• Nasional & Opini
    • Politik
    • Hukum
    • Sosial
    • Budaya
    • HanKam
    • Daerah
    • Kesehatan
    • Edukasi
    • Opini
    • English Version
  • World
    • Economy
    • Politic
    • Law
    • Culture
    • Islam
    • Freedom for Palestine
    • Umra & Hajj
    • Tourism
  • Ekonomi
    • Bisnis & Wirausaha
    • Common
    • Islami
    • Property
    • CSR
  • Nusantara
    • Metro
    • Urban
    • Guru Kita
    • Prestasi
    • Profil Perubahan
    • Wisata
  • Healtech
    • Hidup Sehat
    • Riset
    • Teknologi
    • Gadget
  • Auto-Sport & Hobby
    • Aneka Olah Raga
    • Sepeda
    • Golf
    • Auto
    • Fauna & Flora Care
  • Change
    • Motivasi
    • Entrepreneurship
    • Pensiun Sehat
  • Syar’i
    • Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam
    • Muslim Fashion
    • Harmoni Keluarga
    • Griya Harmoni
    • Psikologi
    • Masjid & Activity
  • People & Activity
    • Figure
    • Community
    • Society
    • Social
    • Event
    • Podcast Ladders to be Leaders
  • KAMU KUAT
    • Podcast KAMU KUAT
  • Youth
    • Smart Teens
    • Students
    • School Story
    • Campuss Story
    • Millennial
  • Kuliner
    • Resto
    • Kaki Lima
    • Resep
  • City Jour & Video
No Result
View All Result
No Result
View All Result
Home Nasional & Opini

Orang Tua Jangan Cuek, Berikut Dampak Buruk Media Sosial Bagi Masa Depan Anak

by Ave Rosa
29 Agustus 2024 | 23:45 WIB
in Nasional & Opini
Reading Time: 7 mins read
A A
Keterlibatan di Media Sosial, UEA Dilaporkan Jadi Negara yang Berada di Puncak Dunia

ILUSTRASI. Foto: Freepik

Avesiar – Jakarta

Penggunaan Media sosial oleh orang dewasa mungkin akan memiliki dampak positif dan negatif yang dapat disikapi sesuai dengan tingkat kedewasaannya. Namun, bagaimana jika penggunanya adalah anak dan remaja?

Selain dampak positif dapat terhubung dengan banyak orang tanpa mengenal jarak dan waktu, media sosial bisa memengaruhi kehidupan anak dan remaja. Platform tersebut menyajikan fitur bagi penggunanya untuk berinteraksi, berekspresi, dan berbagai pengalaman, ide, serta pemikiran. Namun, tidak semua orang bebas untuk menggunakan media sosial.

Media sosial sebaiknya dikenal anak pada usia minimal 13 tahun. Sedangkan kenyataannya, di zaman sekarang, terlebih ketika pembelajaran daring saat pandemi Covid-19 berlangsung, anak di bawah usia 13 tahun sudah mengenal media sosial.

Salah satu risiko penggunaan media sosial yang paling buruk adalah bentuk sosialisasi. Hal ini memungkinkan seorang anak akan lebih senang dengan teman online-nya, dibanding melakukan sosialisasi secara langsung dengan temannya melalui interaksi fisik. Ini yang membuat sosialisasi anak tidak berkembang karena mereka fokus dengan teman online nya.

Dikutip dari laman RSAB Harapan Kita, menurut penjelasan Ade Dian Komala, M.Psi Psikologi dalam siaran live dengan radio kesehatan, Kamis (20/1/2022), dikatakan bahwa orang tua harus bisa menjadi lebih perhatian dan bisa me-manage waktu antara bermain sosial media/gadget dengan prioritas yang harus anak lakukan.

“Tidak sedikit orang tua yang melihat anak menjadi tantrum apabila dilarang bermain gadget. Sebagai orang tua, kita diwajibkan untuk bisa mengatur waktu dan mempunyai aturan yang jelas berapa lama anak boleh bermain gadget agar anak tidak menjadi tantrum,” ujarnya.

Pengaruh media sosial, lanjutnya, sangat berpengaruh terhadap perilaku anak/remaja. Apalagi ketika media sosial digunakan terlalu berlebihan. Beberapa remaja mengalami masalah kecemasan/mental, di mana kebanyakan media sosial menampilkan hal-hal yang sangat “wah”, sangat baik-baik saja dan sangat keren. Sehingga anak sering kali membandingkan atau merasa “kenapa saya tidak seperti dia (artis/selebgram)” yang menimbulkan kecemasan, serta ketidakpercayaan diri.

Bacaan Terkait :

No Content Available
Load More

“Media sosial mempunyai faktor risiko yang besar, namun tidak bisa kita pungkiri bahwa media sosial juga mempunyai value positif yang bisa kita ambil. Seperti ketika persepsi kita melihat seorang artis/selebgram bisa pergi/jalan-jalan ke luar negeri, sehingga anak/remaja termotivasi untuk bekerja lebih keras untuk bisa seperti dia (artis/selebrgram), jadi tergantung bagaimana persepsi yang kita mau ambil dari media sosial,” terang Ade Dian Komala, M.Psi, Psikologi.

Dia menambahkan, bahwa sagi anak-anak yang sudah kecanduan bermain gadget yaitu harus ditarik gadget-nya. Artinya, bukan sama sekali tidak boleh. Tetapi diberikan pengertian, batasan, dan aturan yang jelas. Untuk membuat anak aktif, mereka harus diberi kegiatan yang lain seperti les berenang atau les bela diri, sehingga teralihkan untuk melakukan kegiatan yang lain. Selain itu, dibutuhkan cara berkomunikasi yang tepat kepada anak/remaja agar mereka dapat mengevaluasi dirinya sendiri.

“Apabila orang tua sudah merasa kesulitan atau bingung dalam menghadapi anak/remajanya, disarankan untuk berkonsultasi ke psikolog dan tidak menunggu sudah ada masalah/keluhan. Sangat disarankan bagi orang tua berkonsultasi untuk sekedar bertanya/konsultasi dan ingin tahu bagaimana cara mengatasi anak/remaja,” kata Ade.

Rata-rata media sosial memberlakukan aturan usia tertentu saat mendaftar, yaitu usia 13 tahun. Mirisnya, pemalsuan usia masih sangat mungkin dilakukan secara daring atau online. Hal ini tentunya bisa berdampak buruk pada kehidupan anak dan remaja.

Ayah dan Bunda bisa mengetahui lebih banyak dampak negatif media sosial yang dikumpulan dari berbagai sumber di bawah ini untuk mengantisipasi, mencegah, dan melarang buah hati Anda untuk menggunakan media sosial sebelum usinya benar-benar dewasa.

1. Menimbulkan ketidakpuasan diri

Ketika sedang scrolling media sosial, Pengguna pasti sering melihat unggahan orang lain yang menunjukkan wajah atau tubuhnya yang tampak ideal. Jika Pengguna melihat hal tersebut secara terus-menerus, hal ini dapat menimbulkan dampak negatif media sosial, seperti ketidakpuasan pada diri sendiri.

Mungkin pengguna saat ini sadar bahwa unggahan-unggahan yang bertebaran di media sosial sebagian besar adalah hasil manipulasi dari filter kamera atau aplikasi. Namun, tetap saja muncul standar kecantikan yang tidak realistis dalam diri, sehingga membuat pengguna merasa tidak pernah cukup dan puas. Hal tersebut akhirnya akan menurunkan kepercayaan diri pengguna.

2. Meningkatkan kecemburuan sosial

Scrolling media sosial terus-menerus juga dapat menciptakan perbandingan-perbandingan yang tidak sehat. Misalnya adalah pengguna membandingkan barang-barang yang dimiliki dan tidak dimiliki dengan kepunyaan orang lain.

Padahal, apa yang orang lain unggah di media sosial belum tentu sama indahnya dengan kenyataan. Sama seperti pengguna, orang lain juga pasti memiliki masalah dan kesulitan masing-masing yang mungkin sama atau lebih buruk daripada yang pengguna hadapi. Hanya saja, hal tersebut tidak ditampilkan di media sosial.

Jika pengguna terpengaruh dengan dampak negatif media sosial yang satu ini, hal ini dapat menganggu kesehatan mental dan meningkatkan kecemburuan sosial.

3. Mengganggu waktu tidur

Kualitas tidur yang terganggu juga bisa menjadi salah satu dampak negatif media sosial. Penggunaan media sosial yang berlebihan dapat menyebabkan masalah pada kontrol diri, terutama jika pengguna mengakses jejaring sosial menggunakan smartphone.

Menggunakan media sosial memang memudahkan pengguna untuk selalu terhubung dengan teman atau keluarga. Namun, keuntungan ini juga membawa dampak negatif berupa perubahan kualitas tidur.

Tidak mendapatkan tidur yang cukup bisa menyebabkan kenaikan berat badan, menurunkan konsentrasi, hingga meningkatkan risiko terkena tekanan darah tinggi dan diabetes.

4. Menyebabkan depresi dan kecemasan

Menggunakan media sosial terlalu sering juga dapat memicu serangkaian emosi negatif yang menyebabkan kecemasan bahkan depresi, atau memperburuk gejalanya.

Dampak negatif media sosial ini dapat terjadi ketika pengguna memiliki perasaan tertekan yang tinggi, seperti ingin selalu up to date atau ingin memiliki unggahan foto serta tulisan yang sempurna. Semua tekanan tersebut akhirnya menimbulkan kekhawatiran berlebih dan menjadi gejala dari depresi dan kecemasan.

5. Menyebabkan kecanduan

Media sosial memiliki efek buruk bagi otak. Hal ini karena produksi hormon dopamin yang memicu rasa senang dan nyaman di otak meningkat saat pengguna membuka aplikasi media sosial favorit.

Ketika kadar dopamin meningkat setelah menggunakan media sosial, otak akan mengidentifikasinya sebagai aktivitas bermanfaat yang harus pengguna lakukan kembali. Akibatnya, pengguna menjadi kecanduan media sosial.

Efek senang karena media sosial hanya bersifat sementara. Jadi, saat dopamin yang membuat rasa nyaman dan senang dalam tubuh hilang, pengguna akan kembali melihat media sosial untuk kembali mendapatkan perasaan tersebut.

6. Menimbulkan phubbing

Ketika mengalami kecanduan media sosial, pengguna tidak mau lepas atau berjauhan dari perangkat yang digunakan untuk bermain media sosial. Akibatnya, pengguna menjadi abai dengan orang sekitar.

Pengguna bisa tidak memedulikan orang sekitar saat sedang makan bersama, rapat, atau melakukan aktivitas berkumpul lainnya karena asik melihat media sosial. Dampak negatif media sosial berupa tindakan pengabaian ini disebut dengan phubbing.

7. Menciptakan FOMO

Dampak negatif media sosial selanjutnya adalah FOMO atau fear of missing out. Kondisi ini ditandai dengan kecemasan atau ketakutan berlebih akan ketinggalan hal-hal tertentu.

FOMO mengacu pada perasaan atau persepsi bahwa orang lain bersenang-senang, menjalani kehidupan yang lebih baik, atau mengalami hal-hal yang lebih baik daripada Pengguna. Kondisi ini kemudian memicu kecemasan dan penggunaan media sosial yang berlebihan.

Tak jarang, orang yang menderita FOMO juga akan memeriksa media sosial setiap saat, terutama ketika muncul notifikasi, demi mengetahui informasi atau tren yang sedang happening.

8. Meningkatkan risiko terkena cyberbullying

Meskipun perundungan atau bullying lebih umum terjadi saat tatap muka, bullying juga dapat terjadi di dunia maya, termasuk di media sosial. Kondisi ini dikenal dengan cyberbullying.

Dampak negatif media sosial yang satu ini biasanya dipicu dengan perbedaan pendapat dalam kolom komentar, yang kemudian berujung pada perdebatan panjang dan aksi cyberbullying.

Ketika hal ini terjadi, korban cyberbullying dapat mengalami gangguan kesehatan mental, seperti stres dan depresi, bahkan memicu keinginan untuk bunuh diri.

9. Memicu kesalahpahaman

Meskipun media sosial menjadi cara terbaik untuk tetap berkomunikasi dengan teman atau keluarga yang bertempat tinggal jauh, hal itu tidak sama dengan komunikasi tatap muka.

Saat sedang berkomunikasi melalui pesan teks, pengguna tidak akan dapat melihat ekspresi wajah atau mendengar nada suara orang lain secara online. Akibatnya, kesalahpahaman sangat mudah terjadi.

Dampak negatif media sosial ini menjadi lebih rentan terjadi ketika pengguna mencoba melucu atau menyindir secara online, tetapi orang lain tidak menangkap apa maksud pengguna. Akibatnya, kesalahpahaman tersebut bisa memicu pertikaian, bahkan cyberbullying.

10. Risiko terkena atau pelaku perilaku negatif body shaming

11. Termakan rumor tidak benar atau berita hoaks

12. Penipuan dari predator online

13. Dampak psikologis yang dapat muncul pada anak dan remaja akibat penggunaan media sosial yang berlebihan meliputi gangguan kecemasan dan depresi.

Media sosial merupakan bagian dari perkembangan teknologi yang sulit untuk dibendung. Oleh karena itu, para orang tua tidak boleh bersikap acuh dan mulailah menetapkan aturan agar anak tetap aman saat menggunakan media sosial.

Jika media sosial membuat anak stres atau pengguna mengalami dampak buruk akibat penggunaan teknologi ini, jangan ragu untuk berkonsultasi ke psikolog yang khusus menangani masalah pada anak. (put/dari berbagai sumber)

Tags: Akibat Medsos bagi AnakDampak Buruk Medsosdampak negatif gadgetDampak Negatif Media Sosial
ShareTweetSendShare
Previous Post

Ingin Ramah Lingkungan, Lego Berencana Ganti Bahan Mainannya dari Bahan Terbarukan di 2026

Next Post

Drone Bunuh Diri, Senjata Baru Korea Utara yang Dipamerkan Kim Jong Un

Mungkin Anda Juga Suka :

Wilayah Udara Spanyol Ditutup untuk Pesawat AS yang Terlibat dalam Serangan di Iran

Iran Memaksa AS Akui Sistem Pertahanannya yang Murah dan Efektif

19 April 2026

...

Imbas Naiknya Kekerasan Perempuan di Ruang Digital, Pemerintah Awasi dan Bisa Tutup Platform yang Abai

Imbas Naiknya Kekerasan Perempuan di Ruang Digital, Pemerintah Awasi dan Bisa Tutup Platform yang Abai

18 April 2026

...

TikTok Lapor Tutup 780 Ribu Akun Anak dan Roblox Belum Dianggap Patuh PP TUNAS, Beberapa Menyatakan Patuh

TikTok Lapor Tutup 780 Ribu Akun Anak dan Roblox Belum Dianggap Patuh PP TUNAS, Beberapa Menyatakan Patuh

14 April 2026

...

Munas XVI IPSI 2026 Dibuka Presiden Prabowo, Pencak Silat Budaya Bangsa Menuju Olimpiade

Munas XVI IPSI 2026 Dibuka Presiden Prabowo, Pencak Silat Budaya Bangsa Menuju Olimpiade

11 April 2026

...

Pedoman WFH, Isi Surat Edaran Bagi BUMN, BUMD, dan Swasta di Seluruh Indonesia Diteken 31 Maret 2026

Pedoman WFH, Isi Surat Edaran Bagi BUMN, BUMD, dan Swasta di Seluruh Indonesia Diteken 31 Maret 2026

1 April 2026

...

Load More
Next Post
Pelecehan Pesawat Rusia Terhadap Drone Amerika

Drone Bunuh Diri, Senjata Baru Korea Utara yang Dipamerkan Kim Jong Un

Divonis Penjara 129 Tahun Akibat Kasus Pelecehan Seksual Anak di Filipina

Nasib X di Brasil Usai Elon Musk Remehkan Hukum Setempat

Discussion about this post

TERKINI

Iran Memaksa AS Akui Sistem Pertahanannya yang Murah dan Efektif

19 April 2026

Hormuz Kembali Ditutup Buntut AS Tidak Buka Blokade, Dua Kapal Kena Tembakan Iran

18 April 2026

Imbas Naiknya Kekerasan Perempuan di Ruang Digital, Pemerintah Awasi dan Bisa Tutup Platform yang Abai

18 April 2026

Kabar Baik Dibukanya Selat Hormuz, Saham Melonjak dan Harga Minyak Anjlok 10 Persen

17 April 2026

Paus Leo Tidak Takut pada Trump, Menyebut Dunia Sedang Dihancurkan Segelintir Tiran Saat Berseteru dengan Gedung Putih

16 April 2026

Polemik Alat Vape Disalahgunakan, Menelusuri Hukum Rokok Elektrik

15 April 2026

Saksikan Segera, Podcast Khusus Profesional “Ladders to be Leaders” Mengulas Perjalanan Hidup dan Karir

15 April 2026

AS Repot Berkonflik dengan Iran, Zelenskyy Kecewa Dicuekin Karena Suplai Senjata ke Ukraina Terganggu

15 April 2026

TikTok Lapor Tutup 780 Ribu Akun Anak dan Roblox Belum Dianggap Patuh PP TUNAS, Beberapa Menyatakan Patuh

14 April 2026

Negosiasi Iran dan AS Disebut Akan “Segera” Diadakan Lagi di Islamabad, Iran Menolak Diatur Pengayaan Uranium dan Nuklirnya

14 April 2026
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Cyber
  • Kontak

© 2017 Avesiar.com - All Rights Reserved

  • Nasional & Opini
    • Politik
    • Hukum
    • Sosial
    • Budaya
    • HanKam
    • Daerah
    • Kesehatan
    • Edukasi
    • Opini
    • English Version
  • World
    • Economy
    • Politic
    • Law
    • Culture
    • Islam
    • Freedom for Palestine
    • Umra & Hajj
    • Tourism
  • Ekonomi
    • Bisnis & Wirausaha
    • Common
    • Islami
    • Property
    • CSR
  • Nusantara
    • Metro
    • Urban
    • Guru Kita
    • Prestasi
    • Profil Perubahan
    • Wisata
  • Healtech
    • Hidup Sehat
    • Riset
    • Teknologi
    • Gadget
  • Auto-Sport & Hobby
    • Aneka Olah Raga
    • Sepeda
    • Golf
    • Auto
    • Fauna & Flora Care
  • Change
    • Motivasi
    • Entrepreneurship
    • Pensiun Sehat
  • Syar’i
    • Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam
    • Muslim Fashion
    • Harmoni Keluarga
    • Griya Harmoni
    • Psikologi
    • Masjid & Activity
  • People & Activity
    • Figure
    • Community
    • Society
    • Social
    • Event
    • Podcast Ladders to be Leaders
  • KAMU KUAT
    • Podcast KAMU KUAT
  • Youth
    • Smart Teens
    • Students
    • School Story
    • Campuss Story
    • Millennial
  • Kuliner
    • Resto
    • Kaki Lima
    • Resep
  • City Jour & Video