Avesiar – Jakarta
Kesulitan hidup para wanita di kamp-kamp tenda yang luas di Gaza diperparah oleh penghinaan yang mereka terima setiap hari karena tidak pernah memiliki privasi. Dikutip dari TRT World, Senin (30/12/2024), mereka berjuang untuk berpakaian sopan saat berdesakan di dalam tenda bersama anggota keluarga besar, termasuk laki-laki.
Tidak hanya itu, mereka juga kehilangan privasinya karena terdapatnya orang asing yang hanya berjarak beberapa langkah dari mereka di tenda-tenda tetangga. Akses ke produk menstruasi terbatas. Jadi, mereka memotong kain atau pakaian lama untuk digunakan sebagai pembalut.
Demikian pula dengan toilet darurat, biasanya hanya terdiri dari sebuah lubang di pasir yang dikelilingi kain yang menjuntai dari sebuah tali, dan kain-kain ini harus digunakan bersama dengan puluhan orang lainnya.
Seorang wanita, Alaa Hamami telah mengatasi masalah kesopanan dengan terus-menerus mengenakan selendang sembahyangnya, kain hitam yang menutupi kepala dan tubuh bagian atasnya.”Seluruh hidup kami telah menjadi pakaian sembahyang, bahkan ke pasar kami mengenakannya. Martabat telah hilang,” kata ibu muda tiga anak ini.
Biasanya, ia hanya mengenakan jilbab saat melaksanakan salat hariannya. Namun dengan begitu banyak pria di sekitarnya, dia terus memakainya sepanjang waktu, bahkan saat tidur — untuk berjaga-jaga jika serangan Israel terjadi di dekatnya pada malam hari dan dia harus melarikan diri dengan cepat, katanya.
Lebih dari 690.000 wanita dan anak perempuan di Gaza, menurut PBB, membutuhkan produk kebersihan menstruasi, serta air bersih dan toilet. Pekerja bantuan tidak mampu memenuhi permintaan, dengan persediaan menumpuk di penyeberangan dari Israel. Persediaan perlengkapan kebersihan telah habis, dan harganya selangit. Banyak perempuan harus memilih antara membeli pembalut atau membeli makanan dan air.
Kondisi yang mengerikan tersebut menimbulkan risiko nyata bagi kesehatan wanita, kata Amal Seyam, direktur Pusat Urusan Wanita di Gaza, yang menyediakan perlengkapan bagi wanita dan mensurvei mereka tentang pengalaman mereka.
Ia mengatakan beberapa wanita tidak berganti pakaian selama 40 hari. Itu dan pembalut kain seadanya “tentu akan menimbulkan” penyakit kulit, penyakit yang terkait dengan kesehatan reproduksi dan kondisi psikologis. Bayangkan bagaimana perasaan seorang perempuan di Gaza, jika ia tidak mampu mengendalikan kondisi yang berkaitan dengan kebersihan dan siklus menstruasi,” katanya. (ard)













Discussion about this post