Avesiar – Jakarta
Keprihatinan yang diwujudkan dalam bentuk kepedulian atas begitu banyaknya masyarakat di Indonesia yang buta huruf Al Qur’an adalah tanggung jawab bersama.
Hal ini karena berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) hasil survei sosial ekonomi nasional (Susenas) tahun 2018, tercatat 53,57 persen masyarakat dewasa di Indonesia tidak bisa membaca Al-Qur’an. Artinya lebih dari 100 juta penduduk buta huruf Qur’an.
Data tersebut menjadi sebuah ironi bagi negeri dengan penduduk Muslim mayoritas, namun sebagian besar penduduknya masih belum bisa membaca Al Qur’an. Sebagaimana diketahui sebagai seorang Muslim, bahwa Al Qur’an merupakan pedoman menjalani kehidupan untuk seluruh manusia.
Cinta Quran Foundation (Yayasan Cinta Quran) didirikan sebagai wujud kepedulian akan kondisi yang ada. Non Profit Organization ini berkontribusi untuk menyelesaikan permasalahan tersebut. Lembaga filantropi yang memfokuskan aktifitasnya organisasinya pada Al Qur’an ini memiliki visi mewujudkan Indonesia cinta Qur’an. CQF yang berdiri sejak 2014 telah berkiprah memberikan pelatihan membaca Al Qur’an kepada hampir 100 ribu penerima manfaat.
Kontribusi dimulai dengan pengembangan metode Pembelajaran Al Qur’an dengan konsep Edutainment, sebuah training yang memadukan unsur pendidikan dan entertainment, sehingga proses belajar menjadi mudah dan menyenangkan.
Untuk mempercepat program pemberantasan buta Qur’an, Cinta Quran Foundation secara resmi memulai champaign Quranization #BergerakHapusButaAksara Al-Qur’an pada Kamis, 10 Maret 2022, yang berlangsung di Hotel Kuretakeso Kemang, Jakarta Selatan.

Kampanye tersebut dihadiri beberapa narasumber yang mengisiasi dan mendukung gerakan nasional ini antara lain; Ustadz Fatih Karim (Pembina Cinta Quran Foundation), Ketua Komisi Dakwah MUI Ahmad Zubaidi, serta beberapa selebritas pendukung gerakan tersebut seperti Dimas Seto yang juga Direktur Mushaf Al Quran CORDOBA, Peggy Melati Sukma, dan Ari Untung.
“Kampanye ini akan fokus pada acara skala nasional yaitu gerakan membaca Qur’an dengan menghadirkan 100 ribu orang pada acara puncak. satu orang akan membaca membaca 1 juz ,” ungkap Ustadz Fatih Karim di hadapan para wartawan, Kamis (10/3/2022).
Ustadz Fatih Karim menjelaskan, bahwa program champaign Quranization #BergerakHapusButaAksara Al-Qur’an yaitu memberikan pelatihan baca Quran tidak berbayar pada semua kalangan di manapun bahkan sampai ke pelosok negeri.
Cinta Quran Foundation mendirikan CInta Quran Center: Da’I & Tahfidz Institute yang berkomitmen untuk mencetak sejuta Da’I dari seluruh Indonesia.
Diharapkannya, dengan meningkatnya jumlah da’i yang mendakwahkan Al Qur’an ke seluruh penjuru Indonesia, jumlah buta aksara quran pun akan menurun secara signifikan. Dedikasi mewujudkan Indonesia Cinta Quran tak hanya dilakukan dengan membebaskan buta aksara Qur’an saja, namun juga kepada buta makna terhadap Al Qur’an.
“Untuk itu, kami tidak bisa melakukannya sendirian, sehingga dukungan teman-teman wartawan dan media massa dalam menyebarkan informasi ini sangatlah berpengaruh dan dibutuhkan,” ungkap Ustadz Fatih Karim.
Membumikan nilai-nilai Al Qur’an, menurut Fatih Karim, adalah hal yang juga penting. Cinta Quran Foundation terus bergerak, berinovasi, dan menginspirasi masyarakat dengan nilai-nilai Al Qur’an melalui berbagai program dakwah, sosial, serta kemanusiaan.
“Energi penggerak kami hingga saat ini adalah keyakinan bahwa kontribusi terbaik bagi negeri ini yaitu menginspirasi masyarakat dengan Al Qur’an. Berbagai program di berbagai bidang, akan terus kami ciptakan dan kembangkan hingga terwujudnya Indonesia Cinta Quran. Teman-teman wartawan juga dengan senang hati kami persilakan untuk ikut training membaca Al Qur’an agar teman-teman dapat juga menjadi penggerak gerakan ini,” kata Ustadz Fatih Karim.
Sementara itu, dukungan juga disampaikan oleh Ketua Komisi Dakwah MUI Ahmad Zubaidi. Dikatakannya, memang harus diakui bahwa banyak masyarakat Indonesia yang tidak bisa membaca Al Qur’an atau buta aksara Qur’an. Hal ini, menurut dia, ada perbedaan antara generasi sekarang dengan generasi sebelumnya.
Bisa dikatakan, lanjut Ahmad Zubaidi, generasi anak-anak sekarang lebih familiar dengan Al Qur’an karena banyak diajarkan di sekolah dan TPA. Sedangkan bagi generasi yang bisa diibaratkan generasi kolonial, membaca Al Qur’an dahulu sangat minim kesadarannya dan alasan lainnya.
“Bahkan saya dulu pernah mengajar ngaji pejabat-pejabat yang memang belum bisa mengaji. Itu harus diakui. Sehingga gerakan menghapus buta aksara Qur’an atau QURANIzation ini kami dukung dan harus kita dukung bersama,” ujarnya.
Ari Untung dan Dimas Seto juga menceritakan bagaimana mereka mulai belajar membaca Al Qur’an. Bagi mereka berdua, hidup menjadi lebih bermakna setelah belajar membaca Al Qur’an dan mendukung gerakan tersebut. Peggy Melati Sukma salah satu artis yang kini menjadi pedakwah juga menyatakan dukungannya pada gerakan QURANIzation tersebut.
Ada tiga dukungan dapat dilakukan masyarakat pada gerakan QURANIzation ini, yaitu:
1. Menjadi relawan yang merekomendasikan kelas pelatihan membaca Al Qur’an tak berbayar yang akan diselenggarakan oleh Cinta Qur’an Foundation.
2. Menjadi donator untuk membiayai setiap pelaksanaan kelas membaca Al Qur’an yang diselenggarakan di seluruh wilayah di Indonesia.
3. Menjadi partisipan pada malam puncak gerakan QURANIzation yaitu 17 Ramadhan yang jatuh pada 29 April 2022 dengan pembacaan Al Qur’an bersama 100 ribu orang, di mana setiap orang akan membaca 1 juz.
“Perjalanan kita masih sangat panjang dan masih jauh dari harapan dan cita-cita kami. Jangkauan syiar kami terhambat ruang dan waktu. Indonesia yang begitu luas sangat membutuhkan penyebaran informasi yang lebih massif. Kami tidak bisa sendirian, kepanjangan pena rekan-rekan menyebarkan informasi ini sangatlah dibutuhkan dan semoga apa yang kita mulai hari ini#BergerakHapusButaAksara Al-Qur’an akan menjadi perjalanan syiar kita bersama,” kata Fatih Karim. (ave)













Discussion about this post