KAMU KUAT – Jakarta
Memilih jurusan kuliah bukanlah hal yang mudah bagi sebagian orang. Ada yang sejak awal sudah memiliki impian, tetapi ada juga yang harus beradaptasi dengan realitas yang berbeda dari keinginan mereka.
Namun, apakah jurusan yang tidak sesuai impian berarti akhir dari segalanya? Tidak selalu. Terkadang, perjalanan yang tak terduga justru membuka peluang baru yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Memilih jurusan kuliah sering kali menjadi keputusan besar yang tidak selalu mudah. Ada yang sudah yakin sejak awal, ada juga yang membutuhkan waktu untuk menemukan bidang yang benar-benar sesuai dengan minat mereka.
Pengalaman beberapa mahasiswa berikut adalah kisah bagaimana dahulu mereka memilih, harus memilih, dan terpaksa memilih. Siapa tahu bisa jadi motivasi dan penguat hati kamu.
Dhea Amalia Syahrani, mahasiswa semester akhir (menunggu yudisium), STIKES Banten

Minat terhadap dunia medis bukanlah sesuatu yang datang tiba-tiba. Sejak Sekolah Dasar (SD), Dhea sudah memiliki ketertarikan pada bidang ini, meskipun saat itu belum tahu pasti profesi apa yang ingin digelutinya. Ketertarikan ini semakin kuat ketika duduk di bangku SMP. Pengalaman melihat langsung lingkungan rumah sakit membuat Dhea semakin yakin ingin terjun ke dunia kesehatan.
“Saat SMP, aku mulai lebih memahami bagaimana dunia medis bekerja. Aku melihat sendiri bagaimana para tenaga medis, terutama perawat, begitu berjasa dalam menyelamatkan nyawa pasien. Dari situ, aku semakin yakin untuk memilih jalan ini,” ungkapnya.
Saat memasuki SMK, ia memutuskan untuk mengambil jurusan keperawatan. Awalnya, pilihan ini bukan karena ia secara khusus ingin menjadi perawat, melainkan karena keinginannya untuk tetap berada di dunia medis. Namun, seiring berjalannya waktu, ia semakin jatuh cinta dengan bidang ini dan akhirnya melanjutkan studi ke jenjang kuliah dengan jurusan yang sama.
Salah satu motivasi terbesarnya dalam memilih keperawatan adalah keluarganya. “Orang tua aku adalah salah satu alasan kenapa aku ingin mendalami bidang ini. Aku ingin memiliki ilmu yang suatu hari nanti bisa aku gunakan untuk merawat mereka,” katanya.
Sebenarnya, sejak kecil ia bercita-cita menjadi seorang dokter. Namun, setelah mempertimbangkan banyak hal, termasuk waktu yang dibutuhkan untuk menempuh pendidikan kedokteran yang cukup panjang, ia akhirnya memilih keperawatan.
“Yang terpenting, aku masih berada di dunia medis. Jadi, aku mengikuti apa yang sudah aku jalani sampai sekarang,” tambahnya.
Banyak orang berpikir bahwa menempuh pendidikan di bidang kesehatan akan penuh dengan tantangan dan kesulitan. Namun, bagi mahasiswa keperawatan ini, setiap proses adalah bagian dari perjalanan yang harus dinikmati.
“Sejauh ini, aku tidak merasa ada kesulitan yang berarti. Kalau pun ada, aku tidak menganggapnya sebagai hambatan, karena aku menikmati setiap prosesnya,” ujarnya optimis.
Leandra Aurelrio Putra Darsono, mahasiswa Fakultas Hukum, semester 4, UPN Veteran Jakarta

Awalnya, pilihan jurusan tidak sepenuhnya berasal dari dirinya sendiri. Ia mendapatkan saran dari orang terdekat, khususnya ibunya, yang menyarankan dua pilihan jurusan: Informatika dan Hukum. Namun, sebelum mengambil keputusan, ia melakukan riset lebih lanjut untuk memahami kedua bidang tersebut.
“Setelah saya cari tahu lebih dalam, saya merasa hukum lebih menarik minat saya. Jadi, akhirnya saya memutuskan untuk masuk Fakultas Hukum. Keputusan ini ternyata tepat, karena hingga saat ini saya merasa cocok dengan jurusan yang saya pilih,” ujarnya.
Seperti banyak mahasiswa baru lainnya, ia juga menghadapi tantangan di awal perkuliahan. Salah satu kesulitan yang dialami adalah kurangnya kepercayaan diri dalam berbicara secara aktif. Namun, seiring waktu dan dengan lingkungan yang mendukung, ia berhasil beradaptasi.
“Awal masuk kuliah saya agak kesulitan karena belum bisa aktif berbicara, tapi sekarang saya sudah lebih terbiasa setelah menjalani berbagai proses di Fakultas Hukum,” ungkapnya.
Menariknya, meskipun pada awalnya ia belum memiliki minat khusus, kini ia menemukan bahwa jurusan yang dipilih sejalan dengan salah satu cita-citanya sejak dulu Rio ingin menjadi seorang notaris. “Dulu saya memang memiliki beberapa cita-cita, dan salah satunya adalah menjadi notaris. Jadi, masuk Fakultas Hukum terasa relate dengan impian saya,” tambahnya.
Meskipun keputusannya untuk memilih hukum berasal dari saran ibunya, motivasi terbesar dalam menjalani kuliah tetap datang dari dirinya sendiri. Dengan semangat belajar dan dorongan dari keluarga, ia semakin yakin bahwa Fakultas Hukum adalah jalan yang tepat baginya.
Kini, dengan pengalaman yang semakin bertambah dan kepercayaan diri yang meningkat, ia terus melangkah menuju cita-citanya. Perjalanannya adalah bukti, bahwa terkadang menemukan jurusan yang tepat membutuhkan eksplorasi, riset, dan keberanian untuk mencoba sesuatu yang baru.
Fitra Gilang Ramadhan, mahasiswa Pendidikan Sejarah, semester 4, Universitas Negeri Yogyakarta

Sejak SMA, Fitra memiliki ketertarikan kuat di bidang desain grafis dan bercita-cita menjadi seorang desainer grafis. Awalnya, ia ingin melanjutkan studi di jurusan Desain Interior, namun sayangnya tidak diterima. Meski begitu, ia tetap terbuka terhadap pilihan lain dan akhirnya memilih jurusan Pendidikan Sejarah.
“Saya sebenarnya ingin masuk jurusan Desain Interior, tapi tidak diterima. Namun, saya juga memiliki ketertarikan dalam sejarah dan pendidikan di Indonesia, jadi saya memilih Pendidikan Sejarah,” ungkapnya.
Meskipun jurusan yang diambil berbeda dari cita-cita awal, ia tidak merasa salah langkah. Justru, semakin mendalami mata kuliah yang ada, ia semakin nyaman dengan pilihannya. “Selain karena banyak mata kuliah yang memang saya kuasai, saya juga didukung oleh dosen dan teman-teman yang selalu membantu jika ada kesulitan dalam belajar,” katanya.
Meski kini fokus dalam pendidikan sejarah, kecintaannya terhadap dunia desain tidak luntur. Ia tetap aktif mengembangkan kemampuannya di bidang tersebut sambil menjalani perkuliahan. Baginya, memilih jurusan yang berbeda dari impian awal tidak berarti harus menyerah pada cita-cita.
“Realitas jurusan saya saat ini dan keinginan yang berbeda tidak mematahkan semangat saya dalam berkuliah dan berdesain. Justru, dari jurusan sejarah saya bisa meningkatkan pemahaman tentang dunia sejarah dan metode pendidikan,” tambahnya.
Meskipun ada sedikit kesedihan karena tidak bisa secara langsung mengejar impian sebagai desainer grafis, ia menemukan inspirasi dari guru SMA dan dosennya yang mampu menjalani dua bidang sekaligus.
“Mereka bisa mengajar sebagai dosen sekaligus berkecimpung di dunia desain. Itu membuat saya percaya bahwa meskipun saya menjadi tenaga pendidik, saya masih bisa memanfaatkan keahlian desain saya sebagai pekerjaan sampingan atau bahkan sebagai metode pembelajaran bagi anak didik saya nanti,” ucapnya yakin.
Bagi teman-teman di luar sana, yang merasa sedih karena tidak berada di jurusan yang sesuai dengan keinginan, ia berpesan, jangan berkecil hati. Tidak ada ilmu yang sia-sia. “Kita bukan tidak bisa menguasai ilmu tersebut, kita hanya belum berada di fase menguasainya. Mungkin Tuhan menempatkan kita di jalur ini karena ada kebaikan yang belum kita sadari,” ujarnya.
Ia kemudian mengutip ucapan filsuf Aristoteles yaitu, “Akar pendidikan itu pahit, tapi buahnya manis.”
Dengan cerita yang disampaikan oleh para mahasiswa tadi, bagi kamu yang akan lulus SMA dan sederajat, bisa menjadikannya penyemangat agar tidak patah semangat dalam berusaha. (Resty)













Discussion about this post