Avesiar – Jakarta
OpenAI tertarik membeli peramban Chrome, jika pengadilan memerintahkan agar peramban itu dijual untuk melonggarkan cengkeraman Google di pasar, dikutip dari Gizmodo, Jum’at (25/4/2025). Hal itu terjadi saat pemerintah federal dan Google berupaya mencari solusi potensial untuk monopoli ilegal perusahaan atas pencarian daring.
Kepala produk OpenAI untuk ChatGPT Nick Turley, menurut Bloomberg, mengisyaratkan minat perusahaan AI itu pada peramban itu saat bersaksi atas perintah Departemen Kehakiman.
Turley menyatakan “banyak pihak lain” juga ingin membeli peramban itu jika tersedia, dan itu dapat dimengerti, mengingat Chrome memiliki sekitar 3,45 miliar pengguna di seluruh dunia dan menguasai hampir dua pertiga pangsa pasar peramban.
Alasan kuat lain juga dimiliki Turley dan OpenAI, yang menunjukkan bahwa akan ada banyak minat pada Chrome. Kesaksian Turley dapat membantu memengaruhi keputusan pengadilan untuk membebaskan peramban itu dari kendali Google.
Terlepas dari apakah OpenAI akhirnya akan membelinya atau tidak, peluangnya untuk berbisnis dengan siapa pun yang memiliki Chrome versi spin-off jauh lebih besar daripada dengan Google, mengingat tidak ada kemajuan yang dicapai dalam upayanya mengintegrasikan ChatGPT secara native ke dalam ekosistem Google.
Turley sebelumnya dalam persidangan bersaksi, bahwa teknologi pencarian akan menjadi kunci bagi tujuan OpenAI untuk membangun “asisten super.” Tetapi Google, yang merupakan salah satu pesaing terbesar OpenAI di bidang AI, telah menyingkirkan OpenAI.
Ia memaparkan beberapa hal spesifik tentang alasan OpenAI ingin masuk ke peramban. Pertama dan terpenting: Distribusi. Memasang ChatGPT ke lebih banyak perangkat tampaknya menjadi tantangan bagi perusahaan. (ard)













Discussion about this post