KAMU KUAT – Jakarta
Sholat disebut sebagai tiang agama karena menjadi fondasi utama dalam kehidupan seorang Muslim. Sholat adalah rukun Islam kedua, yang menunjukkan keteguhan iman dan menjadi penopang utama agama.
Tiang agama dalam Islam ini adalah sesuatu yang tidak hanya diwajibkan, tapi juga menjadi identitas seorang Muslim sejati. Namun, dalam realitas kehidupan remaja masa kini, kesibukan sekolah, aktivitas media sosial, dan pergaulan kadang membuat kewajiban ini terasa berat atau bahkan diabaikan.
Padahal, shalat bukan sekadar kewajiban ritual, melainkan bentuk cinta dan komunikasi langsung antara hamba dan Tuhannya. Banyak remaja tahu bahwa shalat itu wajib, tapi tidak semua mampu menjaga konsistensinya. Hal ini memunculkan pertanyaan menarik, bagaimana remaja sebenarnya memahami hukum shalat lima waktu?
Bagaimana cara mereka menyikapi serta menjalankannya di tengah berbagai tantangan masa muda? Dalam artikel ini, mari kita simak suara-suara remaja Muslim seputar pemahaman mereka tentang shalat dan usaha mereka untuk tetap menjaga kewajiban mulia ini di kanal remaja dan anak muda KAMU KUAT! Avesiar.com.
Gavin Arsa Ibrahim, siswa kelas 7, SMP Negeri 7, Tangerang Selatan

Gavin sudah memiliki kesadaran yang cukup kuat tentang pentingnya menjaga shalat lima waktu. “Buat aku shalat itu kewajiban. Kalau nggak shalat, aku merasa bersalah,” ujar Gavin.
Meskipun kadang masih perlu diingatkan oleh ibunya, Gavin sudah terbiasa shalat sendiri tanpa harus disuruh. Kesadaran ini lahir dari pemahaman bahwa shalat bukan sekadar rutinitas, tapi juga bentuk tanggung jawab sebagai Muslim.
Namun tentu saja, tantangan tetap ada. Gavin mengakui bahwa godaan untuk menunda atau lupa shalat sering muncul ketika sedang asyik bermain bersama teman-temannya. “Kalau udah main sama teman, kadang suka lupa waktu,” katanya jujur.
Meski begitu, Gavin selalu berusaha untuk tidak larut dalam kemalasan. Ia mengaku merasa tidak tenang kalau meninggalkan shalat atau shalat terlalu mepet waktu. “Karena udah terbiasa shalat, jadi kalau ninggalin shalat atau shalatnya mepet-mepet waktu, rasanya bersalah banget,” tambahnya.
Yang menarik, Gavin juga merasakan banyak perubahan positif sejak mulai rutin shalat, apalagi jika dilakukan di masjid. “Aku jadi lebih bertanggung jawab dan lebih disiplin,” ucapnya dengan yakin.
Kesadaran Gavin tidak hanya muncul saat berada di rumah. Ketika sedang bepergian pun, ia tetap berusaha menjaga shalat dengan mencari tempat yang memungkinkan, seperti masjid terdekat, pom bensin, atau bahkan mushola di mall.
Aszka Fatiya, siswi kelas 11, SMK Negeri 8, Kota Tangerang Selatan

Di tengah kesibukan dunia remaja yang penuh dengan tugas, kegiatan sekolah, dan dinamika emosi, shalat lima waktu hadir bukan hanya sebagai kewajiban, tapi juga sebagai penyejuk hati. Seperti yang dirasakan oleh Aszka Fatiya.
Di balik aktivitasnya yang padat sebagai pelajar SMK, ia tetap berusaha menjaga shalat lima waktu sebagai bagian penting dalam hidupnya. “Merasa lebih tenang dan dekat dengan Allah itu yang paling memotivasi,” ungkap Aszka saat ditanya alasan utamanya menjaga shalat.
Bagi Aszka, shalat adalah cara untuk kembali ke pusat ketenangan, tempat di mana hati merasa lebih ringan dan pikiran menjadi lebih fokus. Ia juga mengaku bahwa sang ayah memiliki peran besar dalam menanamkan kesadaran pentingnya shalat sejak kecil. “Ayahku paling berperan besar dalam mengingatkan saya untuk melakukan shalat lima waktu.”
Namun, tentu saja menjaga shalat di tengah kesibukan bukan perkara mudah. Aszka mengaku bahwa jadwal yang penuh seharian bisa menjadi tantangan besar, terutama jika sedang lelah atau terlalu banyak kegiatan. “Kadang kalau lagi sibuk full kegiatan seharian, kerasa susah banget cari waktu untuk shalat. Dan jujur, suka malas bangun pagi untuk shalat Subuh,” katanya jujur.
Tapi yang membedakan, Aszka tidak membiarkan rasa malas menguasainya. Ia punya strategi khusus agar tetap ingat dan semangat menjalankan shalat. “Saya berusaha mengingatkan diri sendiri, seperti pasang alarm di waktu shalat. Kalau malas, saya paksa diri sendiri supaya tetap shalat. Dan kalau sampai lupa, saya tetap mengganti dan menyempurnakan shalat lima waktu itu,” paparnya.
Menariknya, Aszka juga merasakan dampak nyata dari menjaga shalat dalam kehidupan sehari-harinya. Ia merasa lebih fokus belajar, lebih tenang dalam menghadapi tugas, bahkan lebih mudah mengendalikan emosi. “Setiap selesai shalat, rasanya lebih damai. Hati lebih tenang, dan itu memudahkan saya fokus belajar di sekolah,” jelasnya.
Kesadaran Aszka tidak berhenti hanya saat di rumah. Saat bepergian pun, ia tetap menjaga shalat dengan membawa perlengkapan sendiri dan mencari tempat yang nyaman untuk beribadah. “Saya selalu bawa mukena dan sajadah kecil. Terus cari masjid atau mushola yang bersih dan suci, biar nyaman saat shalat,” tutupnya.
Faza, siswa SMA School of Univers

Bagi Faza, shalat adalah sesuatu yang tidak bisa ditawar. Bukan sekadar rutinitas, melainkan pondasi utama sebagai seorang Muslim. Faza menyampaikan bahwa orang tuanya, terutama abi dan umi, sangat berperan dalam mengingatkan pentingnya shalat.
Namun, semangat untuk menjaga shalat tumbuh dari dalam dirinya sendiri. Ia merasa bahwa shalat membawa ketenangan, membersihkan hati, dan menjauhkan dirinya dari keburukan. Bahkan ia menganggap shalat sebagai pembeda antara orang yang sungguh-sungguh dalam iman dan yang tidak.
Ketika ditanya soal rasa malas atau lupa untuk shalat, Faza menjawab dengan yakin. Ia tidak pernah merasa malas, karena baginya shalat adalah kewajiban yang sudah melekat kuat dalam kesadarannya sebagai seorang Muslim. Kalaupun suatu kali ia lupa karena sibuk atau teralihkan, ia akan segera melaksanakan shalat begitu teringat, tanpa menunda.
Tentang tantangan menjaga shalat tepat waktu, Faza mengaku bahwa dirinya berusaha langsung menuju masjid ketika mendengar adzan. Itu adalah komitmennya untuk tidak menunda-nunda ibadah. Prinsip ini ia pegang kuat, karena ia merasa hidupnya jauh lebih damai dan terarah saat rutin menjalankan shalat lima waktu. Ketenangan hati dan kemampuan mengendalikan diri menjadi dua hal yang paling ia rasakan sebagai dampak positif dari ibadah yang ia jaga.
Faza juga tidak melupakan shalat meskipun sedang berada di luar rumah. Jika ia sedang jalan-jalan dan waktu tidak memungkinkan, ia akan menjama’ shalat. Namun yang terpenting baginya adalah jangan sampai shalat terabaikan. Di manapun berada, ia tetap berusaha menjaga hubungan dengan Allah melalui shalat.
Kisah para remaja menunjukkan bahwa di tengah kesibukan dan tantangan remaja zaman sekarang, tetap ada ruang untuk menjaga komitmen kepada Allah. Shalat bukan hanya tentang menggugurkan kewajiban, tapi tentang menjaga jiwa agar tetap tenang dan bersih.
Saat remaja menjalankan shalat dengan kesadaran penuh, itu menjadi bukti bahwa iman bisa tumbuh kuat bahkan di usia muda. Karena sesungguhnya, shalat bukan soal waktu yang luang tapi tentang memilih untuk menyempatkan waktu demi sesuatu yang paling bernilai. (Resty)













Discussion about this post