KAMU KUAT – Jakarta
Siapa yang pernah lupa ngerjain tugas alias PR dari sekolah atau kampus karena lupa? Ternyata, banyak remaja yang mengalami hal ini. PR atau pekerjaan rumah sering kali menjadi tantangan bagi para pelajar. Ada yang selalu disiplin mengerjakannya, ada juga yang sering lupa atau bahkan sengaja tidak mengerjakannya karena merasa sulit.
Namun, bagaimana sebenarnya perbedaan pengalaman mengerjakan PR saat di sekolah dan di kampus? Beberapa remaja dan anak muda berbagi cerita menarik tentang bagaimana ia menghadapi PR di dua fase pendidikan yang berbeda, mulai sekolah menengah, hingga perguruan tinggi.
Seperti apa ya cerita mereka soal mengerjakan tugas atau PR sekolah dan kampus?
Devina Qweensa Flotista, siswi kelas 9, SMP Negeri 1, Jatiyoso, Jawa Tengah

Devina bercerita pengalamannya, “Iya, pernah. Karena asyik nge-game jadi lupa mengerjakan.” Hal ini cukup umum terjadi, terutama saat permainan sedang seru. Akibatnya, mereka baru ingat PR saat sudah hampir masuk kelas.
Beberapa siswa berhasil menyiasatinya dengan mengerjakan PR di sekolah sebelum jam masuk. Namun, tetap saja ada perasaan panik. “Takutnya nggak selesai, apalagi kalau gurunya sudah keburu masuk kelas,” ujar Devina.
Tapi semenjak kejadian tersebut davina merasakan takut. “Cuma sekali, langsung kapok. Soalnya deg-degan banget kalau ketahuan,” katanya.
Karena pengalaman itu, Devina mulai mengatur waktu dengan lebih baik. “Sejak itu, saya kalau mau ngegame harus setelah belajar dulu,” ujarnya, dan lebih memilih mengerjakan PR di malam hari agar tidak lupa.
Meskipun banyak yang pernah mengalami kejadian ini, Davina sadar bahwa melupakan PR bukan hal baik. “Sebenarnya itu bukan hal yang baik, soalnya termasuk melanggar kewajiban sekolah dan menyepelekan tugas,” ujar Davina menutup wawancara.
Tiara Adelia Listiany, kelas 12, SMA Negeri 31 Jakarta
Saat ditanya apakah pernah lupa mengerjakan PR, jawabannya tegas, “Saya nggak pernah lupa, karena selalu menaruh jadwal di to-do list.” Dengan mencatat tugas-tugas yang harus diselesaikan, semua bisa lebih terorganisir dan tidak ada yang terlewat.

Tiara memiliki kebiasaan mengerjakan PR setelah shalat Isya hingga pukul 10 malam. Namun, kalau tugasnya banyak, ia bisa begadang hingga pukul 12 malam. Strategi ini membantunya tetap produktif tanpa terburu-buru di hari terakhir. Meskipun tenggat waktu masih lama, Tiara lebih memilih menyelesaikan PR sesegera mungkin.
“Alhamdulillah nggak pernah menunda-nunda, meski deadline-nya masih minggu depan. Saya langsung ngerjain saat tugasnya diberikan, menghindari keteteran karena saya di sekolah belajar 16 mata pelajaran,” katanya.
Disiplin dalam belajar dan mengerjakan tugas membuahkan hasil yang luar biasa. “Alhamdulillah, saya berhasil meraih peringkat 1 selama tiga tahun berturut-turut, dari semester 1-5,” ungkapnya dengan bangga.
Untuk semester 6, ia masih menunggu hasil karena masih dalam proses pembelajaran. Selain itu, ia juga masuk peringkat 9 eligible dengan nilai akhir 90,60.
Kesuksesan ini tentu tidak lepas dari motivasi yang kuat. “Motivasi datangnya dari diri sendiri, Saya sadar bahwa saya harus mewujudkan ambisi saya. Kebetulan saya anak tunggal, jadi ada ambisi besar,” ungkapnya.
Menurutnya, menunda tugas hanya akan menjadi beban di kemudian hari. “Jangan pernah menyepelekan tugas. Lama-lama akan menumpuk dan justru semakin memberatkan diri sendiri serta guru yang menginput nilai. Bahkan, bisa membuat teman-teman lain terhambat,” pesannya.
Aura Rahmaliya, mahasiswi semester 6, Universitas Mercu Buana

Ketika masih SMA, Aura mengaku pernah lupa mengerjakan PR. Namun, sekarang setelah masuk kuliah, hal itu hampir tidak pernah terjadi. “Kalau dulu pas SMA kayaknya pernah, tapi semenjak sekarang kuliah hampir nggak pernah,” ujarnya.
Saat SMA, meskipun pernah lupa, ia tidak pernah mendapat hukuman karena selalu mencari cara menyelesaikan PR tepat waktu. “Seingat saya tidak, karena saya langsung mengerjakan beberapa menit sebelum mata pelajaran dimulai,” katanya.
Banyak siswa yang tidak mengerjakan PR karena lupa, tapi ada juga yang sengaja tidak mengerjakan karena sulit. “Kadang murni lupa, tapi kadang juga sengaja nggak ngerjain karena susah. Jadi, lebih memilih mengerjakan bareng teman,” katanya jujur.
Saat masuk kuliah, ia lebih disiplin dalam mengerjakan tugas. Alasannya? Takut ditanya dosen di kelas. “Saya agak takut kalau nanti pas di kelas saya yang ditanya oleh dosen. Jadi, saya selalu memastikan tidak lupa kalau ada tugas atau semacamnya,” jelasnya.
Menurutnya, tugas atau PR di sekolah bertujuan untuk membantu siswa lebih memahami materi yang diajarkan di kelas. “Biasanya PR diberikan agar siswa lebih paham lagi tentang materi yang sedang dipelajari dan juga sebagai bagian dari penilaian.”
Sedangkan di kampus, tugas kuliah lebih sedikit, tetapi tugas yang diberikan punya peran besar dalam nilai akhir. “Di kampus, tugas adalah syarat untuk lulus mata kuliah. Sebelum UAS (ujian akhir semester, red), ada Tugas Besar atau TB1 dan TB2, dan rata-rata dosen memberi tugas untuk kedua tahap ini, bisa berupa presentasi atau tugas lainnya,” jelasnya.
Mengerjakan PR bisa menjadi pengalaman yang berbeda tergantung siapa gurunya. “Kalau gurunya menyenangkan dan mudah dimengerti, pasti PR terasa seru dan nggak takut. Tapi kalau gurunya agak galak, pasti deg-degan dan takut,” serunya
Dari pengalaman ini, kita bisa belajar bahwa PR bukan sekadar tugas biasa, tetapi juga cara untuk melatih tanggung jawab dan pemahaman terhadap materi. Baik di sekolah maupun di kampus, disiplin dalam mengerjakan tugas sangat penting agar tidak keteteran nantinya.
Jadi, yuk biasakan mengerjakan PR tepat waktu supaya tidak panik dan bisa lebih menikmati proses belajar! (Resty)













Discussion about this post