Avesiar – Jakarta
Kesederhanaan dan zuhud memang melekat dengan sifat dari putri Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam Fathimah az Zahra RA dan menantu baginda yaitu Ali bin Abi Thalib. Kisah-kisah sejati putri dan menantu Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam tersebut banyak kita temui di berbagai literatur.
Adapun salah satu kisah hikmah mereka, sebagaimana dikutip dari Kisah 25 Nabi & Rasul sebagai berikut.
Suatu ketika Ali bin Abi Thalib baru saja pulang dan berkata kepada istrinya, Fathimah az Zahra, “Wahai wanita yang mulia, apakah kamu mempunyai makanan untuk suamimu ini??”
Fathimah berkata, “Demi Allah aku tidak mempunyai sesuatu (makanan apapun), tetapi ini ada enam dirham (uang perak), hasil kerjaku dan Salman (al Farisi) memintal bulu-bulu domba milik orang Yahudi. Rencananya akan kubelikan makanan untuk Hasan dan Husain!!”
Begitulah memang keadaan Fathimah az Zahra, putri kesayangan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam itu dan keluarganya. Sebenarnya kalau saja mereka mau, mudah saja bagi mereka untuk mengumpulkan harta dan hidup bergelimang kemewahan dunia. Tetapi seperti halnya Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, mereka memilih untuk zuhud dalam kehidupan dunia ini.
Tidak jarang Fathimah dan Ali bekerja menimba air untuk menyiram kebun kurma milik orang-orang Yahudi, memintal bulu-bulu domba, memilah-milah kurma dan lain-lainnya. Inilah gambaran kehidupan seorang wanita, yang Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam pernah bersabda, “Penghulu kaum wanita di surga adalah Fathimah az Zahra!!”
Mendengar jawaban istrinya itu, Ali berkata, “Biar aku saja yang membeli makanan itu!”
Maka Fathimah menyerahkan uang enam dirham itu kepada suaminya, yang segera saja pergi meninggalkan rumah. Tetapi dalam perjalanan untuk membeli makanan itu, Ali bertemu seorang lelaki yang berkata, “Siapakah orang yang mau meminjami Tuhan Yang Maha Pengasih, Dzat yang selalu menepati janji??”
Tanpa berpikir panjang, Ali menyerahkan uang enam dirham hasil kerja istrinya itu kepada lelaki itu. Ia bukannya tidak ingat kalau keluarganya sedang kelaparan, terutama kedua anaknya yang masih kecil, tetapi demikianlah memang didikan dan contoh yang diberikan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam.
Bagi umumnya orang mungkin tidak mengapa jika ‘mengurangi kadar’ atau kualitas dari yang dicontohkan Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam, sebatas kemampuan masing-masing, tetapi tidak bagi Ali. Sejak balita ia diasuh Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam, bahkan kemudian dinikahkan dengan putri kesayangan beliau, kalau ia ‘bergeser’ terlalu jauh dari didikan Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam, tentulah telah menjadi kesalahan besar baginya.
Setelah itu Ali segera kembali ke rumah, dan Fathimah menyambutnya dengan menangis ketika melihatnya tidak membawa apa-apa. Ali berkata, “Wahai wanita mulia, mengapa engkau menangis?”
Fathimah berkata, “Wahai Ali, engkau pulang tanpa membawa sesuatu?”
Ali berkata, “Wahai wanita mulia, aku meminjamkan uang itu kepada Allah!”
Tanpa penjelasan lebih banyak, maklumlah Fathimah apa yang terjadi, maka ia berkata, “Sungguh, aku mendukung sikapmu itu!”
Tidak tahu lagi apa yang harus dilakukannya, Ali segera keluar rumah dengan maksud menemui Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam. Tetapi di tengah perjalanan ia bertemu seorang badui yang sedang menuntun seekor unta. Si Badui yang tidak dikenalnya itu berkata, “Wahai Abul Hasan, belilah unta ini!”
Ali berkata, “Aku tidak mempunyai uang!”
Si Badui itu berkata lagi, “Belilah dengan tempo (pembayaran di belakang)!”
Ali berkata, “Berapa?”
“Seratus dirham!” Kata si Badui itu.
“Baiklah,“ Kata Ali, “Kubeli seharga seratus dirham dengan tempo!”
Si Badui menyerahkan unta tersebut kepadanya dan berlalu pergi. Ali tidak tahu apa yang harus dilakukannya dengan unta itu, tetapi ia menuntunnya begitu saja. Tetapi belum jauh berjalan tiba-tiba muncul seorang badui lain menghampirinya, dan berkata, “Wahai Abul Hasan, apakah engkau ingin menjual unta ini?”
Tanpa berfikir panjang, Ali berkata, “Ya!”
“Berapa?”
“Tiga ratus dirham!” kata Ali.
“Baiklah, kubeli seharga tiga ratus dirham!”
Kemudian si Badui yang juga tidak dikenalinya itu membayar kontan tiga ratus dirham, dan membawa pergi unta tersebut. Ali sangat gembira, segera ia membeli beberapa bahan makanan untuk keluarganya kemudian pulang. Kali ini Fathimah menyambutnya dengan tersenyun, dan berkata,
“Wahai Abul Hasan, apa yang terjadi kali ini?”
Dengan gembira Ali berkata, “Wahai putri Rasulullah, kubeli unta seharga seratus dirham dengan tempo, dan kujual lagi dengan kontan seharga tigaratus dirham!”
Fathimah berkata, “Aku mendukung sikapmu itu!”
Beberapa lama kemudian, Ali pergi menemui Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam sesuai dengan niat sebelumnya. Begitu ia masuk masjid, Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam tersenyum kepadanya dan bersabda,
“Wahai Abul Hasan, engkau yang bercerita, atau aku saja yang bercerita?”
Tanpa tahu maksudnya, Ali berkata, “Wahai Rasulullah, engkau saja yang bercerita!”
Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda,
“Berbahagialah engkau, Abul Hasan, engkau telah meminjamkan enam dirham kepada Allah, maka Allah memberimu tiga ratus dirham. Setiap dirhamnya dibalas dengan limapuluh kali lipatnya. Orang Badui yang pertama menjumpaimu adalah Malaikat Jibril, sedang yang kedua adalah Malaikat Mikail!”
Malaikat-malaikat yang membantu manusia, tentunya atas seijin dan perintah Allah Subhanahu Wa Ta’ala, mungkin tidak hanya terjadi pada Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam dan para sahabat beliau seperti kisah di atas, atau juga pada Perang Badar, Hunain dan beberapa peristiwa lainnya.
Bisa saja itu terjadi di antara kehidupan kita sehari-hari, bisa dalam bentuk seseorang yang tidak dikenali, yang memberikan bantuan seperti peristiwa yang dialami oleh Ali bin Abi Thalib. Atau mungkin seseorang yang dikenali memberikan bantuan, tetapi sebenarnya yang bersangkutan tidak melakukannya.
Hanya saja Allah memerintahkan malaikat untuk menyerupakan diri dengan orang tersebut untuk memuliakannya, seperti yang terjadi pada seorang tabi’in bernama Abdullah bin Mubarak. Wallahua’lam. (adm)











Discussion about this post