Avesiar – Bogor
Lele sebagai salah satu jenis ikan air tawar memang sangat digandrungi oleh masyarakat secara umum. Selain rasa dagingnya yang manis dan gurih, harga ikan bergizi tinggi inipun di pasaran juga sangat terjangkau.
Bagi Uung Gantira, seorang pensiunan dini PNS Kementerian Kelautan dan Perikanan, budi daya Lele, ternyata menjadi tambatan wirausahanya. Namun, Lele yang dibudidayakan oleh Uung bukan untuk dijual dalam kondisi hidup seperti ke pengepul atau warung-warung makan, dia bersama istrinya mengolah Lele hasil panen menjadi Lele berbumbu kemasan.
Ide ini sebagai jawaban untuk kebutuhan rumah tangga jaman sekarang yang serba instan. Produk tersebut memudahkan konsumen menikmati Lele berbumbu yang mereka produksi dengan tinggal menggoreng saja kapanpun dibutuhkan. Uung dan istrinya Mayang Saliguri menamakan produk tersebut “Lele Bumbu Bu Mayang”.
Usaha Lele tersebut, katanya, diikhtiarkan sebagai usaha inti untuk menopang ekonomi keluarga sejak 2017. Sehingga perbaikan dilakukan setiap saat agar produk bisa menyesuaikan kebutuhan konsumen.
Lulusan ITB (Jurusan Teknik Kelautan) angkatan 1994 ini mengakui bahwa sejak resign sebagai PNS, dia mulai berpikir usaha apa yang bisa ditekuni dengan memanfaatkan lahan yang dimiliki di rumahnya. Menurut dia, ada beberapa wacana yang mengusulkan usaha budi daya Lele, namun awalnya dia tidak tertarik karena berasumsi bahwa Lele itu pakannya banyak dari limbah.
“Tapi setelah mengikuti sebuah pelatihan Lele Bioflok yang menggunakan kolam terpal, di mana pakannya higienis yaitu pakan dari plet dan tanaman air, saya tertarik. Karena saya berprinsip bahwa dalam budi daya itu harus higienis serta dari pakan yang higienis pula,” kenangnya saat diwawancara secara online oleh avesiar.com.

Namun karena lahan yang dimiliki tidak terlalu besar, lanjut lulusan S2 UGM jurusan Manajemen Keuangan dan S2 University of Wollongong, Australia (jurusan Master of Maritime Policy) angkatan 2006 ini, maka menurut perhitungan kalau Lele full pelet dan tanaman air, jika dijual ke pengepul tidak akan masuk harganya.
Agar harganya bisa masuk atau untung, kata dia, perlu diolah hingga memiliki nilai tambah dan dibuatlah Lele Bumbu dengan merek “Lele Bumbu Bu Mayang”.
Sebelum bisa bertahan dengan cara budi daya saat ini, kata Uung, suka dukanya adalah pada saat memulai budi daya Lele Bioflog, kematiannya sangat besar. Bahkan dia pernah menebar bibit Lele sebanyak 3000 ekor dan mati semuanya.

Semangatnya yang kuat ini juga karena sang istri mendukung sepenuhnya dan ikut membantu dalam mengembangkan ide-ide usaha selanjutnya.
“Setelah terus-menerus mencoba dengan sistem bioflog ini, dari 12 kolam yang dimiliki, 1 kolam berhasil panen. Sedangkan 11 kolam lainnya gagal. Setelah memperhitungkan semuanya, akhirnya saya mengganti sistem budi daya tidak lagi sistem bioflog, tapi menggunakan sistem booster. Yaitu air sering diturunkan untuk membuang kotoran ikan yang mengendap di dasar,” papar ayah 1 putra dan 2 putri itu.

Sedangkan untuk pakannya, lanjut Uung, tetap sesuai prinsipnya semula, menggunakan pakan higienis berupa pelet dan tanaman air alami atau Lemna.
“Khusus pemasaran produk, sebenarnya dari awal kami sudah menjual secara online lewat media sosial dan Tokopedia. Sejak pandemi Corona ini ada kenaikan penjualan. Mungkin karena para konsumen sudah mulai terbiasa dengan pembelian via online,” ujar pria yang tinggal di Citayam, Bogor, Jawa Barat ini..
Awalnya, terang Uung, dia dan istri menargetkan para konsumen yang tidak suka Lele. Mereka berusaha meyakinkan bahwa Lele Bumbu Bu Mayang berbeda dari apa yang mereka bayangkan, yaitu budi daya Lele yang sebelumnya dianggap kurang higienis.
“Kami jelaskan bahwa pakannya higienis yang berasal dari Pelet dan tanaman air alami Lemna. Setelah mereka mencoba produk Lele Bumbu Bu Mayang, mereka mulai menjadi pelanggan tetap kami. Sedangkan bagi yang sebelumnya sudah suka Lele, saat mencoba Lele Bumbu Bu Mayang, mereka memiliki sensasi lain karena rasanya beda dari Lele yang biasa mereka konsumsi,” terangnya penuh semangat.
Menurut Uung, dalam pandemi saat ini, realita yang harus dihadapi adalah memperluas jaringan pemasaran dengan bergabung berbagai grup Whattsapp (WA) pemasaran, baik tingkat desa, kecamatan ataupun kabupaten.
Uung dan istri juga bergabung dengan berbagai aplikasi online yang ada seperti Facebook, Instagram, Tokopedia, ataupun Shopee. Nama mereka di social media menggunakan nama “Uung Gantira” dan “Mayang Saliguri”. Biasanya, kata dia, pelanggan mengetahui informasi itu dari apa yang mereka posting-kan tentang Lele Bumbu Bu Mayang.
“Untuk saat ini omsetnya belum besar. Seminggu masih 50 kilogram untuk sekali olah. Ke depannya diharapkan budi daya Lelenya makin efisien dan efektif, sehingga bisa memproduksi lebih banyak lagi. Dan kalau sudah menemukan sistem yang optimal dan bisa dibakukan, diharapkan bisa ekpansi juga,” kata Uung optimis.
Untuk saat ini, dia mengakui usaha masih dijalankan berdua saja dengan sang istri. Dia berharap segera mendapatkan SOP (standard operational procedure) yang tepat, sehingga bisa merekrut karyawan untuk pengembangannya. (Ave Rosa A. Djalil)













Discussion about this post