Avesiar – Jakarta
Libur hari raya Idul Fitri yang cukup panjang sejak akhir Ramadhan membuat aktifitas belajar anak-anak berubah. Suasana liburan yang penuh dengan waktu bermain akan segera berubah menjadi suasana belajar menjelang akhir tahun pelajaran.
Jika saat liburan anak-anak lebih banyak bermain, tidur lebih larut, bangun tidur lebih siang, dan menonton televisi lebih lama, suasana tersebut akan berubah. Namun, perubahan drastis yang mungkin membuat mood mereka untuk sekolah rendah, bisa tetap diantisipasi dan diminimalisir dengan beberapa cara oleh para orang tua, terutama Ibu.
Dikutip dari laman Hai Bunda, Ahad (29/3/2026), para ahli dari rumah sakit anak Johns Hopkins membagikan beberapa langkah sederhana yang dapat membantu orang tua mempersiapkan anak kembali ke sekolah setelah libur panjang.
Ada 8 cara yang bisa dilakukan orang tua. Apa saja?
1. Mengatur ulang jadwal tidur untuk adaptasi
Jam tidur anak selama masa liburan biasanya menjadi lebih larut karena mereka tak perlu bangun pagi untuk sekolah. Untuk menghindari anak merasa kaget dan lemas, para ahli menyarankan agar orang tua mulai menggeser jam tidur dan bangun secara bertahap.
Ibu dan Ayah bisa melakukannya mulai dari satu hingga dua hari sebelum sekolah dimulai. Kegiatan ini akan melatih anak untuk terbiasa bangun pagi kembali dengan jam tidur yang mencukupi.
Anak yang sekolah di usia 5 tahun maupun 15 tahun harus memiliki jam tidur yang cukup di malam hari. American Academy of Sleep Medicine menyebutkan bahwa kurang tidur dapat membuat anak-anak dan remaja lebih rentan mengalami gangguan belajar di sekolah.
Tak hanya itu, kebiasaan kurang tidur juga meningkatkan risiko berbagai masalah kesehatan, seperti depresi, diabetes, hipertensi, hingga obesitas. Oleh karena itu, pastikan waktu tidur anak tercukupi sekitar sembilan hingga sepuluh jam setiap malam.
2. Mempersiapkan perlengkapan sekolah bersama anak
Ibu bisa mengajak anak untuk menyiapkan perlengkapan sekolah untuk menumbuhkan rasa antusias mereka. Ibu dan ayah bisa ajak memilih alat tulis, tas sekolah, atau perlengkapan bekal makan siang atau camilan.
Pastikan juga sudah mempersiapkan seragam-seragam yang akan digunakan. Persiapan ini membantu anak merasa lebih siap dan percaya diri menghadapi hari pertama sekolah.
3. Mempersiapkan mental dan emosi anak
Kesiapan mental tak kalah penting dari kesiapan fisik. Ibu bisa mencoba bertanya kepada mereka tentang apa saja yang akan dilakukannya untuk kesiapan menuju kenaikan kelas. Ibu juga bisa membahas kesiapan dan kegiatan yang menarik.
Jika anak terlihat cemas, Ibu bisa validasi perasaanya dan yakinkan bahwa perasaan tersebut wajar. Untuk anak yang masih kecil, membaca buku atau bermain peran tentang sekolah bisa membantu mengurangi kecemasan.
4. Menyajikan sarapan yang sehat
Sarapan pagi sangat berpengaruh pada energi dan konsentrasi anak di sekolah. Mulailah membiasakan anak dengan sarapan yang mengandung protein, sayuran, dan biji-bijian. Camilan sehat juga bisa membantu menjaga stamina anak sepanjang hari.
5. Gunakan kalender sebagai pengingat
Ibu juga bisa meminta anak menggunakan kalender untuk mencatat segala hal penting dari sekolah. Biasanya ini akan menjadi pengingat yang membantu anak lebih teratur, bertanggung jawab, dan tidak mudah lupa terhadap tugas maupun jadwal sekolahnya.
Untuk anak usia dini, Ibu bisa membuatkan kalender sederhana sebagai pengingat masuk sekolah. Sementara, anak yang lebih besar dan remaja bisa diarahkan untuk mencatat jadwal sekolah atau tugas di kalender pribadi atau ponsel mereka.
6. Menjalin kembali hubungan dengan teman sekolah
Bagi sebagian anak, kembali ke sekolah berarti kembali menghadapi tekanan sosial dan akademik. Ibu mungkin bisa membantunya dengan mendorong mereka untuk bermain bersama teman sekolah yang mungkin rumahnya dekat dengan rumah kita sebelum hari pertama masuk di mulai.
7. Mengingatkan jika tugas sekolah yang harus diselesaikan
Anak sering kali lupa bahwa ada pekerjaan rumah atau perlengkapan yang harus disiapkan setelah liburan. Tugas Ibu adalah membantu mengingatkannya lebih awal agar anak tidak merasa terburu-buru dan tertekan menjelang hari pertama sekolah.
8. Memberi dukungan emosional saat anak masih beradaptasi
Meski sudah dipersiapkan, anak mungkin tetap memiliki perasaan campur aduk saat kembali ke sekolah. Hal ini sangat wajar, sehingga dengan mendorong anak untuk mengungkapkan perasaan dan meyakinkannya, maka anak akan lebih percaya diri.
Selamat mencoba dan semangat ya, Ibu dan Ayah! (adm)













Discussion about this post