Avesiar – Jakarta
Perasaan senang terhadap sesuatu adalah hal wajar jika disikapi dengan wajar dan tidak berlebihan. Namun, bagaimana jika perilaku tersebut cenderung mengarah pada hedonisme yang membalikkan antara prioritas kebutuhan dan keinginan demi kesenangan semata.
Dikutip dari kamus bahasa Inggris Merriam Webster, hedonisme psikologis diterjemahkan sebagai teori yang menggiring perilaku, dan khususnya seluruh perilaku manusia, pada dasarnya dimotivasi oleh pengejaran kesenangan atau penghindaran rasa sakit.
Sedangkan menurut laman Positive Psychology, istilah “hedonisme” berasal dari bahasa Yunani kuno, hedone, yang berarti “kesenangan” (Weijers, 2011).
Misalnya, hedonisme motivasional mengklaim bahwa perilaku manusia terutama didorong oleh penghindaran rasa sakit dan pengejaran kesenangan (Moore, 2019).
Sementara itu, hedonisme etis menegaskan bahwa kesenangan adalah nilai kemanusiaan tertinggi, dan rasa sakit tidak bernilai. Gagasan ini mengarah pada perkembangan utilitarianisme, sebuah teori pengambilan keputusan etis yang menentukan apa yang baik dan benar berdasarkan kebahagiaan terbesar bagi sebanyak mungkin orang (Driver, 2022). Utilitarianisme mendasari prinsip-prinsip demokrasi modern (Riley, 1990).
Sebagaimana Jeremy Bentham (1789, Bab 1) nyatakan dalam kutipan terkenal dari bukunya, An Introduction to the Principles of Morals and Legislation,
“Alam telah menempatkan umat manusia di bawah kendali dua penguasa yang berdaulat, yaitu rasa sakit dan kesenangan. Hanya merekalah yang menentukan apa yang seharusnya kita lakukan, dan juga menentukan apa yang akan kita lakukan. Di satu sisi, standar benar dan salah, di sisi lain, rantai sebab dan akibat, terikat erat pada singgasananya.”
Orang-orang seperti itu akan fokus pada kesenangan sesaat. Ini adalah kebalikan dari kondisi yang disebut anhedonia. Seseorang yang secara sadar atau tidak sedang menganut hedonism kerap dikaitkan dengan perilaku konsumtif.
Pasalnya, mereka akan selalu berusaha mencari cara untuk mendapatkan kebahagiaan dan berusaha menghindari hal yang menyusahkannya.
Dilansir laman Hello Sehat, Kamis (29/8/2024), berikut ciri-ciri hedonisme dalam kehidupan sehari-hari:
1. Kurang empati
Karena ingin mencapai kebahagiaannya sendiri, seseorang yang berperilaku hedon cenderung tidak memedulikan kebahagiaan orang lain. Selama masih bisa merasakan kebahagiaan, mereka akan kesusahan untuk memahami perasaan orang lain atau berempati. Sifat ini bahkan mungkin membuat Anda berusaha menghindari seseorang yang sedang kesulitan karena khawatir akan ikut merasakan hal serupa.
2. Konsumerisme akut
Salah satu ciri utama dari hedonisme adalah konsumerisme akut alias konsumtif. Sifat ini akan mendorong Anda membeli barang-barang atau jasa yang diinginkan tanpa memperhitungkan kebutuhannya. Sebagai akibatnya, Anda mungkin justru kesulitan saat harus memenuhi kebutuhan sehari-hari. Namun, alih-alih menyusun skala prioritas, seseorang yang menganut hedonism mungkin rela berutang demi memenuhi keinginannya.
3. Mudah terpengaruh
Karena mengutamakan kesenangan sesaat, hedonisme biasanya membuat Anda mudah terpengaruh. Lebih jauh, sifat ini memudahkan Anda terbujuk dalam pergaulan buruk. Pasalnya, beberapa hal negatif sering kali menawarkan kebahagiaan instan, tetapi kemudian menimbulkan penyesalan.
4. Lari dari tanggung jawab
Hedonisme akan membuat Anda berusaha menghindari berbagai hal yang membuat Anda merasa tidak nyaman. Padahal, kebahagiaan dan rasa tidak nyaman adalah suatu hal yang bisa datang silih berganti dan merupakan hal yang normal. Alhasil, alih-alih berusaha mengatasinya, hedonisme cenderung membuat Anda lari dari tanggung jawab untuk menghindarinya.
Penyebab hedonisme
Studi yang diterbitkan dalam Jurnal Ilmiah Manajemen Informasi dan Komunikasi menyebutkan bahwa hedonisme bisa disebabkan oleh faktor internal dan eksternal.
1. Faktor internal
Sesuai namanya, internal berarti bahwa hedonisme muncul dari dalam diri orang tersebut, seperti pengalaman, kepribadian, dan keyakinan. Sebagai contoh, seseorang yang memiliki kepribadian egois akan lebih mementingkan dirinya sendiri sehingga menumbuhkan perilaku hedonisme.
2. Faktor eksternal
Faktor-faktor eksternal seperti pergaulan, didikan orang tua, dan pengaruh media sosial bisa menjadi penyebab perilaku hedon pada diri seseorang. Sebagai contoh, melihat gaya hidup mewah orang lain pada media sosial mungkin membuat Anda ingin melakukan hal serupa. Padahal, Anda mungkin tidak tahu apa yang sudah mereka korbankan atau usahakan untuk mencapai kemewahan tersebut.
Dampaknya
Hedonisme memang menawarkan kebahagiaan, tetapi hanya sesaat. Sebaliknya, perilaku hedonismyang dipelihara justru bisa menimbulkan berbagai dampak buruk seperti berikut.
• Berhasil memenuhi keinginan, tetapi kebutuhannya justru berantakan.
• Merugikan orang-orang di sekitar karena hanya ingin enaknya saja.
• Kesulitan mengumpulkan dana darurat karena selalu mengutamakan keinginan.
• Berisiko memberi pengaruh buruk pada orang lain.
• Terlilit utang, pinjol, atau korupsi.
• Dijauhi teman atau bahkan keluarga karena dinilai memberi dampak buruk.
Hedonisme juga membuat kualitas hidup menurun karena Anda cenderung mengabaikan aspek kehidupan lain yang tidak kalah penting, seperti kesejahteraan sosial dan emosional.
Mengatasi hedonisme
Langkah pertama untuk mengatasi hedonisme adalah menyadari bahwa Anda melakukannya. Tidak perlu malu untuk menyadarinya karena mengabaikannya justru bisa merugikan diri sendiri. Setelah lebih mengenali diri sendiri, berikut adalah beberapa cara yang bisa Anda lakukan untuk mengatasi sekaligus mencegah hedonisme.
1. Tentukan skala prioritas
Menyambangi tempat viral atau mendatangi konser idola tentu boleh dilakukan jika Anda sudah memenuhi semua kebutuhan harian. Jangan sampai Anda melakukan hal sebaliknya. Mengorbankan kebutuhan harian demi sesuatu yang sifatnya memberi kebahagiaan sesaat bisa membuat Anda merasa kesulitan di kemudian hari. Oleh karena itu, sebaiknya buatlah skala prioritas.
2. Buat rencana keuangan
Setelah mendapat gaji atau jatah uang bulanan dari orang tua, usahakan untuk membuat rencana keuangan. Dengan begitu, Anda akan lebih mudah untuk mengatur pengeluaran dan menahan diri dari hedonisme. Supaya rencana keuangan berjalan lancar, lakukanlah pencatatan uang masuk dan keluar.
3. Tentukan target jangka panjang
Apakah Anda sedang berencana membeli laptop, rumah, atau kebutuhan lain yang nominalnya cukup besar? Dalam kondisi tersebut, Anda harus rela mengencangkan ikat pinggang. Jika dibiarkan seperti biasanya, Anda mungkin harus mengorbankan dana darurat.
4. Cari sumber kebahagiaan lain
Uang memang merupakan salah satu sumber kebahagiaan, tetapi bukan satu-satunya. Jika Anda merasa sudah terlalu banyak mengeluarkan uang untuk hal tersebut, cobalah mencari sumber kebahagian lainnya. Tanpa disadari, hal-hal kecil seperti duduk di taman, membaca buku, atau tidur siang pada akhir pekan juga bisa menjadi sumber kebahagiaan.
(put/dari berbagai sumber)











Discussion about this post