KAMU KUAT – Avesiar
Kemajuan zaman dan kecanggihan teknologi mau tidak mau akan memaksa manusia untuk mengikuti tren terbaru yang dibuat menyesuaikan kebutuhan dan sumber daya. Seperti halnya kendaraan yang digunakan untuk mengangkut dan memindahkan manusia serta barang, jika dahulu dimulai secara tradisional, kemudian bermesin dengan bahan bakar cair, padat, dan gas, kini mulai marak menggunakan listrik.
Dikutip dari Wikipedia berbahasa Inggris, kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) adalah kendaraan bermotor yang penggeraknya sepenuhnya atau sebagian besar ditenagai oleh listrik. EV mencakup berbagai moda transportasi, termasuk kendaraan jalan raya dan kereta api, kapal dan kapal selam listrik, pesawat terbang listrik, dan pesawat ruang angkasa listrik.
Kendaraan listrik awal pertama kali muncul pada akhir abad ke-19, ketika Revolusi Industri Kedua melahirkan elektrifikasi dan penggunaan massal motor listrik DC dan AC. Penggunaan listrik merupakan salah satu metode penggerak kendaraan bermotor yang disukai karena memberikan tingkat kesenyapan, kenyamanan, dan kemudahan pengoperasian yang tidak dapat dicapai oleh mobil bermesin bensin pada masa itu.
Namun, kekhawatiran akan jangkauan akibat terbatasnya penyimpanan energi yang ditawarkan oleh teknologi baterai kontemporer menghambat adopsi massal kendaraan listrik pribadi sepanjang abad ke-20.
Mesin pembakaran internal (baik mesin bensin maupun diesel) merupakan mekanisme penggerak dominan untuk mobil dan truk selama sekitar 100 tahun, tetapi penggerak bertenaga listrik tetap umum digunakan pada jenis kendaraan lain, seperti kendaraan angkutan massal bertenaga listrik seperti kereta listrik, trem, monorel, dan bus listrik, serta berbagai kendaraan pribadi bertenaga baterai berukuran kecil, berkecepatan rendah, dan jarak pendek seperti skuter mobilitas.
Kendaraan listrik hibrida plug-in yang menggunakan motor listrik sebagai metode penggerak utama, alih-alih sebagai pelengkap, baru diproduksi massal pada akhir tahun 2000-an, dan mobil listrik bertenaga baterai baru menjadi pilihan praktis bagi pasar konsumen pada tahun 2010-an.
Kemajuan dalam baterai, motor listrik, dan elektronika daya telah membuat mobil listrik lebih layak dibandingkan pada abad ke-20. Sebagai cara untuk mengurangi emisi gas buang karbon dioksida dan polutan lainnya, serta untuk mengurangi penggunaan bahan bakar fosil, insentif pemerintah tersedia di banyak daerah untuk mendorong adopsi mobil listrik.
Tenaga penggerak listrik dimulai pada tahun 1827 ketika pendeta Hongaria, Ányos Jedlik, membangun motor listrik pertama yang masih sederhana namun fungsional; tahun berikutnya ia menggunakannya untuk menggerakkan mobil model kecil.
Pada tahun 1835, Profesor Sibrandus Stratingh dari Universitas Groningen, Belanda, membangun mobil listrik mini, dan antara tahun 1832 dan 1839, Robert Anderson dari Skotlandia menemukan kereta listrik sederhana pertama, yang ditenagai oleh sel primer yang tidak dapat diisi ulang. Pandai besi dan penemu Amerika, Thomas Davenport, membangun lokomotif listrik mainan, yang ditenagai oleh motor listrik primitif, pada tahun 1835. Pada tahun 1838, seorang Skotlandia bernama Robert Davidson membangun lokomotif listrik yang mencapai kecepatan empat mil per jam (6 km/jam).
Di Inggris, sebuah paten diberikan pada tahun 1840 untuk penggunaan rel sebagai konduktor arus listrik, dan paten serupa di Amerika diberikan kepada Lilley dan Colten pada tahun 1847.
Kendaraan listrik produksi massal pertama muncul di Amerika pada awal tahun 1900-an. Pada tahun 1902, Studebaker Automobile Company memasuki bisnis otomotif dengan kendaraan listrik, meskipun juga memasuki pasar kendaraan berbahan bakar bensin pada tahun 1904. Namun, dengan munculnya mobil murah yang dirakit oleh Ford Motor Company, popularitas mobil listrik menurun drastis.
Kini di era 2000-an, kendaraan listrik semakin marak. Di Indonesia, kendaraan listrik mulai dari sepeda, motor, mobil, bus, dan lainnya, mulai dijadikan anternatif pilihan saat ingin membeli kendaraan baik pribadi maupun niaga yang ramah lingkungan.
Lalu sebagai generasi muda, apa tanggapanmu tentang hal ini? Nah, kanal remaja dan anak muda berdaya KAMU KUAT! Avesiar.com menerima beberapa pendapat dari orang-orang muda berikut. Simak yuk!
Bilqis Miftahul Jannah, siswi kelas XI, SMA Muhammadiyah Wonosobo, Jawa Tengah

Menurut Bilqis, kendaraan listrik adalah kendaraan yang digerakkan oleh motor listrik, dengan sumber tenaganya disimpan dalam baterai yang dapat diisi ulang, serta tidak menggunakan mesin pembakaran bahan bakar fosil. Kendaraan ini menawarkan keunggulan berupa ramah lingkungan karena tidak memiliki emisi gas buang secara langsung.
“Tentu saja keunggulan utamanya adalah ramah lingkungan karena tidak memiliki emisi gas buang secara langsung. Penghematan biaya perawatan juga menjadi keunggulan yang dimiliki oleh kendaraan listrik. Disisi lain, kendaraan listrik juga memiliki kemudahan dalam pengisian daya, yaitu dapat dilakukan dirumah ataupun stasiun pengisian daya umum,” ujarnya.
Namun, lanjutnya, meskipun pengisian daya kendaraan listrik mudah dilakukan, namun melihat di lingkungan sekitar, pengisian daya umum untuk kendaraan listrik masih terbatas. Di sisi lain, dibandingkan dengan kendaraan biasa, kendaraan listrik memiliki harga yang dapat dibilang mahal.
“Harga kendaraan listrik saat ini bisa dibilang mahal. Namun, jika kendaraan listrik ini dipakai untuk jangka waktu yang lama menurut aku tetep worth it, karena hal ini juga berhubungan dengan tindakan ramah lingkungan,” kata Biqlis.
Afif Fityah Hafiz, siswa kelas 11, SMA Negeri 1 Ngamprah, Cimahi, Jawa Barat

Sedangkan Afif menyebut bahwa kendaraan listrik adalah bergerak menggunakan motor listrik dengan tenaga yang berasal dari baterai yang bisa di isi ulang kembali. Manfaatnya, kata dia, ramah lingkungan karena tidak mengeluarkan asap, perawatannya gampang karena tidak perlu ganti oli, lebih hemat karena isi baterai lebih murah dibanding beli bensin.
“Kekurangannya adalah tempat untuk mengisi baterainya masih terbatas belum sebanyak SPBU, waktu untuk mengisi baterainya juga lama, jarak tempuhnya juga terbatas, kalau baterainya rusak akan lumayan mahal untuk menggantinya. Ya, lebih mahal dibanding kendaraan berbahan bakar minyak, tapi biaya perawatannya lebih murah, apalagi dalam jangka panjang dibandingkan kendaraan berbahan bakar minyak,” ujarnya.
Qanita Hana Syabika, mahasiswi semester 5, Ekonomi dan Bisnis, Universitas Brawijaya

“Kendaraan listrik, atau Electric Vehicle (EV), adalah jenis kendaraan yang digerakkan oleh tenaga listrik dan mendapat energi dari baterai yang bisa diisi ulang, bukan dari mesin pembakaran internal seperti mobil berbahan bakar bensin atau solar. Teknologi ini hadir sebagai alternatif transportasi yang lebih bersih dan modern, sejalan dengan tren global menuju energi terbarukan,” kata Qanita.
Sebagai mahasiswi akuntansi yang cukup mengikuti perkembangan industri, ia melihat bahwa kendaraan listrik bukan hanya sekadar alat transportasi, tetapi juga bagian dari perubahan besar di sektor energi dan ekonomi, karena keberadaannya mendorong pergeseran konsumsi dari bahan bakar fosil ke energi yang lebih berkelanjutan.
“Dari sisi kelebihan, kendaraan listrik memiliki manfaat yang sangat nyata. Emisi gas buangnya hampir tidak ada, sehingga lebih ramah bagi lingkungan dan mendukung upaya mengurangi polusi udara. Selain itu, biaya operasionalnya cenderung lebih rendah karena listrik jauh lebih murah dibandingkan bahan bakar minyak, dan perawatan mesin juga relatif lebih simpel. Bagi masyarakat di kota besar, EV juga terasa nyaman karena biasanya dilengkapi dengan teknologi canggih dan pengalaman berkendara yang lebih tenang,” bebernya.
Namun, imbuhnya, tentu saja ada kekurangan yang tidak bisa diabaikan. Infrastruktur pengisian daya di Indonesia masih terbatas, sehingga kadang membuat pengguna merasa khawatir saat melakukan perjalanan jauh, terlebih untuk bepergian ke tempat terpencil. Waktu pengisian baterai pun masih relatif lama dibandingkan mengisi bensin di SPBU. Di sisi lain, umur baterai yang terbatas dan harga penggantiannya yang tinggi juga menjadi tantangan tersendiri.
“Kalau melihat kelebihan dan kekurangan tersebut, saya pribadi menilai bahwa harga kendaraan listrik memang masih terasa mahal bagi sebagian besar masyarakat, terutama jika dibandingkan dengan kendaraan berbahan bakar minyak biasa. Namun, jika dihitung dari jangka panjang mulai dari biaya operasional, efisiensi energi, hingga kontribusi terhadap lingkungan sebenarnya harga itu bisa dianggap sebagai investasi. Jadi, meskipun mahal di awal, kendaraan listrik menawarkan manfaat yang tidak hanya ekonomis, tetapi juga berorientasi pada keberlanjutan masa depan,” ungkap Qanita.
Apa kamu juga menggunakan kendaraan listrik di rumahmu? Tulis di kolom komentar di bawah artikel ya! (adam/rizka)













Discussion about this post