• Nasional & Opini
    • Politik
    • Hukum
    • Sosial
    • Budaya
    • HanKam
    • Daerah
    • Kesehatan
    • Edukasi
    • Opini
    • English Version
  • World
    • Economy
    • Politic
    • Law
    • Culture
    • Islam
    • Freedom for Palestine
    • Umra & Hajj
    • Tourism
  • Ekonomi
    • Bisnis & Wirausaha
    • Common
    • Islami
    • Property
    • CSR
  • Nusantara
    • Metro
    • Urban
    • Guru Kita
    • Prestasi
    • Profil Perubahan
    • Wisata
  • Healtech
    • Hidup Sehat
    • Riset
    • Teknologi
    • Gadget
  • Auto-Sport & Hobby
    • Aneka Olah Raga
    • Sepeda
    • Golf
    • Auto
    • Fauna & Flora Care
  • Change
    • Motivasi
    • Entrepreneurship
    • Pensiun Sehat
  • Syar’i
    • Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam
    • Muslim Fashion
    • Harmoni Keluarga
    • Griya Harmoni
    • Psikologi
    • Masjid & Activity
  • People & Activity
    • Figure
    • Community
    • Society
    • Social
    • Event
    • Podcast Ladders to be Leaders
  • KAMU KUAT
    • Podcast KAMU KUAT
  • Youth
    • Smart Teens
    • Students
    • School Story
    • Campuss Story
    • Millennial
  • Kuliner
    • Resto
    • Kaki Lima
    • Resep
  • City Jour & Video
No Result
View All Result
No Result
View All Result
Home Syar'i True Story

Kisah Nabi Ismail Alaihissalam, Anak Sholeh yang Diiringi dengan Mukzijat Air Zamzam dan Qurban

by Avesiar
31 Juli 2025 | 22:01 WIB
in True Story
Reading Time: 10 mins read
A A
Kisah Nabi Ismail Alaihissalam, Anak Sholeh yang Diiringi dengan Mukzijat Air Zamzam dan Qurban

Ilustrasi. Foto: lenteratoday.com & dprd.purwakartakab.go.id. Kolase: Avesiar.com

Avesiar – Jakarta

Sampai Nabi Ibrahim Alaihissalam yang berhijrah meninggalkan Mesir bersama Sarah, isterinya  dan Hajar, dayangnya di tempat tujuannya di Palestina Ia telah membawa pindah  juga semua binatang ternaknya dan harta miliknya yang telah diperolehnya  sebagai hasil usaha niaganya di Mesir.

Al-Bukhari meriwayatkan daripada Ibnu Abbas  r.a.berkata:

Pertama-tama yang menggunakan setagi (setagen) ialah Hajar ibu Nabi Ismail tujuan untuk menyembunyikan kandungannya dari Siti Sarah yang telah lama berkumpul dengan Nabi Ibrahim Alaihissalam. tetapi belum juga hamil. Tetapi  walaubagaimana pun juga akhirnya terbukalah rahasia yang disembunyikan itu dengan  lahirnya Nabi Ismail Alaihissalam.

Dan sebagai lazimnya seorang isteri sebagai Siti Sarah merasa telah dikalahkan oleh Siti Hajar sebagai seorang dayangnya yang diberikan  kepada Nabi Ibrahim AS. Dan sejak itulah Siti Sarah merasakan bahawa Nabi  Ibrahim lebih banyak mendekati Hajar karena merasa sangat gembira dengan  puteranya yang tunggal dan pertama itu.

Hal ini yang menyebabkan permulaan ada keretakan dalam rumah tangga Nabi Ibrahim sehingga Siti Sarah merasa tidak tahan hati jika melihat Siti Hajar dan minta pada Nabi Ibrahim AS supaya  menjauhkannya dari matanya dan menempatkannya di lain tempat.

Untuk suatu  hikmah yang belum diketahui dan disadari oleh Nabi Ibrahim Allah Subhanahu Wa Ta’ala  mewahyukan kepadanya agar keinginan dan permintaan Sarah isterinya dipenuhi dan dijauhkanlah Ismail bersama Hajar ibunya dan Sarah ke suatu tempat di mana yang  ia akan tuju dan di mana Ismail puteranya bersama ibunya akan di tempatkan dan kepada siapa akan ditinggalkan.

Maka dengan tawakkal kepada Allah, berangkatlah Nabi Ibrahim meninggalkan rumah membawa Hajar dan Ismail yang  diboncengkan di atas untanya tanpa tempat tujuan yang tertentu. Ia hanya  berserah diri kepada Allah yang akan memberi arah kepada binatang tunggangannya.  Dan berjalanlah unta Nabi Ibrahim dengan tiga hamba Allah yang berada di atas punggungnya keluar kota, masuk ke lautan pasir dan padang terbuka, di mana terik matahari dengan pedihnya menyengat tubuh dan angin yang kencang  menghembur-hamburkan debu-debu pasir.

Bacaan Terkait :

Kisah Nabi Isma’il AS, Sangat Patuh Kepada Orangtuanya, Penyabar, dan Keluarnya Air Zam-zam

Load More

Ismail dan Ibunya Hajar Ditinggalkan di Makkah

Setelah  berminggu-minggu berada dalam perjalanan jauh yang melelahkan, tibalah pada  akhirnya Nabi Ibrahim bersama Ismail dan ibunya di Makkah kota suci di mana Kaabah didirikan dan menjadi pujaan manusia dari seluruh dunia. Di tempat di  mana Masjidil Haram sekarang berada, berhentilah unta Nabi Ibrahim mengakhiri perjalanannya dan di situlah ia meninggalkan Hajar bersama puteranya dengan hanya  dibekali dengan serantang bekal makanan dan minuman. Sedangkan keadaan sekitarnya  tidak ada tumbuh-tumbuhan, tidak ada air mengalir, yang terlihat hanyalah batu dan pasir  kering .

Alangkah sedih dan cemasnya Hajar ketika akan ditinggalkan oleh Ibrahim  seorang diri bersama dengan anaknya yang masih kecil di tempat yang sunyi senyap dari segala-galanya kecuali batu gunung dan pasir. Seraya merintih dan  menangis, ia memegang kuat-kuat baju Nabi Ibrahim memohon belas kasihnya, janganlah ia ditinggalkan seorang diri di tempat yang kosong itu, tiada seorang manusia,  tiada seekor binatang, tiada pohon dan tidak terlihat pula air mengalir,  sedangkan ia masih menanggung beban mengasuh anak yang kecil yang masih menyusu. 

Nabi Ibrahim mendengar keluh kesah Hajar merasa tidak tega meninggalkannya seorang diri di tempat itu bersama puteranya yang sangat disayangi. Akan tetapi  ia sadar bahwa apa yang dilakukannya itu adalah kehendak Allah Subhanahu Wa Ta’ala  yang  tentu mengandungi hikmah yang masih terselubung baginya. Nabi Ibrahim juga sadar bahwa Allah akan melindungi Ismail dan ibunya dalam tempat pengasingan itu dan segala  kesukaran dan penderitaan. Ia berkata kepada Hajar :

“Bertawakallah kepada Allah yang telah menentukan kehendak-Nya. Percayalah kepada kekuasaan-Nya  dan rahmat-Nya. Dialah yang memerintah aku membawa kamu ke sini dan Dialah yang  akan melindungimu dan menyertaimu di tempat yang sunyi ini. Sungguh kalau bukan perintah dan wahyu-Nya, tidak sesekali aku tega meninggalkan kamu di sini seorang diri bersama puteraku yang sangat kucintai ini. Percayalah wahai Hajar, bahwa Allah Yang Maha Kuasa tidak akan melantarkan kamu berdua tanpa perlindungan-Nya. Rahmat dan berkah-Nya akan tetap turun di atas kamu untuk  selamanya, insya Allah.”

Mendengar kata-kata Ibrahim itu segeralah Hajar melepaskan genggamannya pada baju Ibrahim dan dilepaskannyalah beliau menunggang  untanya kembali ke Palestin dengan iringan air mata yang bercurahan membasahi  tubuh Ismail yang sedang menetak. Sedang Nabi Ibrahim pun tidak dapat menahan air matanya ketika ia turun dari dataran tinggi meninggalkan Makkah menuju kembali ke Palestina di mana isterinya Sarah dengan puteranya yang kedua Ishak  sedang menanti.

Ia tidak henti-henti selama dalam perjalanan kembali memohon  kepada Allah perlindungan, rahmat, dan berkah, serta karunia rezeki bagi putera dan ibunya yang ditinggalkan di tempat terasing itu. Ia berkata dalam doanya: “Wahai Tuhanku! Aku telah tempatkan puteraku dan anak-anak keturunannya di dekat  rumah-Mu { Baitullahil Haram } di lembah yang sunyi dari tanaman dan manusia agar mereka mendirikan sholat dan beribadah kepada-Mu. Jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berilah mereka rezeki dari buah-buahan yang lezat,  mudah-mudahan mereka bersyukur kepada-Mu.”

Mata Air Zamzam

Sepeninggal Nabi Ibrahim, tinggallah Hajar dan  puteranya di tempat yang terpencil dan sunyi itu. Ia harus menerima nasib yang  telah ditakdirkan oleh Allah atas dirinya dengan kesabaran dan keyakinan penuh  akan perlindungan-Nya. Bekal makanan dan minuman yang dibawanya dalam  perjalanan pada akhirnya habis dimakan selama beberapa hari sepeninggalan Nabi  Ibrahim. Maka mulailah terasa oleh Hajar beratnya beban hidup yang harus  ditanggungnya sendiri tanpa bantuan suaminya. Ia masih harus menyusui anaknya,  namun air susunya makin lama makin mengering disebabkan kekurangan makan.

Anak  yang tidak dapat minuman yang memuaskan dari air susu ibunya mulai menjadi cerewet  dan tidak henti-hentinya menangis. Ibunya menjadi panik, bingung dan cemas  mendengar tangisan anaknya yang sangat menyayat hati itu. Ia menoleh ke kanan dan  ke kiri serta lari ke sana ke sini mencari sesuap makanan atau seteguk air yang dapat meringankan kelaparannya dan meredakan tangisan anaknya. Namun sia-sialah  usahanya.

Ia pergi berlari segera menuju bukit Shafa kalau-kalau ia bisa mendapatkan sesuatu yang dapat menolongnya. Tetapi hanya batu dan pasir yang  didapatnya di sana. Kemudian dari bukit Shafa ia melihat bayangan air yang  mengalir di atas bukit Marwah dan larilah ia bersegera ke tempat itu, namun  ternyata bahwa yang disangkanya air adalah fatamorangana belaka dan kembalilah ke bukit Shafa karena mendengar seakan-akan ada suara yang  memanggilnya, tetapi gagal dan melesetlah dugaannya.

Demikianlah maka karena  dorongan hajat hidupnya dan hidup anaknya yang sangat disayangi, Hajar  mondar-mandir berlari sampai tujuh kali antara bukit Shafa dan Marwah yang pada  akhirnya ia duduk termenung merasa lelah dan hampir berputus  asa.

Diriwayatkan bahawa selagi Hajar berada dalam keadaan tidak berdaya  dan hampir berputus asa kecuali dari rahmat Allah dan pertolongan-Nya datanglah  kepadanya malaikat Jibril bertanya:

“Siapakah sebenarnya engkau ini?” ” Aku  adalah hamba sahaya Ibrahim.” jawab Hajar.

“Kepada siapa engkau dititipkan di  sini?” tanya Jibril.

“Hanya kepada Allah.” jawab Hajar.

Lalu berkata Jibril: “Jika  demikian, maka engkau telah dititipkan kepada Dzat Yang Maha Pemurah Lagi Maha  Pengasih, yang akan melindungimu, mencukupi keperluan hidupmu dan tidak akan mensia-siakan kepercayaan ayah puteramu kepada-Nya.”

Kemudian diajaklah Hajar mengikutinya pergi ke suatu tempat di mana Jibril menginjakkan telapak  kakinya kuat-kuat di atas tanah dan segeralah memancur dari bekas telapak kaki  itu air yang jernih dengan kuasa Allah. Itulah dia mata air Zamzam yang sehingga  kini dianggap keramat oleh jemaah haji, berdesakan sekelilingnya bagi  mendapatkan setitik atau seteguk air daripadanya dan karena sejarahnya mata air  itu disebut orang “Injakan Jibril”.

Alangkah gembiranya dan lega dada Hajar melihat air yang mancur itu. Segera ia membasahi bibir puteranya dengan air keramat itu dan segera pula terlihat wajah puteranya segar kembali. Demikian  pula wajah si ibu yang merasa sangat bahagia dengan datangnya mukjizat dari sisi Tuhan yang mengembalikan kesegaran hidup kepadanya dan kepada puteranya sesudah  dibayang-bayangi oleh bayangan mati kelaparan yang mencekam dada.

Mancurnya air Zamzam telah menarik burung-burung berterbangan mengelilingi daerah itu menarik pula perhatian sekelompok bangsa Arab dari suku Jurhum yang merantau dan sedang berkhemah di sekitar Makkah. Mereka mengetahui dari pengalaman bahwa di mana ada terlihat burung di udara, niscaya dibawahnya terdapat air.

Maka diutuslah oleh mereka beberapa orang untuk memeriksa kebenaran  teori ini. Para pemeriksa itu pergi mengunjungi daerah di mana Hajar berada, kemudian kembali membawa berita gembira kepada kaumnya tentang mata air Zamzam  dan keadaan Hajar bersama puteranya. Segera sekelompok suku Jurhum itu  memindahkan perkemahannya ke tempat sekitar Zamzam. Di mana kedatangan mereka  disambut dengan gembira oleh Hajar karena adanya sekelompok suku Jurhum di sekitarnya, ia mendapat teman-teman yang akan menghilangkan kesunyian dan  kesepian yang selama ini dirasakan di dalam hidupnya berduaan dengan puteranya  saja.

Hajar bersyukur kepada Allah yang dengan rahmatnya telah membuka  hati orang-orang itu cenderung datang meramaikan danmemecahkan kesunyian lembah di mana ia ditinggalkan sendirian oleh Nabi Ibrahim.

Nabi Ismail Sebagai Qurban

Nabi Ibrahim dari masa ke semasa pergi  ke Makkah untuk mengunjungi dan menjenguk Ismail di tempat pengasingannya bagi menghilangkan rasa rindu hatinya kepada puteranya yang ia sayangi serta  menenangkan hatinya yang selalu gelisah bila memikirkan keadaan puteranya bersama ibunya yang ditinggalkan di tempat yang tandus, jauh dari masyarakat kota, dan pengaulan umum.

Sewaktu Nabi Ismail mencapai usia remajanya Nabi  Ibrahim Alaihissalam mendapat mimpi bahwa ia harus menyembelih Ismail puteranya. Dan mimpi seorang nabi adalah salah satu dari cara-cara turunnya wahyu Allah, maka  perintah yang diterimanya dalam mimpi itu harus dilaksanakan oleh Nabi Ibrahim. 

Ia duduk sejurus termenung memikirkan ujian yang maha berat yang ia hadapi. Sebagai seorang ayah yang dikaruniakan seorang putera yang sejak puluhan tahun diharap-harapkan dan didambakan, seorang putera yang telah mencapai usia di mana  jasa-jasanya sudah dapat dimanfaatkan oleh si ayah, seorang putera yang  diharapkan menjadi pewarisnya dan penyampung kelangsungan keturunannya,  tiba-tiba harus dijadikan qurban dan harus direnggut nyawa oleh tangan si ayah  sendiri.

Namun ia sebagai seorang Nabi, pesuruh Allah dan pembawa agama  yang seharusnya menjadi contoh dan teladan bagi para pengikutnya dalam taat kepada Allah, menjalankan segala perintah-Nya dan menempatkan cintanya kepada Allah di atas cintanya kepada anak, isteri, harta benda, dan lain-lain. Ia harus melaksanakan perintah Allah yang diwahyukan melalui mimpinya, apa pun yang akan terjadi sebagai akibat pelaksanaan perintah itu.

Sungguh amat berat ujian yang dihadapi oleh Nabi Ibrahim. Namun, sesuai dengan firman Allah berikut: “Allah lebih mengetahui di mana dan kepada siapa Dia mengamanatkan  risalahnya.” Nabi Ibrahim tidak membuang waktu lagi, berazam (niat) tetap akan  menyembelih Nabi Ismail puteranya sebagai qurban sesuai dengan perintah Allah yang telah diterimanya. Dan berangkatlah Nabi Ibrahim menuju ke  Makkah untuk menemui dan menyampaikan kepada puteranya apa yang Allah  perintahkan.

Nabi Ismail sebagai anak yang soleh yang sangat taat kepada  Allah dan bakti kepada orang tuanya, ketika diberitahu oleh ayahnya maksud kedatangannya, kali ini tanpa ragu-ragu dan berfikir panjang berkata kepada  ayahnya:

“Wahai ayahku! Laksanakanlah apa yang telah diperintahkan oleh Allah kepadamu. Engkau akan menemuiku insya-Allah sebagai seorang yang sabar dan patuh  kepada perintah. Aku hanya meminta dalam melaksanakan perintah Allah itu, agar  ayah mengikatku kuat-kuat supaya aku tidak banyak bergerak sehingga menyusahkan  ayah. Kedua agar menanggalkan pakaianku supaya tidak terkena darah yang akan  menyebabkan berkurangnya pahalaku dan kesedihan ibuku bila melihatnya. Ketiga  tajamkanlah parangmu dan percepatkanlah perlaksanaan penyembelihan agar meringankan penderitaan dan rasa pedihku. Keempat dan yang terakhir,  sampaikanlah salamku kepada ibuku berikanlah kepadanya pakaianku ini untuk  menjadi penghiburnya dalam kesedihan dan tanda mata serta kenang-kenangan  baginya dari putera tunggalnya.”

Kemudian dipeluknyalah Ismail dan dicium pipinya oleh Nabi Ibrahim seraya berkata: “Bahagialah aku mempunyai seorang putera yang taat kepada Allah, bakti kepada orang tua yang dengan ikhlas hati menyerahkan  dirinya untuk melaksanakan perintah Allah.”

Saat penyembelihan yang  mengerikan telah tiba. Diikatlah kedua tangan dan kaki Ismail, dibaringkanlah ia di atas lantai, lalu diambillah parang tajam yang sudah tersedia dan sambil memegang parang di tangannya, kedua mata nabi Ibrahim yang tergenang air berpindah memandang dari wajah puteranya ke parang yang mengilap di tangannya. Seakan-akan pada masa itu hati beliau menjadi tempat pertarungan antara perasaan  seorang ayah di satu pihak dan kewajiban seorang rasul di satu pihak yang lain. 

Pada akhirnya dengan memejamkan matanya, parang diletakkan pada leher Nabi Ismail dan penyembelihan dilakukan. Akan tetapi apa daya, parang yang sudah  demikian tajamnya itu ternyata menjadi tumpul di leher Nabi Ismail dan tidak  dapat berfungsi sebagaimana mestinya dan sebagaimana diharapkan.

Kejadian  tersebut merupakan suatu mukjizat dari Allah yang menegaskan bahwa perintah  pergorbanan Ismail itu hanya suatu ujian bagi Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail  sampai sejauh mana cinta dan taat mereka kepada Allah. Ternyata keduanya telah  lulus dalam ujian yang sangat berat itu. Nabi Ibrahim telah menunjukkan  kesetiaan yang tulus dengan pergorbanan puteranya untuk berbakti melaksanakan  perintah Allah.

Sedangkan Nabi Ismail tidak sedikit pun ragu atau bimbang dalam  menunjukkan ketaatannya kepada Allah dan baktinya kepada orang tua dengan  menyerahkan jiwa raganya untuk dikorbankan.

Sampai-sampai terjadi seketika  merasa bahwa parang itu tidak bisa memotong lehernya, berkatalah ia kepada  ayahnya: “Wahai ayahku! Rupa-rupanya engkau tidak sampai hati memotong leherku karena melihat wajahku. Cobalah telengkupkan aku dan laksanakanlah tugasmu tanpa melihat wajahku.”

Akan tetapi parang itu tetap tidak berdaya mengeluarkan setitik darah pun dari daging Ismail walau ia telah ditelengkupkan dan dicoba memotong  lehernya dari belakang.

Dalam keadaan bingung dan sedih hati, karena  gagal dalam usahanya menyembelih puteranya, datanglah kepada Nabi Ibrahim wahyu Allah dengan firmannya:

“Wahai Ibrahim! Engkau telah berhasil melaksanakan mimpimu. Demikianlah Kami akan membalas orang-orang yang berbuat kebajikan.”

Kemudian sebagai tebusan ganti nyawa Ismail telah diselamatkan itu, Allah memerintahkan Nabi Ibrahim menyembelih seekor kambing yang telah tersedia di sampingnya dan segera dipotong leher kambing itu olehnya dengan parang yang tumpul di leher puteranya Ismail itu. Dan inilah asal permulaan sunnah berqurban yang dilakukan oleh umat Islam pada tiap hari raya Idul Adha di seluruh penjuru  dunia. Wallahua’lam. (adm/Dikutip dari Kisah 25 Nabi & Rasul)

Tags: Kisah Nabi IsmailMukzijat Air ZamzamNabi Ismail AlaihissalamNabi Ismail ASPeristiwa Qurban
ShareTweetSendShare
Previous Post

Giliran India Kena Tarif 25 Persen, Termasuk Denda Karena Beli Peralatan Militer dan Energi dari Rusia

Next Post

Astaghfirullah, TikTok Menyewa Mantan Tentara Wanita Israel Sebagai Manajer Pengawas Ujaran Kebencian                                                     

Mungkin Anda Juga Suka :

Sufi Wanita yang Akan Menggenggam Tauhid Demi Menagih Janji Allah

Sufi Wanita yang Akan Menggenggam Tauhid Demi Menagih Janji Allah

13 April 2026

...

Mustajabnya Doa Sahabat Rasulullah SAW Sa’ad bin Abi Waqqash yang Difitnah oleh Usamah bin Qatadah

Mustajabnya Doa Sahabat Rasulullah SAW Sa’ad bin Abi Waqqash yang Difitnah oleh Usamah bin Qatadah

28 Maret 2026

...

Ancaman Bagi yang Berbuat Dzolim Menurut Al Qur’an dan Hadis, Agar Segera Meminta Kehalalan atau Maafnya

Ancaman Bagi yang Berbuat Dzolim Menurut Al Qur’an dan Hadis, Agar Segera Meminta Kehalalan atau Maafnya

23 Maret 2026

...

Sahabat Abu Dzar al-Ghifari, Pria Zuhud Berasal dari Kabilah yang Suka Merampok

Sahabat Abu Dzar al-Ghifari, Pria Zuhud Berasal dari Kabilah yang Suka Merampok

2 Januari 2026

...

Kisah Pria yang Akhirnya Dikeluarkan dari Neraka dan Terakhir Masuk Surga

Kisah Pria yang Akhirnya Dikeluarkan dari Neraka dan Terakhir Masuk Surga

30 Desember 2025

...

Load More
Next Post
Astaghfirullah, TikTok Menyewa Mantan Tentara Wanita Israel Sebagai Manajer Pengawas Ujaran Kebencian                                                     

Astaghfirullah, TikTok Menyewa Mantan Tentara Wanita Israel Sebagai Manajer Pengawas Ujaran Kebencian                                                     

Ajang JNE Content Competition 2025 Ditutup, 54 Pemenang Mendapat Kebahagiaan

Ajang JNE Content Competition 2025 Ditutup, 54 Pemenang Mendapat Kebahagiaan

Discussion about this post

TERKINI

Kabar Baik Dibukanya Selat Hormuz, Saham Melonjak dan Harga Minyak Anjlok 10 Persen

17 April 2026

Paus Leo Tidak Takut pada Trump, Menyebut Dunia Sedang Dihancurkan Segelintir Tiran Saat Berseteru dengan Gedung Putih

16 April 2026

Polemik Alat Vape Disalahgunakan, Menelusuri Hukum Rokok Elektrik

15 April 2026

Saksikan Segera, Podcast Khusus Profesional “Ladders to be Leaders” Mengulas Perjalanan Hidup dan Karir

15 April 2026

AS Repot Berkonflik dengan Iran, Zelenskyy Kecewa Dicuekin Karena Suplai Senjata ke Ukraina Terganggu

15 April 2026

TikTok Lapor Tutup 780 Ribu Akun Anak dan Roblox Belum Dianggap Patuh PP TUNAS, Beberapa Menyatakan Patuh

14 April 2026

Negosiasi Iran dan AS Disebut Akan “Segera” Diadakan Lagi di Islamabad, Iran Menolak Diatur Pengayaan Uranium dan Nuklirnya

14 April 2026

Sufi Wanita yang Akan Menggenggam Tauhid Demi Menagih Janji Allah

13 April 2026

Perundingan di Pakistan Gagal Mendikte Soal Program Nuklir, Trump Ancam Blokade Hormuz dan Serang Infrastruktur Sipil Iran

12 April 2026

Munas XVI IPSI 2026 Dibuka Presiden Prabowo, Pencak Silat Budaya Bangsa Menuju Olimpiade

11 April 2026
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Cyber
  • Kontak

© 2017 Avesiar.com - All Rights Reserved

  • Nasional & Opini
    • Politik
    • Hukum
    • Sosial
    • Budaya
    • HanKam
    • Daerah
    • Kesehatan
    • Edukasi
    • Opini
    • English Version
  • World
    • Economy
    • Politic
    • Law
    • Culture
    • Islam
    • Freedom for Palestine
    • Umra & Hajj
    • Tourism
  • Ekonomi
    • Bisnis & Wirausaha
    • Common
    • Islami
    • Property
    • CSR
  • Nusantara
    • Metro
    • Urban
    • Guru Kita
    • Prestasi
    • Profil Perubahan
    • Wisata
  • Healtech
    • Hidup Sehat
    • Riset
    • Teknologi
    • Gadget
  • Auto-Sport & Hobby
    • Aneka Olah Raga
    • Sepeda
    • Golf
    • Auto
    • Fauna & Flora Care
  • Change
    • Motivasi
    • Entrepreneurship
    • Pensiun Sehat
  • Syar’i
    • Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam
    • Muslim Fashion
    • Harmoni Keluarga
    • Griya Harmoni
    • Psikologi
    • Masjid & Activity
  • People & Activity
    • Figure
    • Community
    • Society
    • Social
    • Event
    • Podcast Ladders to be Leaders
  • KAMU KUAT
    • Podcast KAMU KUAT
  • Youth
    • Smart Teens
    • Students
    • School Story
    • Campuss Story
    • Millennial
  • Kuliner
    • Resto
    • Kaki Lima
    • Resep
  • City Jour & Video