Avesiar – Puisi dan Cerpen
Kota Seribu Topeng (bagian 1)
Oleh: Mas Ngabehi
***************
Di kaki bukit yang membingkai cakrawala, Kota Metaphora menjulang seperti permata di tengah gurun. Gedung-gedungnya bersinar di bawah matahari, dengan kaca-kaca yang memantulkan kemegahan langit biru. Jalan-jalannya dipenuhi kendaraan berkilauan, sementara taman-tamannya dihiasi patung-patung dengan detail luar biasa. Bagi seorang pendatang, kota ini seperti lukisan yang dihidupkan—indah, tetapi terlalu sempurna untuk nyata.
Namun, di balik keindahan itu, ada sesuatu yang janggal. Penduduknya semua mengenakan topeng, bukan sekadar aksesori, melainkan bagian tak terpisahkan dari kehidupan mereka. Topeng-topeng itu terbuat dari bahan yang berbeda-beda, mulai dari emas berkilauan hingga kayu yang sederhana, masing-masing menggambarkan status dan karakter pemakainya. Topeng itu bukan hanya penutup wajah, tetapi lambang identitas.
Di tengah hiruk-pikuk kota, ada keheningan yang tak terlihat. Orang-orang berlalu-lalang di trotoar dengan langkah cepat, mata mereka tersembunyi di balik lubang-lubang kecil topeng mereka. Tak ada sapaan ramah, tak ada tatapan penuh rasa ingin tahu—hanya bisu yang membekukan. Hiruk-pikuk itu hanya suara mesin dan langkah kaki, tanpa percakapan yang hangat.
Rendra, seorang seniman muda, tiba di kota itu dengan penuh harapan. Ia datang membawa kanvas kosong, berharap menemukan inspirasi di tengah keramaian. Namun, begitu ia melangkahkan kaki di alun-alun pusat kota, hatinya tertegun. Ia merasa seperti memasuki dunia lain—sebuah tempat di mana kehidupan berjalan, tetapi tanpa jiwa.
“Semua orang di sini memakai topeng,” gumamnya pada dirinya sendiri, mencoba memahami apa yang ia lihat. Topeng-topeng itu tampak indah, seperti karya seni. Beberapa dihiasi permata, beberapa dilukis dengan motif yang rumit, dan beberapa tampak polos, tetapi memancarkan keanggunan. Tetapi apa yang ada di balik topeng itu? Wajah-wajah seperti apa yang tersembunyi?
Rendra berjalan menyusuri jalan utama, matanya menangkap berbagai detail. Ada pedagang yang menjajakan topeng di kios-kios kecil, dengan berbagai jenis dan harga. “Topeng ini akan membuatmu terlihat bijaksana,” kata seorang pedagang kepada pelanggannya, seorang pria tua dengan topeng kayu yang telah usang.
Rendra mendekati kios itu, mencoba bertanya, tetapi pedagang itu hanya menatapnya, lalu berkata, “Anda tidak akan diterima di kota ini tanpa topeng, Tuan. Pilihlah satu.”
Rendra menggeleng halus, menolak tawaran itu. Ia tidak ingin menutupi wajahnya dengan sesuatu yang bukan dirinya. Tetapi ia merasa tatapan aneh dari orang-orang yang melewati kios itu—tatapan yang penuh penilaian, meskipun tersembunyi di balik topeng mereka.
Seiring matahari mulai tenggelam, lampu-lampu kota menyala, menciptakan pemandangan malam yang menakjubkan. Namun, bagi Rendra, kota ini terasa dingin. Keindahan Metaphora hanya sebuah fasad, sementara di baliknya ada kehampaan yang tak bisa ia jelaskan.
Ia menatap kanvas kosong di tangannya. Inspirasi yang ia cari terasa jauh, tersembunyi di balik misteri kota ini. Tetapi di sudut hatinya, ia tahu bahwa ada sesuatu yang harus ia temukan di sini—kebenaran di balik topeng-topeng itu, dan mungkin juga, dirinya sendiri.
Hari-hari Rendra di Kota Metaphora berjalan lambat, setiap langkahnya dipenuhi pertanyaan. Ia memperhatikan bahwa topeng bukan sekadar tradisi atau mode; mereka adalah bagian mendasar dari kehidupan di kota itu. Tak ada satu pun warga yang berani keluar rumah tanpa mengenakan topeng mereka. Setiap detail topeng tampaknya memiliki makna—ukiran rumit, warna-warna mencolok, bahkan bahan pembuatannya.
Di pasar, seorang wanita dengan topeng emas berbicara kepada seorang pria dengan topeng perak, nadanya penuh otoritas. Tak jauh dari sana, seorang bocah kecil dengan topeng kayu sederhana membantu ibunya menjual buah-buahan. Rendra mengamati semuanya dengan mata seorang seniman, tetapi juga dengan kegelisahan yang semakin tumbuh.
“Bukankah mereka ingin menunjukkan wajah asli mereka?” gumamnya, tak sadar bahwa pikirannya meluncur ke luar.
“Tidak semua wajah ingin dilihat, Tuan,” jawab sebuah suara lembut dari sampingnya.
Rendra menoleh dan melihat seorang perempuan muda berdiri di sana, mengenakan topeng dengan ukiran bunga melati. Topengnya terlihat ceria dengan warna pastel, tetapi mata di baliknya berbicara lain—mereka tampak muram, seperti langit yang menyembunyikan badai.
“Namaku Laras,” kata perempuan itu, sambil mengulurkan tangan. “Kau pendatang, bukan?”
Rendra mengangguk, menerima uluran tangan itu. “Aku Rendra, seorang seniman.”
Laras tersenyum kecil, tetapi senyumnya terasa berat, seolah-olah topeng di wajahnya menahan sesuatu. Mereka berjalan bersama melewati jalan-jalan kota, berbicara tentang Metaphora dan tradisi yang mengikat penduduknya.
“Di sini, topeng adalah segalanya,” kata Laras pelan. “Tanpa topeng, kau tak punya identitas. Orang-orang takkan menghormatimu, bahkan mungkin takkan melihatmu.”
“Tapi bukankah itu berarti mereka tidak pernah benar-benar mengenalmu?” Rendra bertanya.
Laras terdiam sesaat. “Mungkin memang begitu,” jawabnya akhirnya. “Tapi di kota ini, mengenal seseorang tak lebih penting dari terlihat baik di mata mereka.”
Kata-kata itu membuat Rendra merenung. Ia merasa ada sesuatu yang sangat salah di kota ini. Topeng-topeng itu bukan hanya simbol; mereka adalah alat untuk menyembunyikan kebenaran, bahkan dari diri sendiri.
Semakin lama ia tinggal, semakin jelas bahwa topeng-topeng itu bukan sekadar pelindung, tetapi penghalang. Mereka menciptakan hierarki palsu, membedakan orang berdasarkan apa yang terlihat, bukan siapa mereka sebenarnya.
Di alun-alun kota, Rendra menyaksikan seorang pria dengan topeng emas berpidato di depan kerumunan. Pria itu berbicara tentang keharmonisan dan kedamaian, tetapi nada suaranya penuh kepalsuan. Warga yang mendengarkan hanya mengangguk-angguk, seolah-olah menerima semuanya tanpa pertanyaan.
“Siapa dia?” bisik Rendra kepada Laras.
“Dia Aditya, pemimpin kota ini,” jawab Laras. “Dia adalah orang yang menetapkan aturan tentang topeng. Katanya, ini semua untuk menjaga ketertiban.”
“Tapi apakah ketertiban itu nyata, atau hanya ilusi?” Rendra bertanya, lebih kepada dirinya sendiri.
Laras menatapnya, matanya penuh pertimbangan. “Kau berani sekali, Rendra. Banyak dari kami berpikir seperti itu, tetapi kami terlalu takut untuk mengatakannya.”
Rendra menyadari bahwa kota ini tidak seperti yang terlihat. Di balik gemerlapnya, ada jurang yang dalam, dipenuhi ketidakjujuran dan manipulasi. Ia memutuskan bahwa ia tidak bisa hanya menjadi penonton. Ia harus menggali lebih dalam, mengungkap apa yang sebenarnya tersembunyi di balik Kota Seribu Topeng.
Dan, mungkin, mengingatkan penduduknya bahwa wajah sejati lebih berharga daripada semua topeng yang bisa mereka kenakan. (bersambung ke bagian 2)
*Pertemuan dengan Sang Pembuat Topeng
______________
Selayang pandang:
Penulis puisi dan cerpen Dr. Sri Satata, M.M, adalah Pegiat Bahasa dan Sastra, serta Dosen.
Ia adalah sosok yang telah mengabdikan dirinya dalam dunia pendidikan dan sastra selama lebih dari dua dekade. Sebagai seorang pendidik sekaligus penulis, ia berhasil membangun reputasi sebagai salah satu figur yang berpengaruh dalam pengembangan literasi di Indonesia.
Sri Satata aka Mas Ngabehi menyelesaikan studi S1 di bidang Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Negeri Surakarta (1984–1988). Selanjutnya, ia meraih gelar Magister Manajemen dari International Golden Institute (2002–2004) dan menyempurnakan pendidikannya dengan gelar Doktor dalam bidang Manajemen Ilmu Pendidikan di Uninus Bandung (2020–2022).













Discussion about this post