• Nasional & Opini
    • Politik
    • Hukum
    • Sosial
    • Budaya
    • HanKam
    • Daerah
    • Kesehatan
    • Edukasi
    • Opini
    • English Version
  • World
    • Economy
    • Politic
    • Law
    • Culture
    • Islam
    • Freedom for Palestine
    • Umra & Hajj
    • Tourism
  • Ekonomi
    • Bisnis & Wirausaha
    • Common
    • Islami
    • Property
    • CSR
  • Nusantara
    • Metro
    • Urban
    • Guru Kita
    • Prestasi
    • Profil Perubahan
    • Wisata
  • Healtech
    • Hidup Sehat
    • Riset
    • Teknologi
    • Gadget
  • Auto-Sport & Hobby
    • Aneka Olah Raga
    • Sepeda
    • Golf
    • Auto
    • Fauna & Flora Care
  • Change
    • Motivasi
    • Entrepreneurship
    • Pensiun Sehat
  • Syar’i
    • Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam
    • Muslim Fashion
    • Harmoni Keluarga
    • Griya Harmoni
    • Psikologi
    • Masjid & Activity
  • People & Activity
    • Figure
    • Community
    • Society
    • Social
    • Event
  • KAMU KUAT
  • Youth
    • Smart Teens
    • Students
    • School Story
    • Campuss Story
    • Millennial
  • Kuliner
    • Resto
    • Kaki Lima
    • Resep
  • City Jour & Video
No Result
View All Result
No Result
View All Result
Home KAMU KUAT

Sebesar Apa Hatimu dalam Menerima Nasihat dari Orang Tua, Guru, dan Orang Lain?

by Ave Rosa
20 Mei 2025 | 23:39 WIB
in KAMU KUAT
Reading Time: 6 mins read
A A
Sebesar Apa Hatimu dalam Menerima Nasihat dari Orang Tua, Guru, dan Orang Lain?

Ilustrasi. "Say No to Drugs". Foto: ist & Freepik. Kolase: Avesiar.com

KAMU KUAT – Jakarta

Nasihat adalah sesuatu yang tak pernah lepas dari keseharian kita. Sejak kecil, kita sudah akrab dengan aneka nasihat dari orang tua, guru, kakak, bahkan teman sebaya. Ada yang ringan seperti “jangan lupa makan”, hingga yang menyentuh hati seperti “jadilah orang yang jujur, meski dalam kesempitan.”

Namun, satu hal yang perlu direnungkan adalah seberapa besar hati kita dalam menerima sebuah nasihat? Apakah kita langsung menerimanya dengan lapang dada? Atau justru merasa tersinggung, seolah nasihat adalah bentuk kritik terhadap diri kita?

Bagi sebagian remaja, nasihat bisa jadi seperti cermin membantu melihat kekurangan dan memperbaiki diri. Namun, bagi yang lain, nasihat terasa seperti beban atau bahkan gangguan yang menyakitkan ego.

Maka dari itu, penting bagi kita untuk menggali lebih dalam mengapa nasihat penting, bagaimana cara menerimanya dengan bijak, dan apa yang bisa kita pelajari dari sikap hati saat mendengar nasihat? Yuk kita simak penuturan dari para sahabat kanal remaja KAMU KUAT! Avesiar.com!

Muhammad Ayrton Belandry, siswa kelas 11, SMA Muhammadiyah 4, Depok

Muhammad Ayrton Belandry, siswa kelas 11, SMA Muhammadiyah 4, Depok. Foto: istimewa

Muhammad Ayrton Belandry, Ia punya pandangan yang menarik tentang bagaimana ia memaknai nasihat dalam kehidupan sehari-harinya. “Nasihat adalah bentuk kepedulian yang diungkapkan seseorang melalui lisan, dengan tujuan untuk mengingatkan dan memberi tahu agar kesalahan yang sama tidak terulang kembali,” ujarnya membuka perbincangan.

Dari sini saja sudah terlihat bahwa ia tidak menganggap nasihat sebagai omelan semata, tapi sebagai bentuk kasih sayang. Namun, bagaimana reaksi Ayrton ketika nasihat itu datang karena kesalahan yang ia buat?

Bacaan Terkait :

No Content Available
Load More

“Tentu saya merasa bersalah,” katanya jujur. “Tapi setelah mendengarkannya, saya justru merasa termotivasi untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Karena pada dasarnya, nasihat datang agar kita tidak mengulangi kesalahan yang sama.”

Tak semua orang bisa bersikap lapang dada seperti itu. Bahkan, tidak sedikit dari kita yang justru merasa tersinggung saat dinasihati. Tapi Ayrton punya cara pandang yang cukup dewasa untuk usianya. Ia mengakui bahwa dirinya termasuk orang yang mudah menerima nasihat.

“Dengan diberinya nasihat, saya jadi tahu kekurangan dan kesalahan saya. Bahkan, saya terkadang merasa senang mendapat masukan atau evaluasi, karena itu membuat saya lebih kuat dan bisa berkembang menjadi lebih baik ke depannya.”

Tentu, tidak semua nasihat selalu tepat sasaran. Ayrton pun mengakui bahwa ia pernah menolak atau mengabaikan nasihat yang tidak relevan. “Ada kalanya saya merasa nasihat yang diberikan tidak tepat atau tidak sesuai dengan situasinya. Jika begitu, saya akan mengoreksi apabila memang ada kesalahan dalam nasihat tersebut. Jika benar, saya akan menerima. Tapi jika salah, saya akan mengabaikannya dengan tetap menjaga sikap yang sopan.”

Yang menarik, ia juga sangat memperhatikan cara penyampaian nasihat. Menurutnya, isi yang baik akan lebih mudah diterima jika disampaikan dengan cara yang tepat. “Jika disampaikan dengan jelas dan mudah dipahami, maka isi dari nasihat tersebut akan lebih mudah saya terima dan terapkan. Saya pernah mengubah sikap saya karena nasihat yang disampaikan dengan baik, dan saya merasa bersalah.”

Akhirnya, semua kembali ke diri masing-masing. Setelah mendapat nasihat, apa yang dilakukan? Di sinilah pentingnya introspeksi diri atau muhasabah. “Introspeksi diri sangat penting karena saya jadi tahu kekurangan saya dan menjadikannya sebagai bahan evaluasi agar ke depannya bisa menjadi pribadi yang lebih baik.” tutup Ayrton.

Ridho Ahmad Syarif Hidayatullah, siswa kelas 7, SMP Taruna Terpadu

Ridho Ahmad Syarif Hidayatullah, siswa kelas 7, SMP Taruna Terpadu. Foto: istimewa

RIdho punya pandangan menarik soal ini. “Nasihat adalah ungkapan perhatian yang disampaikan seseorang kepada kita, biasanya berupa arahan, pengingat, atau dorongan agar kita melakukan hal yang lebih baik atau menghindari kesalahan,” ujarnya.

Menurut Ridho, nasihat sering kali datang dari pengalaman atau pemikiran bijak orang lain yang ingin kita jadi lebih baik. Meski begitu, Ridho mengakui bahwa menerima nasihat, apalagi kalau berkaitan dengan kesalahan diri sendiri, memang tidak selalu mudah.

“Awalnya mungkin terasa tidak nyaman, kadang malu atau defensif, apalagi kalau disampaikan di depan orang lain. Tapi setelah direnungi, biasanya muncul rasa terima kasih karena ada yang peduli dan mau membantu memperbaiki diri,” ungkapnya.

Sikap terbuka Ridho terhadap nasihat layak dicontoh. Ia percaya bahwa nasihat yang disampaikan dengan niat baik dan cara lembut akan lebih mudah diterima. “Aku percaya bahwa kita tidak selalu bisa melihat kesalahan sendiri, jadi masukan dari orang lain sangat berharga,” katanya.

Namun, tak semua nasihat langsung diterima mentah-mentah. Ridho mengaku pernah menolak nasihat yang menurutnya tidak sesuai. Tapi ia tidak langsung menentang. “Aku lebih memilih merenung dulu, berpikir apakah ada sisi benar yang bisa diambil. Kalau perlu, berdiskusi secara baik-baik agar tidak menimbulkan salah paham,” jelasnya.

Baginya, cara menyampaikan nasihat juga menentukan apakah nasihat itu akan masuk ke hati atau tidak. “Nasihat yang disampaikan dengan empati lebih mudah diterima. Pernah ada satu nasihat sederhana yang membuatku sadar akan kesalahan yang sudah dianggap biasa, dan sejak itu aku berusaha memperbaiki sikapku,” ceritanya.

Lalu, apa yang dilakukan setelah menerima nasihat? Menurut Ridho, kuncinya ada pada introspeksi diri. “Introspeksi membuat nasihat itu benar-benar masuk ke hati, bukan sekadar lewat di telinga. Tanpa introspeksi, kita sulit berkembang atau memahami mana bagian dari diri yang harus dibenahi,” pungkasnya.

Nasihat itu seperti cermin. Ia membantu kita melihat sisi diri yang tak tampak dari pandangan kita sendiri. Kadang pantulannya menyakitkan, tapi justru dari situlah kita bisa memperbaiki diri. Jadi, lain kali kalau ada yang menasihati, coba tahan dulu egomu. Mungkin ada pesan baik yang bisa jadi bekal untuk masa depanmu.

Seperti kata Ridho, “Masukan dari orang lain sangat berharga. Kita hanya perlu membuka hati dan berpikir jernih agar bisa mengambil manfaat dari setiap nasihat yang datang.”

Reka, mahasiswa semester 4,  Teknik Komputer, BSI Depok

Reka, mahasiswa semester 4,  Teknik Komputer, BSI Depok. Foto: istimewa

“Nasihat itu kayak notifikasi di HP cuma versi manusia. Kadang nyebelin, tapi seringnya bikin kita mikir, ‘Oh iya ya…’” kata Reka, mahasiswa Teknik Komputer semester 4 dari BSI Depok.

Tapi, kalau nasihat itu datang pas kita baru aja bikin kesalahan, apa rasanya? “Campur aduk, kayak es campur,” katanya sambil becanda. “Antara malu, kesel, tapi juga tahu sih kalau itu bener. Cuma kadang ego bilang, ‘Enggak ah, gue gak salah!’ Padahal salah banget.”

Jujur banget, ya. Dan memang, nggak semua orang bisa langsung menerima nasihat dengan lapang dada. Termasuk Reka. Ia bilang, semua tergantung siapa yang ngasih dan gimana cara nyampeinnya. “Kalau nadanya kayak dosen killer, ya boro-boro diterima. Tapi kalau disampaikan enak, bisa bikin mikir dan nyesel sendiri,” celetuknya.

Kadang, Reka juga pernah mengabaikan nasihat. “Pernah dong, manusiawi. Kadang aku pura-pura denger, padahal di kepala fokus dengan yang lain,” ucapnya dengan gaya khas anak muda.

Tapi saat ada nasihat yang terasa gak cocok, ia lebih memilih diem, mikir, lalu ngobrol baik-baik. Karena bisa jadi, bukan orang lain yang salah, kitanya aja yang belum siap nerima.

Soal cara penyampaian, Reka punya prinsip “Kalau disampaikan kayak ngobrol santai, aku lebih nerima. Tapi kalau disindir atau digas duluan, ya mental auto tutup telinga.” Bahkan ia mengaku pernah berubah gara-gara satu nasihat dari guru. “Padahal awalnya aku denger sambil ngantuk,” katanya.

Di akhir, Reka juga mengingatkan pentingnya introspeksi diri. “Introspeksi tuh kayak GPS spiritual, biar nggak terus-terusan muter di jalan yang salah,” ujarnya.

Bukan buat selfie, tapi buat ngaca beneran melihat sejauh mana kita melenceng dari jalur, dan bagaimana caranya kembali Dan seperti kata Reka, “Kalau niatnya baik dan disampaikan dengan tulus, nasihat bisa jadi titik balik.” Tutup Reka

Tidak semua orang bisa langsung menerima nasihat dengan lapang dada. Tapi jika kita mulai belajar memahami bahwa nasihat hadir bukan untuk menjatuhkan, melainkan untuk membangun, maka hati kita akan tumbuh menjadi lebih besar dan matang.

Jadi, seberapa besar hatimu menerima sebuah nasihat? Mungkin pertanyaan itu tidak untuk dijawab sekarang, tapi untuk direnungkan setiap kali kita menghadapi nasihat yang datang dalam hidup kita. (Resty)

Tags: Mendengar NasihatNasihatNasihat Orang TuaPentingnya Nasihat
ShareTweetSendShare
Previous Post

Qantharah, Jembatan Qishas Kezhaliman Terhadap Sesama Mukmin yang Berada di Antara Surga dan Neraka

Next Post

Kreator Konten Anak-anak di YouTube Asal AS Mendesak Pemimpin Dunia Hentikan Israel Membuat Bayi-bayi Gaza Kelaparan

Mungkin Anda Juga Suka :

Jenis-jenis Usaha Sederhana yang Cocok untuk Remaja dengan Modal Kecil

Jenis-jenis Usaha Sederhana yang Cocok untuk Remaja dengan Modal Kecil

14 Oktober 2025

...

Kapan Kamu Pernah Mengalami Homesick?

Kapan Kamu Pernah Mengalami Homesick?

13 Oktober 2025

...

Masakan yang Kamu dan Keluargamu Suka Ketika di Rumah dan Bepergian

Masakan yang Kamu dan Keluargamu Suka Ketika di Rumah dan Bepergian

10 Oktober 2025

...

Apa Makna Kecukupan Sesuai Agama dan Kamu Menyikapinya?

Apa Makna Kecukupan Sesuai Agama dan Kamu Menyikapinya?

9 Oktober 2025

...

Pertama Kali Kamu Naik Kereta, Pesawat, atau Kapal Laut dan Kemana Tujuannya?

Pertama Kali Kamu Naik Kereta, Pesawat, atau Kapal Laut dan Kemana Tujuannya?

8 Oktober 2025

...

Load More
Next Post
Kreator Konten Anak-anak di YouTube Asal AS Mendesak Pemimpin Dunia Hentikan Israel Membuat Bayi-bayi Gaza Kelaparan

Kreator Konten Anak-anak di YouTube Asal AS Mendesak Pemimpin Dunia Hentikan Israel Membuat Bayi-bayi Gaza Kelaparan

Apa Solusi Kamu untuk Mencari Informasi Jika HP untuk Usia di Bawah 17 Tahun Dilarang Seperti di Beberapa Negara di Luar Negeri?

Apa Solusi Kamu untuk Mencari Informasi Jika HP untuk Usia di Bawah 17 Tahun Dilarang Seperti di Beberapa Negara di Luar Negeri?

Discussion about this post

TERKINI

Netanyahu Sang Buronan ICC Sesumbar Mau Datang ke New York, Mamdani Siap-siap Mau Tangkap

4 Desember 2025

Laksanakan Instruksi Presiden Prabowo Pulihkan Sumatera, Kementerian & Lembaga, BNPB, TNI dan Polri Ekstra Responsif

3 Desember 2025

Studi Terbaru, Menurunkan Tekanan Darah dengan Tidur di Waktu yang Sama Setiap Malam

3 Desember 2025

Tanggap Kebutuhan Korban dan Wilayah Bencana, Prabowo Tegaskan Pemerintah Segerakan untuk Pulih

2 Desember 2025

Tiga Warga Italia dan Seorang Warga Kanada Diserang Pemukim Israel di Tepi Barat yang Diduduki

2 Desember 2025

Ikhtiar Hindarkan Fakir, Berikut Bacaan Shalawat dari Rasulullah SAW

1 Desember 2025

Cerianya Anak Yatim – Dhuafa  YPTB Diajak Belanja dan Makan di Mal  

1 Desember 2025

Sidang Kasus Korupsinya Sudah 5 Tahun, Netanyahu Minta Pengampunan Presiden Israel

30 November 2025

Kendalikan Diri Anda, Lelucon Golf untuk Pria, Wanita, dan Lansia

30 November 2025

Klaim Amnesty Internasional, Israel Masih Terus Melakukan Genosida di Gaza

29 November 2025
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Cyber
  • Kontak

© 2017 Avesiar.com - All Rights Reserved

  • Nasional & Opini
    • Politik
    • Hukum
    • Sosial
    • Budaya
    • HanKam
    • Daerah
    • Kesehatan
    • Edukasi
    • Opini
    • English Version
  • World
    • Economy
    • Politic
    • Law
    • Culture
    • Islam
    • Freedom for Palestine
    • Umra & Hajj
    • Tourism
  • Ekonomi
    • Bisnis & Wirausaha
    • Common
    • Islami
    • Property
    • CSR
  • Nusantara
    • Metro
    • Urban
    • Guru Kita
    • Prestasi
    • Profil Perubahan
    • Wisata
  • Healtech
    • Hidup Sehat
    • Riset
    • Teknologi
    • Gadget
  • Auto-Sport & Hobby
    • Aneka Olah Raga
    • Sepeda
    • Golf
    • Auto
    • Fauna & Flora Care
  • Change
    • Motivasi
    • Entrepreneurship
    • Pensiun Sehat
  • Syar’i
    • Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam
    • Muslim Fashion
    • Harmoni Keluarga
    • Griya Harmoni
    • Psikologi
    • Masjid & Activity
  • People & Activity
    • Figure
    • Community
    • Society
    • Social
    • Event
  • KAMU KUAT
  • Youth
    • Smart Teens
    • Students
    • School Story
    • Campuss Story
    • Millennial
  • Kuliner
    • Resto
    • Kaki Lima
    • Resep
  • City Jour & Video