• Nasional & Opini
    • Politik
    • Hukum
    • Sosial
    • Budaya
    • HanKam
    • Daerah
    • Kesehatan
    • Edukasi
    • Opini
    • English Version
  • World
    • Economy
    • Politic
    • Law
    • Culture
    • Islam
    • Freedom for Palestine
    • Umra & Hajj
    • Tourism
  • Ekonomi
    • Bisnis & Wirausaha
    • Common
    • Islami
    • Property
    • CSR
  • Nusantara
    • Metro
    • Urban
    • Guru Kita
    • Prestasi
    • Profil Perubahan
    • Wisata
  • Healtech
    • Hidup Sehat
    • Riset
    • Teknologi
    • Gadget
  • Auto-Sport & Hobby
    • Aneka Olah Raga
    • Sepeda
    • Golf
    • Auto
    • Fauna & Flora Care
  • Change
    • Motivasi
    • Entrepreneurship
    • Pensiun Sehat
  • Syar’i
    • Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam
    • Muslim Fashion
    • Harmoni Keluarga
    • Griya Harmoni
    • Psikologi
    • Masjid & Activity
  • People & Activity
    • Figure
    • Community
    • Society
    • Social
    • Event
    • Podcast Ladders to be Leaders
  • KAMU KUAT
    • Podcast KAMU KUAT
  • Youth
    • Smart Teens
    • Students
    • School Story
    • Campuss Story
    • Millennial
  • Kuliner
    • Resto
    • Kaki Lima
    • Resep
  • City Jour & Video
No Result
View All Result
No Result
View All Result
Home Citizen Journalism & Video

Harmoni Kakak Beradik, “Motor dan Anting untuk Lisa”

by Avesiar
12 September 2021 | 21:01 WIB
in Citizen Journalism & Video
Reading Time: 9 mins read
A A
Harmoni Kakak Beradik, “Motor dan Anting untuk Lisa”

ILUSTRASI. Freepik

Avesiar.com

Drrttt … drrttt … drrrtttt ….

Ponselku berdering. Gegas aku meraih benda pipih kesayanganku yang tak lagi bisa berdering sempurna  tersebut di atas televisi.

Kak Nilam memanggil.

Kuusap layar yang telah buram sesaat, sebelum mengangkat panggilan dari kakak tertuaku.

“Assalamu’alaikum, Kak,” sapaku terlebih dahulu.

“Walaikumusallam, Lisa. Besok, aku sama Ferdi mau ke sana. Kangen sama rumah lama,” sahut Kak Nilam langsung memberi kabar yang membuat aku termangu.

Setelah kepergian Ibu 3 tahun silam, ini kali pertama kakak dan adikku yang kehidupannya  telah sukses  di kota menyambangiku kembali.

Bacaan Terkait :

Si Usil di Rumah Kamu, Siapa Orangnya?

Arti Cinta Keluarga dan Plus Minusnya, Ini Cerita Mereka

Tuntunan Ikhtiar Menuju Keluarga Sakinah, Mawaddah, Warahmah

Ayah, Islam Menjelaskan Keutamaan Bekerja Mencari Nafkah untuk Keluarga  

Kabar Baik, Sinetron Keluarga Cemara yang Identik Keteladanan dan Kesederhanaan Tayang Lagi

Keluarga Program Bank Wakaf Mikro Ikuti Pelatihan UKM dari BSI dan YBSMU

Bisa Dicoba, 10 Cara Menjaga Kebersamaan Keluarga

Load More

Dulu memilih menetap di kampung demi menjaga Ibu yang telah sepuh.  Sampai akhirnya aku menikah dengan Mas Waris yang berasal dari satu kampung.

“Lisa? Kamu masih di situ, kan?”

“Eh, i..iya Kak. Iya. Besok, aku akan masakin makanan yang pasti Kak Nilam dan Ferdi suka,” sahutku  berusaha ceria.

“Makasih ya , Lis!”

Setelah bertukar salam, aku meletakkan ponsel kembali di atas televisi. Hatiku dilanda resah. Beras  untuk makan kami berempat hanya tersisa untuk besok saja. Bila Kak Nilam dan Ferdi datang  sekeluarga, itu artinya  akan bertambah dua kali lipat.

Mas Waris hanya seorang pekerja serabutan. Sudah seminggu ia belum bekerja.  Kadang ajakan kerja  ada, tapi jarak tempuh jauh, sedangkan kendaraan yang kami miliki hanya sebuah sepeda tua. Bila  sudah  begini, untuk  biaya hidup kami, aku  tak segan menyusuri sungai kecil dan rawa-rawa.

Mengais rejeki dengan memetik kangkung dan genjer yang tumbuh di tepi sungai dan rawa untuk diikat,  lalu kutawarkan pada warga kampung adalah yang lumrah bagiku. Tak banyak memang hasilnya, tapi  cukup sekedar untuk membeli beras.

“Mas, besok Kak Nilam dan Ferdi mau datang,” ucapku pada Mas Waris yang sedang membolak-balik  tanah pekarangan yang sempit dengan cangkul untuk menanam cabai dan tomat.

Mas Waris menatapku sesaat, lalu meletakkan cangkul. Seolah mengerti kerisauanku,  dia berkata, “aku  akan periksa ‘bubu’  di sungai”.

Aku mengangguk dan menatap punggung pejuang nafkahku itu hingga kejauhan. Untuk lauk, kami  memang selalu mengandalkan hasil perangkap ikan bernama  ‘bubu’  yang dipasang  di sungai.

Pandanganku kini beralih pada dua ekor ayam jantan kesayangan Widan – anak  bungsuku yang berusia  6 tahun. Bergegas aku ke kamarnya.

“Nak , besok Indah sama Faris mau datang.  Boleh enggak, ayamnya Ibu tukar sama  beras dulu? Nanti  kalau ada uang, ibu beli ayam yang baru?” kuusap lembut kepala anakku sambil bertanya.

Wildan menatapku sebentar, lalu mengangguk. Mendengar sepupunya yang sebaya akan datang saja,  dia sudah sangat senang.

“Terima  kasih, Nak,” kucium penuh haru pucuk kepala anakku.

Tanpa pikir panjang aku langsung menangkap dua ekor ayam  jago tersebut, lalu membawa  ke warung  sembako terdekat.

Setelah tawar menawar sebentar, akhirnya aku berhasil membawa pulang beras sebanyak 5 kg, bawang merah, bawang putih, minyak goreng, telur, gula, teh dan kopi secukupnya. Tak lupa kubeli beberapa bungkus jajan untuk menyambut keponakanku besok.

Keesokan harinya, Kak Nilam dan Ferdi benar-benar datang dengan mengendarai mobil masing-masing. Aku tersenyum bahagia dengan pencapaian dua saudaraku tersebut. Istri Ferdi seorang wanita karir,  dan suami Kak Nilam seorang pengusaha sukses.

Wajar jika dulu mereka berdua langsung menyerahkan begitu  saja,  rumah peninggalan  orang tua kami  beserta seluruh isinya  padaku dan Mas Waris.

Walau terbersit rasa minder, namun aku tetap menyambut kedua saudaraku yang datang  tepat  di  jam  makan siang tersebut dengan senyum lebar. Aku langsung mengajak mereka bersantap dengan menu  yang sangat sederhana.

Ikan Gabus dan telur bumbu  bali, tumis kangkung,  kulupan jantung  pisang,  dan  ikan Puyu bakar dilengkapi cacapan mangga muda rupanya menggugah selera kedua  saudaraku. Beruntung, keponakan dan ipar-iparku dari kota  juga menyukai makanan ala desa yang kusuguhkan.

“Berasa makan masakan Ibu,” gumam Ferdi  setelah makan.

Aku dan Kak Nilam tersenyum. Dulu menu yang kusuguhkan memang akrab dengan mereka berdua  saat kami masih tinggal bersama.

Usai makan siang, Kak Nilam dan Ferdi berjalan-jalan sambil mengenang masa kecil mereka dengan tetangga sekitar.  Anak-anak kami  pun bercengkrama  hingga sore hari.

Malam hari, kami melanjutkan obrolan dengan bernostalgia mengenang  saat-saat kedua orang  tua  kami masih lengkap.  Sesekali Ferdi dan Kak Nilam bertanya tentang kegiatan Mas Waris.

*

Keesokan paginya, Kak Nilam dan Ferdi sudah siap-siap ke kembali ke kota.  Malu-malu aku menyuguhkan sarapan  nasi  goreng putih  seadanya  dan telur  dadar sebelum mereka  pulang.

Tapi Kak Nilam dan Ferdi begitu senang menikmati makanan, yang selalu mereka kaitkan dengan masakan  Ibu. Ya , dulu itu  memang menu sarapan andalan kami sebelum berangkat sekolah.

Ah, aku begitu terharu.  Kak Nilam dan Ferdi, membuat aku yang tak punya  apa-apa  ini  merasa  begitu dihargai. Sayangnya, tak ada  apa-apa yang bisa kuberikan pada mereka sebagai oleh-oleh layaknya  orang yang baru saja pulang kampung.

Saat hendak pulang, Susan – anak Kak Nilam merengek ingin membawa satu-satunya boneka kesayangan Dila anak pertamaku. Dila langsung merelakan bonekanya dibawa  oleh Susan. Aku senang, karena masih  ada yang bisa kuberikan pada keponakanku yang tak kurang apapun itu.

Aku melepas kepergian kedua saudaraku  dengan air mata berlinang. Sungguh, aku masih rindu. Dulu,  dengan selisih usia masing-masing 2 tahun,  tak ada  hari  yang terlewatkan  tanpa pertengkaran  antara kami bertiga. Tapi itulah cara kami bertiga berbagi kasih sayang.

Aku berbalik membawa kesedihanku ke rumah. Dila dan Wildan pun banyak diam.  Aku merasa bersalah,  karena mengorbankan ayam kesayangan Wildan, dan  boneka  Dila. Aku janji, akan mengganti  secepatnya bila ada rejeki nanti.

Beberapa saat kemudian, pintu rumah diketuk. Pak Zainal, pemilik warung langgananku datang menyerahkan sebuah kardus besar, lalu menurunkan dua karung  beras dengan bobot masing-masing 20 kg, dari sepeda motornya.

“Buat siapa ini, Pak ?” tanyaku heran.

“Ya buat Mbak Lisa, toh. Kemaren kakaknya Mbak  jalan-jalan  ke warung, dan beli ini semua katanya  titip buat Lisa. Tapi pesannya kalau mereka sudah pulang baru boleh saya antar.”

Hanya ucapan terima kasih yang mampu kuucapkan setelah mendengar jawaban dari  Pak Zainal.

Selanjutnya, air mata jatuh tanpa bisa kukendalikan melihat isi kardus. Sembako lengkap,  cukup bahkan  lebih bagiku yang terbiasa irit untuk hidup sebulan ke depan.

Aku menelpon dan mengucapkan terima kasih pada adik dan kakakku bergantian, sambil terisak.

Dua hari kemudian, sebuah mobil pick-up berwarna hitam singgah di depan rumah, dan tiga orang dengan cekatan menurunkan sebuah sepeda motor bekas tapi masih sangat layak pakai, dan sebuah  kardus.

Aku tercengang saat pengantar barang mengatakan titipan dari Ferdi dan Kak Nilam.

Sebuah kardus dengan tulisan untuk Dila dan Wildan langsung diserbu oleh kedua anakku.

Aku sendiri langsung meraih ponsel ingin menelpon kedua saudaraku. Tapi, terlebih dahulu pesan dari  mereka berdua masuk.

(Istriku beli motor baru, daripada yang satu tidak terpakai, mungkin bisa digunakan oleh Kak Waris kerja, atau ngantar kakak ke mana-mana) pesan dari Ferdi.

Ah, adik kecilku itu, dia hanya tak mau mengakui terang-terangan bahwa kasihan padaku, kakak yang dulu sering membuatnya menangis karena kalah saat rebutan jajan, walau akhirnya tetap lebih banyak  untuk Ferdi.

Dengan tangan gemetar kubalas pesannya.  Aku lupa niatku tadi menelpon.

(Tapi ini mahal, Fer. Apa istrimu enggak keberatan?)

(Enggak Kak. Itu engga ada apa-apanya dibanding waktu dan tenaga yang Kakak habiskan, dua  tahun mengurus ibu sakit seorang diri dulu). Balasan dari Ferdi yang membuatku luruh dalam tangis haru.  Mas Waris pun ikut menitikkan air mata di sebelahku.

Aku menoleh pada kedua anakku di samping kardus tersebut berisi 3 boneka baru, dan beberapa  lemba  baju untuk mereka berdua. Kubuka pesan dari Kak Nilam.

(Kemaren Susan sama Rudi jalan-jalan ke Mall. Banyak barang diskonan, jadi  beli sekalian buat Dila dan Wildan. Dan anting itu, aku sudah bosan sama modelnya. Kayaknya cocok di telingamu)

Aku tertegun. Anting ? Kurogoh bagian bawah di dalam  kardus, dan benar ada sebuah kotak kecil.  Tanganku gemetar membuka kotak tersebut. Ini anting Kak Nilam yang dia pakai saat ke sini kemaren.  Aku segera menelponnya.

“Kak, apa-apaan ini. Ini anting mahal. Yang kerja Kak Rahman bukan Kakak. Ini berlebihan. Nanti kukembalikan aja,” tolakku benar-benar sungkan pada suaminya walau aku tahu, harga  benda tersebut  mungkin hanya senilai uang jajan anak Kak Nilam sebulan.

“Kalau kamu mau kembalikan, berarti kamu enggak anggap aku kakakmu ?

Bukankah Kakak memang harus berbagi dengan adiknya ?

Kamu lupa, dulu aku sering mengambil jatah uang sakumu dan membuat Ibu marah ?

Kata Ibu, kakak itu harusnya memberi adiknya, bukan mengambil!” ucap Kak Nilam sambil tertawa kecil kembali mengingat masa kecil kami.

Aku tak kuasa menahan air mata. Setelah mengucapkan terima kasih, aku langsung menutup sambungan telpon dan menumpahkan tangis bahagia sambil memeluk kedua anakku.

Terngiang  kembali ucapan Ibu sewaktu kami bertiga sering bertengkar dulu.

“Terus  saja bertengkar, nanti  kalau kalian sudah punya keluarga masing-masing dan saling berjauhan, baru kalian tahu apa artinya saudara.”

Dan kini  aku  tahu, bahwa  saudara kandung  itu  lebih berharga  daripada harta dan tahta.

Kakak  beradik ….

Dilahirkan dari rahim yang sama.

Dibesarkan  dengan makanan  yang sama.

Tinggal di dalam rumah yang sama.

Namun di atas nasib dan takdir yang berbeda.

Saudara yang hidup dalam kekurangan belum tentu ujian untuk hidupnya sendiri.

Bisa jadi kekurangannya juga ujian bagi saudaranya yang lebih mapan.

Ujian untuk melihat, apakah yang mapan akan  membentang  jarak  lalu  melambaikan tangan  dan  menjauh, atau  sebaliknya memangkas  jarak  lalu mengulurkan  tangan, hingga  keduanya  bisa berdiri  sejajar.

*Terima kasih kepada siapapun yang membuat tulisan ini.

(ard/dikutip dari Grup Whattsapp/edited)

Tags: harmoni kakak beradikkakak beradikkakak dan adikkeluarga
ShareTweetSendShare
Previous Post

Teror di Perairan Hawaii, Ikan Alien Makan Segala Ikan

Next Post

Melani Leimena Suharli Raih Srikandi Demokrat Award

Mungkin Anda Juga Suka :

Humor Saat Puasa, Mengangkut Garam dan Mengakali Keledai yang Nakal

Humor Saat Puasa, Mengangkut Garam dan Mengakali Keledai yang Nakal

14 Maret 2026

...

Di Ambang Mahacahaya

Di Ambang Mahacahaya

9 Maret 2026

...

Humor Saat Puasa, Nasruddin Hoja Menemani Penguasa dan Kisah Namrudz

Humor Saat Puasa, Nasruddin Hoja Menemani Penguasa dan Kisah Namrudz

9 Maret 2026

...

Tasbih Sunyi di Relung Nurani

Tasbih Sunyi di Relung Nurani

8 Maret 2026

...

Humor Saat Puasa, Ketika Nasruddin Hoja Menyelamatkan Bulan

Humor Saat Puasa, Ketika Nasruddin Hoja Menyelamatkan Bulan

8 Maret 2026

...

Load More
Next Post
Melani Leimena Suharli Raih Srikandi Demokrat Award

Melani Leimena Suharli Raih Srikandi Demokrat Award

Berharta Rp1,6 Triliun, Kepsek SMKN 5 Tangerang Pejabat Terkaya Ke-7

Berharta Rp1,6 Triliun, Kepsek SMKN 5 Tangerang Pejabat Terkaya Ke-7

Discussion about this post

TERKINI

Paus Leo Tidak Takut pada Trump, Menyebut Dunia Sedang Dihancurkan Segelintir Tiran Saat Berseteru dengan Gedung Putih

16 April 2026

Polemik Alat Vape Disalahgunakan, Menelusuri Hukum Rokok Elektrik

15 April 2026

Saksikan Segera, Podcast Khusus Profesional “Ladders to be Leaders” Mengulas Perjalanan Hidup dan Karir

15 April 2026

AS Repot Berkonflik dengan Iran, Zelenskyy Kecewa Dicuekin Karena Suplai Senjata ke Ukraina Terganggu

15 April 2026

TikTok Lapor Tutup 780 Ribu Akun Anak dan Roblox Belum Dianggap Patuh PP TUNAS, Beberapa Menyatakan Patuh

14 April 2026

Negosiasi Iran dan AS Disebut Akan “Segera” Diadakan Lagi di Islamabad, Iran Menolak Diatur Pengayaan Uranium dan Nuklirnya

14 April 2026

Sufi Wanita yang Akan Menggenggam Tauhid Demi Menagih Janji Allah

13 April 2026

Perundingan di Pakistan Gagal Mendikte Soal Program Nuklir, Trump Ancam Blokade Hormuz dan Serang Infrastruktur Sipil Iran

12 April 2026

Munas XVI IPSI 2026 Dibuka Presiden Prabowo, Pencak Silat Budaya Bangsa Menuju Olimpiade

11 April 2026

Sumber Senior Iran Sebut AS Setuju Cairkan Aset Iran Demi Pembicaraan di Islamabad, Seorang Pejabat AS Membantah

11 April 2026
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Cyber
  • Kontak

© 2017 Avesiar.com - All Rights Reserved

  • Nasional & Opini
    • Politik
    • Hukum
    • Sosial
    • Budaya
    • HanKam
    • Daerah
    • Kesehatan
    • Edukasi
    • Opini
    • English Version
  • World
    • Economy
    • Politic
    • Law
    • Culture
    • Islam
    • Freedom for Palestine
    • Umra & Hajj
    • Tourism
  • Ekonomi
    • Bisnis & Wirausaha
    • Common
    • Islami
    • Property
    • CSR
  • Nusantara
    • Metro
    • Urban
    • Guru Kita
    • Prestasi
    • Profil Perubahan
    • Wisata
  • Healtech
    • Hidup Sehat
    • Riset
    • Teknologi
    • Gadget
  • Auto-Sport & Hobby
    • Aneka Olah Raga
    • Sepeda
    • Golf
    • Auto
    • Fauna & Flora Care
  • Change
    • Motivasi
    • Entrepreneurship
    • Pensiun Sehat
  • Syar’i
    • Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam
    • Muslim Fashion
    • Harmoni Keluarga
    • Griya Harmoni
    • Psikologi
    • Masjid & Activity
  • People & Activity
    • Figure
    • Community
    • Society
    • Social
    • Event
    • Podcast Ladders to be Leaders
  • KAMU KUAT
    • Podcast KAMU KUAT
  • Youth
    • Smart Teens
    • Students
    • School Story
    • Campuss Story
    • Millennial
  • Kuliner
    • Resto
    • Kaki Lima
    • Resep
  • City Jour & Video