KAMU KUAT – Jakarta
Ilmu pengetahuan menjadi salah satu kunci utama dalam kemajuan sebuah negara. Setiap negara memiliki caranya sendiri dalam mengembangkan sains dan teknologi, mulai dari riset modern yang super canggih, sampai bagaimana mereka menghargai pengetahuan tradisional yang sudah ada sejak lama.
Bagi sebagian remaja, ketertarikan terhadap dunia ilmu pengetahuan bisa muncul dari berbagai hal dari teknologi keren, riset kesehatan, sampai budaya belajar yang unik. Nah, di tengah banyaknya negara maju dan berkembang di dunia, muncul pertanyaan yang menarik, negara mana sih yang paling memikat dari sisi ilmu pengetahuan?
Yuk simak komentar menarik dari para mahasiswa sahabat kanal remaja KAMU KUAT! Avesiar.com berikut!
Wikan Dwi Prajualiata, mahasiswa semester 8, Universitas Indraprasta

Banyak orang bermimpi kuliah ke luar negeri, tapi bagi Wikan Dwi Prajualiata, mahasiswa semester 8 dari Universitas Indraprasta, impiannya sangat jelas, Tiongkok. Apa sih yang bikin negeri Tirai Bambu itu begitu menarik di matanya?
“Tiongkok punya sistem pembelajaran yang sangat tertata dan memberikan kesempatan siswa untuk berkembang, bukan hanya dari akademis tapi juga non-akademis,” ujar Wikan.
Ia mengaku pertama kali tertarik dengan Tiongkok dari sisi sains, terutama saat ia mulai menganalisis data tentang kontribusi kuno, investasi modern, hingga pesatnya kemajuan teknologi dan bisnis di sana.
Menurut Wikan, Tiongkok tak hanya kuat di sektor pendidikan, tapi juga luar biasa di bidang teknologi. “Teknologi Tiongkok sudah tidak diragukan lagi. Mereka menggunakan metode ATM yaitu Amati, Tiru, Modifikasi. Tapi mereka nggak cuma meniru, mereka mengembangkan sampai ke tingkat yang lebih lanjut,” jelasnya sambil menyebut produk-produk seperti mobil terbang hingga infrastruktur canggih di Chongqing.
Namun, yang paling membekas bagi Wikan adalah nilai-nilai yang tertanam dalam kehidupan pendidikan di sana. “Kedisiplinan, kesopanan, dan guru-gurunya memberikan pandangan bahwa orang tua mereka bekerja keras agar anak-anaknya bisa terus belajar,” katanya.
Wikan juga mengagumi sistem pendidikan militer di Tiongkok yang diterapkan bagi anak-anak yang malas atau bersikap kasar terhadap orang tua. Mereka akan diberi pelatihan keras seperti tentara agar belajar menghargai dan bertanggung jawab. “Saya sangat tertarik kalau diberikan kesempatan untuk belajar di Tiongkok,” ujar Wikan antusias.
Bukan cuma untuk menimba ilmu, tapi juga belajar budaya dan kebiasaan baik yang bisa membentuk karakter. Baginya, ada tiga nilai utama yang membuat Tiongkok istimewa: menghargai orang, menghargai segala pekerjaan, dan kedisiplinan. Tiga hal yang menurutnya secara tidak sadar bisa mengembangkan ilmu pengetahuan.
“Dari kebiasaan yang baik akan selalu tercipta hal yang baik. Tapi kalau kebiasaannya buruk, ya hasilnya pun buruk. Maka dari itu, penting untuk punya kedisiplinan dan rasa menghargai,” tutup Wikan dengan penuh semangat.
Vivi, mahasiswa semester 8, Mahasiswa salah satu universitas swasta di Jakarta

Bagi Vivi, Thailand adalah bukti nyata bahwa ilmu pengetahuan bisa tumbuh subur di tanah yang kaya budaya. Negeri Gajah Putih ini berhasil membuat Vivi jatuh hati, bukan cuma karena kulinernya yang menggoda, tapi juga karena riset dan inovasi mereka yang menginspirasi.
“Thailand sangat menarik di bidang ilmu pengetahuan karena kekayaan alamnya yang luar biasa. Flora dan fauna di sana unik banget untuk riset,” kata Vivi membuka ceritanya.
Ia juga menyebut bahwa pengobatan tradisional Thailand masih sangat kuat dan sering dijadikan bahan studi kesehatan. Menurut Vivi, ketertarikannya terhadap Thailand tumbuh saat melihat bagaimana negara itu memadukan tradisi dengan teknologi.
“Aku mulai penasaran waktu tahu racikan pengobatan tradisional mereka ternyata diakui secara ilmiah dan diteliti di banyak universitas,” jelasnya.
Thailand bukan cuma jago tradisi, tapi juga serius soal riset modern. “Mereka punya lembaga besar seperti NSTDA yang aktif di bidang elektronik dan komputer. Pemerintah juga mendorong ekonomi digital dan bahkan Google berinvestasi membangun pusat data di sana,” ujarnya.
Buat Vivi, kekuatan Thailand ada pada kemampuannya memadukan riset ilmiah dengan budaya lokal. “Pengetahuan tradisional seperti herbal dan pijat Thai mereka kembangkan lewat riset modern yang diakui dunia,” ungkapnya.
Ditambah dengan kerja sama internasional dan investasi teknologi, Thailand menciptakan ekosistem sains yang aktif dan relevan. Nggak heran kalau Vivi punya impian besar untuk belajar di sana. “Aku ingin lanjut S2 di Thailand. Mereka punya lingkungan riset yang aktif, apalagi di bidang kesehatan, teknologi, dan lingkungan,” katanya penuh semangat.
Bagi Vivi, belajar di Thailand bukan hanya soal akademik, tapi juga pengalaman budaya yang berharga. Ditambahkannya, Indonesia bisa banyak belajar dari Thailand. “Mereka pintar menggabungkan pengetahuan tradisional dengan riset modern. Dan pemerintahnya juga aktif mendukung riset serta investasi teknologi,” jelasnya.
Vivi percaya, budaya masyarakat Thailand punya peran besar dalam kemajuan ilmu pengetahuan. “Mereka punya rasa hormat tinggi pada pendidikan dan tetap menjaga tradisi sambil terbuka pada hal baru,” tutupnya.
Hair Rizky, mahasiswa tingkat akhir (menunggu wisuda), Universitas Negeri Jakarta

“Ketika negara lain sibuk berdebat soal politik atau perdagangan, Jepang malah sibuk menciptakan masa depan lewat teknologi.” Itulah yang membuat Muhammad Hair Rizky, mahasiswa Universitas Negeri Jakarta, memilih Jepang sebagai negara paling menarik dari sisi ilmu pengetahuan.
Siapa sangka ketertarikan Hair pada sains di Jepang bermula dari hal yang simpel, toilet. “Saat saya mengetahui di Jepang, toilet itu banyak sekali fiturnya. Dan menurut saya itu menarik,” katanya kemudian tertawa.
Tapi dari sana, ia mulai menyadari bahwa Jepang benar-benar serius dalam hal teknologi dan inovasi. Bagi Hair, hal paling keren dari sains di Jepang adalah fokus mereka pada efisiensi. “Mereka bukan cuma memikirkan produksi, tapi juga pelayanan. Segala hal dibuat untuk mempermudah pekerjaan manusia,” jelasnya.
Hair menyebut bahwa kesadaran Jepang untuk memajukan sains lahir dari pengalaman pahit. “Mereka sadar dua kali kalau negaranya tertinggal dalam IPTEK, pertama saat disambangi Marco Polo, dan kedua setelah dijatuhi bom atom oleh Amerika,” katanya.
Dari pengalaman kelam itulah, Jepang mulai bangkit dan menjadikan ilmu pengetahuan sebagai pondasi utama kemajuan bangsa. Kontribusi Jepang di bidang sains nggak main-main. “Mereka unggul di teknologi mekanik seperti robotik, juga berani mengembangkan energi nuklir meski dulu sempat menjadi mimpi buruk bagi warganya,” ungkap Hair.
Ia juga mengagumi bagaimana Jepang mengelola limbah dan menjaga lingkungan. Nggak heran kalau Hair bermimpi besar, belajar dan bekerja di Jepang. “Karena budaya kerja keras mereka dibarengi upah yang setimpal. Pendidikan dan sains di sana juga sangat berkembang pesat,” ujarnya mantap.
Satu hal yang menurut Hair paling berpengaruh dalam kemajuan Jepang adalah budayanya. “Prinsip Bushido yang dulu cuma milik samurai, sekarang dilaksanakan oleh seluruh masyarakat Jepang. Budaya ini membentuk karakter bangsa yang disiplin dan gigih,” jelasnya, menyebut bagaimana nilai-nilai dari abad ke-16 masih hidup dalam masyarakat modern.
Hair percaya, Indonesia bisa belajar banyak dari Jepang, terutama soal pendidikan dan cara bangsa itu menanggapi keterpurukan. “Segala hal yang ada di Jepang bisa jadi pelajaran untuk kita memperbaiki diri,” tutupnya mengakhiri wawancara
Di tengah cepatnya perkembangan zaman, penting bagi remaja untuk mulai membuka mata terhadap dunia ilmu pengetahuan di berbagai belahan dunia. Bukan hanya sebagai penonton, tapi juga sebagai generasi yang siap belajar, terinspirasi, dan suatu saat berkontribusi.
Ketertarikan pada negara lain dalam bidang sains bukan berarti minder dengan negeri sendiri, justru bisa menjadi cermin dan motivasi agar Indonesia terus bergerak maju. Karena sejatinya, masa depan ilmu pengetahuan tak hanya ditentukan oleh teknologi, tapi juga oleh semangat belajar dan rasa ingin tahu yang tak pernah padam. (Resty)













Discussion about this post