• Nasional & Opini
    • Politik
    • Hukum
    • Sosial
    • Budaya
    • HanKam
    • Daerah
    • Kesehatan
    • Edukasi
    • Opini
    • English Version
  • World
    • Economy
    • Politic
    • Law
    • Culture
    • Islam
    • Freedom for Palestine
    • Umra & Hajj
    • Tourism
  • Ekonomi
    • Bisnis & Wirausaha
    • Common
    • Islami
    • Property
    • CSR
  • Nusantara
    • Metro
    • Urban
    • Guru Kita
    • Prestasi
    • Profil Perubahan
    • Wisata
  • Healtech
    • Hidup Sehat
    • Riset
    • Teknologi
    • Gadget
  • Auto-Sport & Hobby
    • Aneka Olah Raga
    • Sepeda
    • Golf
    • Auto
    • Fauna & Flora Care
  • Change
    • Motivasi
    • Entrepreneurship
    • Pensiun Sehat
  • Syar’i
    • Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam
    • Muslim Fashion
    • Harmoni Keluarga
    • Griya Harmoni
    • Psikologi
    • Masjid & Activity
  • People & Activity
    • Figure
    • Community
    • Society
    • Social
    • Event
    • Podcast Ladders to be Leaders
  • KAMU KUAT
    • Podcast KAMU KUAT
  • Youth
    • Smart Teens
    • Students
    • School Story
    • Campuss Story
    • Millennial
  • Kuliner
    • Resto
    • Kaki Lima
    • Resep
  • City Jour & Video
No Result
View All Result
No Result
View All Result
Home Info & Tips

Humor-humor Sufi Nasruddin Hoja, 10 Kisah Lucu dan Satir

by Avesiar
12 Juli 2025 | 21:43 WIB
in Info & Tips
Reading Time: 7 mins read
A A
Humor-humor Sufi Nasruddin Hoja, 10 Kisah Lucu dan Satir

Ilustrasi. Foto: Pexels/Andrea Piacquadio

Avesiar – Jakarta

Humor sufi dari Filsuf terkenal Nasruddin Hoja memang selalu menggelitik. Berikut 10 Kisah Lucu dan Satir.

Memang Kamu Percaya Siapa?

Seorang tetangga mengetuk pagar rumah Nasruddin, sang Mulla menemuinya di luar. “Bolehkan, Mulla,” tanya si tetangga, “aku meminjam keledaimu hari ini? Aku harus mengantar beberapa barang ke kota sebelah.” Sebenarnya Nasruddin merasa sayang untuk meminjamkan keledainya, maka ia menjawab, “Maaf, aku sudah meminjamkannya kepada orang lain.”

Tiba-tiba terdengar ringkikan keledai dari belakang rumah. Si tetangga berkata, “Saya mendengar suara keledaimu dari belakang sana.” Nasruddin yang terkejut segera menjawab, “Siapa yang kamu percaya? keledai atau Mullamu?”

Semua Rasanya Sama

Beberapa anak melihat Nasruddin datang dari ladang anggur sambil membawa dua keranjang penuh anggur di atas keledainya. Mereka segera mengelilingi Nasruddin untuk mencicipi. Nasruddin mengambil setangkai anggur dan memberi masing-masing anak sebutir anggur. “Anda punya banyak sekali anggur,” gerutu seorang anak, “kenapa memberi kami sangat sedikit?” Nasruddin menjawab, “Tidak ada bedanya jika kamu makan anggur sebutir atau sekeranjang penuh. Semua rasanya sama.” Ia kemudian melanjutkan perjalanannya.

Balasan Kebiasaan Buruk

Bacaan Terkait :

Humor Saat Puasa, Nasruddin Hoja Menemani Penguasa dan Kisah Namrudz

Humor Saat Puasa, Ketika Nasruddin Hoja Menyelamatkan Bulan

Nasruddin Hoja dan Asal-usul Sang Filsuf Satir Humoris

Nasruddin Bersembunyi Dari Pencuri

Humor Sufi : Malu Kepada Pencuri

Load More

Suatu hari, saat Nasruddin sedang minum kopi sambil duduk pada kursi favoritnya di sebuah kedai, seorang anak sekolahan datang dan memukul turbannya hingga jatuh. Seperti tidak terjadi apa-apa, ia mengambil turbannya dan memakainya kembali di kepalanya. Keesokan harinya, anak itu datang lagi saat Nasruddin duduk di kursi favorit yang sama dan kembali memukul turbanya hingga jatuh.

Sekali lagi, Nasruddin menganggapnya seperti tidak terjadi apa-apa dan memakai turbannya kembali. Saat anak nakal itu melakukannya lagi pada hari yang berbeda, kawan-kawan Nasruddin menegurnya untuk menghukum si bocah. “Ck ck. Bukan seperti caranya.”

Keesokan harinya, sepasukan prajurit yang menginvasi menduduki kota sehingga Nasruddin tidak duduk di tempat favoritnya seperti biasa. Di kursinya itu, duduk kapten pasukan penginvasi. Si anak lewat dan seperti biasa memukul turban yang ia kira adalah turban Nasruddin. Tanpa pikir panjang, si kapten segera memenggal kepala anak itu dengan sekali tebas.

Memperoleh Pencerahan

Nasruddin berjalan di pasar sambil diikuti sekelompok besar pengikut. Apapun yang ia lakukan, para pengikutnya segera mengikuti. Setiap beberapa langkah, ia akan berhenti kemudian melambaikan tangannya ke udara, menyentuh kakinya, dan melompat sambil berseru, “Hu Hu Hu!” Pengikutnya juga berhenti dan melakukan persis sama seperti yang ia lakukan.

Salah satu pedagang yang kenal dekat dengan Nasruddin secara diam-diam bertanya kepadanya,”Apa yang kamu lakukan, kawan lamaku? Mengapa orang-orang ini menirumu?” “Aku menjadi Sheik Sufi,” jawabnya, “Mereka ini adalah murid-muridku (pencari kebenaran spiritual); Aku menolong mereka untuk mencapai pencerahan.”

“Bagaimana kamu tahu bilamana mereka telah mencapai pencerahan?” tanya di pedagang. “Itu merupakan bagian yang paling mudah!” jawab Nasruddin, “Setiap pagi aku menghitung jumlah mereka. Setiap orang yang tidak datang lagi – mereka telah memperoleh pencerahan!”

Jangan-jangan Memang Benar

Joha (sebutan Nasruddin di Timur Tengah) diperolok-olok oleh sekelompok anak kecil yang mengikuti dirinya. Untuk mengusir mereka, Nasruddin berkata, “Tidakkah kalian tahu bahwa orang-orang pada pernikahan di sana membagi-bagikan kue-kue? Pergilah ke sana supaya kalian diberi kue!” Anak-anak kecil itu segera berlari ke arah yang ditunjuk oleh Nasruddin.

Melihat mereka berlarian, Nasruddin berseru, “Mengapa kalian berlari?” Anak-anak itu menjawab, “Orang-orang di pernikahan membagikan kue-kue!” Joha terdiam dan berpikir, “Mungkin memang benar ada orang-orang di sana yang membagikan kue-kue!” kemudian ikut berlari mengikuti mereka.

Pria Tua dan “Tidak Ada”

Suatu ketika Nasruddin sedang memperbaiki atap rumahnya. Ia menyandarkan tangga kayu kemudian naik ke atas atap dan mulai bekerja. Beberapa waktu kemudian, seorang pria tua berdiri di gerbang rumahnya dan mengucapkan salam, memanggil Nasruddin untuk turun menemuinya.

Nasruddin pun turun dan menemui pria itu untuk menanyakan apa keperluannya. Sambil berbisik, pria itu berkata, “Apakah anda mempunyai sedikit sedekah untukku, sekadarnya saja?”

Kemudian Nasruddin membukakan gerbang dan mempersilahkan pria itu masuk. Ia mengajak tamunya naik ke atap melalui tangga kayu yang ia sandarkan di dinding. Setelah keduanya berada di atap, Nasruddin menjawab permintaan tamunya, “Tidak ada.”

Periuk Beranak

Suatu hari, Nasruddin meminjam periuk tetangganya. Ia mengembalikan periuk tersebut setelah beberapa hari. Tetangganya melongok ke dalam periuknya dan menemukan sebuah panci kecil di dalamnya,

“Kok ada panci di sini?” Mulla Nasruddin menjawab, “Luar biasa! Periuknya mempunyai anak!” Si tetangga menertawakan kebodohan Nasruddin dan mengambil periuk beserta pancinya masuk ke dalam rumah.

Beberapa minggu kemudian, Nasruddin kembali meminjam periuknya. Dengan senang hati, si tetangga meminjamkan periuknya. Namun, kali ini, setelah berminggu-minggu Nasruddin belum juga mengembalikan periuk tersebut. Akhirnya ia datang menemui Nasruddin dan menanyakan periuknya itu.

“Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un,” jawab Nasruddin, “periukmu sudah wafat.”

“Wafat?!” teriak tetangganya, “Sejak kapan ada periuk yang bisa wafat?”

Nasruddin menjawabnya dengan lugas, “Sejak mereka bisa beranak.”

Menunggang Keledai dan Mulut Orang

Nasruddin bersama putranya berangkat ke pasar. Karena rasa sayangnya, ia mendudukkan putranya di atas keledai, sementara ia sendiri berjalan menuntun keledainya itu. Di tengah jalan, beberapa orang berceloteh bahwa kelakuan mereka itu tidak pantas.

Mengapa seorang anak muda yang sehat duduk di atas keledai, sementara ayahnya yang tua berjalan di sampingnya. Nasruddin merasa malu sehingga ia menyuruh putranya turun dan ia sendiri yang menunggang keledai.

Tapi kali ini pun orang-orang menganggapnya sangat tega kepada putranya sendiri, “Masa seorang ayah tega membiarkan putranya berjalan menuntun keledai, sementara ia enak-enakan duduk?”

Akhirnya Nasruddin menyuruh putranya ikut naik menunggangi keledai dan duduk di depannya, kali ini orang-orang menggerutu mengapa ayahnya membuat si anak yang mengusiri keledai.

Saat ia menyuruh putranya duduk di belakang, orang-orang kembali berkomentar bahwa mereka berdua tidak berbelas-kasihan karena bersama-sama menunggangi keledai yang kecil. Dengan sebal, akhirnya Nasruddin kembali ke rumah, meletakkan keledainya di kandang, dan berjalan kaki ke pasar bersama putranya.

Ia kemudian menasihati putranya, “Nanti setelah kamu memiliki keledai, jangan pernah mencukur bulu ekornya di depan orang lain! Beberapa akan berkata kamu memotong terlalu banyak, sementara yang lain berkata kamu memotong terlalu sedikit. Jika kamu ingin menyenangkan semua orang, pada akhirnya keledaimu tidak akan memiliki ekor sama sekali.”

Mengangkut Garam dan Mengakali Keledai

Keluarga Nasruddin bukanlah keluarga yang kaya. Selama beberapa waktu, ia bekerja membeli garam di pasar kemudian menjualnya lagi di rumah. Keledai yang ia miliki tidak terlalu besar; setiap kali Nasruddin menumpuk beberapa karung garam di punggungnya, ia segera merasa kelelahan.

Suatu hari, keledai itu terpeleset dan tercebur ke sungai sehingga sebagian garam yang ia angkut larut ke dalam air. Akibatnya beban yang ia bawa menjadi lebih ringan. Semenjak saat itu, si keledai selalu dengan sengaja menceburkan dirinya ke sungai di setiap perjalanan pulang.

Nasruddin memiliki ide untuk menghilangkan kebiasaan baru si keledai. Pada kesempatan berikutnya, ia tidak membeli garam melainkan beberapa karung kapuk.

Kali ini si keledai tetap menceburkan diri, tetapi beban yang ia bawa malah semakin berat karena kapuk menyerap air. Semenjak saat itu, keledai itu tidak lagi menceburkan diri ke sungai setiap mereka pulang dari pasar.

Benih Unggul

Salah seorang murid Nasruddin adalah seorang ahli kitab yang terpelajar. Pada saat Nasruddin mengajar, ia sering menyela dan meralat perkataannya, sehingga lama-kelamaan Nasruddin berpikir bahwa hal tersebut tidak baik. Pada suatu kesempatan, Nasruddin memanggil si ahli dan berkata bahwa tiba-tiba ia merasa ingin berkebun.

Ia meminta tolong kepadanya, karena ia dianggap pandai, untuk memilih benih yang bagus untuk dapat ia tanam. Dengan senang hati, si ahli kitab pergi ke pasar dan membeli sekantung benih untuk gurunya.

Nasruddin mengamati benih-benih tersebut satu demi satu, tiba-tiba ia menunjuk sebutir benih dan berkata bahwa benih tersebut sangat istimewa, kemudian memisahkan benih tersebut dari yang lain.

Sementara benih-benih yang lain ditanam disirami air dan disinari matahari, Nasruddin meminta bantuan si ahli kitab untuk menumbuhkan sebutir benihnya yang istimewa.

Setiap harinya, Nasruddin akan menyirami benih istimewa tersebut dengan membacakan ayat-ayat suci, sementara itu si ahli kitab yang pandai akan menyinarinya dengan lampu pelita selama Nasruddin membacakan ayat suci.

Seminggu kemudian, benih-benih yang ditanam di halaman mulai menumbuhkan tunas, tetapi benih unggul Nasruddin masih sama sekali tidak berubah. Dengan nada heran, Nasruddin berkata, “Padahal benih ini setiap hari sudah disinari pelita pengetahuan dan disirami ayat-ayat suci, tetapi mengapa tidak tumbuh juga? Padahal ia sudah diperlakukan dengan istimewa.”

Pertanyaan Nasruddin menyentak hati muridnya itu. Ia menitikkan air mata kemudian memeluk gurunya sambil memohon maaf. Sambil menitikkan air mata, Nasruddin membalas pelukan muridnya itu. (adm/Wikipedia)

Tags: humor sufiKisah Lucunasruddin hoja
ShareTweetSendShare
Previous Post

Nasruddin Hoja dan Asal-usul Sang Filsuf Satir Humoris

Next Post

Sanksi AS Terhadap Pelapor Khusus PBB Atas Genosida Israel di Gaza Adalah Tanda ‘Rasa Bersalah’

Mungkin Anda Juga Suka :

Gurun-gurun Terbesar di Dunia, Ternyata Sahara yang Ketiga

Gurun-gurun Terbesar di Dunia, Ternyata Sahara yang Ketiga

20 Desember 2025

...

Santai Atasi Stress Kerja, Berikut 24 Cara untuk Mengatasinya

Santai Atasi Stress Kerja, Berikut 24 Cara untuk Mengatasinya

16 Desember 2025

...

Sungai-sungai Terpanjang di Dunia, Pertama Sungai Nil dan Kesembilan Kongo

Sungai-sungai Terpanjang di Dunia, Pertama Sungai Nil dan Kesembilan Kongo

10 Desember 2025

...

Cermati 10 Negara Bagian di AS dengan Tingkat Kejahatan Tertinggi

Cermati 10 Negara Bagian di AS dengan Tingkat Kejahatan Tertinggi

30 Oktober 2025

...

Apa Itu Standar Ganda atau Double Standard?

Apa Itu Standar Ganda atau Double Standard?

13 September 2025

...

Load More
Next Post
Sanksi AS Terhadap Pelapor Khusus PBB Atas Genosida Israel di Gaza Adalah Tanda ‘Rasa Bersalah’

Sanksi AS Terhadap Pelapor Khusus PBB Atas Genosida Israel di Gaza Adalah Tanda ‘Rasa Bersalah’

Diaspora di Paris Sambut Hangat Presiden Prabowo Dalam Rangka Menghadiri Bastille Day

Diaspora di Paris Sambut Hangat Presiden Prabowo Dalam Rangka Menghadiri Bastille Day

Discussion about this post

TERKINI

Di Ambang Mahacahaya

9 Maret 2026

Humor Saat Puasa, Nasruddin Hoja Menemani Penguasa dan Kisah Namrudz

9 Maret 2026

Profil Mojtaba Khamenei, Pemimpin Tertinggi Iran Pengganti Ayahnya yang Juga Dibenci AS

9 Maret 2026

Tasbih Sunyi di Relung Nurani

8 Maret 2026

Humor Saat Puasa, Ketika Nasruddin Hoja Menyelamatkan Bulan

8 Maret 2026

Sunyi Sebagai Kitab Terbuka

7 Maret 2026

Prihatin 50 Persen Anak Indonesia Terpapar Konten Seksual, Komdigi Tunda Akses ke Medsos Sampai Usia 16 Tahun

6 Maret 2026

Pemerintah Berikan 66 Ribu Tiket Gratis dan 841 Kapal untuk Angkut 3,2 Juta Penumpang Lebaran

6 Maret 2026

Jadi Tempat Bukber yang Cozy di Mal, Resto Tekko Kebayoran Park Siapkan Paket 90 Ribuan

6 Maret 2026

Humor Saat Puasa, Mencoba Ganti Rokok dengan Kurma

6 Maret 2026
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Cyber
  • Kontak

© 2017 Avesiar.com - All Rights Reserved

  • Nasional & Opini
    • Politik
    • Hukum
    • Sosial
    • Budaya
    • HanKam
    • Daerah
    • Kesehatan
    • Edukasi
    • Opini
    • English Version
  • World
    • Economy
    • Politic
    • Law
    • Culture
    • Islam
    • Freedom for Palestine
    • Umra & Hajj
    • Tourism
  • Ekonomi
    • Bisnis & Wirausaha
    • Common
    • Islami
    • Property
    • CSR
  • Nusantara
    • Metro
    • Urban
    • Guru Kita
    • Prestasi
    • Profil Perubahan
    • Wisata
  • Healtech
    • Hidup Sehat
    • Riset
    • Teknologi
    • Gadget
  • Auto-Sport & Hobby
    • Aneka Olah Raga
    • Sepeda
    • Golf
    • Auto
    • Fauna & Flora Care
  • Change
    • Motivasi
    • Entrepreneurship
    • Pensiun Sehat
  • Syar’i
    • Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam
    • Muslim Fashion
    • Harmoni Keluarga
    • Griya Harmoni
    • Psikologi
    • Masjid & Activity
  • People & Activity
    • Figure
    • Community
    • Society
    • Social
    • Event
    • Podcast Ladders to be Leaders
  • KAMU KUAT
    • Podcast KAMU KUAT
  • Youth
    • Smart Teens
    • Students
    • School Story
    • Campuss Story
    • Millennial
  • Kuliner
    • Resto
    • Kaki Lima
    • Resep
  • City Jour & Video