Avesiar – Jakarta
Kisah Imam Al-Ghazali (450 – 505 H), seorang ulama besar, kiranya bisa menjadi gambaran sikap hormat, patuh, dan memuliakan guru sebagai adab yang telah mengakar kuat di kalangan para penuntut ilmu muslim sejak ratusan bahkan ribuan tahun silam.
Salah satu teladan yang menggambarkan kemuliaan adab tersebut adalah yaitu kerendahan hati ulama besar itu menyapu lantai rumah gurunya dengan menggunakan tangannya sendiri.
Dikutip dari laman Kementerian Agama, dalam kitab Maraqil Ubudiyah ala Matan Bidayatil Hidayah (Semarang, Karya Toha Putra, t.t) halaman 85-86, Syekh Nawawi Al-Bantani menjelaskan bahwa kisah tersebut bermula dari saudaranya Al-Ghazali bernama Ahmad yang jarang terlihat menjadi makmum ketika Al-Ghazali menjadi imam shalat berjemaah.
Al-Ghazali pada suatu hari meminta kepada ibunya untuk menasihati Ahmad agar mau shalat berjemaah ketika Al-Ghazali menjadi imam di masjid. Hal ini dilakukan untuk menghindari fitnah atau opini liar yang berkembang di tengah masyarakat.
Ibunya pun menasihati Ahmad yang akhirnya mau berangkat ke masjid dan menjadi makmum shalatnya Al-Ghazali. Namun ketika menjadi makmum shalat, pandangan batin Ahmad melihat banyak darah dalam diri Al-Ghazali, sehingga ia pun melakukan mufaraqah (memisahkan diri dari imam).
Setelah selesai menunaikan shalat berjemaah, Al-Ghazali meminta klarifikasi dan menanyakan alasan ketika mendapati saudaranya melakukan mufaraqah saat shalat.
“Saat shalat aku melihat tubuhmu dipenuhi dengan darah,” ucap Ahmad menjawab rasa penasaran Al-Ghazali.
Al-Ghazali terhenyak akan jawaban itu. Ia mengakui bahwa ketika sedang memimpin shalat, hatinya malah memikirkan permasalahan darah haid, khususnya soal mutahayyirah, yaitu wanita yang sudah haid dan suci, namun kemudian mengalami pendarahan kembali.
Keunikan ilmu yang dimiliki saudaranya itu membuat Al-Ghazali penasaran. Hal itu karena Ahmad bisa mengetahui apa yang sedang difikirkan oleh Al-Ghazali. Ia pun kemudian menjawab:
“Aku mempelajarinya dari Syekh Al-Atiqi. Pekerjaannya menjahit dan memperbaiki sandal-sandal lama,” jawab Ahmad.
Setelah mendapatkan identitas dan alamat lengkap syekh yang dimaksud, Al-Ghazali pun segera berangkat untuk menemui dan berguru kepadanya.
“Wahai tuan guru, aku ingin menjadi muridmu dan belajar ilmu kepadamu,” ucap Al-Ghazali saat bertemu dengan sosok guru zuhud itu.
Sang guru meragukan niat dan keinginan Al-Ghazali. Ia pun kemudian mencoba menguji keseriusan Al-Ghazali.
“Sepertinya kamu tidak akan sanggup menaati perintahku,” jawabnya pada Al-Ghazali.
“Insyaa Allah aku sanggup,” tegas Al-Ghazali penuh keyakinan.
“Kalau begitu, coba sekarang kamu bersihkan lantai ini,” ucap sang guru memerintahkan Al-Ghazali.
Saat menatap sapu dan hendak mengambilnya, syekh yang khumul ini kemudian memerintahkan Al-Ghazali untuk menyapu lantai itu tidak dengan sapu, melainkan dengan tangannya sendiri.
Al-Ghazali pun membuktikan keseriusannya, ia membersihkan lantai dengan tangannya sendiri.
Sang guru lagi-lagi memberikan ujian yang lebih dari itu. Ia memerintahkan Al-Ghazali untuk membersihkan kotoran yang ada di sekitarnya.
“Bersihkan kotoran itu dengan baju yang kamu pakai,” perintahnya pada Al-Ghazali.
Ketika Al-Ghazali hendak melepas pakaiannya, sang guru kemudian melihat pancaran keikhlasan dalam diri Al-Ghazali, ia pun segera mencegahnya lalu menyuruhnya pulang.
Sejak saat itu, Al-Ghazali merasakan ketenangan batin, hatinya terbuka, dan mampu menerima cahaya ilmu yang luar biasa dari Allah. Al-Ghazali kemudian menyadari bahwa semua ilmu yang sebelumnya ia ajarkan kepada murid-muridnya tampak begitu kecil dibandingkan dengan ilmu yang Allah limpahkan ke dalam hatinya.
Kisah dalam perjalanan hidup Imam Al-Ghazali ini mengajarkan tentang pentingnya seorang murid memiliki adab, hormat, serta kecintaan pada ilmu dan guru. Sikap ini akan memudahkan seseorang dalam meraih ilmu dan keberkahan. Berkah adalah sesuatu yang masuk dalam wilayah rasa. Sulit dijelaskan, namun bisa dirasakan.
Imam Al-Ghazali dalam kitab Ayyuhal Walad, menjelaskan bahwa “rasa” (dzauq) itu tidak dapat dijelaskan dengan kata-kata. Menurutnya, sebuah “rasa” dapat diketahui dengan utuh hanya melalui pengalaman langsung, tidak dengan cara melihat atau mendengar.
Kisah tersebut untuk mengingatkan bahwa seorang guru sejati akan menjadikan setiap interaksi dengan muridnya bukan untuk kepentingan pribadi, melainkan sebagai sarana pendidikan untuk bekal muridnya di kemudian hari.
Perintah untuk membersihkan lantai oleh Syekh Al-Atiqi kepada Al-Ghazali bukanlah untuk kepentingan pribadinya, melainkan dalam rangka menggembleng Al-Ghazali agar memiliki hati yang bersih sehingga siap untuk menerima limpahan berkah dan hikmah ilahi. Wallahu a’lam. (put)













Discussion about this post