Avesiar.com
Abu al-Hasan al-Mada’ini mengatakan bahwa wabah penyakit Tha’un yang masyhur dan paling besar terjadi dalam sejarah Islam ada lima:
1. Tha’un Syirawaih, yang terjadi pada zaman baginda Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam yakni pada tahun keenam hijriah.
2. Tha’un ‘Amwas, terjadi pada masa kholifah Umar bin al-Khaththab ra, wabah tersebut melanda hingga negeri Syam hingga mengakibatkan 25.000 orang meninggal dunia.
3. Tha’un yang terjadi pada zaman Ibnu Zubair yaitu pada bulan Syawwal tahun 69 Hijriah yang menyebabkan kematian selama tiga hari. Dalam setiap harinya ada 70.000 orang meninggal.
4. Tha’un Fatayat pada Syawwal tahun 87 H. Yang terkena wabah tersebut mayoritas para gadis, hingga disebut fatayat.
5. Tha’un yang terjadi pada pada tahun 131 H pada bulan Rajab, dan semakin parah pada bulan Ramadhan, dan terhitung di perkampungan al-Mirbad dalam setiap harinya terdapat seribu jenazah, kemudian mereda pada bulan Syawalnya.
Sementara Tha’un di Kufah terjadi pada tahun 50 Hijriah, di mana al-Mughirah bin Syu’bah meninggal dunia. terkait wabah tho’un ini, Baginda Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:
الطاعون آية الرجز ابتلى الله عز وجل به ناسا من عباده فإذا سمعتم به فلا تدخلوا عليه وإذا وقع بأرض وأنتم بها فلا تفروا منه.
“Wabah penyakit Tho’un adalah sebuah tanda peringatan dari Allah Swt untuk menguji hamba-hamba-Nya. Sehingga bila mana kalian mendengar berita tentang adanya wabah penyakit tersebut disebuah daerah, maka jangan sekali-kali kalian memasukinya, dan bila wabah penyakit tersebut telah terjadi pada suatu daerah dan kalian berada di dalamnya, maka janganlah kalian keluar darinya”.
Selain di atas, beberapa wabah lainnya juga dialami Rasulullah Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam
Wabah Penyakit Kusta
Penyakit kusta atau lepra pernah menjadi wabah zaman nabi. Seseorang yang mengidap kusta, kulitnya akan mengkerut. Bakteri menggerogoti bagian-bagian tubuh hingga berubah bentuk. Penyakit ini menular melalui cairan yang keluar dari hidung si penderita.
Wabah penyakit ini diriwayatkan dalam hadits, “Dari Anas Ibn Malik bahwa Nabi SAW pernah berdoa dengan: Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari penyakit belang, gila, kusta, dan dari penyakit buruk lainnya.” (HR. Abu Dawud)
Saat itu Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam mengatasi wabah kusta dengan menghindari penyebabnya, atau menjaga jarak fisik dengan penderita. Hal ini dijelaskan dalam hadits riwayat Imam Bukhari,
“Jika kamu mendengar wabah di suatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya. Tapi jika terjadi wabah di tempat kamu berada, maka jangan tinggalkan tempat itu.”
Di masa sekarang, cara Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam menghadapi kusta sama seperti physical distancing yang sedang kita lakukan. Fungsinya untuk mengurangi tingkat penyebaran penyakit. Sehingga tenaga medis tidak kewalahan untuk mengobati pasien yang telah terpapar penyakit.
Wabah Tha’un yang Sangat Menular
Selain penyakit kulit kusta, tha’un juga salah satu dari wabah zaman nabi. Tha’un merupakan penyakit yang berasal dari bakteri hewan. Penderitanya akan merasakan pembengkakan yang parah di kulit. Tubuhnya terasa panas dan sangat haus. Penyakit ini sangat menular dan menimbulkan kematian.
Penularan penyakit tha’un sangat cepat. Wabah ini ditanggulangi dengan cara karantina wilayah. Seperti yang dijelaskan dalam hadits riwayat al-Bukhari,
“Dari Usamah Ibn Zaid, ia bercerita kepada Sa’d dari Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam, beliau bersabda: Apabila kalian mendengar Tha’un di suatu negeri, maka janganlah kalian masuk ke dalam negeri itu. Namun, jika ia menjangkiti suatu negeri, sementara kalian berada di dalamnya, maka janganlah kalian keluar dari negeri tersebut.” (HR. al-Bukhari)
Penyakit Kudis yang Meresahkan
Wabah zaman nabi lainnya adalah penyakit kudis. Penyakit yang menyebabkan gatal di kulit, dengan ditandai ruam bintik-bintik jerawat atau bekas lepuhan. Penyakit ini disebabkan oleh kutu kecil yang bersarang di kulit. Kutu yang beranak pinak, menyebar dari satu orang ke selainnya.
Penyakit kudis pernah diceritakan dalam hadits riwayat Ahmad, “dari ‘Abd Allah Ibn Mas’ud r.a. ia berkata; Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. berdiri di hadapan kami, lalu bersabda: Tidak ada sesuatu yang dapat menulari yang lain.
Ada seorang Arab pedalaman berdiri, kemudian ia membantah: Wahai Rasulullah, awal mula Kudis menyebar itu lewat mulut atau ekor seekor unta, lalu menyebar hingga unta yang lain menjadi Kudisan semuanya.
Kemudian, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. bersabda: Lantas, siapa yang menulari unta yang pertama tadi?.” (HR. Ahmad)
Dari kisah wabah zaman nabi yang dipaparkan dalam hadits tersebut, kita dapat melihat tindakan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam untuk menanggulangi wabah kudis. Rasulullah menanyakan siapa yang menulari unta pertama kali, yakni untuk mencari mata rantai pertama yang terinfeksi.
Setelah menemukan orang pertama yang terinfeksi, kita jadi dapat mengetahui dengan siapa saja dia berinteraksi. Setelah itu, orang-orang yang telah berinteraksi dapat diobati lebih awal apabila belum parah, dan diisolasi sementara untuk tidak menulari selainnya.
Cara Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam mirip dengan tes-tes wabah yang diberlakukan sekarang ini. Yaitu mencari siapa saja yang terinfeksi virus covid-19, untuk dapat diisolasi lebih awal, agar penyebarannya tidak semakin parah.
Cacar Air Juga Pernah Menjadi Wabah
Wabah cacar air pernah terjadi di zaman Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. Penyakit yang ditandai dengan bintik-bintik, demam, kehilangan nafsu makan, dan terasa lemas. Bila seseorang menyentuh kulit penderita, atau terkena bersinnya, maka dia akan mudah tertular cacar air.
Sebuah hadits riwayat al-Hakim menceritakan tentang keringanan orang yang sedang sakit, “dari Ibn Abbas, ia memarfukannya (sampai kepada Rasulullah) tentang firman Allah, “Dan jika kamu sakit atau sedang dalam musafir.” (QS. al-Nisa’ [4]: 43) beliau berkata: Jika seseorang terkena luka di jalan Allah, atau bernanah, atau terkena penyakit Cacar, lalu dia terkena junub dan takut seandainya dia mandi, akan menyebabkannya meninggal, maka dia boleh bertayamum.” (HR. al-Hakim)
Selama terkena penyakit cacar, penderita diberikan kemudahan untuk melakukan syariat Islam. Bila takut mandi karena sangat terasa sakit, penderita diperbolehkan tayamum.
Dalam konteks wabah saat ini, menunjukkan bahwa untuk menghadapi penyakit, kita dapat melakukan alternatif lainnya dalam menjalankan ibadah. Contohnya bila tidak kuat untuk sholat berdiri, maka diperbolehkan sholat duduk.
Pelajaran dari Wabah Penyakit Campak
Campak adalah sejenis penyakit kulit yang menimbulkan bintik-bintik di seluruh tubuh. Penyakit ini menular, ditandai dengan demam dan batuk. Ada sebuah hadits yang diriwayatkan oleh al-Bukhari, menceritakan tentang pertanyaan seorang wanita mengenai penyakit campak.
“Dari Asma’ berkata; seorang wanita bertanya kepada Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam. katanya: Wahai Rasulullah, sesungguhnya puteriku menderita penyakit Campak, hingga rambutnya rontok, sementara saya hendak menikahkannya, apakah saya boleh menyambung rambutnya? Beliau bersabda: Sesungguhnya Allah melaknat orang yang menyambung rambutnya dan yang minta disambung.” (HR. al-Bukhari)
Jika rambut anak wanita tersebut tetap disambung, maka pernikahan itu akan terjadi. Sedangkan sang anak sedang menderita campak dan berpotensi menularkan. Dari hadits tersebut kita dapat memahami, bahwa seseorang dengan sakit menular perlu disembuhkan secara total sebelum kembali bersosial dengan masyarakat.
Hikmah dari Wabah Zaman Nabi
Wabah di dunia ini tidak terjadi sekali. Orang-orang di masa lalu juga pernah merasakan kondisi serupa, dan berusaha keluar dari wabah. Termasuk wabah zaman nabi yang cukup meresahkan pada saat itu.
Kita dapat belajar dari bagaimana cara Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam menghadapi wabah. Dengan physical distancing, karantina wilayah, tes-tes yang diberlakukan, dan lain sebagainya. Insya Allah, jika kita lakukan secara bersama-sama, saling membantu, dengan konsisten dan hati yang teguh, wabah virus corona akan segera berlalu.
Ulama asal Riau, Ustadz Abdul Somad mengatakan, wabah penyakit yang melanda dunia tidak hanya terjadi kali ini. “Jauh sebelum itu, sudah ada wabah penyakit menular yang melanda beberapa negara Muslim,” kata Ustaz Abdul Somad dalam video singkatnya di akun Instagram miliknya @ustadzabdulsomad_official.
Doktor Ilmu Hadits lulusan Sudan itu lalu menukil kitab karya Imam Adz Dzahabi. “Pernah pada suatu masa di Mesir dilanda masa paceklik dan wabah yang berkepanjangan. Wabah ini sampai ke Cordoba (Spanyol), Libya, Aljazair, dan Tunisia.
Belum pernah terjadi kemarau panjang paceklik sedahsyat itu sampai masjid-masjid ditutup. Tidak ada orang sholat, sama seperti sekarang. Tahun itu disebut tahun kelaparan wabah penyakit terdahsyat,” papar Ustaz Abdul Somad.
Menyikapi kejadian itu, ulama kelahiran Asahan Sumatera Utara itu mengajak umat Islam untuk mengimani takdir. “Jadi, kita jangan merasa sedih. Ini takdir kita. Makanya kita harus mengimani takdir,” ujarnya. (ave/dari berbagai sumber)













Discussion about this post