Avesiar – Jakarta
Hubungan antara sesama manusia adalah hubungan sosial yang suatu saat dimintai pertanggungjawaban. Selain timbangan atas pahala dan dosa manusia atau mizan, di mana di akhirat adalah timbangan yang Allah tegakkan pada hari kiamat untuk menimbang segala amalan hamba-Nya, terdapat jembatan yang disebut jembatan Qantharah.
Hal tersebut disampaikan oleh KH Ahmad Mustofa Bisri atau karib disapa Gus Mus dalam Kajian Kitab Jawahir al-Bukhari, dikutip dari laman Nahdlatul Ulama.
Gus Mus membacakan Hadits Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam yang artinya:
“Jika orang-orang beriman telah melewati neraka, mereka akan ditahan di suatu jembatan yang disebut Qantharah yang terletak antara surga dan neraka, lalu di sana mereka akan diqishas (dibalas) atas kezhaliman yang terjadi sesama mereka di dunia, sehingga apabila telah tidak ada lagi dosa barulah mereka diizinkan untuk memasuki surga. Dan demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh seorang dari mereka berada di tempat tinggalnya di surga lebih aku kenal dari pada rumah mereka di dunia”.
“Jadi nanti ada di jembatan itu semacam pengadilan antar sesama manusia. ‘Dulu ini pernah mencelaku, ini dulu memfitnahku, ini dulu pernah ngrasani aku,’ itu semua nanti dibicarakan di situ, saling mengadili kedzaliman di antara orang Mukmin di dunia,” terang Gus Mus.
Gus Mus melanjutkan bahwa hal itu karena dilakukan oleh sesama orang Mukmin, bukan dengan orang kafir, karena sudah lolos screening dari neraka. Itu karena dia orang beriman. Tapi dia punya tanggungan dengan sesama.
“Maka nanti di Qanthar, jembatan itu, mereka saling membalas: ’Kamu pernah nyakiti saya; pernah ini, segala macam, mana pahalamu, kuambil,’ jadi begitu modelnya. Pahala orang yang menyakiti itu diambil, dikasihkan kepada orang yang disakiti,” terangnya.
KH Ahmad Mustofa Bisri juga menerangkan bahwa nanti orang itu lebih kenal dengan tempatnya di surga itu, daripada rumahnya di dunia dulu. Rumah yang dulu ditempatinya di dunia sudah lupa: jalan apa dan nomor berapa.
Namun, dengan tempat tinggalnya atau rumahnya di surga ini, lebih jelas bagi dia. Ketika diizinkan masuk surga langsung tahu, “ini tempatku.” Dibandingkan dengan mengingat-ingat rumahnya di dunia, lanjut Gus Mus, manusia lebih tahu alamat tempat tinggalnya di surga pada waktu itu.
“Karena di alam kubur, sejak dikubur orang sudah diperlihatkan di mana. Setiap pagi dan sore diperlihatkan: ‘Ini tempatmu nanti.’ Maka dia yang ahli surga, tahu alamatnya dengan jelas,” terang ulama NU tersebut.
Jadi begitu nanti sudah selesai persoalannya dengan sesama manusia, orang Mukmin itu langsung disuruh masuk surga, tanpa petunjuk. “Tak usah ada yang mengantarkan segala, langsung tahu. Bahkan lebih ngerti daripada alamat rumahnya sendiri di dunia dulu,” pungkasnya. (adm)













Discussion about this post