Avesiar – Jakarta
Google menghentikan sementara praktik bekerja dari rumah dengan memerintahkan lebih banyak karyawan jarak jauh untuk kembali ke kantor dengan jadwal kerja hibrida atau berisiko kehilangan pekerjaan, dilansir Gizmodo, Kamis (24/4/2025).
Tim di divisi Layanan Teknis dan Operasi SDM Google, atau SDM, sebagaimana dilaporkan oleh CNBC, memberi tahu minggu ini kepada karyawannya, bahwa mereka harus melapor ke kantor terdekat tiga hari seminggu atau mengambil paket keluar sukarela.
Beberapa karyawan sumber daya manusia yang disetujui untuk bekerja jarak jauh dan tinggal 50 mil atau lebih jauh dari kantor dapat tetap bekerja, tetapi tidak dapat mengambil peran baru di perusahaan.
Sebagaimana diketahui, Google telah menuntut karyawan untuk kembali ke kantor sejak menerapkan PHK massal pada awal tahun 2023, dan hampir setiap perusahaan besar telah berubah drastis dari awal pandemi, ketika karyawan diizinkan bekerja dari mana saja.
Sergey Brin, salah satu pendiri Google, memberi tahu karyawan dalam sebuah rapat awal tahun ini bahwa 60 jam seminggu di kantor adalah waktu yang tepat bagi karyawan yang bekerja mengembangkan produk AI mutakhir dan bersaing dengan kompetitor.
“Seperti yang telah kami katakan sebelumnya, kolaborasi tatap muka adalah bagian penting dari cara kami berinovasi dan memecahkan masalah yang rumit. Untuk mendukung hal ini, beberapa tim telah meminta karyawan jarak jauh yang tinggal di dekat kantor untuk kembali bekerja tatap muka tiga hari seminggu,” kata juru bicara Google Courtenay Mencini dalam sebuah pernyataan kepada CNBC, sebagaimana dilansir Gizmodo.
Disebutkan bahwa para CEO mengeluh bahwa pekerja jarak jauh kurang produktif, tetapi data yang mendukung keyakinan itu beragam. Mungkin ada sedikit penurunan dalam produktivitas, tetapi pergantian karyawan lebih rendah, dan dengan bekerja dari rumah, karyawan menghemat waktu perjalanan.
Para pendukung berpendapat bahwa model kerja jarak jauh sebenarnya lebih berbasis kinerja daripada mengandalkan karyawan yang bekerja sebagai metrik untuk mengukur produktivitas karyawan.
Sejumlah survei menemukan bahwa orang Amerika lebih menyukai pemberi kerja yang menawarkan kerja jarak jauh karena manfaat gaya hidup tambahan, dan banyak yang bahkan bersedia menerima pemotongan gaji hingga 20% agar dapat bekerja jarak jauh. (ard)













Discussion about this post