KAMU KUAT – Jakarta
Cita-cita dan impian yang ingin diwujudkan adalah milik setiap orang. Salah satunya adalah keinginan untuk menetap dan berkarier di luar negeri. Bekerja di negara lain sering dianggap sebagai peluang untuk mendapatkan pengalaman yang lebih luas, kesejahteraan yang lebih baik, serta lingkungan kerja yang lebih profesional.
Selain itu, perkembangan karier yang lebih terbuka dan kualitas hidup yang lebih tinggi juga menjadi daya tarik tersendiri. Namun, di balik impian tersebut, ada berbagai tantangan yang harus dihadapi, mulai dari adaptasi budaya, perbedaan bahasa, hingga proses perizinan.
Lalu, apa yang mendorong seseorang untuk mengejar impian ini? Dan bagaimana persiapan yang dibutuhkan untuk mewujudkannya?
Berikut beberapa wawancara dari para sahabat kanal remaja dan anak muda KAMU KUAT! Avesiar.com yang bercita-cita ingin tinggal dan berkarir di luar negeri.
Callysta, siswi kelas 12, SMA BOASH, Bogor
Ketika ditanya mengenai alasannya ingin belajar atau pindah ke luar negeri, Callysta menjawab dengan penuh keyakinan,
“Punya dan sangat besar keinginannya. Banyak sih alasannya. Mulai dari pendidikan yang menurut aku lebih baik, walaupun nggak menutup kemungkinan bahwa di Indonesia juga nggak kalah baik. Terus kalaupun aku kerja di luar negeri, biasanya untuk salary lebih sejahtera. Di bidang kesehatan juga, menurut aku di luar negeri lebih diakui,” ujar Callysta.

Callysta memiliki tiga negara incaran, yaitu Jerman, Belanda, dan Australia. Ketiga negara ini dikenal memiliki sistem pendidikan yang unggul dan peluang karier yang lebih luas. “Jerman itu bisa dibilang negara dengan teknologi riset yang benar-benar keren, dan mungkin hal ini bisa membantu penelitian aku ke depannya,” tambahnya.
Selain keinginan untuk belajar di luar negeri, Callysta juga memiliki cita-cita yang tidak kalah mulia. Keinginan untuk memberikan dampak positif bagi banyak orang menjadi salah satu motivasi utamanya dalam memilih bidang ini. “Kalau aku bilang mau bisa membantu banyak orang, termasuk cita-cita nggak? Aku mau jadi ahli gizi,” katanya.
Meskipun memiliki impian besar, Callysta mengakui bahwa saat ini persiapannya masih sebatas riset. “Belum sih, paling cuma baru riset-riset aja, karena memang bukan mau diambil dalam jangka waktu dekat ini,” jelasnya.
Namun, satu hal yang membuatnya terus semangat adalah dukungan keluarga. Sebagai anak bungsu dari tiga bersaudara, ia merasa bahwa orang tuanya selalu memberikan doa dan dukungan terbaik.
“Iya, diri sendiri yang paling memotivasi sangat besar. Keluarga pasti dukung sih. Orang tua selalu mendoakan yang terbaik, bukan begitu?” katanya dengan senyum.
Impian Callysta untuk belajar dan mungkin bekerja di luar negeri adalah refleksi dari banyak anak muda yang ingin mencari peluang lebih baik. Meski belum ada rencana pasti dalam waktu dekat, keinginan yang kuat dan dukungan keluarga akan menjadi modal utama dalam perjalanannya.
Adelia Rosa Mahadewi, A.Md Vet, mahasiswi, semester 6, Universitas Wijaya Kusuma Surabaya

Bagi sebagian orang, tinggal di luar negeri bukan hanya sekadar impian, tetapi juga peluang untuk berkembang di bidang yang mereka tekuni. Salah satunya adalah Adelia Rosa Mahadewi, A.Md Vet, mahasiswa semester 6 Kedokteran Hewan di Universitas Wijaya Kusuma Surabaya.
Dengan minat yang besar terhadap perkembangan ilmu kedokteran hewan, Adelia memiliki keinginan kuat untuk melanjutkan kariernya di luar negeri, khususnya di Jepang. Adelia mengungkapkan bahwa Jepang adalah negara tujuan utamanya.
“Saya ingin mengeksplorasi lebih jauh mengenai bidang kedokteran hewan dan tergiur melihat bagaimana orang-orang di bidang saya lebih maju dan lebih dihargai di luar negeri,” ujarnya.
Selain itu, Jepang memiliki sistem akademis yang sangat baik dan banyak melakukan pengembangan riset di bidang kedokteran hewan. “Dari segi akademisnya bagus, banyak pengembangan research juga. Selain itu, lingkungannya tidak terlalu berbeda dengan Indonesia, jadi akan lebih mudah untuk beradaptasi,” tambahnya.
Meski memiliki impian besar untuk bekerja dan menetap di Jepang, Adelia saat ini masih fokus menyelesaikan kuliah dan koas. “Sekarang saya masih fokus menyelesaikan kuliah dan koas, sambil cari-cari informasi tentang beasiswa,” katanya.
Dukungan keluarga juga menjadi salah satu faktor penting dalam perjalanannya. “Mereka mendukung,” jawabnya singkat namun penuh keyakinan.
Bagi Adelia, tantangan terbesar untuk pindah ke luar negeri bukanlah perbedaan budaya atau bahasa, melainkan urusan administrasi dan perizinan. “Tantangan terbesar menurut saya adalah perizinan atau urusan berkas,” ungkapnya.
Namun, dalam hal bahasa dan budaya, Adelia sudah memiliki bekal yang cukup. Pengalaman mengikuti student exchange di Jepang sebelumnya membantunya lebih siap menghadapi kehidupan di sana.
Saat ditanya apakah ia ingin sekadar belajar atau benar-benar menetap di Jepang, Adelia dengan tegas menjawab, “Iya, saya ingin menetap di sana.”
Dengan tekad dan persiapan yang matang, impian Adelia untuk bekerja dan menetap di Jepang bukanlah sesuatu yang mustahil. Dukungan keluarga, pengalaman sebelumnya, serta tekadnya dalam mencari peluang menjadikan perjalanan ini semakin nyata.
Alya Ronatyo Manullang, mahasiswi semester 2, Polltekes Kementerian Kesehatan Jakarta 3
“Pengen, sih, Kak, untuk bisa dapat kerja di luar negeri,” ujar Alya. Alasan utamanya adalah kesejahteraan dan jaminan finansial yang lebih baik.
“Menurut saya, kerja di luar negeri lebih menjamin, sih, terutama dari segi gaji,” jelasnya.

Dari sekian banyak negara, Alya mengincar Swiss sebagai tujuan utama untuk berkarier. “Kayaknya di sana gajinya tinggi dan lebih terjamin,” katanya.
Swiss memang dikenal memiliki sistem kesehatan yang sangat maju dan menawarkan gaji yang kompetitif bagi tenaga kesehatan, sehingga wajar jika negara ini menjadi pilihan Alya.
Beruntungnya, Alya mendapat dukungan penuh dari keluarganya. “Setuju, Kak. Keluarga saya sendiri memang mendukung dan malah menyarankan saya untuk tinggal dan kerja di luar negeri,” ungkapnya.
Sebagai anak pertama dari tiga bersaudara, Alya merasa bahwa dukungan keluarga menjadi motivasi tambahan baginya untuk mengejar impian ini. Alya ingin bekerja di luar negeri sesuai dengan bidang yang ia pelajari saat ini, yaitu tenaga kesehatan.
“Lebih prefer ke kerja, sih, Kak, kalau di sana, sesuai dengan kuliah saya sekarang,” ujarnya.
Keinginannya untuk berkarier di luar negeri menunjukkan bahwa tenaga kesehatan Indonesia memiliki potensi besar untuk bersaing di kancah global. Meskipun masih berada di semester awal, Alya sudah mulai memikirkan langkah-langkah yang harus diambil untuk mewujudkan impiannya.
“Mungkin belajar bahasanya dulu, kali ya,” katanya.
Kemampuan bahasa memang menjadi salah satu faktor penting bagi siapa saja yang ingin bekerja di luar negeri, terutama di negara seperti Swiss yang menggunakan bahasa Jerman, Prancis, dan Italia.
Yonita Azalia Putri, mahasiswi Indonesia semester 2, Universiti Malaya, Malaysia

Banyak mahasiswa Indonesia bermimpi untuk belajar di luar negeri, dan Yonita Azalia Putri, mahasiswa semester 2 di Universiti Malaya, Malaysia, adalah salah satunya. Meski sudah merasakan pengalaman kuliah di luar negeri, Yonita tetap memiliki pandangan realistis mengenai tinggal dan bekerja di negara lain.
Yonita dengan tegas mengatakan bahwa dirinya memang bercita-cita untuk bekerja di luar negeri. “Kalau kerja, penginnya memang di luar negeri, sih. Tapi kalau buat pindah sepenuhnya, kalau bisa sih nggak usah. Pengen Indonesia aja yang jadi lebih baik, soalnya keluarga masih di sini juga,” ujarnya.
Keinginan ini mencerminkan harapan banyak anak muda Indonesia: mendapatkan pengalaman dan peluang lebih baik di luar negeri, tetapi tetap berharap tanah air bisa berkembang lebih maju.
Meski Malaysia memiliki bahasa yang mirip dengan Indonesia, Yonita mengaku tetap merasakan tantangan dalam komunikasi. “Tantangan paling kerasa itu bahasa. Walaupun di Malaysia bahasanya nggak beda jauh, tetap bikin sungkan dan lebih mikir kalau mau ngomong sama orang,” katanya.
Selain itu, makanan juga menjadi tantangan tersendiri. “Makanan Indonesia tetap yang paling enak, sih. Kalau lama di sini, pasti kangen banget sama makanan Indo,” tambahnya sambil tertawa.
Meski ada tantangan, Yonita merasa bahwa kuliah di Universiti Malaya memberikan banyak keuntungan. “Banyak banget enaknya, terutama dari segi kebijakan, infrastruktur, dan keamanan. Kerasa banget bedanya dari Indonesia. Di sini juga lebih aman, jarang ada kasus kecopetan. Bahkan kalau HP ketinggalan di suatu tempat, biasanya aman,” jelasnya.
Di kampusnya, sistem pendidikan yang profesional juga menjadi salah satu hal yang ia apresiasi. “Di Universiti Malaya, dosennya benar-benar membimbing mahasiswanya. Bahkan kalau nanya ke dosen tengah malam pun masih direspons dengan baik. Nggak pernah ada kelas yang dosennya tiba-tiba nggak datang. Kalau mereka ada urusan, mereka bakal bikin rekaman penjelasan materi,” ungkapnya dengan kagum.
Selain itu, kesempatan berinteraksi dengan mahasiswa dari berbagai negara menjadi pengalaman yang sangat berharga. “Temenku ada yang sudah kenal orang-orang dari berbagai negara seperti Cina, Arab, dan Melayu. Bahkan ada yang sudah diajak part-time jadi guru di sini,” katanya.
Ketika ditanya apakah ia pernah merasa menyesal, Yonita menjawab dengan mantap, “Nggak ada sama sekali, malah bersyukur banget!”
Pilihan untuk kuliah di luar negeri awalnya bukan keinginan orang tuanya. “Orang tua dulu penginnya aku kuliah nggak jauh-jauh, mentok di ITB. Aku juga dulu penginnya di ITB, tapi gara-gara ada teman yang mau sekolah di Amerika, aku jadi tertarik ke luar negeri juga,” kenangnya.
Yonita memberikan beberapa saran bagi remaja yang ingin belajar atau pindah ke luar negeri. “Yang paling penting itu kemampuan bahasa Inggris. Mental dan fisik juga harus dipersiapkan, sih. Itu sudah jadi hal dasar buat merantau,” sarannya.
Menetap dan berkarier di luar negeri bukan hanya tentang mengejar impian, tetapi juga tentang kesiapan menghadapi tantangan. Dari perbedaan budaya hingga persaingan di dunia kerja, semua membutuhkan persiapan matang, baik secara mental, keterampilan, maupun bahasa.
Namun, dengan tekad yang kuat, dukungan yang tepat, dan perencanaan yang baik, impian untuk membangun masa depan di negeri orang bukanlah sesuatu yang mustahil.
Bagi siapa pun yang bercita-cita bekerja dan menetap di luar negeri, kunci utamanya adalah terus belajar, beradaptasi, dan tidak takut mengambil peluang. Karena di mana pun kita berada, kesuksesan selalu dimulai dari langkah pertama yang berani. (Resty)













Discussion about this post