Avesiar.com
Sering kita lalai dalam memperhatikan pakaian yang kita gunakan saat shalat. Padahal, saat shalatlah antara seorang hamba dan Rabb-nya dalam kondisi yang sangat dekat. Di saat itulah seorang hamba berdiri, rukuk, sujud, bermunajat, membaca firman-firman-Nya, berdzikir, dan berdoa memohon kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Itulah mengapa ketika seseorang mendirikan shalat, hendaknya dia berada dalam kondisi terbaik dan keadaan yang paling sempurna. Syariat pun menggariskan bahwa seseorang yang hendak shalat harus suci badan, pakaian dan tempat shalatnya. Sebagaimana hal ini dibicarakan secara luas dalam kitab-kitab fiqih yang khusus membahas masalah ini.
Termasuk di antara penyempurna shalat adalah memakai pakaian terbaik, bukan “asal pakaian”. Perkara ini termasuk yang dilalaikan oleh kaum Muslimin, banyak di antara kaum muslimin yang melalaikannya, dan tidak memperhatikan sama sekali. Bahkan, shalat menjadi perkara remeh bagi sebagian kaum muslimin, dan berpindah dari perkara ibadah menjadi perkara adat kebiasaan.
Termasuk di antara adab yang perlu diperhatikan oleh orang yang hendak shalat adalah memakai pakaian terbaik dalam semua shalat, baik shalat wajib ataupun shalat sunnah. Maksud berpakaian tidak hanya sekedar menutup aurat kemudian selesai (cukup). Akan tetapi, maksud dari berpakaian adalah memperindah penampilan ketika berdiri di hadapan Rabb semesta alam.
Allah Ta’ala berfirman,
يَا بَنِي آدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ
“Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap kali (memasuki) masjid. Makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS. Al-A’raf [7]: 31)
Sebelum turunnya ayat ini, dikutip dari Republika, kaum kafir Quraisy beribadah dengan telanjang. Mereka menjalankan tawaf mengelilingi Ka’bah tanpa berpakaian. Majelis Tarjih Muhammadiyah dalam Tanya Jawab Agama Jilid 2 mengutip tafsir Al Maraghi, yang menyebutkan riwayat Abdullah bin Hamied dari Sa’ied bin Jubair.
Riwayat itu menceritakan, dahulu banyak orang melakukan tawaf dengan keadaan telanjang bulat. Mereka berkata, “Kami tak bertawaf dengan pakaian yang kami gunakan untuk melakukan dosa. Maka datanglah seorang wanita dengan melepas pakaiannya dan melakukan tawaf serta meletakkan tangannya untuk menutup kemaluannya seraya berkata: ‘Hari ini kelihatan sebagian atau seluruhnya, maka yang tampak pun tidak aku bebaskan’.”
Turunnya perintah untuk mengenakan pakaian terbaik saat ke Masjid disebut merupakan respons atas kelakukan orang Quraisy pada masa lalu. Pakaian terbaik untuk shalat bukan tanpa aturan. Ada beberapa standar pakaian yang bisa dikenakan seorang Muslim untuk melaksanakan shalat. Salah satunya adalah shalat harus dilakukan dengan pakaian yang menutup aurat.
Hikmah perintah Allah Subhanahu Wa Ta’ala untuk mengenakan pakaian yang terbaik saat memasuki Masjid untuk menyiapkan diri agar khusyuk dalam shalat. Sungguh masuk akal saat Allah Subhanahu Wa Ta’ala meminta kita untuk mengenakan pakaian yang bersih dan indah saat masuk ke Masjid.
Ibnu Katsir rahimahullah berkata,
ولهذه الآية، وما ورد في معناها من السنة، يستحب التجمل عند الصلاة، ولا سيما يوم الجمعة ويوم العيد، والطيب لأنه من الزينة، والسواك لأنه من تمام ذلك
“Dalam ayat ini dan juga dalil dari As-Sunnah yang semakna dengannya (terkandung faidah) dianjurkannya memperindah penampilan ketika shalat, lebih-lebih pada hari Jum’at dan hari raya (hari ‘id). (Juga dianjurkan) memakai wangi-wangian, karena hal itu termasuk dalam perhiasan, dan juga siwak, karena hal itu termasuk dalam perkara yang menyempurnakannya.” (Tafsir Ibnu Katsir, 3: 402)
Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda ketika ditanya tentang seseorang yang senang berpakaian dan memakai sandal yang bagus,
إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ
“Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan. Kesombongan itu adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.” (HR. Muslim no. 91)
Padahal ketika dia hendak menghadap orang yang memiliki kedudukan tinggi di dunia dia pasti memilih dan mencari pakaian paling bagus yang dia miliki, dan memakai wangi-wangian dengan wewangian terbaik yang dia miliki.
Bagaimana mungkin seseorang itu sangat perhatian ketika pergi menghadap makhluk, namun tidak memiliki perhatian ketika menghadap sang Khaliq. Ini merupakan salah satu tanda ketika seseorang sudah meremehkan perkara shalat. Wallahua’lam. (ard/dari berbagai sumber)













Discussion about this post