Avesiar – Jakarta
Mojtaba Khamenei menyatakan bahwa Selat Hormuz yang strategis harus tetap tertutup, dan langkah tersebut dianggap sebagai pembalasan atas serangan militer yang terus berlanjut oleh Amerika Serikat dan Israel, dilansir TRT World, Kamis (12/3/2026).
Pemimpin tertinggi Iran yang baru dilantik itu dalam pesan publik pertamanya sejak menjabat setelah kematian ayahnya, Ali Khamenei, Mojtaba mengatakan pada hari Kamis bahwa publik Iran menuntut “pertahanan yang efektif dan menimbulkan penyesalan” yang berkelanjutan terhadap musuh-musuhnya.
Tidal hanya itu, ia juga mengisyaratkan bahwa Iran sedang mempertimbangkan untuk membuka front tambahan dalam konflik tersebut, khususnya di daerah-daerah di mana lawan-lawannya “memiliki sedikit pengalaman dan di mana mereka akan sangat rentan.”
Menurutnya, langkah-langkah tersebut dapat diaktifkan jika perang berlanjut dan bergantung pada kepentingan nasional Iran.
Mojtaba Khamenei memuji pasukan militer Iran karena menghentikan kemajuan musuh dan juga memuji kelompok-kelompok “perlawanan” sekutu di seluruh wilayah, termasuk para pejuang di Gaza, Yaman, Irak, dan kelompok Hizbullah Lebanon.
Para pendukungnya diminta untuk berpartisipasi dalam demonstrasi Hari Quds mendatang untuk menyoroti perlawanan terhadap Israel.
“Teheran akan “membalas darah warga Iran” yang tewas dalam konflik tersebut,” ujarnya.
Serangan AS dan Israel dikatakan pihak berwenang Iran telah menewaskan lebih dari 1.300 orang, termasuk mantan pemimpin tertinggi Ali Khamenei dan lebih dari 150 siswi, sementara lebih dari 10.000 lainnya terluka.
Gelombang serangan rudal dan drone diluncurkan Iran sebagai respon dengan menargetkan Israel dan negara-negara yang menampung aset militer AS, termasuk Yordania, Irak, dan beberapa negara Teluk. (ard)













Discussion about this post