KAMU KUAT – Jakarta
Sekolah atau kampus bagi banyak orang bukan sekadar tempat menuntut ilmu. Tempat tersebut adalah ruang penuh cerita di mana seseorang belajar berani bicara di depan orang lain, mengenal arti kerja sama, bahkan mungkin merasakan persahabatan sejati untuk pertama kalinya.
Ketika seorang siswa tidak lagi berada di dalam rutinitas itu, rasa rindu sering kali muncul tanpa disadari. Bukan hanya rindu suasana kelas atau materi pelajaran, tapi juga rindu akan hal-hal kecil yang dulu terasa biasa, tawa teman sebangku, suara langkah kaki di lorong, obrolan di kantin, bahkan teguran dari guru yang sebenarnya peduli.
Semua itu menyatu menjadi kenangan yang hangat, yang sering kali baru kita sadari betapa berharganya ketika kita sudah tak lagi menjalani hari-hari di sana. Yuk simak cerita seru dari para sahabat kanal remaja KAMU KUAT! Avesiar.com.
Sya’baniaty Putri Kowaludin, mahasiswi semester 4, Akper Husada Karya Jaya, Bekasi

Mahasiswa yang biasa dipanggil Uthi punya banyak cerita soal hal-hal yang ia rindukan dari dunia perkuliahan. Di balik jadwal padat dan tugas menumpuk, ternyata ada banyak momen sederhana yang meninggalkan kesan mendalam di hatinya.
“Hal yang paling dirindukan itu praktik,” ungkap Uthi sambil tersenyum. Sebagai mahasiswa keperawatan, kegiatan praktik di laboratorium bukan hanya bagian dari pembelajaran, tapi juga pengalaman nyata yang membuatnya merasa semakin dekat dengan profesi yang ia impikan.
Salah satu momen yang paling membekas baginya adalah saat pertama kali masuk kuliah. “Itu masa transisi, dari anak sekolah ke dunia kampus. Rasanya campur aduk antara gugup dan semangat,” kenangnya.
Tentu saja, masa kuliah tak lengkap tanpa kehadiran sahabat. Ia menyebut nama-nama yang selalu menemani hari-harinya: Rifa, Shafa, Ummu, Tiara, dan Novi. “Mereka teman yang paling dekat. Banyak cerita, tawa, dan dukungan yang kami bagi bareng,” katanya.
Setelah libur panjang, kembali ke kampus selalu jadi hal yang menyenangkan. “Senang banget karena bisa ketemu teman-teman lagi,” katanya antusias. Suasana kampus, suara obrolan di lorong-lorong, hingga tawa kecil di kelas adalah bagian dari kehidupan yang tak tergantikan.
Uniknya, tempat favorit uthi di kampus bukan laboratorium atau ruang kelas resmi, melainkan kelas kosong. “Di sana tempat kami biasa makan dan bercerita. Suasananya santai, dan itu jadi tempat yang paling banyak menyimpan kenangan,” ujarnya.
Siti Hafiza Noor Maulidya, siswi kelas 2, SMP Pondok Darul Kholidin

Hal yang paling ia rindukan dari pondok, “Kebersamaan dengan teman-teman pondok,” jawab Hafiza mantap. Persahabatan yang terjalin di antara sesama santri memang punya rasa yang berbeda penuh cerita, perjuangan, dan saling dukung dalam kehidupan sehari-hari.
Ada satu momen spesial yang selalu membekas di hati Hafiza, yaitu saat ada acara haul atau peringatan hari-hari besar Islam di pondok. “Rame, seru, dan beda dari hari-hari biasanya,” kenangnya.
Acara seperti itu jadi waktu yang paling ditunggu-tunggu karena penuh makna dan kebersamaan. Yang ia rindukan adalah teman seasrama sekaligus sekelasnya. “Dia itu pendengar yang baik dan suka berbagi cerita. Jadi kalau lagi capek atau sedih, dia selalu ada,” katanya dengan penuh kehangatan.
Namun, jujur saja, kembali ke pondok setelah liburan panjang bukan hal yang mudah. “Sebenarnya nggak mau balik, tapi demi bakti ke orang tua jadi harus semangat,” ujarnya jujur sambil tertawa kecil.
Walau berat, Hafiza tetap berusaha ikhlas dan menjalani semuanya dengan niat baik. Dan di antara banyak kegiatan, ia juga merindukan muhadoroh latihan berbicara di depan umum yang menjadi bagian dari pendidikan pondok. Kegiatan itu membuatnya belajar percaya diri dan berani mengungkapkan pendapat.
Syahda, siswa kelas 12, SMAN 1 Ciomas, Jawa Barat

Buat Syahda, siswa kelas XII SMAN 1 Ciomas, masa-masa SMA bukan cuma soal belajar dan ujian. Ada begitu banyak momen kecil yang ternyata justru jadi hal yang paling dirindukan setelah semua berakhir.
“Yang paling aku rinduin sih waktu bareng temen-temen. Bahkan hal-hal sepele kayak jamkos, nonton bareng, atau cuma ngobrol biasa di kelas, itu yang sekarang paling bikin kangen,” ungkapnya sambil mengenang.
Syahda baru saja lulus, dan seperti banyak siswa lainnya, ia mulai merasakan betapa berartinya momen-momen sederhana itu.
Ada satu momen spesial yang selalu teringat olehnya ketika guru matematika yang terkenal disiplin memberi waktu luang untuk bonding bareng sekelas. “Beliau sangat fokus saat mengajar, tapi kalau udah selesai materi, kita bisa ngobrol dan ketawa bareng. Itu jadi core memory-ku banget di SMA,” ceritanya.
Bicara soal orang yang paling dirindukan, Syahda langsung menyebut teman-teman sekelasnya. “Setelah lulus, pasti susah banget bisa ngumpul lagi kayak dulu. Semua udah punya tujuan dan jalan masing-masing,” katanya dengan nada haru.
Menariknya, Syahda adalah tipe yang selalu bersemangat menyambut awal baru. “Setiap balik ke sekolah setelah libur, atau nanti pas masuk kampus, aku pasti excited! Karena aku percaya banget sama ‘the magic of new beginnings’,” ujarnya penuh semangat.
Pelajaran favorit? Ternyata Syahda cinta banget sama biologi dan kimia. “Apalagi waktu praktikum, seru banget karena bisa langsung ngerasain apa yang udah kita pelajari di kelas,” katanya antusias.
Dan jangan salah, tempat favoritnya bukan kantin atau lapangan, tapi lab komputer, “Soalnya pelajaran informatika mepet banget sama jam istirahat, jadi sering bablasin istirahat bareng temen di situ. Seru banget bisa bonding sekelas,” ceritanya kemudian tertawa.
Dari ceritanya, jelas kalau masa SMA buat Syahda adalah waktu yang penuh warna. Kadang kita baru sadar, hal-hal kecil yang dulu kita anggap biasa, justru jadi yang paling kita rindukan saat semuanya sudah berubah.
Amira Salsabilla, siswi kelas 11, SMK Catur Global

Buat Amira Salsabilla, siswi kelas 11 AK di SMK Catur Global, kata “sekolah” selalu identik dengan satu hal yaitu belajar. Tapi di balik suasana kelas dan tugas-tugas, ternyata banyak hal sederhana yang diam-diam meninggalkan kesan mendalam.
Salah satu momen yang paling membekas dalam ingatan Amira adalah ketika ia belajar dan tertawa bersama teman-temannya. “Suasana kayak gitu tuh susah dilupain. Belajar bareng, terus ketawa-tawa bareng, itu yang bikin sekolah jadi berwarna,” ungkapnya.
Saat ditanya siapa yang paling dirindukan, Amira menyebut seorang teman tanpa ragu. “Karena dia asik dan baik hati,” katanya singkat tapi hangat. Teman yang seperti ini sering kali menjadi tempat berbagi cerita dan tawa, bahkan hanya dengan obrolan singkat di sela pelajaran.
Setiap kali kembali ke sekolah setelah libur panjang, Amira selalu merasa senang. Baginya, suasana sekolah membawa semangat baru. Ditambah lagi, dia mengaku sangat merindukan pelajaran dan aktivitas sekolah. “Tentu rindu,” jawabnya mantap.
Dari semua sudut sekolah, ada satu tempat yang paling spesial buat Amira lorong sekolah. “Karena di situ tempat aku dan teman-teman sering main dan bertukar cerita,” ujarnya. Tempat yang mungkin terlihat biasa bagi orang lain, tapi menyimpan banyak kenangan untuknya.
Seiring waktu berjalan dan kesibukan datang silih berganti, kenangan tentang sekolah atau kampus tetap melekat seperti halaman-halaman dalam buku harian. Kerinduan itu menjadi pengingat bahwa di balik setiap mata pelajaran, jadwal padat, dan rutinitas harian, ada momen-momen tulus yang membentuk siapa diri kita hari ini.
Dan meski masa itu tak bisa terulang, kita bisa terus membawanya dalam hati sebagai semangat untuk melangkah maju, dan sebagai alasan untuk selalu menghargai setiap detik dari perjalanan hidup kita, termasuk yang paling sederhana sekalipun. (Resty)













Discussion about this post