Avesiar – Jakarta
Kekaisaran Romawi terkenal memiliki banyak sejarah politik yang menarik untuk dipelajari. Salah satunya adalah kisah pengkhianatan seorang bernama Marcus Junius Brutus atau terkenal dengan sebutan Brutus, terhadap kaisar Romawi Julius Caesar.
Marcus Junius Brutus (85 – 42 SM), atau Quintus Servilius Caepio Brutus, adalah seorang senator Romawi yang dikenal oleh dunia modern sebagai pemimpin konspirasi pembunuhan Julius Caesar.
Kronologi kehidupan Marcus Junius Brutus,
85 SM – Lahir di Roma
58 SM – Asisten Cato, gubernur Siprus
53 SM – Menjabat quaestor di Cilicia
49 SM – Ikut bersama Pompey ke Yunani pada masa perang saudara melawan Caesar
48 SM – Diampuni oleh Caesar
46 SM – Diangkat menjadi gubernur Gaul
45 SM – Diangkat menjadi Praetor
44 SM – Membunuh Caesar bersama senator-senator lain; lari ke Athena dan selanjutnya Crete
42 SM – Mencoba merebut Roma pada Pertempuran Philippi; gagal dan bunuh diri
Peristiwa bersejarah mengguncang Republik Romawi pada 15 Maret 44 SM. Julius Caesar, tokoh yang dihormati dan diperlakukan seperti seorang dewa, dibunuh di dalam gedung Senat oleh sekelompok senator yang dipimpin oleh Marcus Junius Brutus. Ia ditikam hingga tewas oleh sejumlah senator, antara lain Marcus Junius Brutus, Gaius Cassius Longinus, Decimus Junius Brutus, dan beberapa Senator Romawi.
Tindakan ini menggambarkan betapa kompleksnya politik dan kekuasaan pada masa itu, serta peran penting yang dimainkan oleh tokoh-tokoh seperti Brutus.
Sebelum tragedi tersebut dimulai, ketegangan antara Brutus dan Caesar mencapai puncaknya ketika Caesar menyatakan dirinya sebagai “dictator perpetuo” atau diktator seumur hidup pada tahun 44 SM. Rencana itu bermula dari ketakutan para senator terhadap pemerintahan Julius Caesar yang semakin berkuasa.
Dengan demikian, Brutus menjadi salah satu otak di balik konspirasi untuk membunuh Julius Caesar. Bersama dengan sekelompok senator lainnya, termasuk Cassius Longinus,
Brutus, yang sebelumnya pernah dimaafkan Julius Caesar, dibujuk oleh para senator untuk menggulingkan Julius Caesar. Hari kematian Julius Caesar ditentukan ketika ia menerima undangan Senat. Brutus merencanakan serangan terhadap Caesar pada hari yang dikenal sebagai Ides of March.
Calpurnia, Istri Julius Caesar, sempat melarang Julius Caesar. Namun, Julius Caesar tetap menerima undangan Senat. Brutus bersama anggota Senat menikam Julius Caesar puluhan kali. Kemudian jasad Julius Caesar dikremasi.
Brutus oleh banyak orang, tetap dianggap sebagai pengkhianat yang mengkhianati hubungan dekatnya dengan Julius Caesar. Setelah pembunuhan tersebut, Romawi terjerumus ke dalam periode kekacauan politik dan perang saudara. Peristiwa ini juga menandai akhir dari Republik Romawi dan memulai masa kekaisaran di bawah kekuasaan Kaisar Augustus.
Dalam “Julius Caesar” karya William Shakespeare, sebagaimana dikutip dari laman History – How Stuff Works, Senin (19/8/2024), karakter paling menarik bukanlah Caesar yang haus kekuasaan, melainkan teman dan pembunuh terpercaya, Brutus.
Kata-kata terakhir Caesar yang terkenal dalam drama itu, diucapkan dengan rasa tidak percaya saat Brutus menusukkan belati terakhir ke diktator Romawi, adalah “‘Et tu, Brute? (Kamu juga, Brutus?). Lalu jatuh, Caesar!”
Marcus Junius Brutus (sekitar tahun 85 SM hingga 42 SM) adalah seorang tokoh nyata, seorang negarawan Romawi yang terpecah antara kesetiaannya kepada Kaisar, pelindung lamanya, dan kesetiaannya kepada Republik Romawi.
Brutus pada akhirnya melihat tirani Caesar sebagai ancaman terbesar dan bersama rekan konspiratornya, Gaius Cassius Longinus, menghasut rencana Senat untuk membunuhnya.
Brutus membayar harga yang sangat mahal atas pengkhianatannya yang “mulia” terhadap Caesar. Brutus dengan cepat kalah dalam pertarungan untuk mendapatkan opini publik.
Para konspirator ingin dikenal sebagai “pembebas” karena membebaskan Roma, tetapi mereka dicap sebagai “pembunuh” yang kemudian kalah dalam pertempuran militer dari sekutu Caesar, Mark Antony dan Oktavianus.
Pada 42 SM ia Mencoba merebut Roma pada Pertempuran Philippi, namun gagal dan bunuh diri.
Sejak saat itu, nama Brutus identik dengan pengkhianat dan pengkhianatan. (dwi/dari berbagai sumber)













Discussion about this post