Avesiar – Jakarta
Ancaman yang penuh kutukan dan kegilaan untuk menyerang Iran jika rezim tersebut tidak membuka Selat Hormuz, diteriakkan Presiden AS Donald Trump menggunakan platform Truth Social miliknya pada Minggu (5/4/2026), saat Paskah.
“Selasa akan menjadi Hari Pembangkit Listrik, dan Hari Jembatan, semuanya terbungkus dalam satu hari, di Iran,” tulis Trump dalam ancaman lain untuk menyerang infrastruktur sipil negara itu saat perang yang tidak populer ini memasuki minggu keenam, dilansir The Huffington Post, Senin (6/4/2026).
“Bukalah selat sialan itu, kalian bajingan gila, atau kalian akan hidup di neraka – LIHAT SAJA! Segala puji bagi Allah. Presiden DONALD J. TRUMP.”
Seruannya untuk membuka kembali jalur air penting bagi perdagangan minyak dunia ini menyusul ancaman serupa pada Kamis malam ketika ia menyatakan bahwa militer AS “bahkan belum mulai menghancurkan apa yang tersisa di Iran,” menambahkan bahwa lebih banyak jembatan dan pembangkit listrik negara itu akan menjadi target selanjutnya.
AS sebelumnya pada hari itu menyerang infrastruktur sipil di negara tersebut untuk pertama kalinya ketika membom sebuah jembatan di dekat Teheran. Para ahli telah menyatakan kekhawatiran bahwa serangan semacam itu dapat dianggap sebagai kejahatan perang berdasarkan hukum internasional.
Postingan terbaru Trump muncul menjelang tenggat waktu hari Senin untuk membuka kembali selat tersebut.
Reaksi keras atas postingan itu muncul dari berbagai kalangan politik, termasuk mantan sekutu Trump yang kini menjadi kritikus, mantan anggota DPR Marjorie Taylor Greene (R-Ga.), menuduh presiden menyebarkan “kejahatan” dan menyerukan kepada umat Kristen di pemerintahannya untuk berlutut dan “memohon pengampunan dari Tuhan.”
“Saya mengenal kalian semua dan dia, dan dia telah menjadi gila, dan kalian semua terlibat,” tulis Greene dalam sebuah unggahan di X.
Setidaknya satu kelompok hak sipil Muslim juga mengecam Trump karena “mengejek Islam” dalam unggahan tersebut.
Pesan kasar tersebut juga dibacakan oleh para pembawa acara dari media besar secara verbatim di siaran langsung TV atau menghindari pengulangan kata-kata kasar presiden, termasuk Peter Doocy dari Fox News menyatakan bahwa Trump menggunakan beberapa “kata-kata yang sangat buruk” dalam unggahan tersebut. (ard)













Discussion about this post