Avesiar – Jakarta
Siapa sangka jenis ikan yang biasa ditemukan dengan mudah di selokan-selokan atau parit dan akrab disebut got di Indonesia ini, menjadi barang dagangan prospektif.
Ya, ikan Gepi (Betawi, red) atau Guppy yang popular ini tidak lain spesies poecilia reticulata, salah satu sepsies ikan hias air tawar yang disukai untuk dipelihara di aquarium karena warnanya yang menarik.
Karena warna-warni kulitnya yang mencolok ini, Guppy menjadi hiburan bagi banyak orang untuk dipelihara, terutama sebagai hiburan saat pandemi. Hal ini menjadi peluang bagi orang-orang yang ingin mendapat penghasilan dari hewan air peliharaan tersebut.
Termasuk Agung Verdi Wibowo, seorang karyawan perusahaan BUMN, yang mengisi kesibukan akhir pekan di masa pandemi Covid-19 ini dengan menjual aneka ikan Guppy yang diternakkannya sendiri.
Menurut Agung, ikan Guppy enak dipandang karena bercorak dan berwarna-warni dan sifatnya yang berkoloni membuat semakin indah dipandang mata.
Suami dari Sarry Utami ini mengakui bahwa awalnya dia merasa tertantang untuk bisa memelihara ikan jenis ini. Tidak disangka, karena berhasil menernakkannya, diapun menjadikannya usaha sampingan. Dia juga serius memberi nama usahanya tersebut, A3 Fish Farm.
“Melihara Guppy ya bisa dibilang gampang, tapi susah. Dibilang susah, tapi gampang. Sampai akhirnya dapat menemukan cara yang tepat yaitu; kenali, pahami air, maka air akan pelihara ikan kita. Ternyata berhasil dan sampai berkembang biak dengan cukup banyak,” jelas Agung yang tinggal di kawasan Joglo, Jakarta Barat ini..

Karena jumlahnya menjadi cukup banyak itulah Agung bingung mau ditaruh di mana ikan-ikan tersebut.. Akhirnya Agung memutuskan untuk dijual, dan ternyata laku. Dia semakin bersemangat dan tertantang untuk menghasilkan Guppy yang berkualitas atau ikan kontes.
Menjalani usaha sampingan dengan omset 2 sampai 3 juta per bulan, menurut lulusan manajemen Universitas Mercu Buana ini, ada suka dan duka yang dia alami.
“Sukanya ya ada penghasilan tambahan tadi yang lumayan. Dukanya, ya kalau pas ikan mati. Mulai dari terkena penyakit, serangan hama larva capung, kodok, dan lainnya. Kalau kita tidak peka, bisa mati satu kolam. Penyakit biasanya terjadi saat cuaca pancaroba. Larva capung biasanya ada saat musim hujan beralih ke musim panas,” beber penyuka fotografi itu.
Usaha tersebut, kata dia, dijalaninya hampir satu tahun. Agung mengakui bahwa usahanya tersebut bisa dikatakan tanpa modal. Karena menurut dia, indukan ikan pertama kali dia dapatkan dari teman, media pemeliharaan memanfaatkan barang-barang yang ada di rumah seperti ember bekas cat dan galon air mineral.

“Setelah berhasil atau paham kondisi air di rumah, baru mulai beli indukan yang cukup berkualitas. Jenis pertama yang saya beli Black Moscow, PRTBE, HB White, Tuxedo Koi, dan AGY. Total dari 5 indukan kurang lebih Rp400.000. Dan tetap menggunakan media yang sama, manfaatin barang bekas. 3 bulan kemudian baru luber stock-nya dan dijual. Hasil penjualan Alhamdulillah bisa bikin rak, 15 unit aquarium, styrofoam, serta 10 unit boks,” papar Agung yang menjual ikan sambil mengisi waktu luang selama WFH (work from home).
Cara menjual ikan-ikan Guppy tersebut, lanjut Agung, diawali dengan iseng-iseng menawarkannya di media sosial Facebook. Ternyata, kata dia, ada yang mau beli. Kunci berdagang di media sosial menurut dia yaitu berdoa dan rajin posting produk yang dijual.

Karena dagangannya cukup laris baginya, Agung sendiri sampai lupa berapa banyak orang sudah membeli ikan Guppy yang dia jual sejak pertama berjualan hingga saat ini. Saat ini Agung memiliki ikan Guppy sebanyak 500 sampai 600 ekor untuk dijual.
“Mulai dari pertama terjun sampai saat ini sudah lupa berapa banyak yang beli. Dan kini sudah 10 pembeli setia yang berprofesi sebagai reseller (dijual lagi, red). Khusus pembeli, Alhamdulillah masih dalam negeri dari sekitar Jabodetabek, Jawa Tengah, Jogja, Bali, Kalimantan Timur, Palembang, Jambi, Medan, Padang. Semoga bisa merambah ke Asia dan Eropa,” ujarnya kemudian mengamini harapannya tersebut.

Meskipun omset usaha sampingannya tersebut tergolong lumayan, Agung mengatakan bahwa sampai saat ini hasil dari penjualan ikan juga dia sisihkan untuk keperluan Ikan seperti pangan, prebiotik, garam ikan, obat ikan, dan kebutuhan lainnya yang mendukung usaha tersebut. Dan biaya makan untuk ikan ternak tersebut per bulan sekitar Rp600.000 untuk membeli pakan hidup, pelet suplemen, prebiotik, listrik, plastik, dan lainnya.
“Mungkin karena ini dari awal niatnya usaha sampingan, jadi saya tidak terlalu ngoyo buat jualan. Kalau di tempat lain yang memang dijadikan usaha utama, penghasilan bisa sampai 10 juta perbulan. Tapi lahannya juga harus luas dan punya sekitar 3000 sampai 5000 ekor ikan untuk dijual,” terangnya. (Ave Rosa A. Djalil)













Discussion about this post