Avesiar – Jakarta
Kehidupan seorang Muslim senantiasa dituntun melalui perintah dan larangan dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala melalui Al Qur’an serta hadits Rasulullah Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam.
Dalam kehidupan sehari-hari, sering kita baik secara sadar atau tidak sadar melakukan kedzoliman-kedzoliman. Tentu sebagai seorang Muslim, kita harus menjauhkan diri dari perbuatan semacam itu.
Berikut adalah penjelasan mengenai dzolim :
Kata dzolim berasal dari bahasa Arab, yang bermaksud gelap. Di dalam Al-Qur’an menggunakan kata zhulm selain itu juga digunakan kata baghy, yang artinya juga sama dengan dzolim yaitu melanggar hak orang lain. Orang yang berbuat dzolim disebut dzolimin. Lawan kata dzolim adalah adil.
Namun pengertian dzolim lebih luas maknanya ketimbang baghyu, tergantung kalimat yang disandarkannya. Kedzoliman itu memiliki berbagai bentuk di antaranya adalah syirik.
Kalimat dzolim bisa juga digunakan untuk melambangkan sifat kejam, bengis, tidak berperikemanusiaan, suka melihat orang dalam penderitaan dan kesengsaraan, melakukan kemungkaran, penganiayaan, kemusnahan harta benda, ketidakadilan.
Dan banyak lagi pengertian yang dapat diambil dari sifat dzolim tersebut, yang mana pada dasarnya sifat ini merupakan sifat yang keji dan hina, dan sangat bertentangan dengan akhlak dan fitrah manusia, yang seharusnya menggunakan akal untuk melakukan kebaikan.
Dalam syariat Islam, orang yang tidak berbuat dzolim bisa saja terkena siksaan, keyakinan ini berdasarkan dalam salah satu ayat. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
| “ | …dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang dzolim saja di antara kamu dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya.” (Al- Anfaal, 8:25) | ” |
Ayat tersebut berisi peringatan untuk berhati-hati (hadzr) akan azab yang tidak hanya menimpa yang dzolim saja, tetapi menimpa secara umum baik yang dzolim maupun yang tidak dzolim.
Karena itu secara syar’i, wajib hukumnya bagi orang yang melihat kedzoliman/kemunkaran dan mempunyai kesanggupan, untuk menghilangkan kemunkaran itu.
Sebagai seorang Muslim, kita diajarkan untuk tidak melakukan perbuatan dzolim atau aniaya kepada orang lain dan bagi dirinya sendiri. Allah Subhanahu Wa Ta’ala bahkan menyebut akan memberi azab bagi orang yang dzolim.
Hal ini sebagaimana ditegaskan Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam firman-Nya, surat Al-Furqan ayat ke-19:
“Barangsiapa di antara kamu yang berbuat dzolim, niscaya kami rasakan kepadanya azab yang besar.”
Kendati demikian, seperti apa bentuk kedzoliman yang dilarang Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan Rasul-Nya? Berikut tiga macam kedzoliman yang dilarang Allah Subhanahu Wa Ta’ala :
1. Kedzoliman hamba kepada Rabb-nya
Kedzoliman manusia kepada Penciptanya adalah dengan kufur kepada Allah, seperti firman Allah dalam surat al-Baqarah ayat 254:
“Dan orang-orang kafir itulah orang-orang dzolim.”
Ayat lain dalam Al Qur’an juga menyebut kedzoliman seorang mahluk juga ditandai dengan berbuat syirik atau menyekutukan Allah dengan zat lain. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman dalam surat Luqman ayat 13:
“Sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah benar-benar kedzoliman yang besar.”
2. Kedzoliman kepada sesama manusia
Mendzolimi atau berbuat aniaya kepada sesama manusia juga merupakan perbuatan yang dibenci Allah Subhanahu Wa Ta’ala . Perbuatan seperti menyinggung kehormatan orang lain, menyakiti tubuh atau hati orang lain, hingga mengambil harta orang tanpa alasan yang benar, adalah perilaku yang dimurkai Allah.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala menyebut akan mengambil amalan orang yang berbuat dzolim dan diberikan kepada orang yang didzolimi. Bahkan akan menimpakan dosa orang yang didzolimi kepada orang yang mendzolimi.
Dalam hadits riwayat Bukhari, Rasulullah Shallallahu Alalihi Wasallam bersabda:
“Barangsiapa yang berbuat dzolim kepada saudaranya, baik terhadap kehormatannya maupun sesuatu yang lainnya, maka hendaklah ia meminta kehalalannya darinya hari ini juga sebelum dinar dan dirham tidak lagi ada. Jika ia punya amal salih, maka amalannya itu akan diambil sesuai dengan kadar kedzoliman yang dilakukannya. Dan jika ia tidak punya kebaikan, maka keburukan orang yang ia dzolimi itu dibebankan kepadanya.” (HR Bukhari)
3. Dzolim terhadap diri sendiri
Kedzoliman seorang hamba adalah dengan mengotori dirinya dengan berbagai bentuk dosa, pelanggaran dan keburukan berupa kemaksiatan kepada Allah dan Rasul-Nya.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman dalam Al Qur’an, surat Al-Baqarah ayat 57 yang artinya:
“Dan tidaklah mereka menganiaya Kami, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.” Tiga perbuatan dzolim ini hendaknya dijauhi setiap Muslim agar terhindar dari murka Allah Subhanahu Wa Ta’ala.”
Cara menghindari dzolim
a. Selalu bersifat sabar.
b. Memperkuat ilmu moral agam dan rajin beribadah.
c. Membiasakan diri untuk saling menghormati satu sama lain.
d. Sadar bahwa dzolim akan menghasilkan dosa yang sangat berat.
Cara menghadapi orang dzolim
Al Qur’an telah memberi petunjuk kepada kita dalam menghadapi orang-orang yang telah mendzolimi kita:
a. Tolaklah kejahatan itu dengan kebaikan.Jika ada orang yang berbuat jahat, balaslah dengan kebaikan.
b. Jika ada orang yang jahat kepada kita dengan perbuatannya dengan perkataannya atau dengan sesuatu yang lain, maka balaslah hal itu dengan kebaikan.
c. Jika ia memutus hubungan persaudaraan atau pertemanan denganmu, cobalah jalin hubungan baik dengannya. Jika ia mendzolimimu, maka maafkanlah ia.
Wallahua’lam
Demikian ulasan mengenai dzolim. Semoga menjadi pengingat kita semua untuk meningkatkan kualitas kehidupan sesuai syariah. Aamiin Yaa Robbal Alamiin. (dwi/dari berbagai sumber)













Discussion about this post