KAMU KUAT – Jakarta
Harta yang paling berharga adalah keluarga
Istana yang paling indah adalah keluarga
Puisi yang paling bermakna adalah keluarga
Mutiara tiada tara adalah keluarga
Penggalan lagu di atas, yang diciptakan oleh Harry Tjahjono dan Arswendo Atmowiloto dengan judul “Harta Berharga” versi pertama tersebut dibawakan oleh Novia Kolopaking untuk sinetron “Keluarga Cemara” dan tayang pada kurun 1996 hingga 2005, sempat menjadi lagu populer penyemangat conta akan keluarga.
Kesederhanaan, problematika, serta dinamika kehidupan keluarga menjadi tema yang membuat banyak keluarga di Indonesia memahami betapa bernilainya keluarga bagi setiap individunya untuk menapaki kehidupan yang penuh suka dan duka. Kekuatan dari kekompakan dan kesederhanaan dalam film tersebut juga menjadi inspirasi positif.
Dikutip dari Halodoc, Senin (6/1/2025), keluarga bukan hanya soal status yang dimiliki sejak lahir. Ini juga bukan sekadar tempat untuk kembali atau tentang siapa yang paling dekat denganmu. Akan tetapi, kehadiran keluarga dalam kehidupan adalah sesuatu yang lebih besar dan berharga.
Keluarga adalah tempat pertama di mana kita belajar tentang cinta, kebersamaan, dan nilai-nilai kehidupan. keluarga bukan hanya sekumpulan orang yang tinggal di bawah satu atap, melainkan rumah yang penuh dengan kehangatan dan dukungan.
Di tengah kesibukan dan tantangan hidup, mereka selalu ada untuk memberikan dukungan dan semangat. Bagaimana komentar para sahabat kanal remaja KAMU KUAT! ? Yuk kita simak!
Callista Nabila kelas 9.2, siswi SMP IT Insan Harapan, Tangerang Selatan

Bagi callista, keluarga adalah harta yang harus selalu dijaga. Mereka adalah bagian dari hidup yang paling penting, tidak tergantikan oleh apapun. Dalam suka maupun duka, keluarga selalu menjadi tempat ternyaman.
“Saya paling dekat dengan Mama. Mama adalah sosok yang melahirkan saya, mendengarkan setiap cerita dan keluh kesah saya, sekaligus mendidik saya menjadi seperti sekarang. Meskipun demikian, hubungan saya dengan seluruh anggota keluarga, termasuk nenek, juga sangat baik.,” ujar callista
Namun, tidak selalu semuanya berjalan mulus. Konflik atau perbedaan pendapat pasti ada. ,”Saya sendiri sering menghadapi situasi seperti ini. Kadang, saya memilih diam ketika mood saya kurang baik. Tapi ada kalanya saya meluapkan perasaan dengan marah. Meski begitu, saya selalu berusaha untuk memperbaiki keadaan, karena pada akhirnya saya tahu bahwa saya butuh keluarga saya,” ujarnya.
Callista menyadari bahwa tidak semua orang memiliki hubungan keluarga yang harmonis. Ada yang merasa bonding dengan keluarga mereka kurang, terutama karena pengalaman masa kecil atau masalah yang muncul ketika mereka sudah dewasa. Hal ini sering membuat hubungan kekeluargaan mereka renggang.
Rakan Syuja Aufaputra, mahasiswa semester 1, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya

“Bagi saya, keluarga adalah sebuah ikatan yang kuat antara anak, orang tua, dan saudara,” ujar Rakan. Di dalam keluarga, menurutnya, kita belajar banyak hal, terutama nilai-nilai kehidupan yang diajarkan oleh orang tua. Lingkungan di sekitar yang paling dekat adalah keluarga. Maka sebuah keluarga seharusnya memberikan contoh baik, ada pula yang mungkin kurang ideal.
Namun, imbuhnya, bagaimanapun keadaannya, keluarga tetap menjadi tempat pertama di mana kita memahami arti cinta, tanggung jawab, dan cara menghadapi dunia ini, sekaligus mempersiapkan bekal untuk akhirat.
“Dari semua anggota keluarga, menurut saya, Mama adalah segalanya. Mama adalah sosok yang tidak hanya melahirkan, tetapi juga membimbing dan mencintai tanpa syarat. Mama adalah tempat yang sempurna. Ada momen-momen sulit, ada perbedaan pendapat, bahkan kadang konflik yang terasa berat. Tapi dari situlah kita belajar arti memaafkan dan kebersamaan,” bebernya.
Fadillah Khairani, siswi kelas 8.9, SMPN 11 Tangsel

Berbeda cerita dari khairani. “Bagi saya, keluarga adalah tempat untuk beristirahat, meskipun saya tidak terlalu dekat dengan mereka. Namun, ada satu hal yang selalu saya yakini Mami dan Abi adalah pelukan terhangat yang selalu siap menyambut saya ketika pulang,” katanya memulai komentar.
Sebagai anak tunggal, lanjut Fadilah, hubungannya dengan keluarga memiliki cerita yang unik. Saat kecil, ia tinggal bersama nenek di Padang karena Mami dan Abi bekerja di Jakarta. Mereka bekerja dari malam hingga sore, dan baru membawa saya ke Jakarta ketika saya masuk kelas 2 SD. Sejak saat itu, hidup bersama mereka menjadi rutinitas baru baginya, meski waktu untuk bersama terasa terbatas karena pekerjaan mereka.
Fadilah punya hobi bermain basket. Namun, kata dia, Mami kurang mendukung di bidang ini karena lebih memprioritaskan pendidikan. Walaupun begitu, ia tetap mencintai basket dan menjadikannya tempat pelarian sekaligus kebanggaannya. Keinginan terbesar Fadilah adalah bisa melihat senyum Mami dan Abi saat ia bertanding suatu hari nanti.
“Harapan saya saat ini adalah bisa membuat Mami dan Abi mendukung saya dalam basket. Karena lebih dari apapun, saya ingin melihat mereka tersenyum bangga saat saya meraih kemenangan. Semoga perjalanan ini menjadi cerita indah yang bisa saya banggakan suatu hari nanti,” seru remaja cantik yang bercita cita menjadi pemain basket
Ida Roida, Ibu dan Guru, SD Mitra Cendikia Tangerang Selatan

Menurut ibu satu ini, menjadi orang tua di zaman modern memang penuh tantangan. Setiap generasi memiliki karakteristik yang berbeda, dan sebagai orang tua wajib mendidik anak-anak sesuai dengan zamannya. Namun, ada prinsip mendidik yang tidak pernah lekang oleh waktu, yakni ajaran Rasulullah Shallallahu Alahi Wasallam dalam mendidik generasi muda.
Rasulullah, lanjutnya, telah memberikan contoh bagaimana membentuk remaja menjadi individu yang beriman, berakhlak mulia, dan siap menghadapi kehidupan dunia dan akhirat. Berikut adalah rahasia Rasulullah dalam mendidik remaja Islami :
1. Menanamkan Tauhid kepada Allah sebagai Dasar Kehidupan
2. Membiasakan Anak Disiplin dalam Beribadah
3. Menekankan Akhlak Mulia dalam Kegiatan Sehari-hari
4. Mengajarkan Keberanian dalam Berbuat Baik
5. Mendidik Melalui Keteladanan
6. Mengajarkan Betapa Pentingnya Ilmu
“Prinsip-prinsip di atas adalah pedoman yang tak lekang oleh waktu dalam mendidik generasi muda. Rasulullah berhasil mencetak generasi pemuda yang beriman, cerdas, dan tangguh. Prinsip ini tetap relevan untuk diterapkan dalam mendidik remaja zaman sekarang. Dengan mengikuti tuntunan ini, kita dapat membantu anak-anak tumbuh menjadi individu yang kuat, berakhlak mulia, dan siap menjadi pemimpin masa depan,” tutur Ida.
So, bagaimana dengan kamu? Seperti apa cerita keluargamu. Pasti juga seru dong ya? Semua keluarga memang memiliki kekurangan dan kelebihan. Setiap keluarga tidak sama dengan keluarga lainnya. Jadi, kita harus mensyukuri dan berbuat lebih baik lagi. Semangat ya! (Resty)













Discussion about this post