• Nasional & Opini
    • Politik
    • Hukum
    • Sosial
    • Budaya
    • HanKam
    • Daerah
    • Kesehatan
    • Edukasi
    • Opini
    • English Version
  • World
    • Economy
    • Politic
    • Law
    • Culture
    • Islam
    • Freedom for Palestine
    • Umra & Hajj
    • Tourism
  • Ekonomi
    • Bisnis & Wirausaha
    • Common
    • Islami
    • Property
    • CSR
  • Nusantara
    • Metro
    • Urban
    • Guru Kita
    • Prestasi
    • Profil Perubahan
    • Wisata
  • Healtech
    • Hidup Sehat
    • Riset
    • Teknologi
    • Gadget
  • Auto-Sport & Hobby
    • Aneka Olah Raga
    • Sepeda
    • Golf
    • Auto
    • Fauna & Flora Care
  • Change
    • Motivasi
    • Entrepreneurship
    • Pensiun Sehat
  • Syar’i
    • Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam
    • Muslim Fashion
    • Harmoni Keluarga
    • Griya Harmoni
    • Psikologi
    • Masjid & Activity
  • People & Activity
    • Figure
    • Community
    • Society
    • Social
    • Event
    • Podcast Ladders to be Leaders
  • KAMU KUAT
    • Podcast KAMU KUAT
  • Youth
    • Smart Teens
    • Students
    • School Story
    • Campuss Story
    • Millennial
  • Kuliner
    • Resto
    • Kaki Lima
    • Resep
  • City Jour & Video
No Result
View All Result
No Result
View All Result
Home Syar'i

Menghindar dari Riba dan Bertransaksi dengan Pelakunya, Hukumnya dalam Islam

by Ave Rosa
28 November 2025 | 23:28 WIB
in Syar'i
Reading Time: 5 mins read
A A
Menghindar dari Riba dan Bertransaksi dengan Pelakunya, Hukumnya dalam Islam

Ilustrasi. Gambar: Meta AI

Avesiar – Jakarta

Niat dan perilaku untuk menjadi Muslim yang lebih baik adalah langkah yang sangat mulia., terutama dalam sisi keuangan. Jika seseorang sebelumnya tidak peduli dengan pekerjaan dan transaksi ribawi dalam hidupnya, kemudian beralih ke syariah, maka tentu akan menyelamatkannya di dunia dan akhirat.

Lalu bagaimana hukum menghindar dari riba?

Para ulama sepakat bahwa menghindar dan meninggalkan praktik-praktik riba hukumnya adalah wajib. Artinya, jika kita lakukan maka akan mendapatkan dosa dan jika kita tinggalkan akan mendapatkan pahala.

Hal ini seperti ditulis Ustadz Sunnatullah, seorang pengajar di Pondok Pesantren Al-Hikmah Darussalam Durjan Kokop, Bangkalan, Jawa Timur, di laman Nahdlatul Ulama, Rabu (26/11/2025), dengan judul, “Hukum Menghindar dari Riba dan Bertransaksi dengan Pelakunya”.

Dituliskan bahwa kewajiban menghindari riba tersebut memiliki dalil yang sangat kuat, baik dari ayat Al-Qur’an maupun hadits Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam, bahkan Al-Qur’an memberikan ancaman yang tegas pada para pelakunya. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

“Orang-orang yang memakan (bertransaksi dengan) riba tidak dapat berdiri, kecuali seperti orang yang berdiri sempoyongan karena kesurupan setan. Demikian itu terjadi karena mereka berkata bahwa jual beli itu sama dengan riba. Padahal, Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Siapa pun yang telah sampai kepadanya peringatan dari Tuhannya (menyangkut riba), lalu dia berhenti sehingga apa yang telah diperolehnya dahulu menjadi miliknya dan urusannya (terserah) kepada Allah. Siapa yang mengulangi (transaksi riba), mereka itulah penghuni neraka. Mereka kekal di dalamnya.” (QS Al-Baqarah, [2]: 275).  

Dalam beberapa riwayat, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam dengan sangat tegas melarang umatnya terlibat dalam praktik yang jelas-jelas riba, mulai dari pemakan riba, pemberi, penulis transaksinya, hingga saksi yang terlibat dalam praktik haram tersebut.

Bacaan Terkait :

Beberapa Peristiwa yang Rasulullah SAW Saat Mi’raj Tanyakan kepada Jibril AS

Load More

Dalam riwayat Abdullah bin Mas’ud, Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

“Rasulullah SAW melaknat orang yang memakan riba, orang yang memberikannya, saksinya, dan penulis transaksinya.” (HR Abu Daud).  

Keduanya, baik ayat Al-Qur’an, maupun hadits di atas menunjukkan betapa kerasnya larangan riba dalam Islam. Ancaman yang digambarkan Al-Qur’an mulai dari keadaan tercelanya pelaku riba di hari kiamat hingga hukuman kekal dalam neraka bagi mereka yang tetap mengulanginya, menjadi bukti bahwa riba tetapi termasuk dosa besar.   

Demikian pula hadits Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam yang melaknat seluruh pihak yang terlibat dalam transaksi riba, baik pelaku langsung maupun orang yang membantu prosesnya, semua ini menunjukkan bahwa riba adalah perbuatan yang harus ditinggalkan dari segala sisi dan bentuknya.  

Berkaitan dengan hal ini, Imam Abu Zakaria Yahya an-Nawawi dalam salah satu karyanya menegaskan:

“Ini merupakan penegasan tentang haramnya menuliskan akad transaksi antara dua pihak yang melakukan riba serta menjadi saksi atas keduanya. Di dalamnya juga terdapat larangan membantu perbuatan yang batil.” (Syarhun Nawawi ‘alal Muslim, [Beirut: Darul Ihya at-Turats, 1392 H], jilid XI, halaman 26).  

Berdasarkan ayat Al-Qur’an dan hadits di atas, dapat disimpulkan bahwa jawaban atas pertanyaan “Bagaimana hukum menghindar dari riba?” adalah wajib. Kewajiban ini tidak hanya mencakup meninggalkan praktik riba secara langsung, tetapi juga menjauhi segala bentuk keterlibatan dalam transaksi riba.  

Nahdlatul Ulama melalui forum Bahtsul Masail memutuskan bahwa praktik riba dalam konteks perbankan konvensional mencakup sistem bunga bank, dan praktik rentenir yang marak keluar-masuk kampung dengan meminjamkan uang dengan bunga tinggi.  

Hukum Uang Pinjaman dari Pelaku Riba

Sedangkan dalam hal meminjam kepada seseorang yang diketahui bahwa hartanya berasal dari riba, para ulama memberikan ketentuan yang cukup longgar. Selama uang yang dipinjam itu tidak benar-benar murni dari riba, tetapi sudah bercampur dalam keseluruhan hartanya, maka hukumnya diperbolehkan meski berhukum makruh.  

Tingkat kemakruhan tersebut sesuai banyak-sedikitnya unsur haram dalam harta tersebut, tetapi tidak sampai pada derajat haram selama tidak ada keyakinan kuat bahwa uang yang dipinjam itulah bagian yang haram.

Karenanya, jika masih ada cara lain untuk menghindar, maka sebaiknya menghindar sebagai bentuk wara dan kehati-hatian, tetapi jika tidak memungkinkan maka hukumnya boleh.

Penjelasan ini sebagaimana ditegaskan oleh Sayyid Abdurrahman bin Muhammad bin Husain, dalam salah satu kitabnya mengatakan:

“Ulama mazhab Syafi’i sebagaimana pendapat jumhur ulama membolehkan bertransaksi dengan orang yang mayoritas hartanya haram, seperti para pelaku riba… namun hukumnya makruh, dan kemakruhannya semakin kuat seiring banyaknya unsur haram dalam hartanya. Meninggalkan transaksi seperti itu termasuk bentuk kehati-hatian (wara’) yang penting.  

Ibnu Muthiran berkata: ‘Barang siapa yang tidak diketahui asal-usul hartanya meskipun dikenal sebagai orang zalim, lalu terdapat harta di tangannya, maka tidak dapat langsung dikatakan bahwa harta itu berasal dari yang haram. Paling jauh hanya dapat dikatakan bahwa mayoritas hartanya haram, dan bertransaksi dengannya tetap boleh selama tidak diyakini secara pasti bahwa harta tersebut benar-benar dari yang haram.” (Bughyatul Mustarsyidin, [Beirut: Darul Fikr, t.t], halaman 261).  

Jika kita bertanya, “Kenapa transaksi dengan orang yang kebanyakan hartanya berasal dari riba bisa tidak haram?”  

Jawabannya adalah, karena prinsip dasar dalam kepemilikan harta adalah al-yad (penguasaan atau kepemilikan fisik). Artinya, selama kita tidak memiliki bukti yang pasti bahwa harta yang ada di tangan seseorang itu haram, maka hukum asal harta tersebut adalah halal. Meskipun ada dugaan kuat (ghalabatuzh-zhann) bahwa hartanya berasal dari riba, namun dugaan ini tidak cukup untuk mengharamkan transaksi dengan orang tersebut.  

Penjelasan ini sebagaimana disampaikan oleh Imam Ibnu Hajar al-Haitami (wafat 974 H), dalam salah satu karyanya ia berkata:

“Dan transaksi tersebut tidak menjadi haram meskipun terdapat dugaan kuat bahwa harta itu berasal dari riba, karena prinsip dasar yang dipegang dalam kepemilikan harta adalah keberadaannya di tangan pemiliknya (al-yad). Tidak ada dasar lain yang bertentangan dengan prinsip ini yang dapat dibuktikan secara pasti, maka prinsip ini tetap dipegang dan dugaan kuat tidak dihiraukan.” (Tuhfatul Muhtaj fi Syarhil Minhaj, [Mesir: Maktabah at-Tijariyah, 1983 M], jilid VII, halaman 180).  

Dapat disimpulkan bahwa meminjam uang kepada seseorang yang sebagian besar hartanya berasal dari riba tetap diperbolehkan selama tidak ada kepastian bahwa uang yang kita pinjam adalah bagian yang haram secara langsung.

Hal ini dikarenakan prinsip dasar dalam fiqih menyatakan bahwa selama harta berada dalam penguasaan seseorang tanpa bukti jelas tentang keharamannya, maka hukum asalnya adalah halal meskipun terdapat dugaan kuat sebaliknya.

Wallahua’lam. (adm)

Tags: Hukum Menghindari RibaHukum RibaMenghindar dari RibaPekerjaan RibaRibaTransaksi RibaUang Riba
ShareTweetSendShare
Previous Post

Berkomitmen Memperkuat Arsitektur Keuangan Inklusif dan Sehat, Presiden Prabowo Sambut Ratu Máxima

Next Post

Klaim Amnesty Internasional, Israel Masih Terus Melakukan Genosida di Gaza

Mungkin Anda Juga Suka :

Integritas serta Profesional dalam Mengemban Amanat dan Pekerjaan Ditegaskan Islam untuk Mencegah Kerusakan

Integritas serta Profesional dalam Mengemban Amanat dan Pekerjaan Ditegaskan Islam untuk Mencegah Kerusakan

25 Februari 2026

...

Uzlah di Tengah Keramaian Wujud Menyendiri yang Menguatkan Hati, Pesan Mustasyar PBNU Gus Mus

Uzlah di Tengah Keramaian Wujud Menyendiri yang Menguatkan Hati, Pesan Mustasyar PBNU Gus Mus

23 Februari 2026

...

Dosa Kepada Manusia Tidak Akan Terhapus Sebelum Meminta Maaf

Dosa Kepada Manusia Tidak Akan Terhapus Sebelum Meminta Maaf

19 Februari 2026

...

Doa Kamilin, Doa yang Dibaca Setelah Shalat Tarawih dan Sebelum Witir

Doa Kamilin, Doa yang Dibaca Setelah Shalat Tarawih dan Sebelum Witir

18 Februari 2026

...

Tuntunan dan Cara Membayar Utang Puasa Ramadhan Bagi Muslimah

Tuntunan dan Cara Membayar Utang Puasa Ramadhan Bagi Muslimah

12 Februari 2026

...

Load More
Next Post
Mempertahankan Kampanye Genosida di Gaza, Israel Tanggapi Negatif Gencatan Senjata

Klaim Amnesty Internasional, Israel Masih Terus Melakukan Genosida di Gaza

Kendalikan Diri Anda, Lelucon Golf untuk Pria, Wanita, dan Lansia

Kendalikan Diri Anda, Lelucon Golf untuk Pria, Wanita, dan Lansia

Discussion about this post

TERKINI

Di Ambang Mahacahaya

9 Maret 2026

Humor Saat Puasa, Nasruddin Hoja Menemani Penguasa dan Kisah Namrudz

9 Maret 2026

Profil Mojtaba Khamenei, Pemimpin Tertinggi Iran Pengganti Ayahnya yang Juga Dibenci AS

9 Maret 2026

Tasbih Sunyi di Relung Nurani

8 Maret 2026

Humor Saat Puasa, Ketika Nasruddin Hoja Menyelamatkan Bulan

8 Maret 2026

Sunyi Sebagai Kitab Terbuka

7 Maret 2026

Prihatin 50 Persen Anak Indonesia Terpapar Konten Seksual, Komdigi Tunda Akses ke Medsos Sampai Usia 16 Tahun

6 Maret 2026

Pemerintah Berikan 66 Ribu Tiket Gratis dan 841 Kapal untuk Angkut 3,2 Juta Penumpang Lebaran

6 Maret 2026

Jadi Tempat Bukber yang Cozy di Mal, Resto Tekko Kebayoran Park Siapkan Paket 90 Ribuan

6 Maret 2026

Humor Saat Puasa, Mencoba Ganti Rokok dengan Kurma

6 Maret 2026
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Cyber
  • Kontak

© 2017 Avesiar.com - All Rights Reserved

  • Nasional & Opini
    • Politik
    • Hukum
    • Sosial
    • Budaya
    • HanKam
    • Daerah
    • Kesehatan
    • Edukasi
    • Opini
    • English Version
  • World
    • Economy
    • Politic
    • Law
    • Culture
    • Islam
    • Freedom for Palestine
    • Umra & Hajj
    • Tourism
  • Ekonomi
    • Bisnis & Wirausaha
    • Common
    • Islami
    • Property
    • CSR
  • Nusantara
    • Metro
    • Urban
    • Guru Kita
    • Prestasi
    • Profil Perubahan
    • Wisata
  • Healtech
    • Hidup Sehat
    • Riset
    • Teknologi
    • Gadget
  • Auto-Sport & Hobby
    • Aneka Olah Raga
    • Sepeda
    • Golf
    • Auto
    • Fauna & Flora Care
  • Change
    • Motivasi
    • Entrepreneurship
    • Pensiun Sehat
  • Syar’i
    • Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam
    • Muslim Fashion
    • Harmoni Keluarga
    • Griya Harmoni
    • Psikologi
    • Masjid & Activity
  • People & Activity
    • Figure
    • Community
    • Society
    • Social
    • Event
    • Podcast Ladders to be Leaders
  • KAMU KUAT
    • Podcast KAMU KUAT
  • Youth
    • Smart Teens
    • Students
    • School Story
    • Campuss Story
    • Millennial
  • Kuliner
    • Resto
    • Kaki Lima
    • Resep
  • City Jour & Video