• Nasional & Opini
    • Politik
    • Hukum
    • Sosial
    • Budaya
    • HanKam
    • Daerah
    • Kesehatan
    • Edukasi
    • Opini
    • English Version
  • World
    • Economy
    • Politic
    • Law
    • Culture
    • Islam
    • Freedom for Palestine
    • Umra & Hajj
    • Tourism
  • Ekonomi
    • Bisnis & Wirausaha
    • Common
    • Islami
    • Property
    • CSR
  • Nusantara
    • Metro
    • Urban
    • Guru Kita
    • Prestasi
    • Profil Perubahan
    • Wisata
  • Healtech
    • Hidup Sehat
    • Riset
    • Teknologi
    • Gadget
  • Auto-Sport & Hobby
    • Aneka Olah Raga
    • Sepeda
    • Golf
    • Auto
    • Fauna & Flora Care
  • Change
    • Motivasi
    • Entrepreneurship
    • Pensiun Sehat
  • Syar’i
    • Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam
    • Muslim Fashion
    • Harmoni Keluarga
    • Griya Harmoni
    • Psikologi
    • Masjid & Activity
  • People & Activity
    • Figure
    • Community
    • Society
    • Social
    • Event
    • Podcast Ladders to be Leaders
  • KAMU KUAT
    • Podcast KAMU KUAT
  • Youth
    • Smart Teens
    • Students
    • School Story
    • Campuss Story
    • Millennial
  • Kuliner
    • Resto
    • Kaki Lima
    • Resep
  • City Jour & Video
No Result
View All Result
No Result
View All Result
Home Nasional & Opini Edukasi

Prof Andi: Kampus Dibangun dengan 3 Pendekatan dan Diperlukan Perjuangan untuk Internasionalisasi

Rektor Universitas Mercu Buana Prof. Dr. Ir. Andi Adriansyah, M.Eng, dalam Sebuah Wawancara Khusus

by Ave Rosa
23 Agustus 2023 | 02:59 WIB
in Edukasi
Reading Time: 17 mins read
A A
Prof Andi: Kampus Dibangun dengan 3 Pendekatan dan Diperlukan Perjuangan untuk Internasionalisasi

Rektor Universitas Mercu Buana Prof. Dr. Ir. Andi Adriansyah, M.Eng, Foto: istimewa

Avesiar – Jakarta

Siang itu sekitar pukul 14.00, kami bertemu di ruang kerjanya yang cukup luas, usai pria kelahiran Jakarta, 27 Februari 1970 itu memimpin beberapa rapat. Kebetulan, tidak sulit membuat janji dengannya. Mungkin juga ini yang disebut rejeki silaturrahmi.

Maklum, dengan jabatan baru yang belum genap 1 tahun disandang, tentu hari-harinya sangat sibuk sekali. Memetakan dan melakukan berbagai kordinasi strategis dalam memimpin sebuah institusi pendidikan yang tergolong besar dengan jumlah belasan ribu mahasiswa dan ratusan dosen yang berada di bawah kendalinya.

Dengan pembawaan sederhana dan hangat dalam bertutur kata, Rektor Universitas Mercu Buana Jakarta Prof. Dr. Ir. Andi Adriansyah, M.Eng, bersemangat saat diwawancara secara khusus oleh wartawan senior Ave Rosa A. Djalil, baru-baru ini, perihal pikiran dan program untuk membangun institusi pendidikan yang dipimpin saat ini.

Sekedar info, penyuka ketupat sayur Padang ini adalah seorang yang berkecimpung di bidang teknologi dengan background teknik elektro, biasa dikenali sebagai orang-orang yang berpatokan pada hal logik dan eksak.

Ia, seorang lulusan S3 jurusan Robotik Mekatronika, Fakulti Kejuruteraan Elektrikan, Universiti Teknologi Malaysia, lulus 2007, yang kalau dibayangkan, adalah seorang yang serius, kaku, atau mungkin berwajah dingin. Namun, semua perkiraan itu musnah setelah bertemu.

Ayah dari 4 putra itu mengawali jawabannya soal jabatannya saat ini di mana ia harus berkutat dalam institusi yang majemuk. Pertama Mendapat kepercayaan sebagai rektor, pria yang akrab disapa Prof Andi itu mengakui sebenarnya tidak pernah ada cita-cita jadi rektor.

“Cita-cita saya lebih pada kemampuan akademik. Mulai dari S1, S2, dan S3. Dan mungkin agak sedikit berbeda dengan rektor-rektor sebelumnya. Memang beberapa rektor ada yang berlatarbelakang insinyur. Kebanyakan insinyur, ketika mereka mengambil S2 dan S3, mereka mengambil manajemen. Mungkin hampir 80 persen lah. Para insinyur itu, tahap berikutnya ketika berkarir mengarah pada manajerial. Karena sebagian besar praktek atau implementasi di sebuah sistem. Apa saja, perguruan tinggi, manufaktur, produksi, social juga, ujung-ujungnya adalah kemampuan manajerial,” terangnya mengawali jawaban pertanyaan wartawan Avesiar.com.

Bacaan Terkait :

Pendidikan Kita Harus Terukur dan Terstruktur, 9 Tahun Pendidikan Karakter Dibarengi Soft Skill serta Professional Attitude Mahasiswa

Kampus Terbanyak Raih Pendanaan Hibah LLDIKTI III, Mercu Buana Semakin Antusias

Mercu Buana – Students Learning and Support Center Diresmikan, Fokus Skill Bahasa Inggris Mahasiswa dan Dosen

Mahasiswa Mercu Buana Dhani, Dinda, dan Angel Meraih Beasiswa IISMA 2024

Akreditasi Unggul untuk Prodi Teknik Sipil dan Elektro Universitas Mercu Buana

Raih Akreditasi Unggul, Prodi Akuntansi Universitas Mercu Buana Semakin Berkualitas

UniRank Menempatkan Universitas Mercu Buana PTS Terpopuler ke-2 Facebook dan ke-5 Instagram

Load More

Menurutnya, jika kita melihat para pejabat itu ujungnya bertitel MM (magister manajemen, red), karena mereka mempersiapkan diri untuk masuk ke jenjang manajerial atau memimpin. Secara keilmuan masuk pada manajerial, leadership, dan sebagainya. “Karena memang itu artinya punya cita-cita. Saya sendiri tidak. Saya memang basic S1, S2, dan S3 itu sejalur. Orang bilang linier. Kalau lihat pengalaman kuliah, ya semua ketemunya matematik,” beber pria yang pernah menjabat Ketua Program Studi Teknik Elektro, Fakultas Teknologi Industri UMB (1998-2001) itu.

“Ya matematis lah. Matematis implementasi atau matematika murni. Pernah saat S3 itu pernah dapat 6 SKS itu matematika murni, diajar oleh seorang professor. Hanya begini, Saya bersamaan proses jenjang akademik dan proses jenjang manajerial. Tamat S2 saya menjadi Kaprodi, kemudian tamat S3 saya jadi Wakil dekan, dan seterusnya,” lanjutnya.

Diakuinya, ada semacam sinkronisasi  antara keilmuan yang matematis serta dasar pada logic dan eksak itu dengan tugas dan jabatan fungsional. Jadi ilmu manajerialnya berdasarkan pengalaman saja. Pengalaman sehari-hari. Bukan karena keilmuan. Dan itu jenjangnya naik terus. Dari wakil dekan, ketua pusat, sampai kepada ketua penjaminan mutu, yaitu sebelum menjadi Rektor.

“Nah, pengalaman inilah yang akhirnya memberikan masukan kepada saya tentang manajerial perguruan tinggi. Dan ketika dibuka peluang atau lowongan menjadi Rektor, itu sebenarnya juga nggak niat banget. Itu dari sisi perjalanan keilmuan. Tapi kalau mau jujur, keilmuan saya kalau ingin didekatkan dengan matematis, ya matematika real matematis. Kalau mau didekatkan pada sistem non-matematis, ini bisa dipraktekkan. Ilmu saya kan ilmu teknik kendali. Real-nya memang kendali di manufaktur, di proses, dan lainnya. Tapi dia secara proses sama di system mana saja. Termasuk mengendalikan keuangan, mengendalikan system. Karena prinsip pengendalian itu kan target dan mencapai target,” terangnya.

Foto istimewa

Ditambahkannya, ilmu inilah yang mau nggak mau kepakai saat ini. Prof Andi mencapai target manajerial perguruan tinggi sesuai standar nasional dari Kemendikbud, serta berbagai aturan dan regulasi, sebagai target. Baru kemudian kami rinci bagaimana mencapai target .

Setelah itu, bagaimana mempercepat pencapaian target. Jadi walaupun ilmunya ilmu eksak,  tetapi dia bisa diimplemetasikan pada ilmu social seperti manajerial pendidikan tinggi. Jadi kembali ke awal, bukan sebuah cita-cita, tapi perjalanan hidup saja.

“Panggilan untuk ikut kontestasi adalah karena jabatan saya terakhir adalah direktur penjaminan mutu. Sistem penjaminan mutu internal. Nah, dari sistem penjaminan mutu adalah ada bagaimana, pertama menjaga mutu, lalu menjalankan standar-standar, dan seterusnya. Saya menjadi direktur penjaminan mutu yang mengendalikan mutu semua system di kampus ini dari mulai 6 fakultas, lalu seluruh biro, lalu seluruh pusat-pusat yang ada. Dari situlah saya memahami bagaimana sebuah pendidikan tinggi seharusnya,” ujarnya.

Inilah yang akhirnya ketika dibuka lowongan menjadi rektor, Prof Andi pikir, saya punya modal, saya punya dasar. Maka saya terdorong untuk mengajukan sebagai calon rektor. Jadi basic-nya adalahnya kemampuan yang coba untuk diimplementasikan.

Ketika ditanya mengenai apakah masuk dalam kontestasi punya cita-cita tertentu untuk membangun kampus, ia mengakui membuat rencana dengan 3 pendekatan. Pendekatan pertama, Pendekatan Tata Kelola. Yang kedua adalah Pendekatan Prestasi. Dan ketiga adalah Pendekatan Reputasi.

“Ini saya coba rancang berurutan, tetapi juga tidak saklek ya. Dia bisa juga secara fleksibel atau paralel. Bahwa tidak mungkin sebuah proses berhasil mencapai tujuannya tanpa tata kelola yang baik. Maka inilah yang menjadi target kami 1 tahun berjalan ini. Ketika mulai mengajukan pencalonan, lalu mulai membuat coret-coretan Visi dan Misi. Diajukan sebagai persyaratan. Kan kita harus mengajukan Visi, Misi, dan Rencana Program. Nah, dari tata kelola yang coba kami rapikan, baru kami naikkan itu tadi Prestasi Akademik,” paparnya.

Jadi target 1 tahun pertama adalah perbaikan Tata Kelola. Makanya beberapa saat ini ada pergantian kepemimpinan, ada pelantikan pejabat baru, dan lain sebagainya. Harapannya tahun ini stabil.

Ketika ditanya apakah pergantian dan pelantikan sesuai periode jabatan atau tidak. “Kami berkonsultasi ke yayasan mengenai hal ini. Memang tahap pertama tidak berdasarkan periode. Jadi setelah rektorat selesai, tahap pertama adalah dekanat atau fakultas. Waktu itu memang belum waktunya, tapi kami sepakat untuk memulai siklus baru. Maka fakultas kami rapikan, pejabat baru. Setelah itu masuk ke jurusan, kaprodi plus, kabiro, jadi bertahap. Sampai akhirnya sekarang. Mungkin hampir semuanya selesai,” jelasnya.

Pertama perubahan adalah berhubungan dengan sumber daya. Bagaimana mengenai divisi SDM sendiri yang menangani sumber daya.

“Kami rapatkan dulu dan sepakati dulu dengan para wakil rektor mengenai mekanisme yang perlu kami jalankan untuk memperbaiki tata kelola ini. Maka muncullah misalnya rekam jejak, dan seterusnya. Baru kami berhubungan dengan biro Sumber Daya Manusia. Jadi konsepnya dari kami rektorat, nah baru pelaksanaannya di biro SDM. Di situ nanti mulai penjaringan, penyaringan, tes psikologi, wawancara dan seterusnya. Konsepnya dari rektorat dan implementasinya dari biro SDM. Paling kami bedakan sedikit nama-nama unit kerja dan jobdesk-nya,” kata pria yang punya hobi baca buku itu.

Kedua adalah Prestasi Akademik. Pendekatan prestasi akademik dosen, kemudian prestasi akademiknya mahasiswa. Keduanya ini menjadi target UMB untuk dikembangkan. Prestasi dosen itu ada banyak. Namun yang paling terlihat secara berita adalah jenjang akademik atau jabatan. Dari dosen biasanya, sampai puncaknya dosen adalah profesor.

“Lalu kami menggerakkan dosen agar mereka berupaya mencapai jenjang tertingginya. Hal ini juga berhubungan dengan tunjangan. Kalau bahasanya teman-teman itu, ‘kalau dosen biasa setiap bulan hanya 1 kali klik, kalau guru besar bisa 3 kali klik (terima tunjangan, red)’,”ucapnya.

Universitas Mercu Buana berupaya untuk memotivasi dosen agar mereka bisa menaikkan jenjang jabatan akademiknya. Pada umumnya untuk semua dosen. Tapi, fokusnya pada dosen tetap. Namun begini, kenaikan jenjang dosen ini banyak kaitannya. “Misalnya dia harus membuat artikel ilmiah. Maka kami siapkan majalahnya.,” ujar Prof Andi.

Bagi seorang dosen untuk jenjang jabatannya naik itu melibatkan banyak proses dan banyak orang. Tapi ujungnya adalah kenaikan jenjang jabatan akademik, sehingga pertanyaan orang luar di luar kampus akan tanya, UMB punya berapa Profesor?

Saat ini, lanjutnya, ada 15 profesor di Universitas Mercu Buana. Sebelumnya terdapat 19 orang, namun beberapa keluar.

Berikutnya, beber Prof Andi, adalah prestasi mahasiswa yang perlu digenjot. Ada prestasi akademik, prestasi non-akademik, prestasi keorganisasian, dan macam-macam. “Ini juga sama seperti tadi. Perlu dana, perlu persiapan, perlu pembimbing, belum macam-macamnya. Terakhir UMB masuk prestasi tahun ini dengan mendapatkan 6 pendanaan hibah dari kemdikbud,” terangnya.

Enam pendanaan hibah ditambah 4 pendanaan kewirausahaan, dan 1 untuk keorganisasian. Biasanya tahun lalu 1. Ini coba melesat cukup banyak. Untuk pendanaan hibah untuk dosen, mungkin kami termasuk tertinggi untuk universitas swasta. Ada 18 yang penelitian dan 8 pengabdian.

“Jadi maksud saya, 2 hal ini harus dibangun, prestasi dosen dan mahasiswa harus selaras. Bahkan ada beberapa bareng. Dosen membimbing mahasiswa, atau dosen melibatkan mahasiswa. Syaratnya memang demikian, berapa mahasiswa yang terlibat. Dari program inilah kemudian kita masuk ke program ke-3, Reputasi dan Citra,” ucap Direktur Penjaminan Mutu UMB (2021-2022) itu.

Ini perannya ada di bagian humas. Tanpa pencitraan, orang tidak akan tahu reputasi Mercu Buana. Reputasi tersebut harus dicitrakan, disampaikan. Sehingga orang tahu bahwa ini kampus punya reputasi bagus.

Dan ini bukanlah hal yang sederhana. Perlu juga program rinci dari upaya-upaya mengangkat citra kampus ini.

Semua ini menjadi program jangka pendek pertama. Tata kelola, reputasi, dan prestasi. Jangka pendeknya yaitu 5 tahun. Target jangka panjangnya adalah internasionalisasi.

“Ini yang jadi target berikutnya. Meskipun kami sudah coba langkah-langkah awal, namun ini akan jadi fokus utama berikutnya. Menuju World Class University ini kami sudah mulai tahapan. Tahun lalu, kami sudah masuk QS ranking (publikasi tahunan peringkat universitas yang dilakukan oleh Quacquarelli Symonds, red) tingkat asia 700. Webometrics juga,” tegas Andi.

Perangkingan webometrics, menurutnya, juga lebih mudah dan sederhana. Karena hanya menghitung hints. Misalnya, web-nya di UMB ada berapa web, lalu berapa yang klik, berapa yang download, berapa yang upload, begitu.

“Dengan cara yang demikian hampir semua kampus bisa masuk. Sebenarnya yang bergengsi itu QS rangking dan THE rangking (Times Higher Education). Universitas Mercu Buana masih masuk 700+, tapi kelas dunia. Dan itu kita harus kerja. Harus ngasih respondent, mesti ngasih pengumuman, dan lain-lain. THE kami sudah daftar, tapi belum masuk. Mereka di atasnya QS, lebih detail lagi. Mereka menilai reputasi akademik, berapa persennya gelar doktor dan profesor, mahasiswa internasional yang berada di sebuah kampus, lalu profesor luar yang ada di kampus, Seperti itu. Mercu Buana sendiri terus berupaya mengundang professor dari universitas luar negeri untuk mengadakan kuliah tamu di sini. Namanya visiting professor,” terangnya.                                 .

Untuk program mahasiswa dari luar negeri, lanjutnya, UMB terdapat short course 10 hari dan ada yang 2 bulan. Itu tergantung. Ada juga yang 2 tahun. Program 2 + 2, yaitu 2 tahun di sini dan 2 tahun di sana atau kebalikannya. Nah, semakin banyak mahasiswa, dosen, atau pekerja luar, maka akan semakin tinggi nilai internasionalisasinya. Tapi kan orang luar negeri kan nggak mau ke sini kalau universitasnya nggak dikenal atau bereputasi.

“Untuk bisa kerja sama dengan kampus luar negeri biasanya kami awali dengan MoU terlebih dahulu. Kami awalnya dari kampus terdekat yaitu Malaysia. Untuk persyaratan tertentu, kami tidak memberlakukan hal tersebut sementara ini. Saat ini yang penting yaitu tentang peluang membuat MoU, maka akan kami jajaki. Dari MoU itulah kami harus merumuskan kegiatannya. Kalau MoU menurut saya formatnya adalah template lah. Nah, yang paling penting adalah bagaimana mengimplementasikan MoU tersebut. Dapat kita jadikan kegiatan usaha bersama,” ujar Prof Andi..

“Berapa lama targetnya? Mungkin kami masih panjang kali ya. Kami akan menaikkan dahulu dari 700+ ke 600+. Tahun ini belum naik. Dibutuhkan waktu mungkin sekitar 3-5 tahun untuk naik 100 ke atas dari peringkat 700 ke 600. Memang ini perkara yang tidak mudah.”  

Universitas Indonesia saja, menurutnya, bahkan selama 5 tahun masih di peringkat 200. Pertama kami belum mengukur kampus-kampus yang akan kami ajak kerja sama. Namun, di aturan Kemdikbud yang baru, kerja sama yang terbaik adalah dengan kampus-kampus yang sudah peringkat QS 100. Ini salah satu tantangan untuk mendekati mereka agar dapat bekerja sama.

“Memang tidak mudah, kecuali kita punya jaringan dan punya sesuatu yang ditawarkan dan menarik bagi mereka. Kami sudah mencoba di luar Malaysia, kami sudah coba ke Thailand dan kami sudah dapat 2-3 kampus di Thailand. Kami juga pernah ke Taiwan. Kami kerja sama dengan kampus-kampus di Cina sudah lama dan ada beberapa kampus yang pernah kerja sama. Dengan beberapa program seperti 2 + 2 atau S2, S3, dan lain sebagainya,” bebernya.

“Kami terus menaikkan kedekatan kerja sama. Efeknya apa, ya kembali ke tadi itu. Reputasi akademik meningkat dan prestasi akademik juga. Ini seperti sebuah lingkaran. Seperti snow ball effect, efek bola salju.“

Mengenai pendidikan tinggi. Prof Andi menjelaskan bahwa perguruan tinggi institusi peralihan dari pendidikan menengah ke pendidikan tinggi. Anak-anak kuliah sekarang ini masuknya pada generasi Z atau Gen Z. Mereka dikatakan melek digital. Jika membicarakan soal hal berbau digital, mereka sangat suka sekali.

Mencermati dunia nyata, peran digital itu penting sekali, namun belum bisa menjadi patokan karir seseorang setelah lulus. Lalu bagaimana Universitas Mercu Buana bisa meyakinkan dan membuat terobosan bahwa lulusan Mercu Buana bisa dengan mudah dipekerjakan di perusahaan. Hal tersebut ditanggapi Rektor UMB dengan beberapa langkah.

“Pertama, kami sudah sepakat bahwa kemampuan digital dasar adalah salah satu syarat calon lulusan. Kemampuan dasar digitalnya apa? Bahasa gampangnya ya missalnya kemampuan Microsoft Office. Sekitar penggunaan computer dasar. Itu satu. Sehingga tidak ada peluang mahasiswa tidak mengetahui pengetahuan digital dasar,” ucapnya.

Yang kedua adalah, lanjut Prof Andi, di UMB ada banyak aplikasi-aplikasi diperkuliahan yang wajib digunakan. Misalnya, absen. Absen digital. Mahasiswa harus tanda tangan. Mahasiswa harus mengiisi survey. Survey setiap akhir semester. Itu digital. Ada jaringan. Artinya dia harus paham proses-proses yang ada di kampus yang menggunakan aplikasi digital. Sistem Informasi Akademik, itu digital. Dia melihat absen, itu digital. Dia melihat KHS, itu digital. Dia melihat nilai semester, bahkan bimbingan dosen pembimbing atau tugas akhir ada itu Forum digitalnya di sistem aplikasi.

“Artinya, sudah dibiasakan. Secara alamiah proses-prosesnya menggunakan digital. Ketiga adalah banyak kegiatan yang menggunakan aplikasi digital. Kami ada lomba-lomba kreatifitas mahasiswa. Itu lomba-lomba disuruh untuk merancang system. Tidak hanya mahasiswa dari jurusan tertentu, tapi multidisiplin ilmu. Mereka bisa membuat system apa yang bisa ditawarkan untuk digunakan 1 -2 tahun ke depan,” tuturnya.

“Misalnya alat atau aplikasi pendeteksi pelecehan seksual yang baru-baru ini dibuat oleh mahasiswa kami. Terserah, pokoknya idenya bebas. Ini merangsang mereka untuk membuat aplikasi tertentu. Kalau lomba instagram, lomba bikin flyer itu biasa lah. Jadi sebenarnya walaupun tidak dalam bentuk mata kuliah, tapi lingkungannya disiapkan untuk bisa beradaptasi dengan teknologi digital.”

Sedangkan untuk jiwa kepemimpinan atau leadership yang juga dibutuhkan di dunia kerja, menurut Prof Andi, memang sudah 1 tahun lebih tidak ada Ospek. Dan memang tidak ada mata kuliah leadership. Yang ada yaitu Bela Negara yang dipandu marinir, ceramah-ceramah dari berbagai pihak. Berarti di situ pertama adalah persiapan mental, persiapan kepemimpinan dan lainnya. Jadi sudah nggak ada itu yang namanya kakak kelas neken-neken adik kelasnya.

Foto istimewa

“Kedua nanti itu ada jenjang organisasi kemahasiswaan. Ada latihan dasar mahasiswa, ada latihan manajemen mahasiswa. 3 level. Ini nanti bagi mahasiswa yang ingin jadi ketua organisasi mahasiswa, mau jadi anggota BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa), jadi anggota Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM). Jadi mereka dilatih. Tapi mahasiswa yang berminat banyak. Nanti mulai latihan dasar, lanjut ke latihan manajemen lanjutan lainnya,” terangnya.

“Jadi kemampuan manajerialnya dilatih di organisasi kemahasiswaan yang mereka ikuti. Ada yang di jurusan, ada yang di fakultas, ada yang tingkat universitas, ada yang sifatnya olahraga, ada yang sifatnya akademik. Misalnya ada UKM robotik, bahasa Inggris, ada yang tradisional, seni sampai paduan suara. Di situlah dilatih kemampuan manajerial, organisasi, leadership atau kepemimpinan ya di situ itu. Memang hanya mahasiswa tertentu yang masuk di organisasi itu.”

Mengenai supervisi agar paling tidak mereka bisa melakukan hal-hal seperti yang dilakukan orang di skala profesional, mereka awalnya prosesnya dari mulai pencalonan. Jadi membuat tim untuk proses pencalonan ketua. Anggaplah ketua himpunan mahasiswa. Kemudian mereka melakukan proses penyeleksian, sampai nanti mendapatkan hasil.

“Nah, di sinilah nanti mereka harus melaporkan ke unit atau Biro Kemahasiswaan. Biro Kemahasiswaan yang akan memantau proses pencalonan sampai keputusan. Setelah dipilih satu ketua dan kepengurusan, mereka harus membuat perencanaaan program kerja tahunan. Ini nanti mereka rapat dan berbagai macam lainnya, kemudian dilaporkan lagi ke Biro Kemahasiswaan. Sampai setiap program mereka membuat proposal dan pelaporan. Membuat kegiatan, lalu membuat laporan kegiatan. Setiap kegiatan. Sampai di ujung, mereka nanti membuat laporan pertanggung jawaban. Lalu musyawarah untuk pencalonan berikutnya. Jadi sistemnya dan tahapannya rutin dan intensif oleh Biro Kemahasiswaan.”

Ketika bicara tentang integritas anaka muda, Prof Andi menjelaskan bahwa di Visi Misi UMB itu ada kata-kata professional. Jadi UMB berusaha melahirkan lulusan professional. Nanti ujungnya adalah memenuhi persyaratan masyarakat professional yang global. Kami mendefinisikan profesionalisme dalam beberapa hal. Pertama, yaitu budaya kerja. Jadi mahasiswa, dosen, tenaga pendidikan harus memenuhi 6 budaya kerja. Di situ ada jujur, ramah lingkungan, dan sebagainya. Ada enam.

Jadi professional dengan memiliki budaya kerja. Dan ini harus dipegang kuat. Bahkan, setiap kami upacara dibacakan. “Budaya Kerja Universitas Mercu Buana”,  agar semua merasuk menjadi sebuah habit masing-masing.

“Kedua, kami memiliki Komisi Etik. Yang ini meliputi etik dosen, etik tenaga pendidikan, dan etik mahasiswa. Etik ini mulai dari bicara soal plagiasi. Apalagi sekarang kan gampang ya tinggal pakai AI (artificial Intelligence). Namun, kami mengatur masalah plagiasi. Misalnya, skripsi atau tugas mereka sebelum diserahkan dicek terlebih dahulu. Berapa persen kesamaannya. Semua dari S1, S2, S3. Jadi jika terjadi pelanggaran-pelanggaran akan masuk pada Komisi Etik,” sambungnya.

Kemdikbud, lanjutnya, mengeluarkan itu aturan tentang pelanggaran kekerasan seksual di kampus. Ada juga pelanggaran disiplin dan lain sebagainya. Kalau di daftar nilai UMB. Nama, Daftar Nilai, UAS dan macam-macam. Ada disiplin, ada kerja sama. Jadi, walaupun nilainya bagus, tapi disiplinnya nol, itu akan mempengaruhi penilaian. Paling tidak kami memiliki norma.

“Kalau bicara narkoba, kekerasan seksual, kami keras. Daripada 1-2 orang kita pelihara, malah mempertaruhkan citra dan macam-macam, lebih baik kami kembalikan ke orang tuanya. Itulah beberapa hal mulai dari Visi Misi, Budaya Kerja, lalu ada Komisi Etik, Penilaian, lalu Pelaksanaan Disiplin. Masalah skripsi, tugas, juga kami cek. Apakah ada kesamaannya. Kadang-kadang biasalah, ada tugas itu 1, yang lain sama semua jawabannya. Makanya kami perlu cek pakai software. Kalau sudah ketahuan sama, ya ngulang semua,” beber Prof Andi disusul tawa.

Sedangkan untuk meyakinan publik bahwa lulusan UMB layak diterima kerja atau layak berkontribusi ata memberikan sumbangsih di masyarakat. Prof Andi menyebut bahwa kompetensi hal yang utama.

Trus kedua, tadi itu, profesional. Dalam artian profesional dalam attitude, profesional juga keilmuannya. Dua itulah yang coba UMB tawarkan. “Makanya, Masjid yang ada di lingkungan kampus kami jadikan symbol juga. Sebagai sebuah upaya membangun sebuah attitude. Mahasiswa, dosen, tenaga kependidikan,” tegasnya.

“Kalau kompetensi akhirnya kami ada LSP (lembaga sertifikasi profesi). Jadi sebelum mahasiswa sidang, itu wajib melampirkan satu lembar sertifikat kompetensi. Caranya sebelum sidang, mahasiswa mendaftar ke LSP dengan memilih kompetensi yang sesuai dengan bidangnya. Nanti akan ada Uji Kompetensi pada mahasiswa yang mendaftar itu. Itu ada yang 1 hari, ada yang 2 hari prosesnya. Dan ada yang mesti kursus dulu 3 hari. Nanti baru ujian. Kompetensi sesuai jurusan yang diambil.”

Jadi, sambungnya, lulusan UMB punya sertikat kompetensi yang dikeluarkan oleh lembaga sertifikasi profesi (LSP) UMB yang resmi dengan stempel cap “Garuda” karena di bawah BNSP Walaupun itu hanya berlaku 4 tahun sejak ujian sidang mahasiswa. Nanti kalau mau diperpanjang ketika habis, bisa.

Berhubungan dengan keahlian Prof Andi seputar Robotik, apakah ada program tertentu di UMB yang berupaya membuat terobosan atau penemuan yang berkaitan dengan robotic?

“Sebenarnya pada aplikasi pekerjaan, sistem di robot ini adalah sistem yang menggunakan sense atau perasa, atau kita kenal dengan sensor. Bagaimana robot bisa tahu ada penghalang kalau ia tidak memiliki sensor,” terangnya.

“Inilah yang berusaha kami ciptakan di UMB bagaimana bisa saling menghargai. Dosen dan mahasiswa saling menghargai, bagaimana karyawan melayani mahasiswa. Kalau tidak pakai sistem rasa, ini akan menjadi hal yang rumit. Untuk harmonisasi antar dosen pun, setiap rapat antar pimpinan pun sering disampaikan. “Mohon para dekan membangun harmonisasi di internalnya agar terjalin harmonisasi”. Dan kami tidak bosan-bosannya menyampaikan di berbagai kesempatan.”

Secara implementatif, lanjutnya, UMB melakukan beberapa kegiatan-kegiatan. Misalnya lomba. Biasanya menjelang Oktober, ulang tahun UMB. Ada Rektor Cup. Banyak lomba, seperti olahraga voli, lomba penalty, futsal pun di penalty saja. Pesertanya dosen dan karyawan. Lomba panah. Kemudian lomba seni. Seperti Pensi atau pentas seni. Lalu kami juga adakan senam bersama. Hal-hal itulah yang dibuat untuk mencairkan suasana.

Rektor UMB yang menyukai makanan pedas dan bersantan itu mengatakan bahwa dia sendiri punya 2 program ke depan ini. “Program saya pertama adalah percepatan professor. Saat ini sudah masuk proses 10 profesor. Harapannya dalam tahun ini semakin banyak. Ini calon profesor yang baru. Sedang dicek dan dievaluasi. JIka ok dicek, akan keluar SK (surat keputusan) Kemdikbudristek,” ujarnya. 

“Kenapa saya mencoba mengejar target percepatan profesor? Ini memang nanti efeknya besar. Misalnya di Fakultas Ilmu Komunikasi (Fikom). Sudah ada 1 orang professor yaitu Prof Ahmad Mulyan, dan akan menyusul Bu Suraya. Ini akan bisa membuka jurusan S3 atau Doktor Komunikasi. Karena syaratnya ada 2 profesor. Nah, kalau ini sudah ada saja 2 profesor, tinggal buka saja jurusan S3 Fikom. Akan banyak efek lainya yang mengiringi. Dan untuk 1 profesor satu lagi ini targetnya akhir tahun ini bisa selesai,” tutur pria yang saat ini tengah menyukai bacaan sirrah nabawiyah itu.

Yang UMB persiapkan untuk mendorong terwujudnya percepat 10 profesor ini, imbuhnya, yaitu bimbingan.

“Beberapa coba kami bimbing, kurangnya apa yang perlu kami ketahui. Kami pun memberi sinyal lampu hijau, kalau butuh uang untuk bimbingan, kami beri uang untuk bimbingan. Ini akan mempercepat proses percepatan profesor ini. Kemudian beberapa sarana. Keperluan menulis artikel dan lain-lain. Termasuk juga mempersiapkan administrasi. Karena diperlukan SK dan macam-macamnya. Jadi intinya mendukung percepatan professor,” tegasnya.

“Selain S3 Fikom, ada lagi kami juga mau buka jurusan S3 atau Doktor Ilmu Elektro. Yang ini sudah dibentuk timnya. Karena di Teknik Elektro ini jumlah profesornya sudah 2 orang. Kemudian S3 atau jurusan Doktor Akuntansi.“

Yang kedua, sambungnya, ada yang telah ia rencanakan namun belum detail mempersiapkannya adalah perbaikan kurikulum. Hal tersbeut tentu sesuai dengan berbagai regulasi yang ada.

“Dasarnya adalah perubahan yang cepat. Misalnya, anggaplah yang paling gampang elektro. Dulu masih pakai komponen kecil-kecil, sekarang sudah ada simulasi. Memang harus beradaptasi dengan keadaan, teknologi, dan lain sebagainya. Ini jika tidak dbuat panduan perubahan kurikulum, khawatir nanti nggak up to date. Memang akan dibuat panduan perubahan kurikulum secara periodik,” ujarnya.

“Dulu setahu saya peraturannya per 4 tahun. Tapi sekarang 4 tahun bisa tidak mengejar perubahan yang terjadi. Mungkin perlu dipercepat. Karena di luar, dunia berubah cepat. Agar mahasiswa bisa beradaptasi dengan teknologi dan lingkungan. Jadi begini, ketika mahasiswa masuk tahun ini atau sekarang, kita harus memikirkan mereka 4 tahun ke depan. Ketika dia lulus, apa yang bisa dia jalankan.”

Di era kepemimpinannya, Prof Andi mengatakan bahwa ada tren standar pencapaian perguruan tinggi. Terutama berhubungan dengan simpatik publik. Misalnya berkaitan dengan trendsetter tertentu di eranya.

“Jadi sesuai dengan sejarah pendirian kampus ini, wawasan wirausaha akan menjadi pionir dalam kampus ini. Ini mau nggak mau harus membangunnya tidak hanya sekedar dengan kemauan saja, tapi juga menyiapkan semua infrastruktur, sarana, yang memang diperlukan untuk sampai ke sana. Makanya kita sekarang sudah punya S3 atau jurusan Doktor Manajemen. Makanya targetnya ada S3 Akuntansi dan sebagainya,” tuturnya.

Sebenarnya, imbuh Prof Andi, ada 2 tren. Pertama, tren teknologi. Kedua, tren komunikasi. Kedua tren ini tidak bisa kita nafikkan. Mereka juga harus menjadi pioneer. Berarti ia harus berpikir bagaimana mensinkronisasikan ketiga hal ini. Tetap bahwa pionir utamanya adalah usaha. Bahasanya, “semua harus dibisniskan”. Tinggal merangkul bagian dari teknologi dan bagian dari komunikasi.

“Karena bisnis tanpa komunikasi kan tidak ada apa-apanya. Teknologi juga kalau sendirian juga akan terlena dengan kesendiriannya. Ketiga ini dicoba disinkronisasikan. Yang teknik menjadi teknopreneur. Bukan sekedar jadi operator atau mandor. Tapi berpikir membuat market. Membuat produk dari yang sederhana sampai yang kompleks, yang bisa dipasarkan. Kemudian, komunikasi ini juga harus menciptakan produk. Produk yang memang bisa meniadi sistem untuk membangun, mendongkrak sebuah usaha. Misalnya, marketing communication atau marcomm, kehumasan yang mencitrakan produk, broadcasting. Tetap ujung-ujungnya adalah usaha,” jelasnya.

“Untuk mencitrakan sesuatu yang menarik dari kampus yang bisa mengundang minat publik, misalnya kami punya unit kewirausahaan khusus di kampus di bawah binaan seorang doktor bidang ekonomi. Itu sudah lama dan kami memang perlu kembangkan. Selama ini unit tersebut sudah berjalan. Mahasiswa diminta membuat proposal bisnis hingga diikutkan dalam lomba. Kalau lomba menang, dapat hadiah. Titik. Hadiah dalam bentuk rupiah misalnya 5 juta, lalu kemudian selesai.”

Namun, UMB ingin berpikir bukan hanya sampai di situ. Akan disiapkan melalui tahapan-tahapan hingga menjadi bisnis startup. Tahapan ada 4 langkah mulai mahasiswa membuat proposal sampai menjadi startup. Jadi memang ada tahap didanai oleh kampus. Dari mulai bimbingan, jadilah ide, kemudian diberi dana awal. Semacam incubator lah ya. Sampai bisa menjadi produk. UMB maunya demikian.

Selama ini hanya ikut lomba dan dapat hadiah, selesai. Paling jadi prototype atau contoh, lalu dapat hadiah. “Nah, kami ingin bukan sampai hadiah saja. Namun hingga kepembinaan dan pemodalan. Jadi produk ril, kemudian terus dipasarkan. Sampai dia menjadi startup yang dijalankan. Ini perlu dirancang. Kita akan coba aplikasikan segera,” tegas pemilik filosofi “bermanfaat bagi orang lain.

Untuk generasi muda, Profesor di bidang robotic ini juga berpesan agar banyak membaca sebagai sarana literasi.  “Karena membaca itu membuka wawasan baik tentang masa lalu, kini, dan masa yang akan datang. Tanpa membaca seseorang akan seperti Katak dalam Tempurung. Bacaan positif tentunya. Kedua, banyak mencoba. Jangan takut gagal, coba saja. Literasi dan experience,” ujar penyuka kerja sama itu. (Ave Rosa A. Djalil)

Tags: InternasionalisasiProf Andi AdriansyahProgram UniversitasUniversitas Mercu Buana
ShareTweetSendShare
Previous Post

Konser HUT Kemerdekaan RI Medco Energy Tampilkan Candra Darusman, Andien, dan Michael Pianis Disabilitas

Next Post

Menjawab Komunikasi Real-time Lintas Bahasa, Meta Meluncurkan SeamlessM4T

Mungkin Anda Juga Suka :

TikTok Lapor Tutup 780 Ribu Akun Anak dan Roblox Belum Dianggap Patuh PP TUNAS, Beberapa Menyatakan Patuh

TikTok Lapor Tutup 780 Ribu Akun Anak dan Roblox Belum Dianggap Patuh PP TUNAS, Beberapa Menyatakan Patuh

14 April 2026

...

Pembatasan Penggunaan Ponsel di Bawah 16 Tahun Dimulai 28 Maret Sebagai Gerakan Nasional Melindungi Anak Indonesia

Pembatasan Penggunaan Ponsel di Bawah 16 Tahun Dimulai 28 Maret Sebagai Gerakan Nasional Melindungi Anak Indonesia

13 Maret 2026

...

Perpres Sekolah Unggul Garuda Baru dan Transformasi Sudah Ditandatangani Presiden, Cek Informasinya

Perpres Sekolah Unggul Garuda Baru dan Transformasi Sudah Ditandatangani Presiden, Cek Informasinya

24 Februari 2026

...

Komisi Perempuan, Remaja dan Keluarga (KPRK) MUI Luncurkan Program Literasi Keuangan Syariah “Si Cantik”

Komisi Perempuan, Remaja dan Keluarga (KPRK) MUI Luncurkan Program Literasi Keuangan Syariah “Si Cantik”

16 Februari 2026

...

Masih Dibuka Hingga 30 Januari, Syarat dan Tahapan Pendaftaran Beasiswa PBNU ke Maroko 2026

Masih Dibuka Hingga 30 Januari, Syarat dan Tahapan Pendaftaran Beasiswa PBNU ke Maroko 2026

27 Januari 2026

...

Load More
Next Post
Menjawab Komunikasi Real-time Lintas Bahasa, Meta Meluncurkan SeamlessM4T

Menjawab Komunikasi Real-time Lintas Bahasa, Meta Meluncurkan SeamlessM4T

Pernyataan Tegas, MUI Sikapi Panji Gumilang Al Zaytun Sesuai Kedudukan dan Garis Demarkasinya

Minuman Nabidz Diputus Haram, MUI Sebut Kadar Alkoholnya Tinggi

Discussion about this post

TERKINI

Direktur Pusat Islam San Diego Mengutuk Serangan Islamophobia di Masjid San Diego

20 Mei 2026

Warga AS Menanggung Biaya Bahan Bakar Tambahan Lebih dari  40 Miliar Dolar Setelah Sejak Ikut Israel Perang Menyerang Iran

19 Mei 2026

Berkontribusi Besar Mencetak SDM Unggul, PTS Harus Setara dengan Kampus Negeri

19 Mei 2026

Luwesnya Chintya Dian Astuti, Wakil Ketua Kadin Pelestarian Hutan & Sungai Konsisten Jaga Lingkungan

18 Mei 2026

Jemaah Lansia dan Risiko Tinggi Akan Ikut Skema Murur, Kurangi Kepadatan di Muzdalifah

17 Mei 2026

Judi Online Makan Korban 200 Ribu Anak Indonesia, Termasuk 80 ribu Anak di Bawah 10 Tahun

16 Mei 2026

Man with Leaps, Guz Reza Syarief yang Kini Tidak Hanya Memotivasi Seni Memimpin, Tapi Juga Berdakwah

16 Mei 2026

Bahayanya Melanggar Hukum Haji, 19 Warga Indonesia Ditangkap Otoritas Saudi

15 Mei 2026

Kokohnya Arief ‘Wing’ Wiryawan Mantan Humas yang Banting Setir Jadi Dirut Properti, Hearty Leader

15 Mei 2026

Jangan Ketawa, Ini Singkatan-singkatan Pembelajaran Kelas Daring

14 Mei 2026
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Cyber
  • Kontak

© 2017 Avesiar.com - All Rights Reserved

  • Nasional & Opini
    • Politik
    • Hukum
    • Sosial
    • Budaya
    • HanKam
    • Daerah
    • Kesehatan
    • Edukasi
    • Opini
    • English Version
  • World
    • Economy
    • Politic
    • Law
    • Culture
    • Islam
    • Freedom for Palestine
    • Umra & Hajj
    • Tourism
  • Ekonomi
    • Bisnis & Wirausaha
    • Common
    • Islami
    • Property
    • CSR
  • Nusantara
    • Metro
    • Urban
    • Guru Kita
    • Prestasi
    • Profil Perubahan
    • Wisata
  • Healtech
    • Hidup Sehat
    • Riset
    • Teknologi
    • Gadget
  • Auto-Sport & Hobby
    • Aneka Olah Raga
    • Sepeda
    • Golf
    • Auto
    • Fauna & Flora Care
  • Change
    • Motivasi
    • Entrepreneurship
    • Pensiun Sehat
  • Syar’i
    • Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam
    • Muslim Fashion
    • Harmoni Keluarga
    • Griya Harmoni
    • Psikologi
    • Masjid & Activity
  • People & Activity
    • Figure
    • Community
    • Society
    • Social
    • Event
    • Podcast Ladders to be Leaders
  • KAMU KUAT
    • Podcast KAMU KUAT
  • Youth
    • Smart Teens
    • Students
    • School Story
    • Campuss Story
    • Millennial
  • Kuliner
    • Resto
    • Kaki Lima
    • Resep
  • City Jour & Video