Avesiar – Jakarta
Al-Qur’an adalah kalam Ilahi, bacaan suci yang menjadi pedoman bagi umat manusia untuk membedakan antara yang benar dan yang batil. Karena itu, membaca Al-Qur’an tidak boleh asal-asalan. Setiap Muslim diperintahkan untuk membacanya dengan penuh kehati-hatian, sesuai dengan kaidah yang telah ditetapkan.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman dalam surat Al-Muzzammil ayat 4:
“Atau lebih dari (seperdua) itu, dan bacalah Al-Qur’an itu dengan perlahan-lahan.”
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam menganjurkan umatnya untuk belajar Al-Qur’an dan juga mengajarkannya kepada orang lain. Hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari menyebutkan,
“Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya”.
Dalam tafsir Al-Qur’an al-Azhim, Ibnu Katsir menjelaskan bahwa membaca dengan tartil berarti membaca perlahan-lahan untuk memudahkan pemahaman dan renungan terhadap isi Al-Qur’an.
KH Ahmad Fathoni, seorang pakar qiraat sab’ah dan rasm Utsmani, dalam bukunya Metode Maisuro juga menegaskan pentingnya membaca dengan “tartil yang unggul”, yaitu bacaan yang berkualitas, bukan sekadar lambat.
Ali bin Abi Thalib pun menambahkan bahwa tartil bermakna:
“Membaguskan bacaan huruf-huruf Al-Qur’an dan mengetahui tempat-tempat berhenti.”
Artinya, membaca Al-Qur’an harus mengikuti kaidah ilmu tajwid ilmu yang mengatur cara pengucapan huruf dan tanda baca dalam Al-Qur’an. Dengan tajwid, bacaan menjadi fasih, benar, dan terhindar dari kesalahan yang bisa mengubah makna.
Ibnu Al-Jazari, seorang ulama besar dalam ilmu qiraat, menegaskan dalam Manzhumah Al-Jazariyyah :
“Membaca Al-Qur’an dengan bertajwid hukumnya wajib. Siapa yang membacanya tanpa tajwid maka dia berdosa, karena dengan tajwidlah Allah menurunkan Al-Qur’an dan dengan tajwid pula Al-Qur’an sampai kepada kita.”
Sehingga dengan penjelasan di atas jelas bahwa:
• Membaca Al-Qur’an dengan tajwid adalah fardhu ‘ain (wajib) bagi setiap Muslim.
• Mempelajari ilmu tajwid hukumnya sunnah bagi masyarakat umum, dan menjadi fardhu ‘ain bagi mereka yang mengajar atau memperdalam Al-Qur’an.
Ilmu Tajwid Sangat Penting, Mengapa?
Ada banyak alasan kenapa mempelajari dan menerapkan ilmu tajwid itu sangat penting:
1. Meningkatkan Kualitas Bacaan dan Kecintaan pada Al-Qur’an
Bacaan yang indah membuat kita semakin mencintai Al-Qur’an.
2. Membaca Al-Qur’an dengan Benar
Membantu mengucapkan huruf dengan tepat, sehingga bacaan jelas dan tidak salah.
3. Mengajarkan Akhlak yang Baik
Tajwid melatih kita untuk berhati-hati, disiplin, dan menjaga lisan.
4. Menghindari Kesalahan Makna
Kesalahan kecil dalam bacaan bisa mengubah arti ayat, yang tentu berbahaya.
5. Menjaga Kemurnian Al-Qur’an
Tajwid menjaga bacaan Al-Qur’an tetap murni seperti yang diajarkan Rasulullah SAW.
6. Mendapatkan Pahala dan Ridho Allah
Membaca Al-Qur’an dengan benar merupakan bentuk ibadah yang berpahala besar.
7. Memudahkan Pemahaman Isi Al-Qur’an
Bacaan yang benar memperjelas makna ayat dan membantu memahami pesan Allah.
8. Melatih Lidah dalam Bahasa Arab
Membantu pelafalan huruf Arab dengan fasih dan benar.
9. Penting bagi Semua Umat Islam
Ilmu tajwid berlaku untuk semua, baik laki-laki maupun perempuan, muda maupun tua.
Membahas mengenai membaca Al Qur’an dengan memperhatikan tajwid yang benar, beberapa Ibu berikut ini memberikan pendapat mereka. Yuk, kita simak!
Lia Mulyani, Ibu Rumah Tangga

Bagi Lia Mulyani, mempelajari Al-Qur’an bukan hanya kewajiban, tapi juga sumber kebahagiaan. “Alhamdulillah, mempelajari Al-Qur’an itu sesuatu yang menyenangkan dan sangat bermanfaat,” ungkapnya.
Semangat belajar tajwid semakin tumbuh saat ia diberi amanah untuk mengelola Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ) Al Anshor Bukit Dago. Menurut Lia, membaca Al-Qur’an dengan tajwid yang benar adalah hal yang sangat penting. “Karena ini akan meningkatkan kualitas bacaan kita hingga menjadi tartil dan benar,” jelasnya.
Baginya, memperdalam ilmu Al-Qur’an adalah kewajiban pribadi setiap Muslim. Ia mengingatkan, “Jika bukan dimulai dari diri sendiri, siapa lagi?” Semangat ini diperkuat oleh hadist Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam, “Sebaik-baik kamu adalah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.”
Meski demikian, perasaan takut salah saat membaca Al-Qur’an di depan orang lain tetap ada. Lia membagikan tips untuk mengatasinya: “Caranya dengan membaca Al-Qur’an secara rutin, bertalaqi dengan guru, belajar memahami kandungannya, dan menenangkan diri sebelum membaca.”
Dalam rutinitasnya, Lia berkomitmen untuk terus memperbaiki bacaan. “Setiap pekan saya luangkan waktu untuk bertalaqi dengan guru, dan setiap hari membacanya sesuai dengan ilmu yang sudah dipelajari,” katanya. Hasilnya sangat nyata.
“Alhamdulillah, setelah mengetahui ilmunya, saya bisa membaca dengan tartil dan lebih tenang, tidak tergesa-gesa.”
Tidak hanya untuk diri sendiri, Lia juga berusaha menanamkan kecintaan terhadap Al-Qur’an di lingkungan keluarganya. “Mengajarkan ilmu Al-Qur’an di rumah adalah kewajiban,” tegasnya.
Agar anak-anak semangat belajar, ia memberi motivasi dengan cara yang menyenangkan. “Misalnya, memberitahu bahwa membaca dengan benar akan mendapatkan pahala dan bisa masuk surga, atau memberikan reward agar anak merasa senang.”
Gusti Ratu Permata Sari, Ibu Rumah Tangga

Bagi Gusti Ratu Permata Sari, perjalanan belajar ilmu Tajwid adalah sebuah perjalanan panjang yang penuh makna. “Belajar Tajwid sebenarnya sudah dari sekolah dasar saat di M.I,” kenangnya.
Namun, setelah sempat terhenti, ia baru mulai serius belajar kembali di tahun 2024. Bagi Gusti, memahami tajwid bukan sekadar teknik membaca, melainkan bagian penting dalam memuliakan Al-Qur’an. “Tajwid itu sangat penting karena untuk memastikan membaca Al-Qur’an dengan benar, lancar, fasih, dan sesuai kaidah yang telah ditetapkan,” jelasnya.
Dalam proses belajarnya, Gusti dibimbing oleh seorang guru ngaji, Ibu Anita. Ia mengakui pernah merasakan ketakutan saat membaca Al-Qur’an. “Iya, pernah takut salah. Cara mengatasinya jangan panik, tetap tenang dan fokus saat membaca Al-Qur’an. Jangan lupa perhatikan tajwid dan makhrajul hurufnya,” tuturnya.
Rutinitas belajarnya dilakukan dengan konsisten. “Saya biasanya setiap hari Selasa pagi belajar bersama di masjid, lalu mengulanginya kembali di rumah setelah menyelesaikan pekerjaan rumah,” ujarnya.
Manfaat dari kesungguhannya mulai terasa nyata. Gusti mengungkapkan, “Perubahan yang saya rasakan adalah mendapat ketenangan jiwa, kedamaian batin, peningkatan fokus dan konsentrasi, serta perubahan perilaku yang positif dalam kehidupan keseharian saya.”
Belajar tajwid bukan hanya tentang suara yang indah, tapi juga tentang membentuk hati yang lebih tenang dan kehidupan yang lebih berkah.
Novita Rahmawati, Ibu Rumah Tangga

Bagi Novita Rahmawati, belajar tajwid bukan hal baru. Namun, kesadaran untuk lebih serius memperdalamnya tumbuh sekitar tahun 2019. “Sebenarnya dari dulu sudah tahu kalau membaca Al-Qur’an harus tahu ilmu tajwid dan makhrojul hurufnya,” ujarnya.
Semangat itu semakin kuat ketika anak-anaknya mulai belajar mengaji. Dukungan orang tua sejak kecil, lalu teman-teman dan anak-anaknya kini, menjadi penguat dalam perjalanan belajarnya. Meskipun kadang muncul rasa ragu, Novita memilih untuk tetap optimis. “Kadang ada rasa takut salah, tapi Bismillah, yakin saja bisa,” tuturnya.
Kesibukan rumah tangga tidak menjadi halangan besar baginya. Setiap minggu, ia rutin mengikuti kelas tahsin bersama Umi Siti dan Bu Anita. “Kalau ada quiz atau ujian baru curi-curi waktu untuk belajar, jadi tidak setiap saat belajar,” ceritanya.
Manfaat belajar tajwid dirasakannya dalam berbagai sisi kehidupan. “Saya merasa kalau kita mau berusaha memperbaiki sesuatu yang salah dalam hidup, termasuk bacaan Al-Qur’an, Allah pasti bantu dalam segala hal,” ungkap Novita.
Di rumah, ia juga mendukung anak-anaknya dalam mengulang pelajaran tajwid yang sudah mereka dapatkan di sekolah dan tempat pengajian. Dengan cara ini, suasana belajar tetap ringan dan menyenangkan.
Bagi Novita, belajar tajwid bukan hanya tentang membaca Al-Qur’an dengan benar, tetapi juga tentang memperbaiki diri dan mendekatkan hati kepada Allah.
Bagaimana dengan Bunda-bunda sekalian? (Resty)













Discussion about this post