Avesiar – Jakarta
Nasruddin Hoja, Nasruddin, atau Nasreddin (Turki: Nasreddin Hoca, Turki Ottoman: Naṣraddīn Juḥā, Uzbek:Nosiriddin Xo’ja, Nasreddīn Hodja, Bosnia: Nasrudin Hodža) adalah seorang sufi satirikal dari Dinasti Seljuk, dipercaya hidup dan meninggal pada abad ke-13 di Akshehir, dekat Konya, ibu kota dari Kesultanan Rûm Seljuk, sekarang di Turki.
Ia dianggap orang banyak sebagai filsuf dan orang bijak, dikenal akan kisah-kisah dan anekdotnya yang lucu. Ia muncul dalam ribuan cerita, terkadang jenaka dan pintar, terkadang bijak, tetapi sering juga bersikap bodoh atau menjadi bahan lelucon. Setiap kisah Nasruddin biasanya mengandung humor cerdas dan mendidik. Festival Nasreddin Hodja dirayakan secara internasional antara 5–10 Juli setiap tahun di kota tempat tinggalnya.
Asal dan warisan
Berbagai masyarakat mengklaim Nasruddin ke dalam etnis mereka. Beberapa sumber menyebutkan tempat kelahirannya di Desa Hortu di Sivrihisar, Provinsi Eskişehir, sekarang Turki, pada abad ke-13. Ia kemudian tinggal di Akşehir, dan kemudian di Konya saat pemerintahan Dinasti Seljuk. Ia meninggal pada tahun 1275/6 atau 1285/6 M. Makam Nasruddin dipercaya berada di Akşehir dan “Festival Internasional Nasreddin Hodja” diadakan setiap tahunnya di Akşehir pada 5–10 Juli.
Menurut Prof. Mikail Bayram yang mengadakan penelitian ekstensif mengenai Nasreddin Hoca, nama lengkapnya adalah Nasir ud-din Mahmud al-Hoyi, gelarnya Ahi Evran (karena menjadi pemimpin organisasi ahi). IUa lahir di Kota Hoy di Azerbaycan, menempuh pendidikan di Horasan dan menjadi murid seorang mufassir Quran yang terkenal, Fakhr al-Din al-Razi, di Herat.
Ia dikirim ke Anatolia oleh sang Khalif di Baghdad untuk mengorganisasi pertahanan dan perlawanan terhadap invasi Mongol. Ia menjabat sebagai seorang kadı (hakim Islamik) di Kayseri. Hal tersebut menjelaskan mengapa dalam cerita dirinya diminta menjadi hakim, tidak hanya dalam segi religius saja. Selama kekacauan invasi Mongol, ia menjadi lawan politik Jalaluddin Rumi, tokoh hebat lain pada masa itu yang juga tinggal di Konya.
Ia dikenal di Masnavi dalam anekdot juha karena alasan ini. Ia menjadi pengawas dalam ruang sidang Kaykaus II di Konya. Karena telah tinggal di berbagai kota dan area luas dan setia melawan invasi Mongol serta meliki karakter yang jenaka, ia diterima berbagai bangsa dan kultur dari Turki sampai Arab, dan dari Rusia hingga China, yang kebanyakan merupakan bangsa-bangsa yang menderita akibat invasi Mongol.
Setelah beberapa generasi berlalu, beberapa cerita baru ditambahkan dalam kumpulan kisah Nasruddin, beberapa cerita dimodifikasi, ia dan kisah-kisahnya menyebar ke berbagai wilayah. Teman-tema dalam cerita menjadi bagian cerita rakyat dari beberapa negara dan mengekspresikan imajinasi nasional dari berbagai kultur.
Meskipun kebanyakan menggambarkan Nasruddin berada di lokasi desa yang kecil, beberapa kisah lain menggunakan konsep masa hidup Nasruddin tidak dibatasi waktu. Mereka melengkapi folklorenya dengan kebijaksanaan ringkas tetapi tajam yang mengungguli semua ujian dan penderitaan. Manuskrip Nasruddin tertua berasal dari tahun 1571.
Sekarang ini, cerita-cerita Nasruddin telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa. Beberapa wilayah mengembangkan tokoh-tokoh yang menyerupai Nasruddin. Pada beberapa wilayah, Nasruddin menjadi bagian kebudayaan dan sering kali disebut dalam kehidupan sehari-hari. Karena ada ribuan kisah Nasruddin yang berbeda-beda, kisah-kisahnya selalu ada saja yang sesuai dengan kejadian sehari-hari dalam masyarakat.
Nasruddin sering muncul sebagai tokoh bertingkah-laku aneh dalam berbagai tradisi rakyat Albania, Arab, Armenia, Azerbaijani, Bengali, Bosnia, Bulgaria, China, Yunani, Gujarati, Hindi, Italia, Bahasa Ladino, Kurdish, Bahasa Pashtun, Persia, Romania, Serbia, Rusia, Turkish, dan Urdu.
Meninggal dan Makam Nasruddin
Nasruddin meninggal dunia saat berumur sekitar 80 tahun. Ia dimakamkan di Aksehir, Konya. Makam marmernya dinaungi sebuah kubah kecil yang disangga enam pilar. Di makamnya terdapat tulisan: “Di sini dimakamkan Nasruddin, meninggal pada tahun 386”. Sebenarnya Nasruddin meninggal pada tahun 683 Hijriyah (sekitar 1284-1285 M), tulisan di makamnya dimaksudkan untuk lelucon dengan cara ditulis terbalik.
Pada pintu masuk ke dalam kubah makam (di antara dua pilar penyangga), dibangun sebuah gerbang besi yang tinggi dan digembok dengan kokoh. Tidak ada orang yang bisa sembarangan masuk melalui gerbang itu. Namun, kelima sisi makam yang lain sama sekali tidak berpagar dan dapat dimasuki dengan bebas. Dalam kematiannya, Nasruddin masih ingin mengingatkan orang untuk memiliki rasa humor dan tidak berpandangan kaku.
Namanya dalam Berbagai Ejaan dan Bahasa
Banyak penduduk Timur Dekat, Timur Tengah, dan Asia Tengah mengklaim Nasruddin sebagai milik mereka (misalnya Turki, Afganistan, Iran, dan Uzbek). Namanya dieja dalam berbagai variasi: Nasrudeen, Nasrudin, Nasruddin, Nasr ud-Din, Nasredin, Naseeruddin, Nasr Eddin, Nastradhin, Nasreddine, Nastratin, Nusrettin, Nasrettin, Nostradin, Nastradin (lit. Kemenangan (Nasr) Din), dan Nazaruddin.
Terkadang namanya diawali gelar: “Hoxha”, “Khwaje”, “Hodja”, “Hoja”, “Hojja”, “Hodscha”, “Hodža”, “Hoca”, “Hogea”, “Mullah”, “Mulla”, “Mula”, “Molla”, “Efendi”, “Afandi”, “Ependi” (أفندي ’afandī), “Haji”. Pada beberapa budaya, ia dipanggil gelarnya saja.
Pada negara-negara yang menggunakan Bahasa Arab, Nasruddin dikenal sebagai “Juha”, “Djoha”, “Djuha”, “Dschuha”, “Giufà”, “Chotzas”, “Goha” (جحا juḥā). Juha sebenarnya adalah tokoh yang berbeda dari literatur Arabik semenjak abad ke-9 Masehi, dan populer sejak abad ke-11. Kisah keduanya menjadi tercampur pada abad ke-19 saat kumpulan naskah cerita diterjemahkan dari Bahasa Arab ke Turki dan Persia.
Masyarakat Swahili menyebutnya “Abunawasi” sementara di Indonesia sebagai “Abunawas”, meskipun hal tersebut membuat Nasruddin disalahkaprahkan dengan tokoh lain, seorang penyair Abu Nuwasyang terkenal akan karyanya yang homoerotik.
Di China, kisah Nasruddin cukup dikenal. Namanya, 阿方提 (Āfāngtí), diterjemahkan dari Bahasa Uighur 阿凡提 (Āfántí). Bangsa Uyghur percaya bahwa ia berasal dari Xinjiang, sementara Uzbekpercaya ia berasal dari Bukhara.
Di Asia Tengah, ia biasa disebut “Afandi”. Penduduk Asia Tengah mengklaim bahwa Nasruddin berasal dari sana, sebagaimana Bangsa Uyghur.
Kisahnya yang Terkenal
Pada masa pemerintahan Sultan Abdul Hamid II di Kesultanan Utsmaniyah, berlaku pelarangan peredaran kisah-kisah humor tentang Nasruddin. Pelarangan tersebut diperkirakan dilakukan untuk mencegah takhayul yang berlaku dalam kisah-kisah humor Nasruddin. Namun kisah-kisah Nasruddin setelahnya dikenal di seluruh Timur Tengah dan menyentuh berbagai kultur di seluruh dunia. Sayangnya, sebagian besar kisah Nasreddin diceritakan sebagai lelucon atau anekdot lucu.
Semuanya kisahnya diceritakan berulang-ulang di kedai-kedai dan caravanserai di Asia serta dapat didengar di rumah-rumah serta radio. Kisah-kisah Nasruddin dapat dipahami dalam berbagai tingkatan; selalu ada canda, kemudian moral, dan biasanya ditambahkan sedikit sentilan yang memberi kesadaran dalam hal spiritualisme.
Humor Sufi: Menyampaikan dakwah
Suatu ketika Nasruddin diundang untuk menyampaikan dakwah. Saat berada di atas mimbar, ia bertanya, “Kalian tahu apa yang akan aku katakan?” Seluruh umat menjawab serempak, “Tidak.” Nasruddin pun berkata, “Aku tidak berkeinginan untuk berdakwah kepada orang-orang yang tidak tahu apa yang akan aku dakwahkan,” kemudian turun dari mimbar dan pergi.
Orang-orang merasa lalu, kemudian memanggilnya kembali keesokan hari Jumatnya untuk kembali berdakwah. Kali itu, Nasruddin kembali menanyakan pertanyaan yang sama, dan para umat menjawab, “Tahu”. Nasruddin terdiam, kemudian berkata, ‘Karena kalian sudah tahu apa yang akan aku katakan, aku tidak akan membuang-buang waktu kalian lebih lama lagi.” Nasruddin turun dari mimbar meninggalkan mereka.
Kali ini orang-orang benar-benar kebingungan dan memanggilnya kembali di keesokan Jumat. Sekali lagi Nasruddin menanyakan pertanyaan yang sama, para umat sebagian menjawab tahu dan sebagian menjawab tidak tahu. Nasruddin berseru, “Sangat bagus! Sekarang, bagi yang sudah tahu, silahkan menceritakan kepada yang belum tahu!” Ia turun dari mimbar kemudian pergi. (adm/Wikipedia Nasruddin)













Discussion about this post