Avesiar – Jakarta
Serangan militer Amerika Serikat ke Iran telah membuat AS telah kehilangan atau mengalami kerusakan pada setidaknya 81 pesawat militer, helikopter, dan pesawat nirawak (drone), sejak Washington melancarkan perang dan agresi militer terhadap Iran pada 28 Februari 2026, menurut laporan terbaru dari Congressional Research Service.
Dilansir kantor berita Tasnim, Rabu (7/10/2026). lLaporan berjudul “Kerusakan Tempur Pesawat AS dalam Operasi Epic Fury: Pertimbangan bagi Kongres” ini menyajikan data resmi yang jarang dipublikasikan mengenai kerusakan yang dialami pasukan militer AS, termasuk pada beberapa pesawat paling canggih dan mahal milik Washington.
Daftar tersebut, menurut pernyataan Congressional Research Service, disusun berdasarkan laporan media, pernyataan dari Departemen Pertahanan dan Komando Pusat (CENTCOM) AS, serta laporan inspektur jenderal Departemen Pertahanan.
Laporan tersebut memperingatkan bahwa angka-angka ini dapat berubah karena sebagian informasi masih bersifat rahasia, operasi militer masih berlangsung, dan penentuan tanggung jawab atas beberapa insiden masih sulit dilakukan.
Beberapa pesawat yang rusak mungkin juga telah kembali beroperasi setelah menjalani perbaikan. Di antara pesawat tempur yang hilang terdapat 12 unit pesawat F-15E.
Akibat insiden tembakan kawan sendiri (friendly fire), tiga pesawat F-15E hancur oleh pasukan AS di wilayah udara Kuwait pada 2 Maret, sementara satu pesawat lainnya ditembak jatuh di wilayah udara Iran pada 5 April.
Serangan Iran terhadap Pangkalan Udara Muwaffaq Salti di Yordania pada 9 dan 10 September, juga membuat Delapan pesawat F-15E lainnya mengalami kerusakan, meskipun pesawat-pesawat yang rusak tersebut kemudian kembali beroperasi.
Kerugian tersebut juga mencakup satu unit F-35A, salah satu pesawat tempur paling canggih dan mahal dalam inventaris AS—yang mengalami kerusakan akibat tembakan dari darat di Iran pada 19 Maret.
Selain itu, dua pesawat serang A-10 juga tercatat dalam daftar kerugian tersebut.
Ketua Kepala Staf Gabungan AS, Jenderal Dan Caine, menyatakan pada 6 April bahwa satu pesawat A-10 hancur setelah terkena tembakan dan jatuh, sementara satu pesawat lainnya dilaporkan mengalami kerusakan parah dalam serangan Iran tanggal 9-10 September terhadap pangkalan yang terkait dengan AS di Yordania.
Selain pesawat tempur, serangan balasan Iran juga menimbulkan kerugian pada infrastruktur logistik dan pengintaian yang mendukung operasi militer AS.
Tujuh pesawat pengisi bahan bakar di udara KC-135 termasuk dalam daftar yang disusun oleh Congressional Research Service tersebut. Pada tanggal 12 Maret, Komando Pusat AS (US Central Command) melaporkan bahwa dua pesawat KC-135 terlibat dalam insiden; satu pesawat jatuh di Irak dan menewaskan seluruh enam awaknya, sementara pesawat lainnya terpaksa melakukan pendaratan darurat.
Dua hari kemudian, laporan lain menyebutkan bahwa lima pesawat KC-135 mengalami kerusakan akibat serangan Iran terhadap pesawat-pesawat AS di Pangkalan Udara Prince Sultan di Arab Saudi. Sebuah pesawat pengintai E-3 Sentry juga mengalami kerusakan di pangkalan yang sama.
Laporan tertanggal 28 Maret menyebutkan pesawat tersebut mengalami kerusakan, sementara laporan susulan pada 15 September menyatakan bahwa pesawat itu telah menjadi sasaran langsung.
Dua pesawat operasi khusus MC-130J, menurut laporan tersebut, juga hancur pada tanggal 5 April saat berpartisipasi dalam operasi pencarian dan penyelamatan untuk sebuah pesawat F-15E yang ditembak jatuh di wilayah Iran.
Kerugian paling signifikan dialami oleh armada pesawat nirawak (drone) AS. Setidaknya 45 drone MQ-9 Reaper hilang selama operasi AS melawan Iran, menurut laporan yang mengutip tiga pejabat AS pada 13 Agustus.
MQ-9 banyak digunakan oleh militer AS untuk pengintaian dan serangan rudal, dengan perkiraan biaya antara 30 juta hingga 50 juta dolar AS per pesawat.
Kehilangan tersebut mengurangi jumlah armada MQ-9 AS menjadi 135 pesawat; seorang jenderal Angkatan Udara menyatakan kepada Senat bahwa matra tersebut seharusnya mempertahankan setidaknya 189 unit Reaper yang siap dikerahkan.
Pesawat nirawak AS lainnya juga turut hilang. Satu unit MQ-4C Triton hilang akibat kecelakaan, sementara tiga drone MQ-1 juga hilang.
Komando Pusat AS mengakui pada 31 Mei bahwa Iran telah menembak jatuh satu MQ-1, sedangkan laporan tertanggal 17 September yang mengutip pejabat AS menyebutkan bahwa Iran telah menjatuhkan setidaknya dua unit lagi dalam beberapa hari sebelumnya.
Kerusakan juga berdampak pada armada helikopter AS. Congressional Research Service mencatat satu AH-64 Apache, empat AH-6 Little Bird, satu MH-60 Sea Hawk, dan satu helikopter pencarian dan penyelamatan HH-60W sebagai pesawat yang mengalami kerusakan atau kehancuran.
Menurut laporan inspektur jenderal Departemen Pertahanan tertanggal 14 September, helikopter AH-64 ditembak jatuh di atas Selat Hormuz, sementara empat helikopter AH-6 dihancurkan oleh pasukan AS dalam sebuah operasi penyelamatan.
Laporan yang sama menyebutkan bahwa sebuah MH-60 Sea Hawk jatuh di Laut Arab. Jenderal Dan Caine sebelumnya menyatakan bahwa sebuah helikopter pencarian dan penyelamatan HH-60W mengalami kerusakan dalam operasi untuk menemukan awak pesawat F-15E yang ditembak jatuh di atas wilayah Iran.
Data dari Congressional Research Service menyoroti besarnya kerugian militer yang diderita Washington selama agresinya terhadap Iran, yang mencakup jet tempur canggih, pesawat pengisi bahan bakar di udara, platform pengintaian, pesawat operasi khusus, pesawat nirawak (drone), dan helikopter.
Kerugian yang tercatat meliputi 12 pesawat F-15E Strike Eagle, satu F-35A Lightning II, dua pesawat serang A-10, tujuh KC-135 Stratotanker, satu E-3 Sentry, dua pesawat operasi khusus MC-130J, 45 MQ-9 Reaper, satu MQ-4C Triton, tiga drone MQ-1, satu AH-64 Apache, empat AH-6 Little Bird, satu MH-60 Sea Hawk, dan satu helikopter pencarian dan penyelamatan HH-60W. (ard)











Discussion about this post