• Nasional & Opini
    • Politik
    • Hukum
    • Sosial
    • Budaya
    • HanKam
    • Daerah
    • Kesehatan
    • Edukasi
    • Opini
    • English Version
  • World
    • Economy
    • Politic
    • Law
    • Culture
    • Islam
    • Freedom for Palestine
    • Umra & Hajj
    • Tourism
  • Ekonomi
    • Bisnis & Wirausaha
    • Common
    • Islami
    • Property
    • CSR
  • Nusantara
    • Metro
    • Urban
    • Guru Kita
    • Prestasi
    • Profil Perubahan
    • Wisata
  • Healtech
    • Hidup Sehat
    • Riset
    • Teknologi
    • Gadget
  • Auto-Sport & Hobby
    • Aneka Olah Raga
    • Sepeda
    • Golf
    • Auto
    • Fauna & Flora Care
  • Change
    • Motivasi
    • Entrepreneurship
    • Pensiun Sehat
  • Syar’i
    • Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam
    • Muslim Fashion
    • Harmoni Keluarga
    • Griya Harmoni
    • Psikologi
    • Masjid & Activity
  • People & Activity
    • Figure
    • Community
    • Society
    • Social
    • Event
    • Podcast Ladders to be Leaders
  • KAMU KUAT
    • Podcast KAMU KUAT
  • Youth
    • Smart Teens
    • Students
    • School Story
    • Campuss Story
    • Millennial
  • Kuliner
    • Resto
    • Kaki Lima
    • Resep
  • City Jour & Video
No Result
View All Result
No Result
View All Result
Home Citizen Journalism & Video Cerpen dan Puisi

Cerpen: Kota Seribu Topeng  (bagian 1)

by Avesiar
18 Februari 2025 | 21:30 WIB
in Cerpen dan Puisi
Reading Time: 6 mins read
A A
Cerpen: Kota Seribu Topeng  (bagian 1)

Ilustrasi. Foto: ist & Freepik. Kolase: Avesiar.com

Avesiar – Puisi dan Cerpen

Kota Seribu Topeng (bagian 1)

Oleh: Mas Ngabehi

***************

Di kaki bukit yang membingkai cakrawala, Kota Metaphora menjulang seperti permata di tengah gurun. Gedung-gedungnya bersinar di bawah matahari, dengan kaca-kaca yang memantulkan kemegahan langit biru. Jalan-jalannya dipenuhi kendaraan berkilauan, sementara taman-tamannya dihiasi patung-patung dengan detail luar biasa. Bagi seorang pendatang, kota ini seperti lukisan yang dihidupkan—indah, tetapi terlalu sempurna untuk nyata.

Namun, di balik keindahan itu, ada sesuatu yang janggal. Penduduknya semua mengenakan topeng, bukan sekadar aksesori, melainkan bagian tak terpisahkan dari kehidupan mereka. Topeng-topeng itu terbuat dari bahan yang berbeda-beda, mulai dari emas berkilauan hingga kayu yang sederhana, masing-masing menggambarkan status dan karakter pemakainya. Topeng itu bukan hanya penutup wajah, tetapi lambang identitas.

Di tengah hiruk-pikuk kota, ada keheningan yang tak terlihat. Orang-orang berlalu-lalang di trotoar dengan langkah cepat, mata mereka tersembunyi di balik lubang-lubang kecil topeng mereka. Tak ada sapaan ramah, tak ada tatapan penuh rasa ingin tahu—hanya bisu yang membekukan. Hiruk-pikuk itu hanya suara mesin dan langkah kaki, tanpa percakapan yang hangat.

Rendra, seorang seniman muda, tiba di kota itu dengan penuh harapan. Ia datang membawa kanvas kosong, berharap menemukan inspirasi di tengah keramaian. Namun, begitu ia melangkahkan kaki di alun-alun pusat kota, hatinya tertegun. Ia merasa seperti memasuki dunia lain—sebuah tempat di mana kehidupan berjalan, tetapi tanpa jiwa.

Bacaan Terkait :

Munajat Cinta: Linangan Air Mata Zakariyah dan Tangisan Ruqayyah (bagian 3, habis)

Munajat Cinta: Linangan Air Mata Zakariyah dan Tangisan Ruqayyah (bagian 2)

Munajat Cinta: Linangan Air Mata Zakariyah dan Tangisan Ruqayyah (bagian 1)

Muhasabah Cinta: Jalan Pulang Menuju-Nya,Ketika Azzam Mengagumi Nadia (bagian 3, habis)

Muhasabah Cinta: Jalan Pulang Menuju-Nya, Ketika Azzam Mengagumi Nadia (bagian 2)

Muhasabah Cinta: Jalan Pulang Menuju-Nya, Ketika Azzam Mengagumi Nadia (bagian 1)

Cerpen: Saat Takdir Bertaut di Mihrab Cinta (bagian 4, habis)

Load More

“Semua orang di sini memakai topeng,” gumamnya pada dirinya sendiri, mencoba memahami apa yang ia lihat. Topeng-topeng itu tampak indah, seperti karya seni. Beberapa dihiasi permata, beberapa dilukis dengan motif yang rumit, dan beberapa tampak polos, tetapi memancarkan keanggunan. Tetapi apa yang ada di balik topeng itu? Wajah-wajah seperti apa yang tersembunyi?

Rendra berjalan menyusuri jalan utama, matanya menangkap berbagai detail. Ada pedagang yang menjajakan topeng di kios-kios kecil, dengan berbagai jenis dan harga. “Topeng ini akan membuatmu terlihat bijaksana,” kata seorang pedagang kepada pelanggannya, seorang pria tua dengan topeng kayu yang telah usang.

Rendra mendekati kios itu, mencoba bertanya, tetapi pedagang itu hanya menatapnya, lalu berkata, “Anda tidak akan diterima di kota ini tanpa topeng, Tuan. Pilihlah satu.”

Rendra menggeleng halus, menolak tawaran itu. Ia tidak ingin menutupi wajahnya dengan sesuatu yang bukan dirinya. Tetapi ia merasa tatapan aneh dari orang-orang yang melewati kios itu—tatapan yang penuh penilaian, meskipun tersembunyi di balik topeng mereka.

Seiring matahari mulai tenggelam, lampu-lampu kota menyala, menciptakan pemandangan malam yang menakjubkan. Namun, bagi Rendra, kota ini terasa dingin. Keindahan Metaphora hanya sebuah fasad, sementara di baliknya ada kehampaan yang tak bisa ia jelaskan.

Ia menatap kanvas kosong di tangannya. Inspirasi yang ia cari terasa jauh, tersembunyi di balik misteri kota ini. Tetapi di sudut hatinya, ia tahu bahwa ada sesuatu yang harus ia temukan di sini—kebenaran di balik topeng-topeng itu, dan mungkin juga, dirinya sendiri.

Hari-hari Rendra di Kota Metaphora berjalan lambat, setiap langkahnya dipenuhi pertanyaan. Ia memperhatikan bahwa topeng bukan sekadar tradisi atau mode; mereka adalah bagian mendasar dari kehidupan di kota itu. Tak ada satu pun warga yang berani keluar rumah tanpa mengenakan topeng mereka. Setiap detail topeng tampaknya memiliki makna—ukiran rumit, warna-warna mencolok, bahkan bahan pembuatannya.

Di pasar, seorang wanita dengan topeng emas berbicara kepada seorang pria dengan topeng perak, nadanya penuh otoritas. Tak jauh dari sana, seorang bocah kecil dengan topeng kayu sederhana membantu ibunya menjual buah-buahan. Rendra mengamati semuanya dengan mata seorang seniman, tetapi juga dengan kegelisahan yang semakin tumbuh.

“Bukankah mereka ingin menunjukkan wajah asli mereka?” gumamnya, tak sadar bahwa pikirannya meluncur ke luar.

“Tidak semua wajah ingin dilihat, Tuan,” jawab sebuah suara lembut dari sampingnya.

Rendra menoleh dan melihat seorang perempuan muda berdiri di sana, mengenakan topeng dengan ukiran bunga melati. Topengnya terlihat ceria dengan warna pastel, tetapi mata di baliknya berbicara lain—mereka tampak muram, seperti langit yang menyembunyikan badai.

“Namaku Laras,” kata perempuan itu, sambil mengulurkan tangan. “Kau pendatang, bukan?”

Rendra mengangguk, menerima uluran tangan itu. “Aku Rendra, seorang seniman.”

Laras tersenyum kecil, tetapi senyumnya terasa berat, seolah-olah topeng di wajahnya menahan sesuatu. Mereka berjalan bersama melewati jalan-jalan kota, berbicara tentang Metaphora dan tradisi yang mengikat penduduknya.

“Di sini, topeng adalah segalanya,” kata Laras pelan. “Tanpa topeng, kau tak punya identitas. Orang-orang takkan menghormatimu, bahkan mungkin takkan melihatmu.”

“Tapi bukankah itu berarti mereka tidak pernah benar-benar mengenalmu?” Rendra bertanya.

Laras terdiam sesaat. “Mungkin memang begitu,” jawabnya akhirnya. “Tapi di kota ini, mengenal seseorang tak lebih penting dari terlihat baik di mata mereka.”

Kata-kata itu membuat Rendra merenung. Ia merasa ada sesuatu yang sangat salah di kota ini. Topeng-topeng itu bukan hanya simbol; mereka adalah alat untuk menyembunyikan kebenaran, bahkan dari diri sendiri.

Semakin lama ia tinggal, semakin jelas bahwa topeng-topeng itu bukan sekadar pelindung, tetapi penghalang. Mereka menciptakan hierarki palsu, membedakan orang berdasarkan apa yang terlihat, bukan siapa mereka sebenarnya.

Di alun-alun kota, Rendra menyaksikan seorang pria dengan topeng emas berpidato di depan kerumunan. Pria itu berbicara tentang keharmonisan dan kedamaian, tetapi nada suaranya penuh kepalsuan. Warga yang mendengarkan hanya mengangguk-angguk, seolah-olah menerima semuanya tanpa pertanyaan.

“Siapa dia?” bisik Rendra kepada Laras.

“Dia Aditya, pemimpin kota ini,” jawab Laras. “Dia adalah orang yang menetapkan aturan tentang topeng. Katanya, ini semua untuk menjaga ketertiban.”

“Tapi apakah ketertiban itu nyata, atau hanya ilusi?” Rendra bertanya, lebih kepada dirinya sendiri.

Laras menatapnya, matanya penuh pertimbangan. “Kau berani sekali, Rendra. Banyak dari kami berpikir seperti itu, tetapi kami terlalu takut untuk mengatakannya.”

Rendra menyadari bahwa kota ini tidak seperti yang terlihat. Di balik gemerlapnya, ada jurang yang dalam, dipenuhi ketidakjujuran dan manipulasi. Ia memutuskan bahwa ia tidak bisa hanya menjadi penonton. Ia harus menggali lebih dalam, mengungkap apa yang sebenarnya tersembunyi di balik Kota Seribu Topeng.

Dan, mungkin, mengingatkan penduduknya bahwa wajah sejati lebih berharga daripada semua topeng yang bisa mereka kenakan. (bersambung ke bagian 2)

*Pertemuan dengan Sang Pembuat Topeng

______________

Selayang pandang:

Penulis puisi dan cerpen Dr. Sri Satata, M.M, adalah Pegiat Bahasa dan Sastra, serta Dosen.

Ia adalah sosok yang telah mengabdikan dirinya dalam dunia pendidikan dan sastra selama lebih dari dua dekade. Sebagai seorang pendidik sekaligus penulis, ia berhasil membangun reputasi sebagai salah satu figur yang berpengaruh dalam pengembangan literasi di Indonesia.

Sri Satata aka Mas Ngabehi menyelesaikan studi S1 di bidang Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Negeri Surakarta (1984–1988). Selanjutnya, ia meraih gelar Magister Manajemen dari International Golden Institute (2002–2004) dan menyempurnakan  pendidikannya dengan gelar Doktor dalam bidang Manajemen Ilmu Pendidikan di Uninus Bandung (2020–2022).

Tags: CerpenCerpen KehidupanCerpen MotivasiCerpen ReligiKamuflaseKamuflase SosialKepribadian Kamuflase
ShareTweetSendShare
Previous Post

Tugas alias PR Sekolah dan Kampus, Kamu Tertib Mengerjakan atau Nggak?

Next Post

Tema Menantang: Kalau Membaca Al Qur’an Suka Surah Apa, Maknanya, dan Kenapa?

Mungkin Anda Juga Suka :

Humor Saat Puasa, Mengangkut Garam dan Mengakali Keledai yang Nakal

Humor Saat Puasa, Mengangkut Garam dan Mengakali Keledai yang Nakal

14 Maret 2026

...

Di Ambang Mahacahaya

Di Ambang Mahacahaya

9 Maret 2026

...

Humor Saat Puasa, Nasruddin Hoja Menemani Penguasa dan Kisah Namrudz

Humor Saat Puasa, Nasruddin Hoja Menemani Penguasa dan Kisah Namrudz

9 Maret 2026

...

Tasbih Sunyi di Relung Nurani

Tasbih Sunyi di Relung Nurani

8 Maret 2026

...

Humor Saat Puasa, Ketika Nasruddin Hoja Menyelamatkan Bulan

Humor Saat Puasa, Ketika Nasruddin Hoja Menyelamatkan Bulan

8 Maret 2026

...

Load More
Next Post
Tema Menantang: Kalau Membaca Al Qur’an Suka Surah Apa, Maknanya, dan Kenapa?

Tema Menantang: Kalau Membaca Al Qur’an Suka Surah Apa, Maknanya, dan Kenapa?

Cerpen: Kota Seribu Topeng  (bagian 2)

Cerpen: Kota Seribu Topeng  (bagian 2)

Discussion about this post

TERKINI

Iran Memaksa AS Akui Sistem Pertahanannya yang Murah dan Efektif

19 April 2026

Hormuz Kembali Ditutup Buntut AS Tidak Buka Blokade, Dua Kapal Kena Tembakan Iran

18 April 2026

Imbas Naiknya Kekerasan Perempuan di Ruang Digital, Pemerintah Awasi dan Bisa Tutup Platform yang Abai

18 April 2026

Kabar Baik Dibukanya Selat Hormuz, Saham Melonjak dan Harga Minyak Anjlok 10 Persen

17 April 2026

Paus Leo Tidak Takut pada Trump, Menyebut Dunia Sedang Dihancurkan Segelintir Tiran Saat Berseteru dengan Gedung Putih

16 April 2026

Polemik Alat Vape Disalahgunakan, Menelusuri Hukum Rokok Elektrik

15 April 2026

Saksikan Segera, Podcast Khusus Profesional “Ladders to be Leaders” Mengulas Perjalanan Hidup dan Karir

15 April 2026

AS Repot Berkonflik dengan Iran, Zelenskyy Kecewa Dicuekin Karena Suplai Senjata ke Ukraina Terganggu

15 April 2026

TikTok Lapor Tutup 780 Ribu Akun Anak dan Roblox Belum Dianggap Patuh PP TUNAS, Beberapa Menyatakan Patuh

14 April 2026

Negosiasi Iran dan AS Disebut Akan “Segera” Diadakan Lagi di Islamabad, Iran Menolak Diatur Pengayaan Uranium dan Nuklirnya

14 April 2026
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Cyber
  • Kontak

© 2017 Avesiar.com - All Rights Reserved

  • Nasional & Opini
    • Politik
    • Hukum
    • Sosial
    • Budaya
    • HanKam
    • Daerah
    • Kesehatan
    • Edukasi
    • Opini
    • English Version
  • World
    • Economy
    • Politic
    • Law
    • Culture
    • Islam
    • Freedom for Palestine
    • Umra & Hajj
    • Tourism
  • Ekonomi
    • Bisnis & Wirausaha
    • Common
    • Islami
    • Property
    • CSR
  • Nusantara
    • Metro
    • Urban
    • Guru Kita
    • Prestasi
    • Profil Perubahan
    • Wisata
  • Healtech
    • Hidup Sehat
    • Riset
    • Teknologi
    • Gadget
  • Auto-Sport & Hobby
    • Aneka Olah Raga
    • Sepeda
    • Golf
    • Auto
    • Fauna & Flora Care
  • Change
    • Motivasi
    • Entrepreneurship
    • Pensiun Sehat
  • Syar’i
    • Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam
    • Muslim Fashion
    • Harmoni Keluarga
    • Griya Harmoni
    • Psikologi
    • Masjid & Activity
  • People & Activity
    • Figure
    • Community
    • Society
    • Social
    • Event
    • Podcast Ladders to be Leaders
  • KAMU KUAT
    • Podcast KAMU KUAT
  • Youth
    • Smart Teens
    • Students
    • School Story
    • Campuss Story
    • Millennial
  • Kuliner
    • Resto
    • Kaki Lima
    • Resep
  • City Jour & Video