Avesiar – Jakarta
Tim penyelamat mencari korban selamat hingga larut malam setelah gempa berkekuatan 6,0 skala Richter melanda pada hari Minggu yang menghancurkan seluruh desa di Provinsi Kunar, Afghanistan timur, yang berbatasan dengan Pakistan, dikutip dari The Guardian, Selasa (3/9/2025).
Disebutkan bahwa banyak yang masih terjebak di bawah reruntuhan rumah-rumah dari lumpur dan batu yang dibangun di lembah-lembah curam. Namun, tim penyelamat kesulitan mencapai daerah-daerah terpencil karena medan pegunungan yang berat dan cuaca buruk. Gempa bumi tersebut merupakan gempa dangkal, yang terjadi hanya enam mil di bawah permukaan bumi, yang diketahui memiliki dampak yang sangat merusak.
Pada hari Selasa, gempa bumi kedua, berkekuatan 5,5 skala Richter, juga pada kedalaman dangkal enam mil, mengguncang Afghanistan tenggara, memicu kekhawatiran akan kerusakan dan kehancuran lebih lanjut.
Juru bicara pemerintah Taliban,Zabihullah Mujahid, Selasa, mengatakan bahwa sebelum gempa kedua, jumlah korban tewas telah melampaui 1.411 orang dengan lebih dari 3.000 orang terluka.
Pihak berwenang mengatakan mereka memperkirakan jumlah korban akan terus bertambah setelah tim penyelamat mencapai lokasi yang lebih terpencil, banyak di antaranya masih tidak dapat diakses lebih dari 24 jam setelah gempa pertama terjadi.
Aseel, sebuah platform teknologi kemanusiaan dengan jaringan di seluruh Afghanistan yang telah mengirimkan tim ke daerah-daerah terdampak, mengatakan lebih banyak orang terluka dalam gempa kedua, yang diperkirakan akan meningkatkan jumlah korban tewas.
Sharafat Zaman, juru bicara Kementerian Kesehatan di Kabul, menyerukan bantuan internasional untuk mengatasi kerusakan tersebut. “Kami membutuhkannya karena di sini banyak orang kehilangan nyawa dan rumah mereka,” ujarnya.
Afghanistan telah menderita krisis ekonomi yang parah dan penarikan bantuan internasional yang melumpuhkan setelah pengambilalihan negara tersebut oleh Taliban pada tahun 2021. Kebijakan garis keras Taliban, seperti larangan pendidikan dan pekerjaan bagi perempuan, telah mengakibatkan penurunan tajam dalam pendanaan bantuan internasional dan bantuan kemanusiaan ke negara tersebut. (ard)













Discussion about this post