KAMU KUAT – Avesiar
Guru adalah jembatan ilmu yang dalam pekerjaannya membutuhkan kemampuan mengajar sesuai bidang ilmu yang ditekuninya, juga memiliki kemampuan memahami anak-anak didiknya. Namun, tidak semua guru memiliki sifat dan sikap yang sama dalam proses belajar.
Mungkin sebagai pelajar dan mahasiswa kamu pernah mengalami dididik oleh guru atau dosen yang dianggap galak atau juga yang tegas. Namun, kita tidak bisa memilih guru atau dosen seperti apa yang kita mau. Tentu tujuan utama kamu adalah bagaimana bisa menuntut ilmu dengan baik.
Nah, bagaimana pendapat sahabat kanal remaja dan anak muda berdaya KAMU KUAT! Avesiar.com perihal guru galak dan guru tegas? Berikut pendapat-pendapat tersebut.
Unique Qanitha Rayyanie, mahasiswi semester 1, jurusan Psikologi, UIN Jakarta

“Menurut saya guru yang galak tidak sepantasnya menjadi guru apabila tidak dapat mengontrol amarahnya. Marah memang diperbolehkan, namun yang salah adalah ketika amarah diluapkan berlebihan atau terlalu sering, bahkan untuk masalah sepele,” ujarnya.
Perbedaan guru galak dengan guru tegas, kata Qanitha yaitu, guru galak sering meluapkan amarahnya di banyak kondisi, sedangkan guru yang tegas biasanya memarahi muridnya demi kebaikan muridnya dan hanya di kondisi tertentu jika dirasa murid perlu dimarahi.
“Saya sendiri, untungnya, tidak pernah memiliki pengalaman dengan guru galak atau guru tegas,” kata dia.
Luna Afriana Ananda Yusuf, siswi kelas 12 Accounting ICP, SMK Muhammadiyah 1, Wonosobo

Sedangkan menurut Luna, semua guru bisa galak dilihat dari kondisi peserta didiknya. Murid yang susah ketika diatur terkadang menjadi pemicu guru menjadi galak. Guru galak juga tidak selamanya salah, karena hal ini tentunya memiliki latar belakang yang murid mungkin tidak tahu apa alasan di balik tindakan tersebut.
“Akan tetapi, hal ini tetap tidak bisa dibenarkan. Menasehati murid dengan cara tegas tanpa menjatuhkan, justru lebih efektif. Murid bisa merasa masih dihargai dan harapannya dengan teguran santun dan tetap tegas bisa merubah perilaku murid menjadi lebih baik,” jelasnya.
Ditambahkannya, Guru Galak berbeda dengan Guru Tegas. Perbedaan ini bisa dilihat dari sikap atau cara berperilaku. Di mana, Guru Tegas lebih fokus pada solusi dari suatu kesalahan, jelas dalam aturan, adil, dan konsisten. Guru Tegas, lanjutnya, memberikan nasehat secara tegas tapi berusaha agar tidak melukai hati muridnya, contoh: “Hari ini Luna lupa bawa buku Matematika? besok tolong jadwal lebih diperhatikan dan kamu juga lebih disipilin lagi yaa, biar kamu belajarnya juga enak dan langsung praktik.”
“Guru Galak bisa dilihat dari cara berbicaranya yang tujuannya membuat murid merasa bersalah, terancam atau takut. Ciri lain Guru Galak yang lain adalah lebih sering marah dan berbicara keras, contoh: “Luna kamu ngga lihat jadwal? fokus dong, makanya kalau sekolah pikirannya jangan kemana mana, keluar sana!! gausah ikut jam saya, saya ngga butuh orang orang ngga niat kaya kamu,”” bebernya.
Ia mengakui punya pengalaman dengan guru tegas. Saat itu ia bermain HP ketika sedang tadarus bersama. Sang guru menegur dengan halus, “Luna tadarus dulu, scrollnya nanti lagi.”
Bunga Gesty, mahasiswi semester 5, Pendidikan Ekonomi, Univ. Negeri Padang

Menurut pendapat Bunga, guru galak merupakan guru yang sering marah-marah, bahkan guru galak bisa saja meluapkan emosinya kepada siswa tanpa alasan yang jelas, terkadang bunga sendiri juga pernah berinteraksi dengan guru galak dari segi nada yang tinggi.
“Biasanya guru galak itu identik dengan kemarahan. Mungkin tujuan dari guru galak itu baik yaitu menciptakan kedisiplinan tapi caranya salah yang menjadi siswa sering merasa takut,” ujarnya.
Guru tegas, imbuhnya, bersifat adil. Guru tegas biasanya menegakkan aturan tanpa harus marah-marah atau emosional. Guru tegas memiliki peraturan yang jelas dan konsisten tanpa harus membedakan siswa satu sama lainnya.
Ditambahkan Bunga, guru tegas memberikan peringatan atau hukuman dengan cara yang mendidik. Intinya guru galak itu suka marah-marah, dan guru tegas itu jelas, adil, konsisten dan tetap menghargai siswa.
“Iya, saya pernah punya pengalaman dengan kedua guru tersebut. Contoh guru galak yaitu, waktu SMP kelas 9, saat upacara bendera di pagi hari, seperti biasa kita sebagai seorang siswa mengikuti pelaksanaan upacara, saat itu Bunga berbaris 3 paling belakang, posisinya saat itu teman kelas Bunga lagi bercanda sama teman lelaki, jaraknya 3 siswa didepan bunga, nah saat bercanda itu suara mereka lumayan keras dan tertawa, tiba-tiba,” ungkapnya.
Sedangkan reaksi guru galak yaitu langsung berteriak keras di belakang Bunga dan menunjuk siswa yang bercanda tadi, sambil mencubit teman-teman Bunga yang bercanda dan bahkan bunga yang tidak ikut pun kena cubitan dari guru itu.
“Rasanya sakit dan Bunga nangis serta bertanya, kenapa Bunga, Bu? Bunga ga ngapa”in bahkan bunga diam saja, lalu ibu itu bersuara “tidak usah membantah, diam!” ucapnya mengisahkan.
Intinya bagi Bunga, emosi guru galak itu meledak, hukuman yang tidak mendidik, bahkan saat itu Bunga merasa trauma dengan kejadian itu karena ia merasa malu didepan teman-teman yang lain.
Sedangkan pengalaman dengan guru tegas menurut Bunga, saat terlambat masuk sekolah, karena pada saat itu susah mendapatkan angkot di pagi hari. Pada saat sampai di sekolah, gerbang sekolah sudah ditutup dan disuruh berbaris diluar
Reaksi guru tegas, lanjut Bunga, melihat dengan senyuman dan tenang. Lalu sambil mendekati Bunga dan bertanya “kenapa terlambat, Nak? tidak sholat Subuh kah tadi” pertanyaan yang sama sekali tidak ada amarahnya.
Setelah Bunga jelaskan bahwa bunga kesulitan mendapatkan angkot di pagi hari, dan reaksi guru tegas pada saat itu memberikan pengertian dan berbicara, “Kalau susah dapat angkot di pagi, coba nunggu angkotnya lebih pagi lagi, dan jangan milih milih angkot ya, dari rumah bunga ke sekolah lumayan jauh, jadi coba belajar disipilin ya, Nak. Jangan terlambat lagi karena terlambat memang melanggar peraturan sekolah, adapun konsekuensinya, Bunga harus membersihkan sampah-sampah yang ada ditaman samping ya dan setelah selesai tolong apa yang harus Bunga lakukan agar tidak terlambat lagi. (adam/rizka)













Discussion about this post