KAMU KUAT – Jakarta
Pernahkah kamu membayangkan bagaimana rasanya tumbuh tanpa pelukan seorang ayah, atau hidup dalam serba keterbatasan sejak kecil? Itulah kenyataan yang dijalani oleh banyak anak yatim dan dhuafa anak-anak yang harus menghadapi dunia dengan segala keterbatasannya.
Saat sebagian dari kita sibuk mengeluh karena tugas menumpuk atau uang jajan habis, mereka justru sedang berjuang agar tetap bisa sekolah dan meraih mimpi.
Mereka bukan hanya butuh bantuan materi, tapi juga perhatian, dukungan, dan rasa peduli dari kita semua. Sebagai remaja, kita punya energi dan semangat besar yang bisa digunakan untuk hal yang lebih bermakna menjadi teman, sahabat, dan penguat bagi mereka yang membutuhkan.
Melihat kondisi status serta sosial ekonomi tersebut, bagaimana remaja memahaminya? Berikut adalah komentar beberapa remaja kepada kanal remaja dan anak muda KAMU KUAT! Avesiar.com.
Rindu Khikmah Dinanti, mahasiswa IPB University, ketua pelaksana iympack Mengajar

Di balik senyum para relawan muda, ada kisah tulus yang menginspirasi. Salah satunya datang dari Rindu Khikmah Dinanti, mahasiswi baru IPB University yang baru-baru ini terjun dalam dunia kerelawanan.
Meski tergolong baru, semangatnya untuk berbagi sungguh luar biasa. Ia kini menjabat sebagai Ketua Pelaksana IYMPACK Mengajar, sebuah kegiatan sosial yang fokus mengajar anak-anak yatim dhuafa.
“Aku lihat postingan temenku di Instagram soal paket twibbon IYMPACK, terus penasaran dan cari tahu. Ternyata skalanya se-Jabodetabek. Awalnya cuma jadi penonton di grup, belum ikut terjun langsung. Sampai akhirnya ada open recruitment khusus mengajar anak-anak yatim. Di situ aku langsung tertarik,” cerita Rindu.
Rindu memanfaatkan waktu luangnya sebelum masuk kuliah pada 3 Agustus nanti dengan cara yang tak biasa, yaitu mengajar. Bukan sekadar datang untuk bermain atau memberi hiburan sesaat, Rindu ingin benar-benar memberi ilmu.
Ia melihat bahwa anak-anak yatim di Asrama The Yatim Field membutuhkan lebih dari sekadar hiburan. “Menurutku, jadi volunteer itu bukan cuma main-main ke panti. Tapi bagaimana kita bisa benar-benar memberikan sesuatu yang mereka butuhkan, dalam hal ini pelajaran umum seperti Bahasa Indonesia, Matematika, PPKn, dan lainnya,” ungkapnya.
Kegiatan mengajar ini berlangsung selama tiga bulan. Rindu bahkan menempuh jarak 1 jam 40 menit naik motor setiap hari Sabtu demi bisa hadir di kelas. Ia mengajar khusus akhwat (perempuan) kelas 3 dan 4 yang berusia antara 13 hingga 14 tahun. Meski muridnya hanya 9 orang, semangatnya tetap menyala.
“Aku masih baru banget di dunia volunteer. Tapi jujur, di sini aku makin paham kenapa orang yang ikut kegiatan kayak gini tuh ketagihan. Karena hati kecil kita tersentuh setiap lihat anak-anak yang nggak seberuntung kita,” katanya dengan semangat.
Menjadi ketua pelaksana bukan hal yang mudah. Namun bagi Rindu, ini adalah tantangan yang ia ambil dengan penuh kesadaran. Ia ingin masa mudanya berarti, dan ia percaya bahwa langkah kecil ini bisa menjadi jejak kebaikan yang panjang.
“Harapanku, semoga ilmu yang aku punya bisa bermanfaat untuk mereka yang membutuhkan. Aku juga pengin lebih aware terhadap orang sekitar, dan semoga ini bisa jadi amal jariyah untuk aku,” tuturnya penuh harap.
Di akhir wawancara, Rindu menyampaikan pesan penting untuk remaja lainnya. “Semoga para remaja bisa lebih aware dan mulai mencoba hal-hal yang bermanfaat untuk masa mudanya. Karena sesederhana apapun, kalau dilakukan dengan tulus, bisa berdampak besar.”
Fadhilah Rahmatunnisa, siswi kelas 7, SMP Negeri 7, Bogor

Menjadi yatim bukan berarti tak bisa bersyukur. Dan menjadi remaja bukan berarti tak bisa peduli. Dua hal itu hadir dalam pribadi Fadhilah Rahmatunnisa, siswi kelas 1 di SMPN 7 Bogor, yang punya pandangan mendalam tentang kehidupan anak yatim dan dhuafa karena ia pun sedang menjalaninya sendiri.
“Aku juga anak yatim. Tapi aku bersyukur karena Allah masih memberikan kecukupan,” kata Fadhilah dengan nada tulus.
Meskipun kehilangan ayah sejak dini, Fadhilah tak kehilangan semangat untuk bersyukur, peduli, dan berbagi. Ketika ditanya bagaimana perasaannya melihat anak yatim atau dhuafa yang hidup dalam kekurangan. “Saya ngerasa sedih dan kasihan. Mereka masih kecil dan butuh biaya besar untuk sekolah. Tapi saya salut banget sama mereka yang tetap semangat dan berjuang meski dalam kekurangan.” ujarnya
Fadhilah sering melihat kisah inspiratif anak-anak dari keluarga kurang mampu yang justru mampu berprestasi. Baginya, itu bukan hanya keren tapi juga bukti bahwa semangat bisa mengalahkan keterbatasan.
Namun, menurutnya, mereka tetap butuh dukungan, bukan hanya materi tapi juga perhatian. “Memberikan support, menjadikan mereka teman, dan menunjukkan bahwa kita peduli, itu bisa membangun kepercayaan mereka.”
Fadhilah percaya bahwa peran remaja sangat penting dalam membantu anak-anak yatim dan dhuafa. “Remaja punya energi dan semangat besar. Kalau kita peduli, kita bisa jadi contoh. Kita bisa bantu lewat ide-ide kreatif atau program sosial. Bantuan itu nggak harus uang, bisa juga lewat perhatian dan kepedulian,” jelasnya.
Ia sendiri punya cara sederhana untuk mengajak teman-temannya ikut peduli. Saat sedang santai atau ngobrol bareng, ia menyelipkan cerita dan ajakan kecil. “Aku bilang ke teman-teman, masih banyak orang yang nggak seberuntung kita. Terus aku ajak bikin program kayak donasi buku, baju, sepatu, atau kegiatan sosial. Sekecil apapun bantuan kita, pasti sangat berarti,” ucapnya.
Sebagai bentuk empati setiap hari, Fadhilah melakukan hal-hal kecil tapi bermakna, menyapa, tersenyum, dan mengajak ngobrol. “Biar mereka nggak merasa sendiri. Biar mereka merasa nyaman,” tutup Fadhilah.
Siti Maryam Saleh, siswa kelas 12, SMA Negeri 1 Tarumajaya, Bekasi

“Saya merasa sedih dan tergerak ketika melihat anak yatim atau dhuafa yang hidup dalam kekurangan. Hal ini membuat saya semakin bersyukur dan ingin berbuat sesuatu untuk membantu mereka.”
Baginya, kehidupan anak-anak yatim dan dhuafa bukan hanya soal kehilangan secara materi, tapi juga kehilangan dukungan emosional dari keluarga. Ia membayangkan betapa beratnya perasaan mereka dalam menjalani hari-hari.
“Mereka mungkin merasa kesepian, tidak seberuntung teman-temannya, dan terkadang kehilangan harapan. Tapi banyak juga yang tetap tegar dan berjuang keras meski dalam keterbatasan,” ujar Maryam.
Sebagai remaja, Maryam percaya bahwa kita semua bisa berkontribusi, meski dengan cara sederhana. Mulai dari menyisihkan uang jajan, menyumbangkan pakaian, hingga menyapa dengan ramah, semuanya bisa jadi bentuk empati yang menguatkan. “Terkadang, perhatian kecil bisa memberikan harapan besar,” katanya.
Lebih dari itu, Maryam menekankan pentingnya peran remaja dalam perubahan sosial. Menurutnya, remaja punya semangat yang bisa menyebarkan inspirasi. “Remaja adalah generasi masa depan. Dengan kepedulian sejak dini, kita bisa menjadi agen perubahan yang menginspirasi lingkungan sekitar,” tuturnya mantap.
Maryam sendiri punya cara unik untuk mengajak teman-temannya ikut peduli. Ia percaya bahwa aksi nyata dimulai dari contoh yang terlihat. “Saya bisa mulai dengan memberi contoh terlebih dahulu. Lalu mengajak teman melalui kegiatan seperti program donasi atau kampanye kecil di media sosial,” jelasnya.
Meski terdengar kecil, Maryam yakin bahwa empati bisa ditumbuhkan setiap hari lewat sikap sederhana. “Menjaga sikap rendah hati, tidak menyia-nyiakan makanan, dan mendoakan mereka itu semua bentuk empati yang sederhana tapi bermakna,” pungkasnya.
Menjadi remaja bukan penghalang untuk peduli. Justru di usia muda inilah saat yang paling tepat untuk melatih kepekaan, menyebarkan kebaikan, dan tumbuh. Peduli tak harus menunggu kaya, tak harus menunggu dewasa. Cukup dengan hati yang ikhlas dan niat untuk bermanfaat. Yuk, mulai dari yang kecil. (Resty)













Discussion about this post