Avesiar – Jakarta
Respons Iran atas serangan udara AS terhadap fasilitas nuklir mereka di Fordow, Natanz, dan Isfahan, membuat rezim Trump yang kini memimpin Amerika Serikat ketakutan. Dikutip dari The New Arab, Senin (23/6/2024), Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio, Ahad (22/6/2025) minta tolong ke Tiongkok untuk mendorong Iran agar tidak menutup Selat Hormuz.
Ia mengatakan hal itu saat berkomentar di “Sunday Morning Futures with Maria Bartiromo” acara milik Fox News dan usai Press TV Iran melaporkan bahwa parlemen Iran menyetujui tindakan untuk menutup Selat Hormuz, yang dilalui oleh sekitar 20 persen minyak dan gas dunia.
“Saya mendorong pemerintah Tiongkok di Beijing untuk menghubungi mereka tentang hal itu, karena mereka sangat bergantung pada Selat Hormuz untuk minyak mereka,” kata Rubio, yang juga menjabat sebagai penasihat keamanan nasional.
Rubio berdalih, bahwa jika Iran melakukan itu, akan menjadi kesalahan besar lainnya dan dianggap sebagai bunuh diri ekonomi bagi negara tersebuty. Ia juga berdalih tindakan untuk menutup selat tersebut akan menjadi eskalasi besar-besaran yang memerlukan respons dari AS dan negara-negara lain.
Di lain sisi, Parlemen Iran akhirnya dengan suara bulat menyetujui usulan dramatis untuk menutup Selat Hormuz, rute pengiriman minyak dan gas paling penting di dunia. Keputusan parlemen tersebut merupakan eskalasi yang berpotensi menimbulkan bencana yang dapat memicu kekacauan ekonomi global. Namun, kewenangan akhir untuk melaksanakan penutupan berada di tangan Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, yang belum mengeluarkan perintah resmi untuk melaksanakan blokade.
Dikutip dari News on Air Gov In, harga minyak telah mulai melonjak di pasar internasional karena perusahaan pelayaran menempatkan armada mereka dalam keadaan siaga tinggi, dengan analis memperkirakan harga dapat melonjak jauh di atas 100 dolar AS per barel jika blokade berlanjut.
Sementara itu, disebutkan bahwa pejabat militer AS telah menempatkan pasukan di seluruh wilayah dalam keadaan siaga tinggi. Dilaporkan, Pentagom tengah mempersiapkan diri menghadapi potensi konfrontasi angkatan laut untuk menjaga selat tetap terbuka, karena penutupan yang berkelanjutan akan menjadi ancaman nyata bagi keamanan energi global dan stabilitas ekonomi.
Akibat tindakan AS menyerang Iran tersebut telah menghasilkan Keputusan bulat parlemen Iran yang merupakan ancaman paling serius bagi pasokan energi global sejak Perang Tanker tahun 1980-an, ketika Iran dan Irak menargetkan pengiriman komersial selama konflik berkepanjangan mereka. Penutupan Hormuz akan menjadi tantangan yang belum pernah terjadi sebelumnya bagi ekonomi global pada saat pasar energi tetap bergejolak dan ketegangan geopolitik terus meningkat di berbagai wilayah. (ard)













Discussion about this post