Avesiar – Jakarta
Bantahan soal akan melanjutkan perundingan nuklir dengan Amerika Serikat setelah berakhirnya perang 12 hari dengan Israel disampaikan Iran dan menuduh Washington membesar-besarkan dampak serangan AS.
Dilansir The New Arab, Kamis (26/6/2025), konflik paling serius antara Israel dan Iran sejauh ini menggagalkan perundingan nuklir antara Iran dan Amerika Serikat. Sedangkan Trump mengatakan Washington akan mengadakan diskusi dengan Teheran minggu depan, dengan utusan khususnya Steve Witkoff yang menyatakan harapan “untuk perjanjian perdamaian yang komprehensif”.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menepis apa yang disebutnya sebagai “spekulasi” bahwa Teheran akan datang ke meja perundingan dan mengatakan hal itu tidak boleh dianggap serius.
“Saya ingin menyatakan dengan jelas bahwa tidak ada kesepakatan, pengaturan, atau pembicaraan yang telah dibuat untuk memulai perundingan baru. Belum ada rencana yang ditetapkan untuk memulai perundingan,” katanya di televisi pemerintah.
Penyangkalan Araghchi terjadi saat anggota parlemen Iran meloloskan rancangan undang-undang “mengikat” yang menangguhkan kerja sama dengan pengawas nuklir PBB dan setelah pemimpin tertinggi Ayatollah Ali Khamenei menuduh Trump melebih-lebihkan dampak serangan AS terhadap situs nuklir Iran.
Dalam pidato yang disiarkan televisi — penampilan pertamanya sejak gencatan senjata dalam perang dengan Israel, Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Khamenei memuji apa yang ia gambarkan sebagai “kemenangan” Iran atas Israel, bersumpah untuk tidak pernah menyerah pada tekanan AS dan bersikeras bahwa Washington telah menerima “tamparan” yang memalukan.
“Presiden Amerika membesar-besarkan peristiwa dengan cara yang tidak biasa, dan ternyata ia membutuhkan pembesar-besaran ini,” terang Khamenei yang menolak klaim AS bahwa program nuklir Iran telah mengalami kemunduran selama beberapa dekade. (ard)












Discussion about this post