Avesiar – Jakarta
Sombong adalah salah satu amalan yang tercela, akhlak yang buruk. Karena itu, beberapa kali kita akan menyaksikan bahwa buah dari kesombongan tersebut dibalas tunai oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Dikutip dari Suara Muhammadiyah dalam edisi khutbah, Ahad (29/1/2023), terdapat banyak ayat-ayat Al Qur’an dan hadits yang berisi tentang bahaya dari sombong.
Jika ada yang disebut sebagai ‘bapak kesombongan’, pelopor sombong sepanjang masa adalah Iblis. Karena makhluk ini adalah yang pertama dibayar tunai karena kesombongannya. Iblis adalah makhluk yang menolak perintah Allah Subhanahu Wa Ta’ala untuk sujud kepada Adam alaihissalam karena menganggap dirinya lebih baik daripada Adam alaihissalam. Balasan tunai yang diterima Iblis adalah dia diusir Allah Subhanahu Wa Ta’ala dari surga seketika itu juga, padahal sebelumya Iblis adalah penghuni surga bersama para malaikat. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,
“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam,” maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir.” (QS. Al Baqarah [2]: 34)
Lalu ada Namrud, Sang Raja Zalim di zaman Nabi Ibrahim alaihissalam. Dengan angkuh dia menolak kebenaran dakwah Nabi Ibrahim alaihissalam kepada tauhid yang lurus, dia bahkan dengan kesombongannya mengaku sebagai tuhan semesta alam. Maka tersebab karena kesombongannya itu dia dibinasakan oleh Allah alaihissalam dengan mati terhina, menderita oleh seekor nyamuk yang masuk ke dalam kepalanya.
Ada pula Firaun sang penguasa Mesir. Meskipun telah berkali-kali melihat secara nyata mukjizat yang dibawa Nabi Musa alaihissalam kepadanya. Juga melihat berbagai azab yang diturunkan Allah di kerajaannya. Tapi dirinya tetap teguh dalam kesombongan. Merendahkan dan memperbudak orang-orang Bani Israil. Maka dia pun dibinasakan Allah Subhanahu Wa Ta’ala dengan tenggelam di laut bersama bala tentaranya.
Kesombongan Abu Lahab menolak dakwah Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam juga diganjar kontan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Setelah peristiwa Badar, orang kafir yang masih termasuk paman Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam tersebut menderita penyakit bisul yang sangat busuk baunya sehingga tidak ada orang yang mendekat hingga ajalnya.
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda,
“Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji sawi.” Ada seseorang yang bertanya, “Bagaimana dengan seorang yang suka memakai baju dan sandal yang bagus?” Beliau Shallallahu Alaihi Wasallam menjawab, “Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan. Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain.” (HR. Muslim)
Hadits di atas menerangkan bahwa kesombongan setidaknya terdiri dari dua macam, yang pertama yaitu sombong kepada kebenaran dan yang kedua yaitu sombong kepada makhluk Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang lain.
Menolak kebenaran adalah dengan berpaling dari-Nya serta tidak mau menerima-Nya. Sedangkan meremehkan manusia yakni memandang rendah orang lain dan menganggap dirinya lebih tinggi dibandingkan dengan orang lain tersebut.
Dalam satu hadits qudsi Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,
“Kesombongan adalah selendangku, keagungan adalah sarungku. Barang siapa yang mengusik aku dalam dua hal ini maka aku akan lemparkan dia ke dalam neraka.” (HR. Ahmad)
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
“Dan janganlah kamu memalingkan wajah dari manusia (karena sombong) dan janganlah berjalan di bumi dengan angkuh. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri.” (QS. Luqman [31]: 18)
Hendaklah sebagai seorang muslim kita mengingat baik-baik bahwa kesombongan itu bisa disebabkan karena banyak hal. Harta dan kekayaan dapat menimbulkan kesombongan. Pangkat dan jabatan juga dapat menyebabkan kesombongan. Gelar pun dapat menyebabkan timbulnya kesombongan.
Begitu pula dengan ilmu juga dapat menumbuhkan rasa kesombongan. Maka sudah selayaknya kita selalu bertakwa kepada Allah SwT dan memohon kepada-Nya agar menjauhkan sifat dan sikap sombong dari hati kita. Karena apabila kita sampai meninggal dalam keadaan sombong niscaya di akhirat nanti Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan menjumpai kita dalam kondisi Allah Subhanahu Wa Ta’ala murka. Nauzubillah. (adm)













Discussion about this post