Avesiar – Jakarta
Umat Islam diminta agar tetap berpegang teguh kepada para ulama yang istiqamah dalam menyampaikan kebenaran, terutama di tengah situasi zaman yang penuh kegaduhan dan guncangan. Demikian kata Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Miftachul Akhyar saat Rapat Harian Syuriyah dan Tanfidziyah di Gedung PBNU, Jalan Kramat Raya 164, Jakarta, pada Selasa (17/7/2025).
Masa ini disebutnya sebagai zaman pengayakan, sebagaimana digambarkan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, yaitu ketika manusia disaring dan hanya yang teguh pada kebenaran yang akan bertahan. “Ini zaman guncangan, zaman kegaduhan. Tapi dari sana akan terpilih manusia-manusia yang tersaring. Rasulullah sudah menggambarkan itu dalam haditsnya,” ujar Kiai Miftach dikutip dari laman Nadhlatul Ulama, Jum’at (20/6/2025).
Mengutip sabda Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam, disampaikannya, bahwa akan datang suatu masa ketika umat seperti digerakkan oleh alat pengayak, hingga sulit ditemukan manusia yang benar-benar amanah. “Yang tinggal hanya sisa-sisa, dan bahkan yang sisa pun bercampur antara yang jujur dan tidak,” bebernya.
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, lanjut Kiai Miftach, berpesan agar umat tetap bersama jemaah ulama dan memegang teguh apa yang mereka kenal sebagai kebaikan. “Ambil yang kamu kenal sebagai kebaikan, tinggalkan yang kamu ingkari. Peganglah jemaah,” tegasnya.
Ia menegaskan bahwa sekarang ini pribadi-pribadi sulit dikenali, untuk itu ia mengajak agar umat memegang kepada jemaah ulama yang istiqamah menyampaikan kebenaran.
Fenomena maraknya buzzer (pendengung) yang mendominasi opini publik dan membentuk narasi-narasi sesat di ruang digital, juga menjadi bahan diskusi pada kesempatan itu. Kiai Miftach mengatakan bahwa kekuatan opini hari ini sudah menjadi industri yang sulit dilawan dengan cara biasa. (adm)













Discussion about this post