• Nasional & Opini
    • Politik
    • Hukum
    • Sosial
    • Budaya
    • HanKam
    • Daerah
    • Kesehatan
    • Edukasi
    • Opini
    • English Version
  • World
    • Economy
    • Politic
    • Law
    • Culture
    • Islam
    • Freedom for Palestine
    • Umra & Hajj
    • Tourism
  • Ekonomi
    • Bisnis & Wirausaha
    • Common
    • Islami
    • Property
    • CSR
  • Nusantara
    • Metro
    • Urban
    • Guru Kita
    • Prestasi
    • Profil Perubahan
    • Wisata
  • Healtech
    • Hidup Sehat
    • Riset
    • Teknologi
    • Gadget
  • Auto-Sport & Hobby
    • Aneka Olah Raga
    • Sepeda
    • Golf
    • Auto
    • Fauna & Flora Care
  • Change
    • Motivasi
    • Entrepreneurship
    • Pensiun Sehat
  • Syar’i
    • Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam
    • Muslim Fashion
    • Harmoni Keluarga
    • Griya Harmoni
    • Psikologi
    • Masjid & Activity
  • People & Activity
    • Figure
    • Community
    • Society
    • Social
    • Event
    • Podcast Ladders to be Leaders
  • KAMU KUAT
    • Podcast KAMU KUAT
  • Youth
    • Smart Teens
    • Students
    • School Story
    • Campuss Story
    • Millennial
  • Kuliner
    • Resto
    • Kaki Lima
    • Resep
  • City Jour & Video
No Result
View All Result
No Result
View All Result
Home KAMU KUAT

Peraturan di Rumahmu yang Dibuat Orang Tua untuk Kebaikan, Seperti Apa?

by Ave Rosa
5 Maret 2025 | 23:55 WIB
in KAMU KUAT
Reading Time: 7 mins read
A A
Peraturan di Rumahmu yang Dibuat Orang Tua untuk Kebaikan, Seperti Apa?

Ilustrasi. Foto: Pexels & ist. Kolase: Avesiar.com

KAMU KUAT – Jakarta

Setiap keluarga memiliki cara masing-masing dalam menerapkan peraturan di rumah. Ada yang menerapkan aturan secara ketat dengan berbagai konsekuensi jika dilanggar, namun ada juga yang lebih fleksibel dan sederhana.

Peraturan dalam rumah tangga biasanya dibuat untuk mendisiplinkan anak, menjaga keteraturan, serta menanamkan nilai-nilai yang dianggap penting oleh keluarga. Namun, bagaimana jika sebuah keluarga tidak memiliki banyak peraturan?

Apakah kedisiplinan tetap bisa terjaga? Seorang anak berbagi pengalaman tentang bagaimana aturan di rumahnya yang sederhana, tetapi tetap bermakna dalam kehidupan sehari-hari. Berikut bebarapa wawancara kanal kuat avesiar.com memewawancarai remaja dan Ibu Rumah tangga.

Salsabila Maharani, siswi kelas 9, SMPIT Insan Harapan

Salsabila Maharani, siswi kelas 9, SMPIT Insan Harapan. Foto: istimewa

Salsabila mengatakan beberapa aturan terasa adil karena bertujuan untuk keselamatan diri dan menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Namun, ada juga aturan yang menurutnya sulit diikuti, seperti batasan waktu bermain di luar rumah. “Kadang, saat ada acara penting dengan teman atau kerja kelompok, aturan ini terasa membatasi,” ujarnya.

Ia mengaku memahami bahwa peraturan dibuat karena orang tua khawatir terhadap keselamatannya. Namun, katanya, aturan yang terlalu ketat kadang membuatnya merasa tidak bebas. “Terkadang aku merasa kesal, karena ingin punya lebih banyak kebebasan,” katanya lagi.

Saat ditanya apakah ia pernah melanggar peraturan di rumah, ia mengakuinya. “Pernah, aku pernah pulang terlambat dari jam malam karena terlalu asyik bermain di luar,” ujarnya.

Bacaan Terkait :

No Content Available
Load More

Akibatnya, katanya, peraturan di rumah sempat diperketat. Namun, seiring waktu, aturan tersebut menjadi lebih longgar kembali.

Menurutnya, ada beberapa peraturan yang ingin ia ubah, terutama mengenai batasan waktu bermain di luar rumah. “Aku ingin peraturan ini lebih fleksibel, asalkan aku tetap bisa menjaga diri dari hal-hal yang tidak diinginkan,” katanya.

Dengan begitu, katanya lagi, ia bisa lebih leluasa jika ada acara atau kerja kelompok bersama teman-temannya.

Ia juga mengatakan bahwa ia pernah membandingkan peraturan di rumahnya dengan peraturan di rumah teman-temannya. “Tidak sering sih, tapi pernah. Aku sadar bahwa setiap keluarga punya caranya sendiri dalam mendidik anak-anak mereka,” ujarnya.

Menurutnya, ada cara yang lebih baik bagi orang tua dalam mendisiplinkan anak tanpa menggunakan peraturan yang terlalu ketat. “Komunikasi terbuka dan rasa saling percaya antara orang tua dan anak sangat penting,” katanya.

Ia juga menambahkan bahwa jika orang tua menjelaskan alasan di balik setiap peraturan dan memberi kesempatan bagi anak untuk menyampaikan pendapat mereka, maka hubungan dalam keluarga akan lebih harmonis. “Tanpa komunikasi, bisa timbul banyak kesalahpahaman yang berujung pada pertikaian,” ujarnya menutup perbincangan.

Muhamad Paksi Vira Nabastala, siswa kelas 12, SMA Al-Azhar BSD

Muhamad Paksi Vira Nabastala, siswa kelas 12, SMA Al-Azhar BSD. Foto: istimewa

Menurut seorang Paksi,  di rumahnya tidak ada peraturan khusus yang harus dipatuhi, kecuali satu hal yang selalu dijalankan bersama, yaitu shalat Maghrib berjamaah. “Di rumah sih nggak ada peraturan khusus, kecuali harus shalat berjamaah di Maghrib,” ujarnya.

Katanya, aturan ini tidak sulit untuk diikuti karena memang sudah menjadi kewajiban. “Adil dan mudah, karena memang kewajiban,” katanya singkat.

Baginya, aturan ini tidak memberatkan dan sudah menjadi bagian dari rutinitas harian. Ketika ditanya tentang perasaannya terhadap aturan yang diterapkan oleh orang tua, ia mengaku tidak memiliki keluhan atau keberatan. “Biasa saja,” ujarnya, menunjukkan bahwa aturan tersebut tidak terlalu membatasi aktivitasnya.

Meskipun aturan di rumahnya tidak banyak, ia mengaku pernah melanggarnya. Namun, konsekuensi yang diberikan orang tua juga tidak terlalu berat. “Ditegur,” katanya ketika ditanya apa yang terjadi jika ia melanggar aturan. Hal ini menunjukkan bahwa dalam keluarganya, komunikasi dan teguran ringan sudah cukup untuk mengingatkan anak tentang pentingnya aturan.

Jika diberi kesempatan untuk mengubah atau menghapus peraturan, ia mengatakan bahwa tidak ada yang perlu diubah. “Tidak, karena sudah adil,” katanya tegas.

Ini menunjukkan bahwa ia merasa aturan yang ada sudah cukup seimbang dan tidak perlu ada perubahan. Berbeda dengan beberapa anak yang sering membandingkan peraturan rumah mereka dengan rumah teman-temannya, ia mengaku tidak pernah melakukannya.

Baginya, setiap rumah memiliki aturan masing-masing, dan ia merasa aturan di rumahnya sudah baik. “Tidak, karena tidak ada yang perlu dibanding,” ujarnya.

Ketika ditanya apakah ada cara lain yang lebih baik bagi orang tua dalam mendisiplinkan anak tanpa menerapkan peraturan yang ketat, ia menjawab dengan singkat, “Tidak terlalu

Noya Shafana Meshia Ave, kelas 12, SMA Muhammadiyah 4, Depok

Noya Shafana Meshia Ave, kelas 12, SMA Muhammadiyah 4, Depok. Foto: istimewa

Noya mengakui bahwa peraturan di rumahnya ada yang harus dipatuhi setiap anggota keluarga seperti ia, adik-adiknya, bahkan Ibunya.

“Peraturan jelas ada. Misalnya saja pulang ke rumah harus sebelum maghrib, tidur maksimal jam 10 malam, kecuali libur bisa sampai jam 11 malam karena diperbolehkan menonton film di televise bersama Ibu dan adik-adiknya,  serta saat ada acara sekolah harus ada izin orang tua. Kalau tidak disetujui, tidak bisa berangkat,” bebernya.

Baginya, peraturan itu cukup adil dan mudah diikuti karena peraturan tersebut umum juga menurut Noya. “Perasaan saya senang. Bertujuan positif juga, walaupun kita sudah cukup dewasa harus punya aturan agar lebih terarah dan ke depannya semakin baik,” ujarnya.

Ketika ditanya apakah ada sanksi jika melanggar aturan yang ditetapkan Ayahnya tersebut. “Iya, bisa jadi pernah. Terkadang adanya pemotongan uang saku ataupun pembatasan bermain gadget yang lazim,” ungkapnya.

Kalau melanggar bermain gadget di luar hari libur dan melewati waktu yang ditentukan, lanjutnya, bisa kena sanksi 1 hingga 2 minggu tidak boleh main game di HP oleh ayah mereka. “Kalau aku ya sering tertib. Tapi adik-adikku yang cowok beberapa kali kena setrap. Mereka pernah kena sanksi tidak boleh pegang HP selama 2 minggu,” ujarnya.

Noya juga tidak pernah membanding-bandingkan dengan aturan di rumahnya dengan di keluarga teman. “Karena menurut saya setiap keluarga memiliki tata tertibnya masing masing. Tidak mesti harus sama seperti teman-teman,” katanya.

Siti Fatimah, Ibu Rumah Tangga dan Guru Ngaji

Siti Fatimah, Ibu Rumah Tangga dan Guru Ngaji. Foto: istimewa

Menurut Ibu satu ini, aturan dalam rumah tangga bukan hanya sekadar peraturan yang harus dipatuhi, tetapi juga menjadi fondasi penting bagi anak dalam memahami keteraturan hidup. Sejak kecil, anak perlu dikenalkan dengan aturan agar terbiasa berdiskusi dan menerima peraturan di berbagai aspek kehidupannya.

“Ketika anak sudah terbiasa dengan aturan di rumah, mereka akan lebih mudah menerima peraturan di luar lingkungan keluarga. Hal ini karena mereka telah memahami bahwa aturan dibuat untuk menciptakan keteraturan, baik untuk diri sendiri, keluarga, maupun masyarakat. Dengan adanya aturan, anak akan merasa lebih aman dan nyaman dalam menjalani kehidupan sehari-hari,” ujar Fatimah.

Salah satu contoh aturan di rumah menurutnya adalah tugas-tugas sederhana seperti membantu mencuci piring atau membersihkan kamar. Selain itu, aturan fundamental seperti nilai-nilai agama juga harus diajarkan agar anak memiliki pegangan kuat dalam menjalani kehidupan sosial.

“Menyampaikan aturan kepada anak tidak hanya sekadar memberi perintah, tetapi perlu dilakukan melalui diskusi. Komunikasi dua arah sangat penting agar anak bisa memahami alasan di balik sebuah aturan. Jika aturan disampaikan dengan nada tinggi atau emosi, anak cenderung sulit mencerna dan menerima. Sebaliknya, jika aturan disampaikan dengan nada tenang, anak lebih mudah memahami dan mengingatnya dalam jangka panjang,” ucapnya.

Fatimah juga mengungkapkan, bahwa pengalaman menunjukkan bahwa ketika anak merasa aturan disampaikan dengan penuh pengertian, mereka akan lebih mudah menyesuaikan diri. Jika ada aturan yang terasa sulit diterima, mereka bisa berdiskusi dengan orang tua tanpa merasa takut atau terpaksa.

Setiap aturan yang dilanggar, lanjutnya, tentu memiliki konsekuensi. Namun, cara memberikan konsekuensi juga perlu dipikirkan dengan baik. Salah satu metode yang efektif adalah memberi waktu kepada anak untuk menyadari kesalahan mereka sendiri.

Misalnya, ketika anak melanggar aturan, orang tua bisa menunjukkan ketidaknyamanan dengan diam sejenak. Biasanya, anak akan menyadari bahwa ada sesuatu yang salah dan bertanya sendiri kepada orang tua.

“Peraturan yang fundamental tetap harus ditegaskan, namun anak juga perlu waktu untuk memproses dan memahami aturan tersebut. Orang tua tidak perlu langsung menghukum dengan keras, melainkan memberikan penguatan secara terus-menerus agar anak terbiasa dan tidak mengulangi kesalahan yang sama,” katanya.

Fondasi yang kuat dalam aturan rumah, kata dia, akan membantu anak dalam mengambil keputusan yang bijak di kemudian hari. Ketika mereka tumbuh dewasa dan menjadi pemimpin dalam rumah tangga, masyarakat, atau bahkan negara, mereka akan lebih memahami pentingnya aturan dan regulasi dalam kehidupan.

Dengan komunikasi yang baik dan saling menghormati, sebuah keluarga dapat menciptakan lingkungan yang nyaman tanpa perlu tekanan dari aturan yang berlebihan. Pada akhirnya, peraturan rumah bukan hanya tentang membatasi, tetapi juga membimbing anak agar tumbuh dengan nilai-nilai yang baik dalam kehidupannya. (Resty)

Tags: Aturan RemajaAturan untuk RemajaPeraturan di Rumah
ShareTweetSendShare
Previous Post

Mengobati Penyakit ‘Ain Menurut Thibbun Nabawi dan Aromaterapi

Next Post

Tiongkok Balas AS, Gantian Bea Masuk Hingga 15 Persen Berbagai Produk Pertanian AS ke Tiongkok

Mungkin Anda Juga Suka :

Cara Jadi Mahasiswa Tokcer dan Bahkan Bintang Kelas di Kampus

Cara Jadi Mahasiswa Tokcer dan Bahkan Bintang Kelas di Kampus

14 Januari 2026

...

Jenis-jenis Usaha Sederhana yang Cocok untuk Remaja dengan Modal Kecil

Jenis-jenis Usaha Sederhana yang Cocok untuk Remaja dengan Modal Kecil

14 Oktober 2025

...

Kapan Kamu Pernah Mengalami Homesick?

Kapan Kamu Pernah Mengalami Homesick?

13 Oktober 2025

...

Masakan yang Kamu dan Keluargamu Suka Ketika di Rumah dan Bepergian

Masakan yang Kamu dan Keluargamu Suka Ketika di Rumah dan Bepergian

10 Oktober 2025

...

Apa Makna Kecukupan Sesuai Agama dan Kamu Menyikapinya?

Apa Makna Kecukupan Sesuai Agama dan Kamu Menyikapinya?

9 Oktober 2025

...

Load More
Next Post
AVESIAR - 6 MARET - Tiongkok Balas AS, Gantian Bea Masuk Hingga 15 Persen Berbagai Produk Pertanian AS ke Tiongkok

Tiongkok Balas AS, Gantian Bea Masuk Hingga 15 Persen Berbagai Produk Pertanian AS ke Tiongkok

Cerpen: Orkestra Sunyi di Balai Kota  (bagian 1)

Cerpen: Orkestra Sunyi di Balai Kota  (bagian 1)

Discussion about this post

TERKINI

Naudzubillah, Nasib Anak yang Dilahirkan dari Hasil Zina Menurut Islam

6 Mei 2026

Mampu Menjangkau 6000 Kilometer, Turki Pamerkan ‘Yildirimhan’ Rudal Balistik Antarbenua

6 Mei 2026

Apa yang Disebut Narcissistic Collapse atau ‘Keruntuhan Narsistik’ dan Cara Melindungi Diri Anda

5 Mei 2026

Kewajiban Bersikap Adil Menurut Islam Merujuk pada Al Qur’an dan Hadits

5 Mei 2026

Kuba Menyebut AS Sedang Cari Alasan untuk Lancarkan Intervensi Militer ke Negara Mereka

4 Mei 2026

Menyayat Hati, 8.000 Jenazah Masih Terperangkap di Puing-puing Reruntuhan di Gaza di Tengah 72.000 Jiwa Korban Genosida Israel

3 Mei 2026

Mencermati Hukum Shalat Fardhu di Akhir Waktu Beralasan Menjaga Wudhu

3 Mei 2026

Mengklaim Perang Telah Berakhir, Lebih Baik Tidak Membuat Kesepakatan Sama Sekali dengan Iran

2 Mei 2026

Jadwal Rencana Keberangkatan Jemaah Haji 1447 H, Puncak, dan Kepulangan ke Indonesia

2 Mei 2026

Cara Agar Tidak Terkena PHK, Mengatasi Stress Jika Terkena PHK, dan Tips Move On

1 Mei 2026
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Cyber
  • Kontak

© 2017 Avesiar.com - All Rights Reserved

  • Nasional & Opini
    • Politik
    • Hukum
    • Sosial
    • Budaya
    • HanKam
    • Daerah
    • Kesehatan
    • Edukasi
    • Opini
    • English Version
  • World
    • Economy
    • Politic
    • Law
    • Culture
    • Islam
    • Freedom for Palestine
    • Umra & Hajj
    • Tourism
  • Ekonomi
    • Bisnis & Wirausaha
    • Common
    • Islami
    • Property
    • CSR
  • Nusantara
    • Metro
    • Urban
    • Guru Kita
    • Prestasi
    • Profil Perubahan
    • Wisata
  • Healtech
    • Hidup Sehat
    • Riset
    • Teknologi
    • Gadget
  • Auto-Sport & Hobby
    • Aneka Olah Raga
    • Sepeda
    • Golf
    • Auto
    • Fauna & Flora Care
  • Change
    • Motivasi
    • Entrepreneurship
    • Pensiun Sehat
  • Syar’i
    • Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam
    • Muslim Fashion
    • Harmoni Keluarga
    • Griya Harmoni
    • Psikologi
    • Masjid & Activity
  • People & Activity
    • Figure
    • Community
    • Society
    • Social
    • Event
    • Podcast Ladders to be Leaders
  • KAMU KUAT
    • Podcast KAMU KUAT
  • Youth
    • Smart Teens
    • Students
    • School Story
    • Campuss Story
    • Millennial
  • Kuliner
    • Resto
    • Kaki Lima
    • Resep
  • City Jour & Video