Avesiar – Jakarta
Saham Tesla merangkak naik sebesar 5 persen pada Jum’at (6/6/2025) setelah sebelumnya anjlok hingga 14,3 persen pada Kamis (5/6/2025) malam usai cekcok antara Presiden AS Donald Trump dengan pengusaha mobil listrik tersebut, dikutip dari TRT World.
Merangkaknya saham Tesla dimungkinkan karena investor merasa terhibur oleh para pembantu Gedung Putih yang menjadwalkan panggilan telepon dengan CEO Elon Musk untuk membantu meredakan ketegangan dengan Trump.
Seperti ramai diperbincangkan, Trump mengancam akan memutus kontrak pemerintah dengan perusahaan-perusahaan Musk, sementara Musk menyarankan Trump harus dimakzulkan, mengubah hubungan mereka menjadi pertengkaran habis-habisan di media sosial.
Saham Tesla naik sekitar 5 persen di Frankfurt pada Jum’at, setelah ditutup turun 14,3 persen pada Kamis di New York, kehilangan sekitar 150 miliar dolar dalam nilai pasar.
DIkutip dari TRT World, Sabtu (7/6/2026), analis pasar senior di City Index Fiona Cincotta mengatakan bahwa tidak mungkin Trump akan mengakhiri subsidi dan kontrak dengan Tesla. Itu jelas ancaman yang tidak mungkin terwujud. “Saya tidak berharap ini akan berubah menjadi sesuatu yang lebih serius daripada perang kata-kata selama beberapa hari,” ujarnya.
Namun, analis mengatakan sebagian aksi jual pada Kamis disebabkan oleh faktor-faktor di luar hubungan pribadi Musk dengan presiden.
Dalam sebuah catatannya, analis ekuitas senior di CFRA Research Garrett Nelson mengatakan, mereka pikir aksi jual saham mencerminkan sejumlah faktor lain: kenaikan yang tidak dapat dibenarkan menyusul rilis laba Q1, penurunan pangsa pasar yang berkelanjutan di Tiongkok dan Eropa, dan kesadaran bahwa peluncuran Robotaxi minggu depan di Austin bisa mengecewakan. “Kami tetap pada posisi Hold, memperkirakan lebih banyak volatilitas dalam waktu dekat. Bersiaplah!” katanya.
Dugaan lain bahwa anjloknya saham Tesla dipengaruhi oleh peran Musk dalam pemangkasan biaya di pemerintahan AS telah merusak citra Tesla di mata para pemegang saham dan konsumen. Sementara saham tersebut masih dianggap sebagai bagian dari klub elit “Magnificent 7” Wall Street yang terdiri dari tujuh perusahaan terbesar berdasarkan kapitalisasi pasar, meskipun kini telah turun ke posisi kesembilan dalam hal nilai, di belakang Berkshire Hathaway dan Broadcom milik Warren Buffett.
Di sisi lain, direktur riset XTB Kathleen Brooks menyebut bahwa Elon Musk telah memberi sinyal bahwa ia terbuka untuk masa tenang dengan Trump, dan harga saham berjangka naik pada Jumat pagi. Dengan demikian, risikonya bisa lebih terlokalisasi pada saham Tesla dalam jangka pendek. (ard)













Discussion about this post