di Tangerang Selatan.
“Awalnya cuma sebagai suatu keharusan ikut club sepak bola. Kadang dulu ada rasa capek pulang sekolah harus lanjut club bola. Tapi lama-kelamaan jadi sesuatu yang menarik. Apa lagi ketika ada lomba dan turnamen membuat aku semangat dan termotivasi lebih giat untuk berlatih. Aku merasakan benefit dari hobi tersebut ketika mendaftar ke Sekolah Menengah Atas (SMA). Pada saat itu aku ngga yakin bisa masuk sekolah favorit karena jarak rumah dan sekolah sangat jauh. Namun ternyata sertifikat lomba dapat menjadi tiket emas untuk aku memasuki SMA favorit yang selama ini aku idam-idamkan,” ujarnya.
Ia mengatakan, walau terkadang dirasa tidak mungkin, tapi jika kita berusaha dan ikhtiar pasti akan mendapatkan hasil yang diinginkan asalkan jangan berputus asa.
Jihan Nur Alfiany, siswi kelas X-6, SMAN 3 Bogor

Jihan memulai hobinya dari kecil. Awal mulanya adalah suka tarian tradisional Jaipong, kesenian asal Jawa Barat.
“Awalnya cuma karena suka aja yang akhirnya keterusan menjadi aktivitas dan hobi. Alhamdulillah orang tua dan keluarga pun mendukung. Sampai-sampai jika ada acara nikahan saudara saya suka dijadikan pembuka atau penyambutan (mapag penganten). Aku masuk sanggar karena ditawarin oleh pelatih Jaipong, lalu orang tua ikut mendukung. Cuma di tahun 2021 aku berhenti karena ikut Paskibraka sampai 2023 ketika SMP,” bebernya.
Namun, lanjutnya, ketika SMA Jihan diminta agar jadi mapag penganten. Dari situlah ia melanjutkan lagi menari Jaipong hingga saat ini. Ia mengakui suka karena banyak tema- teman baru, dapat pengalaman yang tidak bisa digapai sebelumnya, dan bisa mencari wawasan.
Soal dukanya, tambah Jihan, kadang memang badan jadi lelah karena ketika ada acara selalu latihan setiap hari. Setelah kegiatan pagi sekolah, pulang lanjut berlatih menari di sanggar. Namun, ternyata semua lelah membuahkan hasil. Ia sering diundang menari di alun-alun kota Bogor saat acara DPRD kota Bogor. Ia merasa bangga sekali. Apalagi sekolah dan keluarga sangat mendukung kegiatannya.
Muhammad Danish Falah Utama, siswa kelas 11, SMAN 12 Tangsel

Sama seperti yang lainnya, remaja yang biasa dipanggil Danish memulai hobi Taekwondo ketika kecil, saat masih kelas 1 Sekolah Dasar (SD). Ia mengakui, awalnya atas arahan orang tua. Namun, akhirnya menjadi minat dan hobi. Ketika beranjak remaja di bangku SMP, Danish mengatakan mulai termotivasi ketika melihat rekan-rekannya yang berprestasi.
“Kagum aja sih liat senior terlihat keren dan saya mau ikutan keren juga serta menjadi motivasi untuk saya untuk sama mendapatkan prestasi lebih baik lagi. Sebenarnya ada rasa sedih ketika harus berganti-ganti club. Namun, ternyata dari pengalaman tersebut saya menjadi banyak teman, dan kemudian saya dapat berkembang lebih baik lagi. Walau tidak bertahan di club awal, tapi saya tetap berusaha menjalani setiap sesi latihan dengan sungguh-sungguh. Pencapaian saya sejauh ini adalah saya masuk menjadi daftar atlet binaan Kota Tangerang Selatan (Tangsel),” ungkapnya.
Danish menargetkan dapat prestasi minimal mendapatkan medali emas nasional dan menjadi lebih baik dari sebelumnya.
Wah, keren kan, Guys? Kamu pasti juga punya prestasi dalam bidang apapun kan? Ingat, berprestasi itu juga tidak harus menjadi juara kompetisi tertentu, namun juga bisa berprestasi dengan taat beragama, patuh pada orang tua, dan bermanfaat bagi masyarakat. Karena setiap manusia punya kelebihan masing-masing. Namun, yang dimaksud adalah kelebihan yang positif dan bermanfaat lho!
Kerja keras, kreativitas, ketekunan, berdoa, dan mendapatkan doa dari orang tua adalah sesuatu yang harus kita kejar. Ave Rosa A. Djalil, pemimpin redaksi dan founder Avesiar.com mengatakan sebagai motto hidupnya yang ia tulis dalam bukunya yaitu, “Sekecil Apapun, Buatlah Prestasi. Karena itulah, Orang-orang Besar Mengubah Dunia.” (Resty)













Discussion about this post