Avesiar – Jakarta
Segala anugrah yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala karuniakan kepada kita harus menjadikan kita pandai bersyukur dan menggunakannya di jalan kebaikan serta meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah.
Ketakwaan kita kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala adalah dengan melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Beribadah kepada Allah akan menjadi manifestasi ketakwaan kita.
Sebagaimana firman-Nya dalam Al-Qur’an:
“Wahai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dan orang-orang yang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS Al Baqarah ayat 21)
Sifat takwa juga akan membuat kita lebih peduli kepada sesama umat Islam secara khusus, dan semua manusia secara umum. Sehingga dalam keseharian kita, salah satu contoh implementasi ketakwaan kita adalah mempermudah urusan orang lain.
Dikutip dari laman Nahdlatul Ulama, Jum’at (4/9/2026), dalam materi Khutbah Jum’at, diulas bahwa jika hidup kita ingin dipermudah, maka mudahkanlah urusan orang lain.
Kalimat ini ternyata tidaklah sembarang kalimat. Tetapi disarikan dari salah satu sabda Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam yang diriwayatkan oleh Sahabat Abu Hurairah ra:
“Siapa yang memudahkan orang yang sedang kesulitan niscaya Allah mudahkan baginya di dunia dan akhirat.” (HR Imam Muslim).
Di dalam Kitab Al-Jawahirul Lu’luiyah Fi Syarhil Arbain An-Nawawiyah (Darul Minhaj, 1443 H / 2022 M, hal. 510), Syekh Muhammad bin Abdullah Al-Jurdani menerangkan bahwa kemudahan yang didapat di dunia dan akhirat tersebut, juga meliputi berbagai urusan dan apa yang diperlukan di dalam keduanya.
“Dipermudah baginya segala urusan dan keperluannya di dalam keduanya (dunia akherat). Sebagai balasan dan ganjaran baginya, sesuai dengan jenis amal perbuatannya,”
Perlu kita perhatikan, bahwa ketika ingin memudahkan urusan orang lain, hendaknya semua itu dilakukan dalam perkara kebaikan. Karena kita tidak boleh meremehkan kebaikan sekecil apa pun.
Menata sandal di masjid agar saudara kita mudah menemukannya ketika pulang pun termasuk kebaikan. Begitu pula dalam perkara yang lebih besar, seperti seorang pemimpin yang membuat kebijakan yang tidak menyusahkan rakyatnya.
Bahkan dalam pekerjaan kita sehari-hari, seperti seorang polisi yang membantu orang menyeberang dan mengatur lalu lintas agar tidak terjadi kemacetan, semuanya merupakan bentuk kebaikan.
Jangan menunggu memiliki kedudukan atau harta untuk berbuat baik. Karena setiap kita memiliki kesempatan untuk memudahkan urusan orang lain, dan setiap kebaikan itu insyaallah bernilai di sisi Allah.
Perintah untuk memudahkan orang lain dan juga saling membantu dalam kebaikan ini juga telah termaktub dalam Al-Qur’an. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
“Tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah sangat berat siksaan-Nya.” (QS Al-Maidah ayat 2)
Dari ayat tersebut, KH Bisri Mustofa dalam Tasir Al-Ibriz Juz 6 hal. 270 mengartikan larangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan aniaya. Tindakan dosa dan aniaya ini semisal, orang yang memberi suap untuk memudahkan atau meloloskan orang lain melakukan kejahatan.
Bersekongkol dalam hal urusan atau perbuatan merusak alam akan mendapatkan balasan dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Oleh karena itu, bahwa kalimat mempermudah urusan orang lain ini, tidaklah kita telan mentah-mentah. Tetapi dapat kita laksanakan dalam hal kebaikan.
Sudah semestinya kita hidup berdampingan dan saling peduli satu sama lain. Apabila ada orang lain yang mengalami kesulitan, hendaknya kita ikut membantu sesuai dengan kapasitas dan kemampuan kita. Salah satunya dengan mempermudah orang lain, dan membuat mereka merasa bergembira.
Hal ini selaras dengan sabda Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam yang diriwayatkan oleh Imam Thabrani dari Abdullah bin Umar ra. Hadits ini termaktub pula dalam kitab Nashaihul Ibad (Syekh Muhammad Nawawi bin Umar Al-Bantani Al-Jawi, Nashaihul Ibad, hal. 4):
“Hamba yang paling disukai oleh Allah adalah orang yang paling banyak memberi manfaat kepada manusia. Dan amalan yang paling utama adalah memasukkan kegembiraan ke dalam hati orang mukmin, dia usir rasa lapar dari orang mukmin atau dia hilangkan kesusahan dari orang mukmin atau dia bayarkan hutang bagi orang mukmin.”
(put)











Discussion about this post