Avesiar – Jakarta
Gempa di Afghanistan menjadi gempa paling mematikan dalam beberapa dekade dengan jumlah korban tewas akibat gempa bumi dahsyat yang melanda Afghanistan timur pada akhir pekan lalu meningkat tajam menjadi lebih dari 2.200 orang pada hari Kamis, menurut data terbaru, dikutip dari The New Arab.
Gempa bumi berkekuatan 6,0 skala Richter yang mengguncang wilayah pegunungan yang berbatasan dengan Pakistan pada Minggu malam berada di Provinsi Kunar, menurut data pemerintah Taliban, menewaskan 2.205 orang dan menyebabkan 3.640 lainnya luka-luka.
Korban tewas lainnya yaitu sebanyak 12 orang berasal dari provinsi tetangga, Nangarhar dan Laghman dan menyebabkan ratusan lainnya luka-luka.
Diperkirakan jumlah korban akan meningkat karena para relawan dan tim penyelamat masih mengevakuasi jenazah dari reruntuhan.
“Ratusan jenazah telah ditemukan dari rumah-rumah yang hancur selama operasi pencarian dan penyelamatan,” kata wakil juru bicara pemerintah Hamdullah Fitrat, saat mengumumkan jumlah korban baru tersebut, seraya menambahkan bahwa “upaya penyelamatan masih berlangsung”.
Daerah-daerah terdampak paling parah yaitu di Provinsi Kunar yang bergunung-gunung dengan akses terbatas. Hal itu membuat upaya penyelamatan dan bantuan tertunda. Longsoran batu akibat gempa susulan yang berulang kali menghalangi jalan-jalan yang sudah rapuh dan terukir di sisi tebing.
Berbagai negara telah mengirimkan bantuan, dan pada hari Kamis, Tiongkok menjanjikan sekitar $7 juta bantuan darurat, seperti tenda, selimut, dan makanan.
Berdesakan di bawah terpal yang ditarik dari reruntuhan, dan tidak yakin di mana mereka akan mendapatkan makanan, ratusan penduduk desa di distrik Nurgal yang terdampak parah masih terdampar di udara terbuka.
Kondisi itu diperparah dengan terjadinya perkelahian memperebutkan makanan, ketika beberapa orang akhirnya mencapai lapangan di Mazar Dara, tempat ratusan orang berkemah, karena hanya sedikit bantuan yang sampai kepada mereka.
“Kemarin, beberapa orang membawa makanan, semua orang membanjiri mereka, orang-orang kelaparan, kami sudah lama tidak makan,” kata Zahir Khan Safi, 48 tahun, kepada kantor berita AFP, dikutip dari The New Arab.
Sementara itu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan bahwa layanan kesehatan lokal “berada di bawah tekanan yang sangat besar”, dengan kekurangan pasokan trauma, obat-obatan, dan staf.
WHO disebut telah mengajukan permohonan dana sebesar 4 juta dolar untuk memberikan intervensi kesehatan yang menyelamatkan jiwa dan memperluas layanan kesehatan keliling serta distribusi pasokan.
“Setiap jam berharga. Rumah sakit sedang berjuang, keluarga berduka, dan para penyintas telah kehilangan segalanya,” kata kepala tim darurat WHO di Afghanistan, Jamshed Tanoli. (ard)












Discussion about this post