Avesiar – Jakarta
Kemampuan untuk berkomunikasi antara satu dengan yang lain adalah salah satu anugerah yang diberikan Allah Subhanahu Wa Ta’ala kepada manusia. Karenanya, isyarat mengenai komunikasi tersebut dapat dilihat pada surat Ar Rahman ayat 4:
“Mengajarnya pandai berbicara.”
Dalam Al Qur’an, Allah Subhanahu Wa Ta’ala menggunakan beberapa pola komunikasi. Informasi yang disampaikan berulang-ulang menjadi salah satu di antara pola komunikasi yang diajarkan-Nya.
Adapun adanya pengulangan pada suatu ayat memiliki maksud dan tujuan tertentu. Dilansir situs resmi Majelis Ulama Indonesia, Senin (31/1/2022), Quraish Shihab dalam kitabnya Tafsir Al-Qur’an al-Karîm menyebutkan para ulama tafsir hampir sepakat menyatakan dalam setiap pengulangan kata pada Al Qur’an pasti memiliki makna yang sedikit atau banyak berbeda dengan kata yang diulang tersebut.
Penjelasan para ulama mengenai hikmah pada pengulangan tersebut bersifat ijtihadi. Karenanya apabila terdapat beberapa perbedaan, maka dimungkinkan karena perbedaan sudut pandang yang digunakan.
Menurut Syekh Muhammad bin Salih dalam Tafsir Juz ‘Amma terdapat beberapa hikmah pengulangan ayat atau kalimat dalam Al Qur’an, di antaranya yaitu:
a. Penjelasan mengenai urgensi masalah pengulangan yang terjadi pada konteks ini menunjukkan bahwa masalah tersebut sangatlah penting, sebagaimana halnya pengulangan dalam surat Ar Rahman.
Para ulama berpendapat mengenai rahasia pengulangan dalam surat Ar Rahman yaitu dikarenakan betapa pentingnya menampakkan aneka nikmat Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang sangat melimpah bahkan tidak akan pernah sanggup dihitung dalam kehidupan manusia.
Dalam al-Mizan, at-Thabathabai menjelaskan adanya pengulangan ayat dalam surat tersebut mengandung isyarat mengenai ciptaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang sekian banyak bagian-bagiannya. Ciptaan tersebut terbentang di langit dan bumi, darat dan laut, bahkan manusia dan jin.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala pula yang mengatur segala hal tersebut berada pada satu pengaturan yang bermanfaat bagi golongan manusia dan jin. Karenanya, kemanfaatan tersebut akan tetap berlaku di dunia maupun di akhirat kelak.
Pendapat yang hampir sama dinyatakan oleh al-Biqa’i dalam Nazmud-Durar bahwa rahasia adanya pengulangan ayat dalam surat Ar Rahman adalah menetapkan bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala menyandang sifat rahmat yang tercurah kepada semua makhluk tanpa kecuali.
Dari sini dapat dilihat pula bahwa nama Ar Rahman memiliki makna keluasan anugerah dan ketercakupannya bagi semua ciptaan-Nya.
b. Agar pesan yang disampaikan lebih meresap ke dalam hati manusia
Pengulangan dalam Al Qur’an baik itu secara redaksi atau masalah bertujuan agar manusia lebih mampu meresapi kandungan maknanya. Seperti dalam surat Al Fatihah, pada ayat pertama berbunyi:
“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.”
Lalu pada ayat ketiga terdapat penggulangan lafaz yang sama dengan ayat pertama yaitu:
“Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.”
Pengulangan ayat di atas hanya terjadi pada redaksinya saja, namun tidak terjadi pengulangan pada hakikat maknanya. Sehingga pengulangan di atas bertujuan agar manusia lebih dapat meresapi mengenai betapa besar kasih sayang Allah kepada manusia.
Mengutip pendapat dari Rasyid Rida dalam Tafsir al-Manar menyebutkan bahwa pada ayat ketiga surat Al Fatihah menjelaskan mengenai rahmat dan kasih sayang Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam pemeliharaan dan pendidikan-Nya.
Sedangkan dalam ayat pertama bertujuan untuk menjelaskan bahwa surat tersebut turun membawa rahmat Allah Subhanahu Wa Ta’ala . Karenanya meskipun redaksi pada ayat tersebut diulang ataupun sama, namun memiliki makna yang berbeda.
Pendapat di atas diperkuat dengan Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Qur’an al-Karim yang menyebutkan bahwa Ar Rahman dan Ar Rahim pada ayat ketiga surat Al Fatihah bukan pengulangan ayat pertama dari sisi substansi maknanya.
Pengulangan tersebut untuk menekankan bahwa pendidikan dan pemeliharaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang disebut pada ayat kedua bukan untuk kepentingan Allah Subhanahu Wa Ta’ala atau menginginkan pamrih sebagaimana sifat yang dimiliki oleh makhluk-Nya.
Pendidikan dan pemeliharaan tersebut semata-mata karena rahmat dan kasih sayang Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang dicurahkan kepada para makhluk ciptaan-Nya.
c. Menunjukkan kebenaran bahwa Al Qur’an merupakan wahyu yang berasal dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala .
Terdapat beberapa hal yang diulang dalam Al Qur’an, khususnya yang berkaitan dengan kisah. Pengulangan dalam satu kisah menggunakan redaksi yang berbeda dan tidak ada kontroversi di dalamnya.
Syekh Muhammad bin Salih berpendapat dalam Tafsir Juz ‘Amma bahwa hal ini sangat mustahil dapat dilakukan oleh manusia, kecuali bagi Yang Maha Mengetahui.
Seperti pada kisah Nabi Musa yang terdapat pada surat Thaha ayat 9-14, khususnya dalam kalimat wâdi thuwâ pada ayat ke 12 surat Thaha:
“Sungguh, Aku adalah Tuhanmu, maka lepaskan kedua terompahmu. Karena sesungguhnya engkau berada di lembah yang suci, Tuwa.”
Kisah di atas berulang dalam surat An Naml ayat 7-12. Pengulangan tersebut, meskipun masih pada pembahasan mengenai kehidupan Nabi Musa, namun berbeda dalam pemaparannya.
Salah satu perbedaan tersebut dapat dilihat pada surat Thaha khususnya ayat 11-12 yang menunjukkan bahwa Nabi Musa tengah berada di tempat yang diberkahi, karenanya Allah Subhanahu Wa Ta’ala meminta dia untuk melepaskan sandalnya. Wallahu’alam.(ard)













Discussion about this post