KAMU KUAT – Jakarta
Nasihat adalah sesuatu yang tak pernah lepas dari keseharian kita. Sejak kecil, kita sudah akrab dengan aneka nasihat dari orang tua, guru, kakak, bahkan teman sebaya. Ada yang ringan seperti “jangan lupa makan”, hingga yang menyentuh hati seperti “jadilah orang yang jujur, meski dalam kesempitan.”
Namun, satu hal yang perlu direnungkan adalah seberapa besar hati kita dalam menerima sebuah nasihat? Apakah kita langsung menerimanya dengan lapang dada? Atau justru merasa tersinggung, seolah nasihat adalah bentuk kritik terhadap diri kita?
Bagi sebagian remaja, nasihat bisa jadi seperti cermin membantu melihat kekurangan dan memperbaiki diri. Namun, bagi yang lain, nasihat terasa seperti beban atau bahkan gangguan yang menyakitkan ego.
Maka dari itu, penting bagi kita untuk menggali lebih dalam mengapa nasihat penting, bagaimana cara menerimanya dengan bijak, dan apa yang bisa kita pelajari dari sikap hati saat mendengar nasihat? Yuk kita simak penuturan dari para sahabat kanal remaja KAMU KUAT! Avesiar.com!
Muhammad Ayrton Belandry, siswa kelas 11, SMA Muhammadiyah 4, Depok

Muhammad Ayrton Belandry, Ia punya pandangan yang menarik tentang bagaimana ia memaknai nasihat dalam kehidupan sehari-harinya. “Nasihat adalah bentuk kepedulian yang diungkapkan seseorang melalui lisan, dengan tujuan untuk mengingatkan dan memberi tahu agar kesalahan yang sama tidak terulang kembali,” ujarnya membuka perbincangan.
Dari sini saja sudah terlihat bahwa ia tidak menganggap nasihat sebagai omelan semata, tapi sebagai bentuk kasih sayang. Namun, bagaimana reaksi Ayrton ketika nasihat itu datang karena kesalahan yang ia buat?
“Tentu saya merasa bersalah,” katanya jujur. “Tapi setelah mendengarkannya, saya justru merasa termotivasi untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Karena pada dasarnya, nasihat datang agar kita tidak mengulangi kesalahan yang sama.”
Tak semua orang bisa bersikap lapang dada seperti itu. Bahkan, tidak sedikit dari kita yang justru merasa tersinggung saat dinasihati. Tapi Ayrton punya cara pandang yang cukup dewasa untuk usianya. Ia mengakui bahwa dirinya termasuk orang yang mudah menerima nasihat.
“Dengan diberinya nasihat, saya jadi tahu kekurangan dan kesalahan saya. Bahkan, saya terkadang merasa senang mendapat masukan atau evaluasi, karena itu membuat saya lebih kuat dan bisa berkembang menjadi lebih baik ke depannya.”
Tentu, tidak semua nasihat selalu tepat sasaran. Ayrton pun mengakui bahwa ia pernah menolak atau mengabaikan nasihat yang tidak relevan. “Ada kalanya saya merasa nasihat yang diberikan tidak tepat atau tidak sesuai dengan situasinya. Jika begitu, saya akan mengoreksi apabila memang ada kesalahan dalam nasihat tersebut. Jika benar, saya akan menerima. Tapi jika salah, saya akan mengabaikannya dengan tetap menjaga sikap yang sopan.”
Yang menarik, ia juga sangat memperhatikan cara penyampaian nasihat. Menurutnya, isi yang baik akan lebih mudah diterima jika disampaikan dengan cara yang tepat. “Jika disampaikan dengan jelas dan mudah dipahami, maka isi dari nasihat tersebut akan lebih mudah saya terima dan terapkan. Saya pernah mengubah sikap saya karena nasihat yang disampaikan dengan baik, dan saya merasa bersalah.”
Akhirnya, semua kembali ke diri masing-masing. Setelah mendapat nasihat, apa yang dilakukan? Di sinilah pentingnya introspeksi diri atau muhasabah. “Introspeksi diri sangat penting karena saya jadi tahu kekurangan saya dan menjadikannya sebagai bahan evaluasi agar ke depannya bisa menjadi pribadi yang lebih baik.” tutup Ayrton.
Ridho Ahmad Syarif Hidayatullah, siswa kelas 7, SMP Taruna Terpadu

RIdho punya pandangan menarik soal ini. “Nasihat adalah ungkapan perhatian yang disampaikan seseorang kepada kita, biasanya berupa arahan, pengingat, atau dorongan agar kita melakukan hal yang lebih baik atau menghindari kesalahan,” ujarnya.
Menurut Ridho, nasihat sering kali datang dari pengalaman atau pemikiran bijak orang lain yang ingin kita jadi lebih baik. Meski begitu, Ridho mengakui bahwa menerima nasihat, apalagi kalau berkaitan dengan kesalahan diri sendiri, memang tidak selalu mudah.
“Awalnya mungkin terasa tidak nyaman, kadang malu atau defensif, apalagi kalau disampaikan di depan orang lain. Tapi setelah direnungi, biasanya muncul rasa terima kasih karena ada yang peduli dan mau membantu memperbaiki diri,” ungkapnya.
Sikap terbuka Ridho terhadap nasihat layak dicontoh. Ia percaya bahwa nasihat yang disampaikan dengan niat baik dan cara lembut akan lebih mudah diterima. “Aku percaya bahwa kita tidak selalu bisa melihat kesalahan sendiri, jadi masukan dari orang lain sangat berharga,” katanya.
Namun, tak semua nasihat langsung diterima mentah-mentah. Ridho mengaku pernah menolak nasihat yang menurutnya tidak sesuai. Tapi ia tidak langsung menentang. “Aku lebih memilih merenung dulu, berpikir apakah ada sisi benar yang bisa diambil. Kalau perlu, berdiskusi secara baik-baik agar tidak menimbulkan salah paham,” jelasnya.
Baginya, cara menyampaikan nasihat juga menentukan apakah nasihat itu akan masuk ke hati atau tidak. “Nasihat yang disampaikan dengan empati lebih mudah diterima. Pernah ada satu nasihat sederhana yang membuatku sadar akan kesalahan yang sudah dianggap biasa, dan sejak itu aku berusaha memperbaiki sikapku,” ceritanya.
Lalu, apa yang dilakukan setelah menerima nasihat? Menurut Ridho, kuncinya ada pada introspeksi diri. “Introspeksi membuat nasihat itu benar-benar masuk ke hati, bukan sekadar lewat di telinga. Tanpa introspeksi, kita sulit berkembang atau memahami mana bagian dari diri yang harus dibenahi,” pungkasnya.
Nasihat itu seperti cermin. Ia membantu kita melihat sisi diri yang tak tampak dari pandangan kita sendiri. Kadang pantulannya menyakitkan, tapi justru dari situlah kita bisa memperbaiki diri. Jadi, lain kali kalau ada yang menasihati, coba tahan dulu egomu. Mungkin ada pesan baik yang bisa jadi bekal untuk masa depanmu.
Seperti kata Ridho, “Masukan dari orang lain sangat berharga. Kita hanya perlu membuka hati dan berpikir jernih agar bisa mengambil manfaat dari setiap nasihat yang datang.”
Reka, mahasiswa semester 4, Teknik Komputer, BSI Depok

“Nasihat itu kayak notifikasi di HP cuma versi manusia. Kadang nyebelin, tapi seringnya bikin kita mikir, ‘Oh iya ya…’” kata Reka, mahasiswa Teknik Komputer semester 4 dari BSI Depok.
Tapi, kalau nasihat itu datang pas kita baru aja bikin kesalahan, apa rasanya? “Campur aduk, kayak es campur,” katanya sambil becanda. “Antara malu, kesel, tapi juga tahu sih kalau itu bener. Cuma kadang ego bilang, ‘Enggak ah, gue gak salah!’ Padahal salah banget.”
Jujur banget, ya. Dan memang, nggak semua orang bisa langsung menerima nasihat dengan lapang dada. Termasuk Reka. Ia bilang, semua tergantung siapa yang ngasih dan gimana cara nyampeinnya. “Kalau nadanya kayak dosen killer, ya boro-boro diterima. Tapi kalau disampaikan enak, bisa bikin mikir dan nyesel sendiri,” celetuknya.
Kadang, Reka juga pernah mengabaikan nasihat. “Pernah dong, manusiawi. Kadang aku pura-pura denger, padahal di kepala fokus dengan yang lain,” ucapnya dengan gaya khas anak muda.
Tapi saat ada nasihat yang terasa gak cocok, ia lebih memilih diem, mikir, lalu ngobrol baik-baik. Karena bisa jadi, bukan orang lain yang salah, kitanya aja yang belum siap nerima.
Soal cara penyampaian, Reka punya prinsip “Kalau disampaikan kayak ngobrol santai, aku lebih nerima. Tapi kalau disindir atau digas duluan, ya mental auto tutup telinga.” Bahkan ia mengaku pernah berubah gara-gara satu nasihat dari guru. “Padahal awalnya aku denger sambil ngantuk,” katanya.
Di akhir, Reka juga mengingatkan pentingnya introspeksi diri. “Introspeksi tuh kayak GPS spiritual, biar nggak terus-terusan muter di jalan yang salah,” ujarnya.
Bukan buat selfie, tapi buat ngaca beneran melihat sejauh mana kita melenceng dari jalur, dan bagaimana caranya kembali Dan seperti kata Reka, “Kalau niatnya baik dan disampaikan dengan tulus, nasihat bisa jadi titik balik.” Tutup Reka
Tidak semua orang bisa langsung menerima nasihat dengan lapang dada. Tapi jika kita mulai belajar memahami bahwa nasihat hadir bukan untuk menjatuhkan, melainkan untuk membangun, maka hati kita akan tumbuh menjadi lebih besar dan matang.
Jadi, seberapa besar hatimu menerima sebuah nasihat? Mungkin pertanyaan itu tidak untuk dijawab sekarang, tapi untuk direnungkan setiap kali kita menghadapi nasihat yang datang dalam hidup kita. (Resty)












Discussion about this post