Avesiar – Jakarta
Lebih dari 60 warga Palestina sepanjang malam dan pagi hari di seluruh Jalur Gaza, dibunuh oleh pasukan Israel pada hari Selasa, dikutip dari The New Arab.
Tidak hanya itu, serangan hebat menargetkan rumah dan sekolah yang menampung orang-orang terlantar di utara Gaza, menewaskan sedikitnya 22 orang, sebagian besar dari mereka adalah wanita dan anak-anak, menurut laporan kementerian kesehatan Palestina.
Tragisnya lagi, serangan juga menargetkan kamp pengungsi Nuseirat dan Khan Younis yang menewaskan puluhan lainnya. PBB menyatakan lebih dari 28.000 wanita dan anak perempuan telah dibunuh oleh Israel sejak perang dimulai pada Oktober 2023, menambahkan bahwa angka tersebut setara dengan “rata-rata satu wanita dan satu anak perempuan terbunuh setiap jam dalam serangan oleh pasukan Israel”.
UN Women menyoroti dampak yang ditimbulkannya pada anak-anak dan keluarga sebelum menyerukan gencatan senjata segera.
Menurut Kepala Bantuan PBB Tom Fletcher ia khawatir 14.000 bayi akan meninggal dalam 48 jam ke depan jika pasokan tidak sampai ke mereka. Ia juga menambahkan bahwa bantuan terkini yang mengalir ke Gaza hanyalah “setetes air di lautan” dari apa yang dibutuhkan untuk memberi makan 2,3 juta penduduk.
Kelaparan yang dijadikan Israel sebagai senjata pembunuh tersebut meningkatkan kekhawatiran atas kondisi di Gaza, di mana 761 kelompok bantuan dan LSM di seluruh dunia mendesak Israel untuk menghentikan “kelaparan yang dibuat-buat” di Gaza. Mereka juga menuntut diakhirinya pengepungan selama lebih dari dua bulan di daerah kantong itu.
Seorang anggota staf yang bekerja untuk lembaga amal Medical Aid for Palestinians (MAP) menyuarakan kekhawatiran atas situasi tersebut, dengan mengatakan: “Kami melihat pekerjaan kami dibakar menjadi abu,”. Direktur organisasi tersebut di Gaza juga mengatakan: “Tim kami di Gaza telah bekerja tanpa lelah untuk mengirimkan pasokan medis ke rumah sakit, dan memastikan perawatan bagi mereka yang sangat membutuhkan, hanya untuk melihat mereka dilenyapkan oleh serangan militer Israel. Sungguh memilukan.”
Kritik dan ancaman sanksi terhadap Israel dari Inggris, Prancis, dan Kanada yang menuntut diakhirinya perang malah dikecam Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Ketiga negara tersebut pada hari Senin menerbitkan pernyataan bersama, mendesak Israel untuk mengakhiri perang dan menyebut operasi militernya “tidak proporsional”.
Pernyataan tersebut selanjutnya menyatakan bahwa mereka tidak dapat berdiam diri dalam menghadapi “tindakan memalukan” pemerintah Netanyahu di Gaza, dengan memperingatkan bahwa mereka harus melakukan “tindakan konkret”.
Setali tiga uang, Adam Boehler, utusan Trump untuk Urusan Penyanderaan menanggapi pernyataan dari Prancis, Inggris, dan Kanada, dengan mengatakan: “AS selalu mendukung Israel dan selalu mempertimbangkan cara menyeimbangkan kepentingan, tetapi jika saya seorang politikus Eropa, saya akan berpikir hati-hati tentang cara mengkritik Israel.”
Menurut laporan di Washington Post pada hari Senin, mengutip sumber yang mengetahui diskusi tersebut, pemerintahan Trump memberi tahu Israel bahwa mereka akan meninggalkan mereka jika tidak mengakhiri perang
Berbicara dengan syarat anonim, sumber tersebut mengatakan bahwa tim Trump memberi tahu Israel: “Kami akan meninggalkan Anda jika Anda tidak mengakhiri perang ini”.
Wakil Presiden AS J.D. Vance yang direncanakan berkunjung ke Israel juga batal dengan latar belakang ketegangan, seorang pejabat senior AS mengonfirmasi kepada Axios pada hari Senin.
Vance membuat keputusan tersebut karena ia tidak ingin kunjungannya memberi kesan bahwa pemerintahan Trump mendukung tindakan Israel di tengah upaya AS untuk mendorong gencatan senjata dan mengamankan pembebasan tawanan dari Gaza, kata pejabat tersebut.
Sebagai informasi, dikutip dari The New Arab, perang Israel di Gaza telah menewaskan lebih dari 61.700 warga Palestina sejak Oktober 2023, dan kelompok hak asasi internasional menetapkan bahwa serangan tersebut merupakan genosida. Israel telah menghancurkan seluruh wilayah, menggusur sebagian besar penduduk, dan menjerumuskan Gaza ke dalam krisis kemanusiaan yang mendalam. (ard)













Discussion about this post